Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

2. Pencarian Seorang Alpha

Malam telah turun ketika Sebastian Draco Valmont kembali ke kediaman sementara keluarga Valmont.

Namun, untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak memikirkan urusan tanah, perusahaan, ataupun perintah ayahnya. Pikirannya hanya tertuju pada satu orang.

Elena.

Ia berdiri di depan jendela dengan tangan terlipat di dada. Di atas meja di belakangnya, selendang putih yang ditemukan di desa tadi terlipat dengan rapi.

Sebastian sudah memandanginya selama hampir satu jam.

Aneh.

Benda itu tidak berharga.

Tidak ada berlian, benang emas, ataupun lambang keluarga bangsawan. Hanya sepotong kain putih sederhana. Namun, ketika Sebastian hendak menyentuhnya, jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Serigalanya juga bereaksi.

Mate.

Sebastian menghela napas. "Diam."

Suara geram pelan terdengar di dalam kepalanya. Dia mate kita.

"Aku bahkan tidak mengenalnya."

Tapi aku mengenalnya.

Sebastian mengusap wajahnya. Serigala dalam dirinya memang selalu memiliki naluri yang kuat, tetapi selama bertahun-tahun tidak pernah sekalipun menunjukkan reaksi seperti ini.

Bahkan ketika beberapa perempuan dari keluarga bangsawan berusaha mendekatinya, serigalanya tidak pernah peduli.

Tidak ada ketertarikan. Tidak ada rasa ingin melindungi. Tidak ada keinginan untuk berada di dekat mereka. Tetapi terhadap gadis bernama Elena itu, semuanya berbeda. Hanya dengan satu tatapan, seluruh nalurinya seakan terbangun.

Sebastian akhirnya mengambil selendang tersebut. Ia mendekatkannya ke wajah. Aroma lembut gadis itu masih tertinggal. Bunga liar. Hujan. Dan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh Sebastian.

"Siapa sebenarnya dirimu?"

Ketukan terdengar dari pintu. Sebastian segera menjauhkan selendang itu dari wajahnya.

"Masuk."

Pintu terbuka. Seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun masuk dan menundukkan kepala.

"Maaf mengganggu, Tuan Muda."

"Ada kabar?"

Pria itu menggeleng. "Kami sudah mencari di sekitar desa. Tidak ada yang mengetahui keberadaan gadis tersebut."

Rahang Sebastian mengeras. "Periksa lagi."

"Kami sudah melakukannya."

"Kalau begitu, lakukan lebih luas."

Pria itu tampak ragu. "Tuan Muda, malam sudah cukup larut. Mungkin gadis itu sudah meninggalkan desa."

Sebastian menatapnya. "Aku tidak peduli."

Pria itu terdiam. Sebastian jarang berbicara dengan nada seperti itu.

"Cari dia."

"Baik, Tuan Muda."

Ketika pria itu hendak pergi, Sebastian kembali memanggilnya.

"Tunggu."

Pria tersebut berbalik.

"Jangan membuat keluargaku tahu tentang gadis itu."

"Kenapa?"

Tatapan Sebastian berubah tajam. "Itu bukan urusanmu."

Pria itu segera menunduk. "Baik."

Setelah pintu kembali tertutup, Sebastian menatap selendang di tangannya. Ada sesuatu yang tidak beres.

Jika Elena hanya seorang gadis desa, mengapa ia begitu ketakutan ketika melihat orang-orang Valmont?

Dan mengapa ia berlari seolah-olah Sebastian datang untuk menangkapnya?

Pertanyaan itu terus mengganggu pikirannya.

---

Di sisi lain desa, seorang gadis sedang berlari menembus hutan.

Elena tidak berani menoleh.

Napasnya terengah-engah. Rambut panjangnya berantakan, sementara ujung gaunnya terkena lumpur. Ia terus berlari sampai kedua kakinya terasa lemas. Barulah ia berhenti di dekat sebuah pohon besar.

Elena bersandar pada batang pohon sambil menutup mulut. Jantungnya berdetak sangat keras. Bukan karena berlari. Melainkan karena pria yang baru saja ditemuinya.

Sebastian.

Elena tidak mengetahui namanya. Namun, entah mengapa, wajah pria itu terus terbayang di pikirannya.

Tatapannya.

Suaranya.

Dan aroma tubuhnya yang anehnya terasa begitu familiar.

Elena memejamkan mata. "Kenapa aku harus bertemu dengannya?"

Di dalam dirinya, serigala kecil yang selama ini jarang bereaksi tiba-tiba bergerak.

Kembali. Elena membuka mata. "Tidak."

Kembali kepadanya. "Tidak!"

Elena memegang dadanya. Ada rasa hangat yang aneh di sana. Ia tidak pernah mengalami hal seperti ini.

Seumur hidupnya, Elena selalu diajarkan untuk berhati-hati terhadap orang asing, terutama terhadap keluarga Valmont.

Ayahnya selalu mengatakan hal yang sama. "Jangan pernah mendekati orang-orang Valmont."

Elena tidak pernah mengerti alasannya.

Namun, sore tadi, ketika melihat beberapa pria berpakaian hitam memasuki desa, ia langsung teringat peringatan ayahnya. Karena itu, ia melarikan diri. Bukan karena Sebastian. Melainkan karena takut orang-orang yang berada di belakangnya akan menemukannya. Tetapi sekarang ada masalah lain. Selendangnya hilang.

Elena menyentuh bahunya. Kosong. "Astaga..."

Ia baru menyadarinya. Selendang putih yang diberikan ibunya bertahun-tahun lalu telah tertinggal.

Elena menatap jalan yang baru saja dilewatinya. Ia ingin kembali. Sangat ingin. Tetapi bayangan pria-pria Valmont membuatnya mengurungkan niat.

"Besok aku akan mengambilnya."

Namun, jauh di dalam hatinya, Elena merasa ragu. Bagaimana jika ia tidak pernah bertemu pria itu lagi?

Pikiran itu membuat dadanya terasa aneh. Padahal mereka baru bertemu sekali. Bahkan mereka hanya berbicara beberapa kalimat. Namun, mengapa ia merasa kehilangan sesuatu?

Elena tidak tahu bahwa di dalam dirinya, serigalanya sedang berbisik.

Mate.

---

Keesokan paginya, Sebastian kembali ke desa. Ia datang tanpa banyak pengawal. Hanya dua orang kepercayaan yang menemaninya.

Ia berjalan melewati jalan yang sama seperti kemarin. Matanya terus mencari. Namun, Elena tidak terlihat.

"Tuan Muda," kata salah satu pengawalnya, "kami sudah berbicara dengan warga. Tidak ada yang tahu siapa gadis itu."

Sebastian diam.

"Periksa rumah-rumah di bagian timur."

"Baik."

Ia berjalan lebih jauh. Sampai akhirnya seorang wanita tua keluar dari sebuah rumah. Sebastian menghampirinya. "Permisi."

Wanita itu menatap Sebastian dengan hati-hati. "Ya?"

"Saya mencari seorang gadis."

"Di desa ini banyak gadis."

"Dia mengenakan selendang putih."

Wanita itu terdiam.

Sebastian memperhatikan perubahan wajahnya. "Ibu mengenalnya?"

Wanita itu menggeleng cepat. "Tidak."

Jawaban itu terlalu cepat.

Sebastian menyipitkan mata. "Ibu yakin?"

Wanita tersebut tampak gugup. "Saya tidak tahu apa-apa."

Sebastian tidak memaksanya. Namun, sebelum pergi, ia berkata, "Jika Ibu mengingat sesuatu, beri tahu orang-orang saya."

Wanita itu mengangguk.

Sebastian berjalan pergi. Namun, beberapa langkah kemudian, ia mendengar suara pelan dari belakang.

"Gadis itu bukan orang biasa."

Sebastian berhenti. Ia berbalik.

Wanita tua itu menatapnya. "Dia tinggal bersama keluarganya di bagian utara desa. Tetapi mereka tidak sering muncul."

"Siapa namanya?"

Wanita itu menghela napas. "Elena."

Jantung Sebastian berdetak lebih cepat. "Elena siapa?"

"Saya tidak tahu nama keluarganya."

Sebastian mengangguk. "Itu sudah cukup."

Untuk pertama kalinya sejak kemarin, ia merasa mendapatkan harapan.

---

Hari-hari berikutnya berlalu.

Sebastian tetap berada di desa lebih lama daripada yang direncanakan. Ia seharusnya kembali ke kota setelah urusan tanah selesai. Namun, ia menunda kepulangannya.

Satu hari. Dua hari. Tiga hari. Setiap pagi, ia mencari Elena. Setiap sore, ia kembali dengan tangan kosong. Anehnya, ia tidak merasa lelah. Ia justru merasa semakin ingin menemukannya.

Pada hari keempat, Sebastian berdiri di sebuah bukit yang menghadap desa. Angin sore meniup rambutnya.

Selendang putih masih berada di tangannya. Ia menatap benda tersebut dalam diam.

"Aku bahkan tidak tahu apakah kau akan kembali." Ia tersenyum tipis. "Tapi aku akan tetap menunggumu."

Serigalanya terdengar tenang. Dia akan kembali.

"Kau yakin?"

Aku tahu.

Sebastian menghela napas. "Kalau dia kembali, aku akan bertanya mengapa dia takut kepadaku."

Tidak.

Sebastian mengernyit. "Apa?"

Tanyakan mengapa dia membuat kita menunggu.

Sebastian hampir tertawa. "Serigala bodoh."

Namun, senyum kecil muncul di wajahnya. Itulah pertama kalinya para pengawalnya melihat Sebastian tersenyum tanpa alasan yang jelas.

---

Sementara itu, Elena telah kembali ke rumahnya.

Ia duduk di depan cermin. Di tangannya terdapat secangkir teh yang sudah lama tidak disentuh. Pikirannya masih tertuju pada Sebastian. Pria itu seharusnya sudah meninggalkan desa. Namun, Elena justru berharap dia belum pergi. Ia menatap dirinya sendiri di cermin.

"Apa yang sebenarnya terjadi padaku?"

Seorang pelayan mengetuk pintu. "Nona Elena?"

"Masuk."

Pintu terbuka. Pelayan tersebut membawa sebuah pakaian.

"Tuan meminta Anda tidak keluar rumah hari ini."

Elena langsung mengerutkan kening. "Lagi?"

"Maaf, Nona."

"Ayah terlalu berlebihan."

Pelayan itu hanya diam.

Elena berdiri dan berjalan menuju jendela. Dari sana, ia bisa melihat jalan menuju desa. Entah mengapa, ia merasa seseorang sedang menunggunya di luar sana. Seseorang yang baru dikenalnya. Seseorang yang seharusnya tidak berarti apa-apa. Namun, justru terus memenuhi pikirannya.

"Sebastian..."

Nama itu keluar begitu saja dari bibirnya. Elena langsung terdiam. Ia bahkan tidak tahu nama lengkap pria itu. Namun, hatinya seakan sudah mengenalnya lebih lama daripada seharusnya.

---

Malam kembali turun.

Di kediaman Valmont, Sebastian berdiri di balkon sambil memandang bulan. Selendang putih masih berada di tangannya.

Ia tidak tahu mengapa ia menyimpannya. Ia hanya tahu bahwa ia tidak sanggup membuangnya.

Lima tahun kemudian, Sebastian masih akan mengingat malam itu.

Malam ketika ia pertama kali menyadari bahwa seorang gadis asing telah berhasil membuat hatinya yang keras menjadi lembut. Namun, sebelum semua itu terjadi, takdir masih menyimpan banyak rahasia.

Ia belum mengetahui siapa Elena sebenarnya.

Elena juga belum mengetahui siapa Sebastian sebenarnya.

Dan yang paling penting... Keduanya belum mengetahui bahwa serigala mereka telah saling mengenali sejak pertemuan pertama.

Mereka adalah mate.

Pasangan yang dipilih oleh naluri dan takdir. Tetapi takdir tidak selalu mempertemukan dua orang dengan cara yang mudah.

Kadang-kadang, takdir justru memisahkan mereka terlebih dahulu. Agar ketika mereka akhirnya bertemu kembali...

Mereka tahu betapa berartinya satu sama lain.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel