Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 03 AKU JUGA TAK INGIN MENIKAH DENGANMU

“Tak usah berharap banyak apa pun padaku. Aku menikahimu karena kasihan pada mama yang bilang ini adalah permintaan terakhir. Aku enggak berharap mama akan meninggal, tapi tetap aku tak mau dibilang bukan anak tak berbakti, jadi aku menuruti permintaannya.”

“Aku punya kekasih.”

“Kalau kamu punya kekasih, kenapa bukan kekasihmu saja yang kamu majuin buat kamu nikahin?” balas seorang perempuan manis yang masih mengenakan pakaian pengantin. Dia tenang, tak ada amarah apalagi merasa tertindas dengan perkataan suaminya.

“Mamaku enggak suka sama Yasmin.”

“Oh ya sudah.”

“Aku juga enggak pengen kok nikah sama kamu. Walau aku bukan orang kaya, tapi aku enggak kekurangan. Hidupku pas-pasan. Pas untuk bayar kuliah, pas untuk berobat, pas untuk makan, pas untuk holiday, pokoknya pas saja. Jadi aku sebenarnya juga karena berbakti sama ibuku saja, jadi jangan berharap juga aku akan jadi istrimu,” balas pengantin perempuan.

“Tapi kamu wajib melakukan kewajibanmu.”

“Aku harus mel4yani kamu sebagai istri dalam artian melakukan semuanya begitu?”

“Sedang kamu boleh semena-mena sama aku. Kamu boleh enggak kasih nafkah aku, kamu boleh berzina di luaran sana, sementara aku harus patuh sama kamu, meladeni kamu dalam urusan luar dalam termasuk s3ks gitu?” tanya Kameswari Artika Radeva atau yang biasa dipanggil ARRI oleh kerabat dekatnya atau ARTIKA oleh semua kenalannya.

‘Aku kira perempuan ini penurut, kenapa jadi dia malah ngebantah aku seperti ini?’ Wirasena Wursita Pradipta atau yang biasa dipanggil Sena mengamati sosok super cantik dimatanya yang sekarang telah resmi jadi istrinya. Dia sungguh tak percaya Arri yang terlihat lembut ternyata berani melawannya.

“Ya pokoknya kamu harus melakukan semua itu,” tegas Sena tak mau peduli.

“Aku akan melakukannya karena itu memang kewajibanku,” jawab Arri.

‘Aku berdosa besar hukumnya bila melawan suami,’ walau tak suka dengan sosok suaminya, Artika akan berupaya berbuat sebaik mungkin. Walau tidak berharap rumah tangganya akan langgeng mengingat belum sampai 24 jam saja Sena sudah mengatakan bahwa mereka menikah hanya karena dijodohkan.

Benar mereka menikah karena dijodohkan, namun Artika berprinsip dia akan menjalankan pernikahan dengan benar, ternyata tak seperti itu pandangan suaminya.

“Dan begitu ada kesempatan untuk bercerai, misal mamaku meninggal, aku akan langsung memberi talak kamu dan aku akan memberikan harta gono gini sesuai dengan ketentuan hukum yang ada,” ucap Sena tanpa peduli kalau ucapannya seakan mengharap mamanya segera meninggal.

“Aku enggak berharap ibumu segera meninggal, tapi jujur aku juga ingin segera bercerai sama kamu,” ucap Artika tegas.

“Dan aku tidak butuh harta gono gini mu. Aku menikah sama kamu bukan gila hartamu. Aku enggak silau sama hartamu. Mungkin Yasmin silau sama hartamu, makanya ibumu enggak suka. Tapi aku enggak. Aku enggak suka hartamu, aku punya karier sendiri tak seperti Yasmin yang hanya menadah tangan darimu. Jadi telan saja itu hartamu dan berikan pada Yasmin kaum duafa yang lebih butuh nafkahmu. Aku enggak butuh!”

“Bangsaaaaaaaaat! Berani kamu mengatakan seperti itu,” teriak Sena kesal.

“Mengapa tidak? Aku sudah tahu kok bagaimana kelakuan Yasmin. Jangan kira aku enggak tahu.”

“Papa sama mamamu sudah memberitahu sebelum melamar aku, jadi pas kamu tadi ngomong saat awal aku enggak kaget.”

“Aku tahu kok tahun lalu Yasmin sengaja kepergok making love di ruang tamu rumahmu supaya ketangkap lalu dinikahkan, tapi orang tuamu tak peduli. Mereka menganggap Yasmin itu sampah.”

“Bangsaaat kamu!” teriak Sena makin marah mengetahui kelicikan Yasmin tahun lalu sudah ada ditangan Arri. Memang ketika itu Yasmin meminta padanya agar mereka melakukan di ruang tamu rumah orang tuanya, agar ketangkep basah dan dinikahkan.

Bukannya dinikahkan, orang tua Sena malah mengusir Yasmin seperti hewan yang tak ada harganya. Orang tua Sena juga sudah mengultimatum, sejak detik itu Yasmin tak boleh masuk pekarangan rumahnya sekali pun.

“Yang bangs4t bukan aku, melainkan kamu dan Yasmin. Bahkan video rekaman permaiananmu dan Yasmin ada di aku. Jadi jangan kira aku enggak tahu.”

“Bahkan ada satu yang kamu enggak tahu dan aku sekarang kasih tahu. Yasmin itu menggoda ayahmu!”

“Tak mungkin,” teriak Sena.

“Aku bukan perempuan bodoh yang mau digeret ke jeruji besi dengan tuduhan pencemaran nama baik atau penghinaan.”

“Kalau berani tanya papamu. Dia punya buktinya. Kalau kamu berani tanya papamu bagaimana sepak terjangnya Yasmin menggoda, sebab yang dicari dia hartanya. Harta papamu bukan kamu,” ucap Artika tenang.

Sena panas, dia yakin Artika tak akan mungkin mengatakan hal bohong seperti itu sebab berkaitan dengan papanya.

Kalau hanya berkaitan dengan Yasmin tentu bisa saja Artika berani mengatakannya, tapi bila disangkut pautkan dengan papanya tentu tak sembarangan, sebab bisa jadi masalah besar bila berkaitan dengan nama besar Karindra Pradipta, papanya.

Sena langsung mengganti pakaian adat Jawa yang dia pakai untuk resepsi tadi dan keluar kamar dengan membanting pintu.

Artika tak peduli, dia menghapus riasan wajahnya dengan santai.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Kamu mau ke mana? Kamu enggak boleh melangkah keluar rumah selama belum satu minggu,” ucap Indrayanthi Aswangga mama Sena.

“Aturan dari mana itu?” bantah Sena tak terima dilarang.

“Itu adat nenek moyang kita yang disebut sepasaran jadi pengantin baru memang tidak boleh keluar sebelum satu minggu,” kata seorang nenek dari garis Karindra Pradipta, papa Sena yang masih menginap di rumah Sena.

Sena kesal karena walau dia bersikeras keluar pun pasti akan ditahan oleh para kerabatnya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

“Sayang, aku enggak bisa keluar rumah, aku enggak di kamar bersama Artika, tapi semua menahanku tak boleh keluar rumah dengan alasan peraturan adat,” Sena yang tadi sudah berjanji pada Yasmin akan menyambangi kekasihnya langsung lapor dia tak bisa keluar rumah.

“Ya sabar dulu ‘suamiku’, tenang saja, aku mengerti koq,” Sena tersenyum manis mendapat jawaban penuh pengertian dari Yasmin kekasih hatinya.

‘Syukurlah Yasmin penuh pengertian, seminggu aku ditahan di rumah dia enggak akan rewel.’

‘Aku harus segera membawa Artika pindah rumah agar bebas bergerak. Kalau aku pisah rumah dari mama, aku akan bebas menginap di rumah Yasmin.’

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Artika tak peduli saat suaminya tak tidur di kamar pengantin mereka sama sekali, melainkan di kamar Sena selama bujang. Dia bangun dengan fresh langsung mandi dan sholat subuh seperti biasa.

“Artika, kamu sudah bangun?”

“Biasa aku jam segini memang sudah langsung bikin sarapan Ma, aku biasa shalat jamaah kalau di rumah. Tadi mau keluar sholat ragu takut sudah ketinggalan,” balas Artika.

“Sena enggak kamu ajak shalat?” Tanya Alambana Aswangga, eyang kakung Sena yang baru pulang dari masjid bersama ayah Sena.

“Saya enggak tahu Sena tidur di mana, saya juga enggak nyariin, biar saja, dia bukan anak kecil. Kalau tak mau dekat pada sang Khalik kita mau mbilangin seperti apa?” balas Artika jujur. Bukan mau mengadu, tapi kan memang Sena tak tidur satu kamar dengannya.

≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel