Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 05 SEMPAT BAHAGIA MELIHAT AKAN PUNYA CUCU

“Mama enggak apa-apa kan? Mama kuat kan?” ucap Artika melihat mertuanya pucat pasi.

“Mama enggak apa-apa, Mama senang banget sebentar lagi Mama kan punya cucu. Mama ingin gendong dia,” ucap Indrayanthi Aswangga mamanya Sena. Dia bahagia melihat layar monitor USG bahwa Arri hamil.

“Dijaga ya Ibu, ini sekitar 25 hari usia bayinya, jadi memang harus benar-benar dijaga.”

“Ya Dokter, saya akan jaga,” jawab Arri bahagia. Dia belum tahu bagaimana nanti tanggapan Sena, yang pasti dia akan menjaga anaknya semaksimal mungkin. Walau misal Sena tak mau anak mereka ini.

“Nanti kalau bisa dikontrol berikutnya suaminya ikut ya, jangan mertuanya saja agar suami istri bisa bersinergi menjaga kehamilan.”

“Iya Dokter, suami saya lagi sibuk, maka Ibu mertua saya yang menemani saya,” Artika menjawab dengan alibi. Dia tahu kalau mertua ikut berarti suami tak keberatan.

Dokter menulis resep yang perlu Artika tebus guna menunjang kesehatan bakal bayi miliknya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Bagaimana Ma? Bagaimana Artika?” Tanya Karindra Pradipta atau INDRA, papanya Sena. Mereka berdua memang memaksa Artika untuk ditemani ketika Artika memperlihatkan test pack dua garis tadi pagi sehabis Sena berangkat ‘kerja.’

“Benar Pa, kita mau punya cucu. Usianya sudah 25 hari. mama senang banget,” mamanya Sena merespon sangat bahagia.

“Alhamdulillah ya Ma, alhamdulillaaaah.”

“Iya Pa, impian Mama akan terwujud bisa gendong cucu.”

“Iya Mama harus sehat terus ya Ma,” kata Artika tersenyum.

“Iya Mama akan sehat terus,” ucap Indrayanthi Aswangga terpatah-patah, tak lama dia pun pingsan di depan ruang periksa poli kandungan. Sebelum mereka melangkah ke apotek untuk menebus resep.

“Ma! Mamaaaaa!” teriak Artika dan Karindra Pradipta.

Tenaga medis di situ langsung membawa nyonya Indrayanthi Aswangga ke ruang periksa. Langsung dibawa ke poli penyakit dalam.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Tidak bisa diperiksa di sini Pak, ini langsung saja ke ICCU dan harus langsung di periksa saksama, sepertinya jantungnya enggak kuat. Dia kan juga terdaftar di sini, memang jantungnya sudah tidak bisa bertahan lama kan kalau yang saya lihat dari data rekam medis nyonya,” jelas dokter yang menerima Indrayanthi di poli penyakit dalam.

Tentu saja Artika dan papa mertuanya sadar memang waktu untuk ibu mertuanya sudah tidak bisa menunggu lama.

Itu juga alasan Indrayanthi meminta pada Sena agar segera menikahi Artika dengan alasan sebagai permintaan terakhir!

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Kenapa aku enggak dikabarin dari pagi, sedang kejadiannya pagi,” teriak Sena di rumah sakit malam ini, dia pulang ke rumah dan di rumah sepi tidak ada mamanya, papanya atau Artika istrinya.

“Kamu enggak perlu teriak-teriak di sini. Bukan kapasitasmu berteriak di sini. Ini di depan ruang ICCU.”

“Waktu kami bicara ke HP-mu tidak kamu angkat dan aku telepon ke nomor meja kantormu, kamu enggak angkat di ruangan. Kamu sibuk dengan perempuan bernama Yasmin yang datang ke kantormu. Aku punya rekaman CCTV hari ini saat dia datang. Jadi jangan salahkan kami kalau kami enggak bisa kabarin kamu. Bukan kami enggak mau kasih tahu.”

“Kamu yang sibuk selingkuh!” teriak Artika di depan ruang ICCU ( Intensive Cardiac Care Unit, adalah unit perawatan intensif khusus untuk pasien dengan masalah jantung, terutama gangguan jantung koroner, serangan jantung, gangguan irama jantung yang berat, dan gagal jantung ).

( Berbeda dengan ICU atau Intensive Care Unit yang menangani pasien kritis secara umum, ICCU fokus pada perawatan pasien dengan masalah jantung yang membutuhkan pemantauan dan penanganan intensif ). Tentu saja semua penunggu pasien melihat pada Sena.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Ada apa dikeluargamu? Mengapa video kita disebar di keluargaku?” Teriak Yasmin begitu sambungan telepon yang dia lakukan diangkat Sena.

“Kamu diam, aku sedang di ICCU sebab mamaku kritis!” Sena balas teriak, dia bahkan tidak menyimak apa yang Yasmin katakan.

“Tapi aku sekarang di usir dari rumah karena video-video itu.”

“Video apa?”

“Video kita making love di ruang tamu rumahmu, di ruang kantormu tadi pagi dan di hotel,” balas Yasmin.

“Koq bisa?” Sena langsung ingat Arri tadi bilang istrinya tahu kalau Yasmin datang ke ruangannya pagi ini.

“Mana aku tahu, semua keluarga besarku dapat, dan aku diusir, sebab orang tuaku malu dihujat pakde, bude, tante dan eyangku.”

“Belum lagi sepupu-sepupuku langsung membully aku.”

“Aku harus kemana?”

“Sementara kamu di kamar kost dulu lah seperti biasa,” balas Sena. Memang selama ini mereka sewa kamar kost hanya untuk making love, sebab kalau malam Yasmin tetap kembali ke rumah orang tuanya.

“Malam begini bagaimana aku bisa masuk kamar kost?” Yasmin dan Sena memang tahu peraturan rumah kost, tak bisa masuk diatas pukul 22.00.

“Apa aku tak bisa menginap di rumahmu saja?” tanya Yasmin penuh harap. Dia sangat ingin masuk rumah Sena dan memilikinya.

“Bukankah semua di rumah sakit, artinya rumahmu kosong.”

“Kamu jangan cari perkara, sudah kamu ambil kamar hotel saja sampai besok pagi, besok kamu tinggal di kamar kost.”

“Aku tak bisa bergerak, sebab mama di ICCU.”

“Aku datang ke rumah sakit kasih attensi ya?” harap Yasmin.

“Kamu gila? Apa kamu enggak pikir siapa yang sebar video itu?”

Sena yakin, yang punya akses CCTV kantor hanya papa dan mamanya saja. Jadi pasti yang menyebar video pasti papanya. Sebab yang punya akses ke keluarga Yasmin juga papanya.

“Kamu mau bikin papaku meradang?” Teriak Sena, sungguh dalam hal tertentu dia tak percaya begitu mencintai Yasmin yang sering OOT ( out of topic ) seperti sekarang.

Orang sedang kalut karena mama Sena sakit, dia malah mau sengaja menginap di rumah keluarga Sena atau mau menjenguk ke ICCU. Padahal gara-gara Sena tak bisa dihubungi dan terlihat Yasmin menghampiri ke kantor saja, video mereka tersebar di keluarga Yasmin. Pasti bila Yasmin tambah berulah, video itu tak hanya muncul di keluarga Yasmin saja.

Itu pun belum tentu video tak menyebar, bisa jadi ada salah satu saudara yang menyebar ke teman akrab, lalu dioper lagi ke sahabat dan akhirnya semua jadi tahu.

Tanpa menunggu jawaban kekasihnya Sena langsung menutup panggilan.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Kamu harus jaga kesehatan, terlebih kamu sedang hamil,” Kemala Raharja, sekretaris Pak Abyakta yang juga sahabat Artika di kantor datang menemui Artika di rumah sakit.

Selain untuk memberi attensi sebab mertua Artika sedang sakit, juga untuk minta tanda tangan Artika terhadap proyek yang sedang dikerjakan Artika.

“Iya, aku akan jaga kesehatan. Terima kasih, sampaikan pada Pak Abyakta yang memberi disposisi untuk aku dapat cuti selama mama mertuaku di rumah sakit ya.”

“Kebetulan Pak Abyakta dengar waktu kamu telepon minta bantuan ku untuk ajukan cuti ke HRD, beliau langsung kasih ACC, sehingga Bu Yuliati, tak bisa menahan cutimu.

“Tahu sendiri Bu Yuliati sebagai manager HRD pelit sekali toleransinya.”

Papa mertua Artika dan Sena tak mendengar percakapan Artika dan teman kantornya sebab agak jauh, mereka hanya tahu Artika harus menandatangi berkas, artinnya di kantor, posisi jabatan Artika tak bisa disepelekan.

“Semoga Pak Abyakta bisa menjadi jodohmu, kalian sama-sama orang baik,” ucap Artika tulus.

“Dia punya orang yang didamba, sayang orang itu sudah punya suami jadi dia hanya bertepuk sebelah tangan,” balas Mala.

Sebagai asisten pribadi Abyakta, Mala tahu atasannya cinta platonis pada seorang gadis sejak tahun lalu, tapi karena terikat dengan mantan kekasihnya, Pak Yakta belum menyatakan cinta pada gadis pujaannya.

Saat mau ucapkan cinta, eh si gadis menikah dengan lelaki lain. Itu yang Mala cermati dari sosok Bozz-nya.

“Yaaaah, kasian bangeeet. Makanya aku sarankan kamu hibur dia, agar dia bisa move on ke kamu,” saran Artika.

“Sudah ah, aku pamit, terima kasih tanda tangannya,” Mala tak tertarik dengan tampan dan mapannya bozz yang sepanjang hari kerja dia dampingi. Entah mengapa dia tak tergiur sosok menarik Abyakta.

“Sama-sama, salam hormat untuk Pak Abyakta dan sampaikan terima kasihku ya.”

Mala pamit pada Sena dan Indra begitu sudah selesai merapikan berkas kantor.

“Aku enggak antar sampai depan ya,” bisik Artika, dia tak mau nanti Sena akan ikut mendampinginya membuat mereka akan jalan berdua sekembali dari mengantar Mala.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Enggaaaaak!” teriak Artika.

“Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun,” semua mengucap kalimat ini mendengar Ibu mertua Artika meninggal

“Kamu harus jaga diri, kamu jangan kelelahan, ingat bayimu,” bisik Haruko Rarasati, Okaasan atau ibu kandung Artika.

“Iya Okaasan, jangan keras-keras nanti ada yang dengar tentang kehamilanku,” bisik Artika.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel