Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 07 RESEPSI TANPA AKAD

“Sudah kita naik taksi saja, enggak usah naik mobilmu,” ucap Yasmin. Hari ini jam 07.00 pagi dia harus dirias oleh MUA di hotel tempat mereka akan mengadakan akad nikah dan resepsi. Bukan hotel besar tapi setidaknya ada ruang resepsinya. Cukup untuk resepsi dengan jumlah undangan sedikit yang mereka sebar.

Sena tidak mengundang banyak orang, hanya beberapa rekan Yasmin maupun rekan kerja Sena karena keluarga sudah bilang tidak ada yang mau datang sejak akad mau pun resepsi.

Sena mau pun Yasmin berpikir realistis saja daripada mereka nyebar undangan lalu menyiapkan makanan sesuai dengan jumlah undangan ternyata enggak ada yang datang, lebih baik mereka realistis menyediakan makanan pas dengan undangan yang mereka sebar.

Itu sebabnya mereka juga tidak menyewa hotel besar, hanya hotel kecil, yang penting ada ruang untuk resepsi dan yang penting disebutkan di sebuah hotel karena rumah kontrakan mereka juga rumah yang tidak besar.

Rumah dengan 2 kamar tidur, satu kamar pembantu dan sarana lainnya seperti rumah pada umumnya.

Sena yang masih mual dan lemas terpaksa naik taksi yang dipesan oleh Yasmin, bahkan sopir taksi yang mengangkat satu buah koper besar mereka, juga satu koper kecil alat make up serta baju-baju resepsi serta baju akad yang masih ada dalam gantungan baju dan plastik, baju itu memang tidak dimasukkan ke dalam koper agar tetap rapi. Sena tak kuat membawa dua koper itu.

‘Kalau pengantinnya sakit begini, bagaimana mau akad nikah ya,’ si sopir yang membantu mengangkat barang hanya bisa membatin saja.

Yasmin dan Sena dirias di satu kamar yang sama. Kamar yang akan mereka jadikan sebagai kamar pengantin mereka. Itu sebabnya mereka bawa koper, berisi baju ganti pakaian mereka.

Sena berbaring terus dia tidak kuat bahkan saat harus memakai jas untuk akad nikah dia sudah sangat lemas benar-benar hari ini lebih lemas dari hari biasanya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Seorang teman Sena yang setia akhirnya memapah Sena dari kamar menuju ke ruang akad nikah

“Aku enggak kuat, aku enggak kuat,” kata Sena pada Yasmin, tapi Yasmin tetap memaksa mereka harus melakukan akad nikah.

Saat tangannya Sena hendak mengucapkan ijab kabul dengan penghulu dia langsung menarik dan berlari untuk memuntahkan isi perutnya .

“Aku nyerah Min, aku nyerah, aku enggak kuat,” Sena terduduk lemas dibawah wastafel, tak mampu berdiri lagi.

“Bagaimana mungkin??!!????”

“Kita sudah bayar semua ini dan undangan juga sudah disebar,” kata Yasmin kalang kabut.

“Kan biasanya jam 10.00 atau jam 11.00 siang aku akan kembali sehat, sudah kita tetap resepsi. Akadnya saja yang kita tunda, nanti begitu aku sehat kita akad saja belakangan. Yang penting resepsi jalan sesuai dengan rencana,” kata Sena, dia sungguh tidak kuat dan terkulai pingsan.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Akhirnya Yasmin pun mengumumkan pada penghulu dan beberapa rekan yang hadir kalau akad nikahnya terpaksa ditunda sampai kondisi Sena sehat, nanti akan tetap diadakan resepsi karena sudah terlanjur dibayar dan undangan sudah menyebar.

Penghulu tentu saja tak peduli toh dia sudah dibayar, begitu pun para undangan akad nikah mereka tetap makan menu yang dihidangkan untuk jamuan akad nikah.

Hari ini sampai jam 01.00 siang Sena tetap belum bisa bangun padahal biasanya jam 10.00 sampai jam 11.00 dia sudah bisa beraktifitas normal.

‘Apa mama enggak rela ya aku nikah, jadi aku sampai seperti ini. Biasanya enggak ada apa-apa kok. Biasanya aku jam 10.00 sudah mulai sehat sudah mulai segar,’ batin Sena yang masih lemas tapi sudah sadar dari pingsannya.

Sesuai dugaan Sena, sore dia sudah mulai segar dan malam resepsi pernikahan dia sudah segar sekali, dia bisa menyambut tamu.

Tamu yang datang memang hanya sedikit, sesuai dengan jumlah undangan, tapi Sena mau pun Yasmin tersenyum bangga. Sena mau pun Yasmin memasang foto resepsi pernikahan mereka sebagai foto profil semua media sosial milik mereka.

Banyak yang mencibir, karena tahu Sena belum cerai resmi dengan Artika, dan juga mamanya baru meninggal, tapi ada yang mengucapkan selamat juga.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Kata Mala kamu hamil?” tanya Yakta.

“Iya Pak Abyakta, sudah masuk ke bulan kedua,” balas Arri.

“Selamat ya, aku lihat kamu sehat, enggak pernah ada keluhan.”

“Alhamdulillah enggak ada keluhan Pak. Selama ini dia enggak rewel, dia tahu mamanya kerja.”

“Kenapa kamu harus kerja, bukankah orang tuamu cukup berada maksudku bukan orang kesusahan, suamimu juga orang hebat kan?”

“Saya wajib bekerja Pak.”

“Saya tak mau jadi tanaman merambat yang menumpang pada paru-paru atau pohon inang walau bukan benalu.”

“Saya mau jadi pohon, berdiri sendiri dan bisa melindungi orang yang meneduh di bawahku dari terik matahari atau guyuran hujan.”

Yakta terpaku mendengar perkataan Artika, dia kagum terhadap perempuan ini. Perempuan yang tak pernah mengeluh, perempuan yang selalu fight dalam segala hal.

“Oke untuk selanjutnya kurangi kegiatan luar kantormu, saya tidak mau nanti saya disalahkan oleh orang-orang karena mempekerjakan ibu hamil dengan pekerjaan berat.”

“Santai saja Pak, selama saya bisa handle, saya akan handle kok. Pekerjaan di luar kantor juga biasa-biasa saja, cuma menghadiri rapat dengan klien atau lihat lokasi. Itu enggak masalah buat saya. enggak berat kok. Sama saja saya jalan-jalan ke mall.”

“Saya kelapangan sama semisal ibu-ibu yang suka ke mall atau ya anggap saja saya lagi hunting kuliner. Itu hobi saya, anggap saya ke lapangan itu saya sedang hunting kuliner. Saya suka itu.”

“Kalau ke mall saya enggak suka. Saya lebih suka makan, makan, dan makan,” balas Artika dengan senyum manis.

“Kamu enggak takut gendut?” Yakta membeliakan matanya tak percaya hobbynya Artika adalah makan.

“Dari dulu enggak takut tuh Pak. Saya makan banyak loh. Porsi saya tuh sekali makan memang sedikit, tapi intervalnya sering, jadi sebenarnya makan saya banyak.”

“Buktinya ya selama ini saya enggak gemuk, enggak gendut, jam 10.00 malam saya lapar saya makan. Bahkan kadang kalau lagi banyak kerjaan jam 02.00 malam saya kerja, saya lapar, ya saya makan,” jelas Artika santai.

“Astaga hebat banget, padahal biasanya perempuan ya entah gadis entah ibu muda entah eh pokoknya perempuan lah, pada takut makan di atas jam 06.00 sore. Kamu malah santai saja makan tengah malam sekali pun,” Yakta bicara, namun fokusnya tetap pada berkas yang Artika berikan. Tak ada gangguan, kerja sambil ngobrol buat Yakta biasa saja.

“Mungkin saya sama dengan ibu saya sama Pak. Jam berapa pun kami ingin makan, ya kami makan. enggak pernah ada halangan atau aturan tidak boleh makan sesudah lewat jam 06.00 sore.”

“Wah senengnya kalau orang seperti itu. ibu saya membatasi dirinya tidak boleh makan lebih dari jam 08.00 malam. Dia percaya kalau itu bikin gemuk, padahal kalau saya lihat sih petunjuk ilmu kesehatan katanya jam 06.00 ya.”

“Tapi ya ibu saya makan pokoknya enggak lebih dari jam 08.00 malam dan dia tidak membolehkan dirinya tidur sebelum 1 jam dari jam makan malam itu.”

“Wah hebat bu Widuri Prabaswara bisa memberi jeda satu jam begitu.”

“Kalau saya makan ya makan, begitu kenyang ngantuk ingin tidur entah baru 20 menit entah 40 menit ya saya tidur,” Yakta terbahak mendengar Artika yang sehabis makan langsung mengantuk dan tak peduli baru berapa menit langsung tidur.

“Anda yang lebih hebat,” kata Yakta disela tawanya.

“Masuk,” ucap Yakta saat mendengar pintu ruang kerjanya diketuk.

“Loh katanya nanti mau makan siang, kok hari gini sudah sampai kantorku?” tanya Yakta begitu melihat siapa yang masuk.

“Ibu bilang, ibu mau ikut makan siang bersama kita, jadi suruh lebih cepat dari jam 12.00 makannya,” jelas si tamu. Dia tadi mendengar Yakta terbahak bicara dengan perempuan di ruangan itu.

“Maksud ibu jam 12.00 teng harus makan, jadi kan kita keluar jam 11-an,” jelas si tamu.

“Susah kalau sama ibu negara itu. Ya sudah sebentar aku lanjutkan berkasku sebentar saja,” Yakta kembali menekuni berkas yang sejak tadi dia tekuni dan sedang ditunggu Arri ( Artika ).

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel