Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 04 SANKSI EYANG PUTRI

“Ya ampuun, koq enggak dibangunin mama ya?” Sena terjaga jam 07.12, dia langsung mandi lalu keluar ke ruang makan.

“Wah pengantin barunya baru bangun,” kata Alambana Aswangga sarkas, dia tahu cucunya bikin masalah, tidak tidur dengan pengantin perempuan.

“Sena mumpung masih ngumpul semua, Papa mau bicara. Kamu memang tidak boleh keluar sampai sepasar atau 5 hari itu ketentuan adat.”

“Tapi yang pasti kalian tidak akan tinggal kontrak atau beli rumah ke mana pun. Papa dan mama sudah mewajibkan Artika untuk tinggal di sini menemani mama dan mengurus mama, lalu kamarmu juga mau ayah bongkar, mau dijadiin ruang baca atau ruang buku.” Sena kaget karena dia diusir dari kamarnya dan itu mungkin salah satu alasan agar dia dan Artika satu kamar.

“Tapi sesekali saya boleh kan pulang menginap ke rumah papa dan mama saya?” tanya Artika.

“Iya tak apa. Kamu tetap boleh menginap di sana, asal menginapnya wajib berdua dengan Sena.”

“Artika tidak boleh menginap sendiri, nanti bila Sena tidak ikut, dia akan menginap di mana-mana,” jawab Indrayanthi, mamanya Sena.

“Kalau sampai Sena menginap di mana-mana sahamnya yang 10% langsung Eyang potong menjadi 5%,” ucap Candrakirana Aswangga , eyang putri Sena dari garis mamanya. Sena tentu saja kaget karena memang sejak dia menikah dia dan Artika sama-sama mendapat saham 10% dari perusahaan eyang putri tempat dia bekerja sekarang.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Swari, maaf ya saya tak bisa datang saat pernikahanmu,” Laksmana Abyakta Dharmawan, manager pengadaan memberi selamat pada Kameswari Artika Radeva atau Arri, tapi Yakta lebih suka memanggilnya Swari.

“Saya panggil kamu Swari saja, sebab kalau saya panggil Arri, itu sama dengan nama adik saya. Sedang dia lelaki,” jelas Abyakta.

”Nanti saya bingung Arri kamu atau Arri adik saya,” ucap Yakta dua tahun lalu ketika Artika diangkat menjadi supervisor marketing. Yakta sendiri selain di kerabatnya, semua memanggilnya Abyakta, seperti yang Arri tahu.

“Memang nama adik Bapak siapa?” Tanya Lukman, seorang staff marketing ketika itu.

“Namanya Parisya Daniswara Dharmawan, teman-temannya memanggil Dannish, tapi kami di keluarga memanggilnya Arri.”

“Mengapa dia bukan dipanggil Paris? Bukankah lebih dekat panggilan Paris ketimbang Arri?”

“Entahlah, ibu saya lebih suka panggilan Arri daripada Paris.”

Dua bulan lalu, Yakta tak bisa hadir di pernikahan Artika, sebab mau tak mau dia harus ada saat adiknya menikah dengan Rengganis. Pernikahan Arri yang Artika, dan Arri yang Parisya itu bersamaan.

Bahkan Widuri sebagai CEO Kharisma Inc juga tak bisa datang menghadiri undangan itu sebab anak bungsunya menikah diam-diam di rumah.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Kamu kenapa?” Yakta hari ini memperhatikan Swari, dia sangat perhatian pada semua pegawainya.

“Tak apa Pak Abyakta,” jawab Artika, Laksmana Abyakta Dharmawan dalam keluarga memang dipanggil Yakta, tapi rekan kerja atu teman sekolah mengenalnya dengan nama Abyakta.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Artika merasa sakit sekali mengingat kejadian semalam. Diusia pernikahan hampir tiga bulan, dia terpaksa menyerahkan kep3rawanannya pada lelaki yang resmi menjadi suami secara agama dan negara, namun tak dia cintai sama sekali.

Menyakitkannya adalah lelaki tersebut bau minuman saat menggaulinya dan meneriakkan nama Yasmin berulang saat berpacu di atas tubuhnya.

Itu yang membuat Artika sangat sedih dan menyesal serta marah.

“Kalau ada yang bisa saya bantu, kamu jangan pernah ragu, katakan saja,” Abyakta tulus mengatakan hal itu.

“Baik Pak, tapi saya serius tak ada masalah,” balas Artika menerima berkas yang sudah ditandatangani Abyakta.

Siapa yang bisa menerima diperlakukan suami sah seperti keset kaki? Artika tak yakin Sena benar-benar mabuk, mungkin hanya kamuflase saja agar tak malu sebab ingin mengg4ulinya sebagai istri tak ada alasan. Sakit dari sesuatu yang robek di bagian intimnya tak sesakit hatinya yang tergores dengan perlakuan Sena padanya.

‘Lihat saja, aku akan membalasmu beribu kali dari sakit yang aku alami selama menikah denganmu!’ ancam Artika dalam hatinya, melihat Sena tidur dengan wajah puas dan lelah di sisinya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Aku masih sangat menginginkannya. Sungguh berbeda dengan Yasmin. Walau aku terpaksa pura-pura mabuk, aku hanya kumur dengan bir saja agar bau alk0hol. Aku teramat malu memulai aktivitas suami istri, dua bulan lebih aku menahannya.”

“Nanti malam, dan malam-malam berikut akan aku ulangi lagi tanpa perlu kumur bir. Pokoknya akan terus aku lakukan,” Sena tersenyum puas mengingat semalam bisa mendapat keperaw4anan istri sahnya.

Perlahan Sena memarkir mobilnya di rumah kost Yasmin. Dia memang tak bisa menginap di kost Yasmin selama mamanya ada. Bahkan pulang terlambat pun akan diabsen sang mama.

Untuk itu, jatah Yasmin hanya pagi hingga jam sembilan pagi, sesudah itu dia akan ke kantor, tiba di kantor sudah jam sepuluh. Kadang dia kabur jam dua siang atau jam makan siang untuk bersama Yasmin hingga habis jam kantor.

Sena melangkah masuk ke dalam kamar kos Yasmin yang sempit. Perempuan itu langsung menghambur ke pelukannya dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, berusaha memancing perhatian dan simpati.

“Sena, kamu kok telat terus sih? Aku kangen tahu,” rajuk Yasmin sambil bergelayut manja di leher Sena. Bau parfum Yasmin yang menyengat entah kenapa membuat Sena tiba-tiba teringat pada wangi lavender lembut yang menguar dari tubuh Artika semalam. Wangi alami yang jujur saja jauh lebih memikat.

Sena berdeham, mencoba mengusir bayangan istrinya dari kepala.

“Maaf ya, Sayang. Mama makin ketat mengawasi pergerakanku di rumah. Ini saja aku harus pintar-pintar mencuri waktu sebelum masuk kantor.”

Yasmin menyipitkan mata, menatap Sena penuh selidik.

“Kamu beneran enggak menyentuh perempuan itu, kan? Kamu janji cuma cinta sama aku, Sena.”

“Tentu saja tidak. Mana sudi aku menyentuh perempuan angkuh seperti dia,” dusta Sena cepat, menutupi gejolak kepuasan sekaligus rasa bersalah yang dirasakannya. Demi menenangkan kekasihnya, dia merogoh dompet dan meletakkan seikat uang di atas meja.

“Ini untuk keperluanmu minggu ini. Aku harus segera pergi.”

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Di saat yang sama, di kubikel kantor Kharisma Inc, Artika menatap layar laptopnya dengan pandangan dingin dan tajam. Tangannya mengepal erat di bawah meja. Rasa jijik dan amarah yang berkecamuk sejak subuh tadi sama sekali belum surut. Pria itu mengiranya bodoh, mengira taktik kumur birnya berhasil membodohinya.

“Swari? Kamu melamun lagi?” Suara Abyakta memecah lamunan malamnya. Manajernya itu berdiri di dekat meja dengan tatapan cemas yang tulus.

Artika tersentak, lalu segera memaksakan senyum profesional terbaiknya. “Ah, tidak apa-apa, Pak Abyakta. Saya hanya sedang mematangkan sebuah strategi baru.”

“Jangan terlalu memaksakan diri. Kalau lelah, istirahatlah,” ucap Abyakta lembut sebelum akhirnya melangkah pergi menuju ruangannya.

Begitu sosok Abyakta menjauh, senyum di wajah Artika langsung lenyap berganti guratan tegas.

Strategi yang dia maksud tentu bukan sekadar urusan target penjualan kantor. Dia meraih ponselnya, mencari sebuah nomor kontak yang telah dia simpan baik-baik sejak sebelum hari pernikahan. Sudah saatnya dia menghubungi Karindra Pradipta, sang ayah mertua. Jika Sena memilih untuk bermain kotor dan merendahkannya, maka Artika tidak akan ragu untuk menghancurkan ilusi kebahagiaan suaminya itu sampai berkeping-keping.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel