Bab 06 MINTA TALAK TIGA
“Papa mertuamu kan tahu.”
“Aku sama papa sudah atur rencana agar Sena enggak tahu, sebab aku dan papa yakin sehabis mama enggak ada, Sena akan langsung ceraikan aku, maka papa bilang jangan sampai Sena tahu tentang kehamilanku.”
“Baiklah, tapi kamu harus nurut kalau Okaasan kasih tau.”
“Iya Okaasan, aku pasti menurut,” ibu Artika masih keturunan Jepang, sehingga mereka menggunakan panggilan dalam bahasa Jepang.
Mereka sedang berada di rumah duka, sebentar lagi jenazah Indrayanthi tiba. Indra sengaja membawa jenasah yang sudah dimandikan dan dikafani dari rumah sakit, di rumah nanti tinggal sholat jenazah saja.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kamu gila Sena, mamamu baru meninggal 9 hari!” teriak Karindra Pradipta.
“Aku menikahi Artika karena mama, begitu mama enggak ada, kewajibanku luntur Pa,” balas Sena tak mau kalah.
“Tak perlu ditunda, jatuhkan talakmu sekarang juga!” tantang Artika yang baru masuk ruang kerja Karindra Pradipta.
Karindra Pradipta kaget melihat menantunya masuk. Dia bicara di ruang kerja agar Artika tak mendengar, ternyata menantunya malah tahu.
“Ingat, aku mau kamu ceraikan dengan syarat langsung talak 3. Aku tak mau ada hubungan apa pun denganmu!” tantang Artika.
“Bismillahirrahmanirrahim, saya Wirasena Wursita Pradipta, dengan ini memberi talak tiga pada Kameswari Artika Radeva dengan kesadaran penuh.”
“Untuk itu, semua tanggung jawab saya padamu Artika, sudah berakhir sejak saat ini,” Sena tentu saja sangat senang Arri langsung meminta talak tanpa susah payah. Tadinya dia berpikir akan alot bicara pada Arri masalah perceraiannya. Tak disangka Arri mendengar apa yang dia katakan pada papanya. Sungguh keberuntungan besar, demikian anggapan Sena.
“Terima kasih,” jawab Arri dengan plong. Dia senang tak terikat pernikahan dengan lelaki sebrengs3k Sena.
“Papa, aku minta dua jam untuk berkemas, selanjutnya aku akan datang setiap pengajian mama, tolong kalau aku lupa Papa khabari aku,” ucap Artika tenang, mata Karindra Pradipta berkaca-kaca. Dia dan Yanti sangan mencintai Arri. Mereka sangat menyayangi Artika, gadis kecil yang mereka anggap anak sejak usia empat tahun.
‘Andai kamu tahu, tanpa Artika kamu sudah meninggal diusia 9 tahun Sena. Dia yang menyelamatkanmu dulu,’ batin Karindra Pradipta.
“Kamu enggak perlu keluar rumah kan kamu tetap anak, Papa lagian kan sejak hari ketiga mama meninggal Sena sudah keluar rumah. Jadi kamu enggak perlu keluar rumah Papa,” ucap Karindra Pradipta. Memang Sena langsung bebas dari penjara, begitu tiga hari dari meninggalnya Indrayanthi, dia langsung mengontrak rumah dengan Yasmin, tak lagi tinggal di kamar kost.
“enggak bisa Pa. Sekarang sudah enggak ada mama, nanti kalau aku tetap satu rumah dengan Papa, terlebih tidak ada Sena, orang akan membuat berita yang tidak benar bahwa aku ada apa-apa dengan Papa, atau saat Papa sakit aku merawat orang pasti bercerita Wah Artika pasti ada apa-apa tuh dengan mantan mertuanya.”
“Aku enggak mau itu Pa. Aku tetap akan merawat dan menjaga Papa dari jauh, aku akan pantau terus kesehatan Papa setiap kali aku akan datang, tentu dengan beberapa kerabatku atau aku minta temani beberapa simbok untuk melihat kita berdua ngomong. Tapi tidak kita hanya berdua. Aku tak mau ada omongan orang sirik,” ucap Artika dengan tegas.
Karindra Pradipta sadar hal itu tentu tak baik bila dia berkeras menahan Artika tetap tinggal di rumah miliknya dan istrinya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
‘Kenapa aku jadi sering sakit kepala dan mual ya? Sejak hari ke-3 mama meninggal dan aku pindah ke rumah kontrakanku bersama Yasmin, aku seperti ini. Aku baru bisa beraktivitas diatas jam 10 atau jam 11.’
‘Apa terlalu lelah sejak Mama sakit hingga pemakaman?’
‘Belum lagi persiapan pernikahanku dengan Yasmin juga mencari rumah tinggal untuk kami zejak Mama masih di ICCU, sebab Papa melarang Yasmin tinggal di rumah. Beda dengan Artika yang memang diminta tinggal di rumah keluarga.’
Yasmin yang ngotot tinggal di sana setelah mama meninggal malah tak boleh, bahkan datang bertamu saja dilarang.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Pak Sena kapan cerai dari istri pertama, koq sekarang nyebar undangan akan menikah dan resepsinya hari Jumat, malam Sabtu depan?”
“Ibunya saja belum 40 hari, dia sudah mau resepsi. Istri barunya gila apa idi0t ya?”
“Orang gila mana yang memaksa pak Sena resepsi sebelum ibunya 40 hari?”
Bisik-bisik pegawai di kantor tempat Sena bekerja ramai
Bahkan keluarga besar mama Sena dan Karindra Pradipta juga tak percaya, mama Sena baru meninggal 2 minggu Sena malah mau gelar resepsi, dan perceraian dengan Artika belum diajukan sama sekali.
Sena mendengar itu di kantor, namun dia sudah tutup telinga, menganggap semua biasa saja. Baginya memiliki Yasmin adalah tujuan hidupnya.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Kenapa?”
“Aku sengaja Okaasan, aku butuh surat nikah kami untuk bikin akta lahir nanti.”
“Nanti kalau akta kelahiran sudah dapat baru aku urus perceraian,” jawab Artika cerdas. Dia memang menunda pengajuan surat cerai sampai bayinya lahir kelak.
“Tapi kalau dia mau urus ya silakan. Intinya kalau dari aku ya tunggu anakku lahir. Tapi aku yakin dia tak akan urus sebab merasa tak perlu,” jelas Artika ketika ditanya soal rumors akan diadakannya resepsi pernikahan Yasmin dan Sena yang akan diadakan hari Jumat besok.
Pagi akan diadakan akad, lalu malamnya resepsi, begitu yang Artika dengar sebab dia tak diundang.
Bahkan orang tua Yasmin saja tak mau datang diacara pernikahan Yasmin kelak, begitu yang Artika ketahui.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Dia memang gila, mamanya belum sebulan sudah menggelar pesta resepsi.”
“Perempuannya terlalu gila, masa tak bisa menyuruh Sena sabar.””
Jangan-jangan itu memang kemauan calon istrinya, jadi Pak Sena tak bisa berkutik.”
Makin mendekati hari Jumat, makin ramai pergunjingan di kantor Sena, juga di lingkungan saudaranya, serta saudara Yasmin yang bisa berpikir normal. Mereka sungguh tak percaya Yasmin tak peduli ibu mertuanya baru meninggal dua minggu.
Banyak gunjingan panas lainnya di kantor, tapi Sena tak peduli, yang dia mau adalah segera menikahi kekasih hatinya yang sedang hamil anaknya, dia tak mau belum punya surat nikah ketika bayi mereka hadir.
Sena tidak tahu, dalam hukum agama anaknya kelak tak punya nasab dengannya, yang dia inginkan setidaknya dalam hukum negara anak itu lahir dalam sebuah ikatan pernikahan.
“Kamu bagaimana sih Mas, tiga hari menjelang pernikahan kok kamu seperti ini,” keluh Yasmin kesal.
“enggak tahu. Memangnya aku mau sakit. Aku sudah periksa dokter kan.”
“Dokter enggak kasih obat apa-apa karena aku sehat aku dikasih vitamin banyak, aku minum semua sesuai dosis, apa aku salah?” balas Sena lemah.
“Aku kan begini setiap pagi, pusing, dan mual tidak bisa bangun, juga muntah-muntah, bukan kemauanku kan?”
“Waktu aku cerita sama temanku, itu karena istriku sudah hamil namanya syndrome cauvade, dan benar kan memang kamu sudah hamil ya sudah nikmati,” saja ucap Sena kesal.
“Aku memang pernah dengar sih sindrom itu, tapi enggak pernah kebayang saja kamu akan mengalami hal tersebut saat aku hamil,” kata Yasmin.
Yasmin malas mengurus Sena sakit. Dia harus membersihkan bekas muntahnya, harus membikinkan bubur atau minuman hangat dan segala macamnya. Dia malas. Sedang di rumah ini belum ada pembantu. Yasmin belum dapat pembantu.
Yasmin pemilih untuk mendapatkan seorang pembantu. Dia mau yang sudah setengah umur, karena dia takut suaminya selingkuh dengan pembantu.
Nanti babysitter pun dia akan cari mbok mbok di kampung saja untuk menjaga anaknya. Dia tak mau dengan baby sitter muda karena banyak kasus tuan yang selingkuh dengan babysitter. Tentu saja Yasmin akan meminimalisir hal tersebut dia sudah menjadi selingkuhan jadi dia tidak mau diselingkuhi.
‘Tapi kehamilan Yasmin kan sudah trismester ke-dua. Katanya ini hanya terjadi di kehamilan trisemester pertama. Apa jangan-jangan ….’
Sena berpikir dalam. Biar bagaimanapun selama ini dia juga rutin mengg4uli Artika sebagai istri sahnya. Dan selama ini terhadap Yasmin dan Artika dia tak pernah menggunakan kontrasepsi apa pun sebab dia tak takut bila keduanya hamil.
Walau sejak awal mengg4uli Yasmin, perempuan itu belum jadi istrinya, tetap dia tak pernah menggunakan kontrasepsi, sebab dia yakin tak akan mangkir dari tanggung jawab. Terlebih pada Arri yang istri sahnya. Ngapain dia pakai k0ndom.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
