Bab 02 FAKTA BICARA
“Sesuai hasil pemeriksaan dokter kandungan dan terlihat dari hasil USG di layar monitor Rengganis memang hamil. Ini saya sertakan foto USG dari Rengganis,” Arri menyerahkan satu buah foto pada Ningrum, Mama Rengganis.
Tentu saja Ningrum sangat bahagia melihat hasil USG calon cucunya. Dia pandangi dengan mata berbinar. Sungguh dia tak percaya akan cepat jadi nenek. Tapi karena menantunya orang super kaya, ya tak apa lah. Itu pikiran Ningrum.
“Selamat ya Tante Ningrum, Om Adit, Anda berdua akan punya cucu, tapi sayangnya itu bukan anak saya,” ucap Arri dengan tegas.
Yakta, Argy, Ningrum dan Adit tak percaya Arri bicara seperti itu, sedang jelas-jelas Rengganis hamil dan Rengganis istri Arri.
“Apa maksudmu,” kata Adit keras tentu saja dia tidak mau anaknya disepelekan seperti itu. Dia yakin kalau anaknya tak bersalah.
“Untungnya tadi saya periksa ditemani oleh ibu. Ibu bertanya pada dokter usia kandungannya Rengganis dan usia kandungan Rengganis itu sudah 9 minggu.”
“Ini saya copykan surat keterangan dari dokter bahwa bayinya Rengganis itu sudah 9 minggu, sedang dia menikah dengan saya itu baru 32 hari atau 35 hari dari saya ketangkap basah oleh abang saya Yakta!”
“Saya baru 35 hari tidur dalam tanda petik dengan dia, karena saya enggak pernah melakukan hal apa pun dengan dia.”
“Rengganis menjebak saya. Entah bagaimana dia bisa masuk kamar saya dan abang saya mergokin.”
“35 hari lalu dia baru ketangkap basah dengan saya, sekarang kandungannya sudah 9 minggu, jadi saat ini juga, dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim saya Parisya Daniswara Dharmawan memberi talak 3 pada Anda Rengganis Baskara binti Aditya Baskara dan mengembalikan Anda pada kedua orang tua Anda!”
“Semua urusan kita sejak saat ini terputus demi hukum,” ucap Arri tegas dan tenang. Tentu saja Yakta, Adit dan Ningrum tak percaya.
Rengganis melotot tak percaya, dia langsung mendapat talak tiga dari Arri, lalu dia hanya diam tertunduk tak berani berkata apa pun ketika Arri, suaminya mengatakan itu. Dia yang tahu kalau anak di kandungannya bukan anak Arri.
‘Apa jangan-jangan itu anak aku ya,’ kata Yakta dalam benaknya.
‘Dua hari sebelum aku berangkat ke Paris kan kami masih melakukannya. Pas dong kalau itu 9 minggu.’
‘Tapi kalau itu anak aku, kenapa dia pakai ngejebak Arri? Dia kan tinggal bilang sama aku.’
‘Kan enggak perlu njebak Arri, kalau ingin cari orang yang mapan. Aku pasti mau bertanggung jawab wong kami sama-sama cinta. Apa dia tak yakin itu anakku, apa itu anak dia dengan orang lain?’
‘Aku sekarang malah ragu. Kalau itu pun anak aku, aku enggak yakin juga dia enggak pernah main sama orang lain. Mengingat dia menjebak Arri sedemikian rupa.’
‘Aku yakin Rengganis tidak yakin kalau itu anak aku, sehingga dia mau menjebak Arri agar dapat harta. Kalau ngejebak yang lain enggak mungkin kan dapat harta.’
‘Aku yakin seperti itu.’
‘Aku yakin Rengganis enggak yakin bayi di perutnya adalah anak aku, pasti dia banyak laki-laki lain.’
‘Walaupun itu anak aku, aku akan menerima anaknya, tapi tidak Rengganis-nya, aku kini meragukannya,’ Yakta berpikir keras mengetahui kenyataan anak di rahim Rengganis bukan ada Arri.
Widuri Prabaswara dan Anargya Dharmawan orang tua Yakta dan Arri tentu sudah memutuskan instant tak mau lagi Rengganis menjadi menantunya sejak tahu Rengganis hamil 9 minggu. Sejak pulang dari rumah sakit Widuri tahu apa yang Arri temukan dari hasil periksa di dokter kandungan barusan.
‘Aku enggak pikir Arri akan frontal seperti ini, aku pikir dia akan memberitahu bahwa aku hamil ternyata dia menghitung usia kehamilanku!’
‘Siaaaaaaaaaaaaaaal kamu Arri. Dasar b4jingan tengik!’
“Babe ini anakmu babe,” kata Rengganis pada Yakta tanpa malu. Bagaimana mungkin, dia sudah menikah dengan Arri karena tertangkap basah sudah tidur bersama Arri, lalu sekarang dengan entengnya dia mengatakan bayi di rahimnya anak Yakta.
Bukankah itu sama saja dia mengumumkan bahwa dia tidur dengan dua lelaki kakak beradik kandung itu?
Yakta tersenyum sinis, dia ingat wajah Rengganis saat kepergok dirinya, wjah Rengganis seakan tak kenal, juga memperlihatkan rona kemenangan bisa menjebak Arri adiknya. Wajah itu tak merasa bersalah pada dirinya yang resmi kekasih Rengganis.
Sekarang perempuan itu dengan mudahnya mengatakan kalau bayi di rahimnya adalah benih yang dia tanam.
‘Sampaaaaah!’ Yakta balik badan tak mau peduli.
“Perempuan busuk! Jangan kamu mau menjebak anakku yang lain!” bentak Widuri tak terima Yakta akan diminta tanggung jawab oleh Rengganis.
“Kamu sudah menjebak Arri karena kamu enggak yakin itu anak siapa, lalu sekarang kamu bilang ini anaknya Yakta?”
“Walaupun misal itu secara biologis anaknya Yakta, tetapi secara agama dia bukan nasabnya Yakta, apalagi secara negara, karena kamu enggak nikah sama Yakta dan lagi saya sebagai ibunya Yakta tidak sudi kamu menjadi menantu saya dengan Yakta.”
“Walau misalnya Yakta mau menerima kamu menjadi istrinya, tapi saya tidak rela, jujur saya jijik sama kamu. Ini jelas menunjukkan kamu tidur dengan banyak lelaki>”
Ningrum dan Adit orang tua Rengganis tentu saja malu mereka dikuliti seperti itu. Mereka tak bisa marah anaknya diinjak harga dirinya, sebab memang Rengganis yang salah, baru menikah karena ditangkap basah 35 hari lalu, koq malah sudah hamil 9 minggu.
“Alhamdulillah waktu itu Arri mengambil jalan yang sangat bernas yaitu dia tidak mau pernikahannya diumumkan dulu, karena dia tidak yakin. Dia cuma minta akad nikah dan dia juga minta supaya Rengganis dikurung sampai 3 bulan. Ternyata belum 3 bulan Rengganis sudah hamil dan hamilnya ternyata sudah 9 Minggu.”
“Jadi benar-benar silakan kamu bereskan barang-barang kamu. Saya tunggu 1 jam dari sekarang keluar dari rumah saya,” ucap Anargya Palgunadi yang biasa dikenal sebagai pak Argy.
≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈≈
Aditya menarik napas dalam-dalam, wajahnya merah padam menahan malu yang teramat sangat. Tanpa berkata-kata lagi, dia mencengkeram lengan Rengganis dengan kasar, memaksa putrinya yang terus menangis sesenggukan itu untuk bangkit dari sofa.
Ningrum hanya bisa mengekor di belakang dengan langkah gontai, air mata kebahagiaan yang tadi sempat menggenang kini berubah menjadi tetesan kehinaan. Impiannya memiliki menantu super kaya hancur lebur dalam hitungan menit, berganti dengan aib besar yang akan mencoreng nama baik keluarga mereka selamanya.
Sementara itu, di ruang tamu yang mendadak hening, Arri mengembuskan napas lega. Beban berat yang selama 35 hari ini menghimpit dadanya seketika menguap. Dia menatap Yakta, yang masih berdiri mematung dengan rahang mengeras dan tatapan kosong. Kakaknya itu tampak sangat terpukul, bukan karena kehilangan Rengganis, melainkan karena syok menyadari betapa murah dan liciknya wanita yang pernah dia cintai setengah mati.
Widuri segera merangkul kedua putranya, bersyukur badai besar ini akhirnya menyingkap kebenaran sebelum semuanya terlambat.
