Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Kalung Liontin Ruby

"Hai, Dewa!"

Senyum lebar mengukir bibir Dewa. "Kukira kamu sudah lupa padaku."

"Hehehe. Tidak mungkin aku melupakan orang ganteng sepertimu."

"Tapi buktinya, kamu menolakku," ujar Dewa.

"Aish... kamu membahas itu lagi." Linzy pura-pura merajuk.

"Hehehe. Maaf. Aku hanya rindu padamu." Dewa menatap lekat wajah Linzy. "Ngomong-ngomong, bagaimana kabarmu? Kudengar kamu menghabiskan waktu liburanmu di kampung."

Linzy mengangguk. "Iya, aku pergi ke rumah Nenek. Tapi maaf, Dewa, aku tidak bisa mengobrol lebih lama. Masalahnya, aku banyak pekerjaan."

"Iya, aku mengerti. Sebagai sekretaris sekaligus tangan kanan bos, tentu saja waktumu sangat berharga."

"He-he-he, bukan begitu. Kamu tahu sendiri, Mr. Robert orangnya seperti apa," bantah Linzy sambil mengecilkan volume suaranya.

Selagi mereka berdua asyik mengobrol, ponsel Linzy bergetar. Nama Mr. Robert tertera di layar.

"Aku harus segera naik. Mr. Robert memanggilku."

Linzy cepat-cepat menyelesaikan sarapannya.

"Sampai jumpa lagi, Dewa."

"Sampai jumpa, Linzy. Lain kali kita sambung obrolan kita."

"Iya, tentu saja!"

---

Waktu terus berlalu. Hari yang dinantikan Linzy akhirnya tiba. Hari yang merupakan salah satu hari paling spesial dalam hidupnya.

"Sayang," panggil Nyonya Mela, ibunda Linzy.

Pintu kamar yang dihiasi gantungan Hello Kitty terbuka dari dalam. Linzy baru selesai mandi dan masih mengenakan bathrobe.

"Ada apa, Ma?"

"Kamu tidak kerja?" tanya Nyonya Mela.

"Mr. Robert mengizinkan aku libur. Katanya sih sebagai hadiah ulang tahunku."

"Baik sekali bosmu itu," puji Nyonya Mela.

"Mama ada apa mencari aku?" tanya Linzy sambil membuka pintu kamarnya lebar-lebar agar ibunya lebih mudah masuk.

Di dalam kamar, Nyonya Mela memberikan sebuah kotak kecil kepada Linzy. "Ini hadiah ulang tahun dari Papa dan Mama."

Kedua mata Linzy berbinar saat melihat kotak kecil di telapak tangan ibunya.

"Waaah... apa ini, Ma?"

"Bukalah."

Linzy membuka kotak tersebut Sebuah kalung emas dengan liontin ruby langsung membuatnya kegirangan.

"OMG! Indah sekali. Sudah lama aku menginginkannya. Terima kasih, Ma." Linzy memeluk ibunya erat.

"Kamu suka?"

"Tentu saja aku suka! Sangat suka!" jawab Linzy tanpa melepaskan pandangan dari liontin di tangannya.

"Pakai kalung itu nanti malam," pinta Nyonya Mela.

"Akan kupakai kalung ini dan kupamerkan kepada teman-temanku!" seru Linzy kegirangan.

"Tapi, Nak, nanti malam Mama dan Papa tidak bisa menemani kamu sampai acaranya selesai."

"Kenapa?!" tanya Linzy.

"Papamu harus bertemu klien di tempat lain. Tidak apa-apa, kan, Nak?"

"Apa tidak bisa dibatalkan saja?!" pinta Linzy. "Malam nanti acaranya istimewa buatku."

"Tidak bisa, Sayang. Klien ini sudah jauh-jauh hari membuat janji dengan Papamu. Kalau dibatalkan, Papamu tidak enak. Kamu mengerti, kan?"

"Iya," jawab Linzy berat hati.

Setelah itu, Nyonya Mela pergi meninggalkan kamar putri semata wayangnya.

Dreet... dreet... dreet!

Ponsel di atas nakas bergetar. Linzy melihat nama sahabatnya tertera di layar.

Silvi:

"Halo, Linzy!"

Linzy:

"Halo."

Silvi:

"Nanti malam acaranya tidak berubah?"

Linzy:

"Tidak! Jangan lupa loe datang!"

Silvi:

"Tentu saja gue akan datang. Tidak akan gue lewatkan makan malam gratis!"

Linzy:

"Oke!"

Sambungan telepon ditutup.

Linzy kembali melihat kalung berliontin ruby di tangannya. Senyum lebar menghiasi wajahnya. Sangat terlihat jelas kalau Linzy menyukai hadiah tersebut.

---

Di tempat lain, Tuan Muda Trista sedang dirayu sahabat sekaligus tangan kanannya.

"Come on, loe ikut dengan gue nanti malam," ajak David.

"Gue malas datang ke acara seperti itu," tolak Trista. "Membayangkannya saja gue malas, apalagi harus datang."

"Yaelah. Nanti di sana akan banyak cewek-cewek cantik. Loe bisa pilih cewek mana yang loe mau," rayu David, tidak patah semangat. "Tinggi, pendek, kurus, gendut, loe bisa pilih."

"Yang ulang tahun siapa?" tanya Trista. "Apa gue kenal?"

Sesaat David terdiam, mencoba mengingat apakah Trista mengenal Linzy atau tidak.

"Sepertinya kalian berdua belum kenal. Saudara gue itu belum pernah kumpul dengan kita."

Trista bangkit dari duduknya. "Oke! Kalau begitu gue tidak ikut!"

"Eh, eh, jangan begitu, Trista!" David ikut bangkit. "Loe harus ikut! Gue tidak mau dengar alasan apa pun! Pokoknya loe harus ikut dengan gue!"

Trista tidak menghiraukan rengekan David. Kaki panjangnya melangkah keluar dari ruang kerja.

---

Waktu terus berlalu.

Linzy sudah berada di restoran tempat acara ulang tahunnya akan berlangsung.

Ruangan yang tidak begitu besar itu ditata sangat apik, dihiasi pernak-pernik berwarna cerah serta bunga-bunga segar di berbagai sudut.

"Lin, ruangannya bagus banget," puji Silvi yang berdiri di samping Linzy. "Simple, tapi elegan."

"Gue yang mengaturnya sendiri. Secara gue sekarang sudah besar, umurku dua puluh tiga tahun. Gue sudah dewasa, jadi gue mengatur ruangan ini tidak seperti ulang tahun umur tujuh belas."

"Oh, ya? Umur dua puluh tiga tahun, tapi belum tahu rasanya pacaran," ledek Silvi. "Gue sangat yakin loe belum pernah merasakan apa itu ciuman."

"Yang boleh menyentuh bibir dan tubuh gue adalah laki-laki yang nantinya akan menjadi suami gue. Jadi, gue tidak akan sembarangan memberikan bibir yang sangat berharga ini kepada setiap lelaki. Memangnya loe yang doyannya main sosor sana-sini!"

"Hehehe," Silvi terkekeh. "Sembarangan tuduh gue sosor sana-sosor sini. Gue hanya ciuman dengan pacar gue, bukan dengan sembarang cowok!"

"Sama saja! Sudah berapa puluh kali loe gonta-ganti pacar?"

"Ha-ha-ha!" Tawa Silvi semakin terbahak. "Itu tandanya gue laku. Daripada loe, umur dua puluh tiga tahun belum tahu rasanya pacaran."

"Gue bukan tidak laku, tapi gue pilih-pilih. Untuk mendapatkan gue tidak semudah membalikkan telapak tangan. Secara gue itu masih perawan, cantik, pintar, tidak sombong, dan baik hati."

Selagi Linzy panjang lebar memuji dirinya sendiri, tiba-tiba wajah Silvi menegang.

Tatapannya menangkap sosok pria yang baru saja masuk melalui pintu utama.

"Lin... Lin, lihat itu!" tunjuk Silvi kepada orang yang baru saja masuk.

"Apa?!" tanya Linzy.

Namun, sebelum sempat melihat ke arah yang ditunjuk Silvi, ponsel di tangannya bergetar.

Linzy tidak memperhatikan tunjukan Silvi. Fokusnya beralih pada panggilan telepon dari ibunya.

"Eh, eh... ke mana si Alex?" Silvi kehilangan sosok tersebut di antara kerumunan teman-temannya. "Lin... Lin, si Alex hilang!"

Linzy selesai menerima telepon.

"Ada apa sih? Heboh banget! Barusan yang telepon nyokap gue."

"Loe undang si Alex?!" tanya Silvi cemas.

Linzy mengernyitkan alis. "Alex? Maksud loe, si Alex yang..."

"Iya, si Alex itu!" potong Silvi kesal. "Si Alex yang mau memperkosa si Mirna!"

"Hah?!" Linzy terkejut.

"Barusan ada di sana!" tunjuk Silvi ke arah depan. "Gue melihatnya!"

"Mana?!" tanya Linzy penuh kekhawatiran.

"Tadi si Alex berdiri di sana!" Silvi melihat ke arah kerumunan teman-temannya. "Bahkan dia sempat melihat ke arahmu!"

Kecemasan langsung menghinggapi hati Linzy. Berbagai macam pikiran buruk muncul satu per satu dalam benaknya.

Kenapa Alex ada di sini?

Bukankah seharusnya pria itu masih berurusan dengan hukum?

Dan yang lebih membuat Linzy khawatir... tatapan Alex tadi seolah-olah sengaja mencari dirinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel