
Ringkasan
Kameswari Artika Radeva atau Artika, terpaksa menikah dengan Wirasena Wursita Pradipta atau Sena karena Indrayanthi Aswangga, Mama Sena mengatakan itu adalah permintaan terakhir. Indrayanthi Aswangga membeli Artika agar gadis itu mau menjadi menantunya, tapi Artika tidak mau harta Yanti, dia mengatakan setuju menikah dengan Sena hanya untuk berbakti pada kedua orang tuanya saja, karena itu Indrayanthi Aswangga membuat surat perjanjian nikah antara Sena dan Artika. Sena juga tidak mau menikah dengan Artika karena dia punya kekasih yang bernama Yasmin, tapi orang tua Sena tidak merestui hubungan Sena dengan Yasmin. Karena alasan saham perusahaan yang tercantum dalam surat perjanjian nikah, maka Sena menyerah dan menikah dengan Artika. Di lain pihak ada Parisya Daniswara Dharmawan yang di jebak oleh Rengganis kekasih kakak kandungnya. Pada hari yang sama Parisya Daniswara Dharmawan atau Dannish yang juga biasa dipanggil Arra menikah juga dengan Rengganis bersamaan dengan Artika menikah dengan Sena. Akhirnya ketahuan kalau anak yang dikandung Rengganis bukan anak Dannish. Sedang Artika harus makan hati karena dia hamil anaknya Sena, padahal dia tahu Sena tak pernah bisa lepas dari Yasmin kekasihnya bahkan Artika punya banyak rekaman pergulatan Yasmin dan Sena yang sekarang sedang hamil anak Sena. Seminggu setelah Indrayanthy meninggal Artika yang sedang hamil tanpa Sena ketahui, dicerai oleh Sena. Karena kehamilan Artika, Sena mengalami morning sickness, saat itu kehamilan Yasmin sudah lima bulan. Beberapa bukti membuat Sena sadar kalau Yasmin bukan perempuan yang baik. Dia ingin kembali kepada Artika tapi tidak bisa terjadi sebab Artika waktu bercerai minta talak 3. Satu setengah tahun setelah perceraian Sena melihat Artika membawa seorang bayi lelaki yang dia duga adalah anak kandungnya. Sena minta mereka rujuk dengan cara membuat Artika menikah sandiwara, lalu bercerai kemudian balik dengan dirinya Akankah Artika mau mengikuti permainan Sena, atau Sena yang tertipu permainan Artika?
Bab 01 JEBAKAN RENGGANIS
“Astagfirullaaaah, aku dijebak Bang! Aku dijebak!” Teriak Parisya Daniswara Dharmawan yang oleh keluarganya dipanggil Arri sedang teman dan kerabatnya mengenalnya sebagai Dannish.
Yakta atau Laksmana Abyakta Dharmawan, abang kandung Arri, yang oleh orang umum dipanggil Abyakta tak percaya melihat adik kandungnya satu ranjang berdua dengan Rengganis kekasihnya. Sungguh dia tak bisa berkata-kata.
“Abang enggak bisa ngomong apa pun Dek, Abang enggak bisa ngomong. Kamu harus segera nikahi dia,” ucap Yakta lirih. Dia lihat Rengganis tak menunjukkan wajah bersalah karena telah tidur dengan adik kandungnya. Bahkan Rengganis seperti tak kenal dengan dirinya.
“Tapi aku enggak kenal dia Bang, abang tahu dong aku berapa kali bertemu dia, enggak mungkin aku tiba-tiba jatuh cinta sama orang yang baru aku kenal terlebih sampai tidur sama dia,” bantah Arri tak ingin menjalin hubungan serius dengan wanita yang entah bagaimana bosa ada bersama dirinya di ranjang.
Arri segera mencari ponselnya ternyata CCTV ruangan tidur mereka rusak tidak bisa diakses sama sekali.
“Aku akan minta teknisi untuk memperbaiki CCTV juga menarik rekaman sebelumnya yang hilang, aku yakin ini ada yang otak-utik. Aku yakin!” teriak Arri geram.
Kedua orang tua Arri dan Yakta juga tak percaya kalau Arri melakukan hal tersebut terlebih melakukan untuk menikam Yakta kakak kandungnya sendiri. Tapi sekarang memang terlihat di ranjang masih ada Rengganis kekasih Yakta.
Yakta sudah dua bulan pergi ke Paris untuk menyelesaikan tugas dari ibu mereka, dia ingin memberi kejutan pulang tiba-tiba, tapi ternyata yang dia dapati di kamar adiknya adalah Arri tidur dengan Rengganis.
“Apa Ibu dan Ayah tahu kapan Rengganis masuk ke rumah ini?” tanya Arri dia benar-benar tidak percaya.
“Bukannya bareng kamu tadi malam, tengah malam?” kata Widuri Prabaswara, ibunda Arri.
“Enggak Bu, aku pulang sendiri. Cek saja sama satpam di depan, aku pulang sendiri pakai mobilku sendiri,” Arri bersikukuh dia tak pulang bersama Rengganis.
“Bagaimana kamu mau bohong seperti itu, kita pulang bareng kok, kamu mabuk langsung bawa aku ke sini,” jelas Rengganis enteng.
“Aku enggak pernah kenal kamu, enggak pernah bicara sama kamu, enggak mungkin aku bawa kamu,” kata Arri berkelit. Dia yakin dijebak, sebab dia tak minum alkohol sama sekali.
“Sudah sekarang kalian berpakaian dan kita bicara di ruang tengah,” ucap Anargya Dharmawan, ayah Arri dan Yakta.
Sambil menunggu Arri dan Rengganis keluar kamar Widuri bertanya pada satpam dan pembantu di rumah siapa yang membukakan pintu Arri semalam dan menyiapkan makan tengah malam Arri. Teryata semua mengatakan Arri pulang sendiri.
Ada teka teki yang harus Argy dan Arri pecahkan bagaimana Rengganis bisa ada di kamar Arri. Mereka hanya diam, menanti saat yang tepat.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Oke, aku akan nikahi secara agama saja, bila tiga bulan ternyata tak hamil, maka akan bercerai, tapi selama tiga bulan, sejak detik ini, dia tak boleh keluar rumah sama sekali, agar tak cari orang untuk menanam benih sebagai invaller benih yang tak pernah aku tanam sama sekali.” Arri tak mau dijebak, dia memasang rambu sedemikian rupa, sebab dia yakin Rengganis punya maksud lain dengan menjebaknya.
“Kalau dia hamil maka aku juga minta langsung test DNA, sebab aku tak pernah menyentuhnya.”
Arri memutuskan menikahi Rengganis, perempuan jadi-jadian kekasih Yakta Abang kandungnya.
Aditya Baskara dan Adiningrum Adiwijaya orang tua Rengganis yang diberi tahu Rengganis ditahan dirumah Yakta kaget. Sebab Rengganis lusa akan menjalani akad nikah dengan Arri, padahal Rengganis pacarannya dengan Yakta, tapi menikahnya dengan Arri.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Yakta menatap pedih kekasihnya menikah dengan adik kandungnya. Sejak dia memergoki Rengganis, dia sama sekali tak mau bercakap apa pun dengan Rengganis, pujaan hatinya.
Satu sisi Yakta sangat percaya pada adiknya, di sisi lain dia ragu mana mungkin Rengganis menggoda Arri bila bukan Arri yang memang lebih dulu memulai.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
‘Tak mungkin, tak mungkin,’ Arri terbata mengetahui Rengganis memang hamil sesuai test pack yang tadi pagi diperlihatkan pada semua di meja makan. Rengganis tersenyum penuh kemenangan.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Memang benar, nyonya hamil Pak,” jelas dokter pada Arri.
“Kalau boleh saya tahu usia kehamilan menantu saya berapa ya Dok?” tanya Widuri memang Arri tidak mau berjalan hanya berdua dengan Rengganis, jadi dia minta ibunya menemani untuk periksa kehamilan sesuai dengan hasil test pack yang di beri tadi oleh Rengganis.
“Ini sudah 9 minggu Bu, selamat ya,” jelas dokter.
“Woooow, 9 minggu?” Arri senang mendengar jawaban dokter.
“Benar pak istri Anda sudah hamil 9 minggu, mungkin dia mau memastikan bahwa dia benar-benar hamil jadi baru lapor pada Bapak setelah 9 minggu,” kata dokter tersebut.
“Ibu jelas ya Bu. Ibu dengar dari dokter kan dia sudah hamil 9 minggu?”
“Apa Dokter bisa memberi surat keterangan usia kandungan istri saya?” tanya Arri senang.
Rengganis bahagia melihat Arri sangat senang dengan keterangan dokter, sungguh reaksi yang berbalik dengan reaksi saat baru lihat layar monitor tadi. Rengganis merasa dia sedang menggenggam bintang di langit.
“Tentu saja bisa. Tenang saja saya akan tuliskan surat keterangan usia kehamilan dan HPL-nya. Jadi nanti Bapak dan Ibu serta eyangnya bisa tahu kapan hari perkiraan lahir atau HPL dari bayi Anda.”
“Oke saya tunggu surat keterangannya itu. Itu sangat penting buat saya,” kata Arri tersenyum senang.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
‘Abang harus datang malam ini makan malam di rumah, penting!’ Yakta membaca pesan adik kandungnya, sejak Arri menikah, dia memilih tinggal di apartemen miliknya. Tak mungkin dia satu rumah dengan mantan kekasihnya.
Yakta tahu, di rumah orang tuanya, Arri dan Rengganis tak satu kamar.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Ada apa?” tanya Yakta pada Widuri saat dia datang ke rumah kedua orang tuanya.
“Nanti tunggu mertuanya Arri dulu, sekalian sehabis makan malam Arri akan membuat pengumuman,” jelas Widuri. Tentu saja Yakta tak sabar ingin tahu mengapa Arri adiknya minta dia hadir malam ini.
Orang tua Rengganis sudah tahu apa yang kira-kira akan diberitahu menantu mereka sehabis makan, sebab tadi Ningrum atau Adiningrum sudah telepon Rengganis lebih dulu.
Tentu saja Ningrum senang, anaknya sudah hamil dan akan segera punya cucu.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
“Abang, Ibu, Ayah, Tante Ningrum dan om Adit, terima kasih mau datang memenuhi undangan saya,” ucap Arri setelah semua makan malam. Memang sengaja dia memilih bicara setelah semua makan. Jangan sampai apa yang dia bicarakan membuat tak enak makan atau malah membatalkan makan malam.
“Tadi pagi Rengganis memberi bukti test pack pada saya di meja makan jadi ayah dan ibu juga tahu.”
“Semua pasti bersyukur ya keluarga kita akan punya tambahan keponakan atau cucu.”
“Untuk memastikan saya tadi minta Rengganis ke rumah sakit yang saya tunjuk. Saya enggak mau yang dia tunjuk. Harus saya yang tunjuk rumah sakitnya dan dokternya, jadi jelas tidak bisa diganggu gugat oleh siapa pun atau direkayasa oleh siapa pun.”
“Saya bawa Rengganis ke dokter bersama ibu karena saya seumur hidup eh bukan seumur hidup sih sejak pernikahan, saya tidak pernah bicara apa pun dengan Rengganis. apalagi pergi berdua, jadi tadi saya pergi ke rumah sakit bersama Rengganis dan ibu.”
Yakta tak percaya ternyata di depan semua orang pun Arri mengatakan dia tak pernah bicara pada Rengganis istri sah adiknya, mantan kekasih hatinya.
