Pustaka
Bahasa Indonesia

CINTA DI HATI BERSEMI KEMBALI

35.0K · Ongoing
lyns_marlyn
37
Bab
194
View
9.0
Rating

Ringkasan

"Ya Tuhan... kenapa ini harus terjadi padaku? Kenapa aku harus bertemu lagi dengannya?!" Linzy pernah mengira bahwa waktu mampu menghapus segalanya. Kenangan tentang malam itu, perasaan yang pernah tumbuh, juga nama seseorang yang mati-matian ia kubur jauh di dalam hatinya. Trista. Bagi Linzy, pertemuan dengan Trista seharusnya menjadi masa lalu yang tidak perlu diingat kembali. Ia telah menutup rapat lembaran itu dan melanjutkan hidup, meski diam-diam luka yang ditinggalkan masih membekas. Namun, bagaimana jika takdir justru mempertemukan mereka kembali? Setelah bertahun-tahun berusaha menjauh, Linzy kembali berhadapan dengan sosok yang paling ingin ia lupakan. Sosok yang ternyata masih mampu membuat hatinya berdebar hanya dengan satu tatapan. Linzy tahu, ia seharusnya pergi. Ia tahu, membuka kembali masa lalu hanya akan membuat luka lama kembali berdarah. Namun, semakin ia berusaha menyangkal perasaannya, semakin kuat pula hatinya mengkhianati logika. Sementara itu, Trista datang bukan sekadar membawa kenangan lama. Ada sesuatu yang belum selesai di antara mereka. Sebuah perasaan yang ternyata tidak pernah benar-benar mati. Apakah cinta yang pernah terkubur bisa kembali bersemi? Atau justru pertemuan kedua mereka akan membuka luka yang jauh lebih dalam? Sejauh apa pun jarak memisahkan, selama apa pun waktu berlalu, dan sekeras apa pun hati berusaha menyangkal... Jika takdir kembali mempertemukan mereka, apakah Linzy masih mampu menolak cinta yang diam-diam kembali bersemi di hatinya? Ikuti kisah Linzy dan Trista hingga akhir, dan temukan apakah cinta mereka akan mendapatkan kesempatan kedua... atau kembali berakhir dengan luka.

ModernBillionaireRomansaCinta Pada Pandangan PertamaWanita CantikTuan MudaCinta PertamaSetiaSweet

1. Terjebak Dalam Pertemanan

"Ku mohon, lepaskan aku..."

Suara Mirna terdengar tercekat di antara isak tangis yang sejak tadi tidak mampu dibendungnya. Gadis itu bersimpuh di lantai, kedua tangannya terkatup di depan dada. Wajahnya pucat, matanya sembab, sementara air mata terus mengalir membasahi kedua pipinya.

Di hadapannya berdiri tiga pria yang selama ini ia anggap sebagai teman. Willy, Toni dan Alex.

Ketiganya menatap Mirna tanpa sedikit pun menunjukkan rasa iba.

Ruangan tua itu terasa begitu dingin meskipun udara di dalamnya pengap. Lampu yang menggantung di langit-langit hanya memberikan cahaya temaram, membuat bayangan ketiga pria itu tampak semakin mengerikan di dinding.

Tiba-tiba Willy tertawa. "Ha-ha-ha..."

Mirna tersentak.

"Kau ingin kami melepaskanmu?" tanya Toni dengan nada mengejek.

Mirna mengangguk cepat. "Iya... aku mohon. Aku berjanji tidak akan menceritakan apa pun kepada siapa pun. Aku hanya ingin pulang."

Alex melangkah mendekat. "Kalau begitu, kenapa tidak kau turuti saja keinginan kami?"

Tubuh Mirna langsung menegang. Ia menggeleng pelan. "Tidak..."

"Kenapa?" tanya Alex.

"Aku tidak mau."

Willy mendengus. "Masih saja keras kepala."

Mirna menatap ketiga pria itu dengan mata berkaca-kaca. "Kalian temanku. Kenapa kalian tega melakukan ini kepadaku?"

Toni tertawa kecil. "Teman?"

Mirna terdiam.

"Jangan terlalu percaya diri, Mirna," lanjut Toni. "Kami tidak pernah menganggapmu teman."

Kalimat itu membuat hati Mirna terasa hancur. "Tapi..." suaranya bergetar. "Kalian sendiri yang datang kepadaku. Kalian yang mengajakku berteman."

"Ha-ha-ha." Alex tertawa. "Kau benar-benar naif."

Mirna menundukkan kepala. Selama ini ia benar-benar percaya kepada mereka. Ia tidak pernah menyangka bahwa semua perhatian yang diberikan ketiganya ternyata hanya sebuah permainan.

Willy melangkah mendekat. "Kau terlalu mudah percaya kepada orang lain."

Mirna mundur perlahan. "Aku tidak mengerti..."

"Kau tidak perlu mengerti," jawab Willy dingin.

Mirna terus mundur hingga punggungnya menyentuh meja tua di belakangnya. Matanya bergerak cepat mencari jalan keluar. Pintu berada beberapa meter dari tempatnya. Kalau saja ia bisa berlari...

Tanpa menunggu lebih lama, Mirna tiba-tiba berbalik dan mencoba menuju pintu. Namun Toni lebih cepat. Tangannya menangkap pergelangan tangan Mirna.

"Lepaskan aku!" Mirna meronta. "Jangan!"

"Diam!" bentak Toni.

Mirna terkejut dan tubuhnya gemetar. Ia berusaha menarik tangannya, tetapi cengkeraman Toni terlalu kuat. "Lepaskan!"

Willy dan Alex ikut mendekat.

Mirna semakin panik. "Tolong... aku mau pulang."

Alex menatapnya tanpa ekspresi. "Sudah kubilang, jangan membuat semuanya sulit."

Mirna menggeleng kuat-kuat. "Aku tidak mau!"

Ia kembali berusaha melepaskan diri. Namun usahanya sia-sia. Air mata mengalir semakin deras. "Tolong..."

Suara Mirna berubah menjadi isakan. Ia menatap satu per satu wajah ketiga pria tersebut, berharap salah satu dari mereka masih memiliki hati nurani. Namun tidak ada, tidak sedikit pun. Yang ia lihat hanya tatapan dingin dan senyum yang membuat tubuhnya semakin menggigil.

"Kalian benar-benar jahat," bisiknya.

Willy tertawa kecil. "Baru sekarang kau menyadarinya?"

Mirna menelan tangi. "Aku percaya kepada kalian..."

"Kesalahanmu adalah terlalu percaya," jawab Alex.

Mirna terdiam. Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Terlalu percaya. Terlalu polos. Terlalu mudah menganggap semua orang baik.

Ia menyesal.

Sangat menyesal. Seandainya sejak awal ia tahu seperti apa sifat mereka, ia tidak akan pernah mau mendekati ketiganya.

Mirna kembali mencoba mencari kesempatan untuk melarikan diri. Saat perhatian mereka sedikit teralihkan, ia menarik tangannya dengan sekuat tenaga.

Namun Toni kembali menangkapnya. "Jangan coba-coba!"

Mirna terjatuh. Lututnya membentur lantai. "Aduh..."

Ia meringis menahan sakit.

Willy hanya memandangnya. "Sudah cukup."

Mirna mengangkat wajah "Kenapa kalian melakukan ini?"

Tidak ada jawaban.

"Kalian mau apa dariku?"

Alex tersenyum tipis.

Mirna langsung merasa tidak nyaman. "Aku mohon..." katanya lagi. "Jangan sakiti aku."

Toni melangkah mendekat. "Kau terlalu banyak memohon."

Mirna segera mundur. "Jangan dekat-dekat!" Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangan, berusaha menjauh. Namun ruang itu terlalu sempit.

Tidak ada tempat untuk bersembunyi. Tidak ada pintu lain. Tidak ada jendela yang bisa digunakan untuk melarikan diri.

Mirna merasa benar-benar terjebak.

Ia kembali menatap pintu. Seandainya saja ada seseorang yang lewat. Seandainya saja ada yang mendengar teriakannya.

Mirna menarik napas dalam-dalam. Lalu berteriak sekuat tenaga.

"Tolong!"

Ketiga pria itu langsung menoleh.

"Tolong!"

Suara Mirna menggema di dalam ruangan.

"Tolong aku!"

Toni segera membentaknya. "Diam!"

Mirna terdiam sejenak karena ketakutan. Namun beberapa detik kemudian, air matanya kembali jatuh. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Tidak ada yang datang. Tidak ada suara langkah kaki dari luar.

Tidak ada suara seseorang yang bertanya apa yang sedang terjadi.

Kesunyian justru membuat keadaan terasa semakin menakutkan.

Mirna menutup mulutnya sendiri agar isak tangisnya tidak terdengar terlalu keras. Dalam hati, ia berdoa.

Ya Tuhan... Tolong aku. Aku takut. Aku ingin pulang.

Ia memejamkan mata erat-erat. Bayangan wajah kedua orangtuanya tiba-tiba muncul dalam pikirannya. Ia membayangkan rumahnya. Kamar tidurnya. Tempat-tempat yang selama ini terasa begitu biasa, tetapi malam itu justru menjadi sesuatu yang sangat ia rindukan.

"Aku ingin pulang..." bisiknya.

Willy mendengar suara itu. "Pulang?"

Mirna membuka mata. "Iya..."

"Apa kau pikir kami akan membiarkanmu pergi begitu saja?"

Mirna kembali terdiam. Air mata yang sejak tadi mengalir semakin deras. Ia tidak lagi memiliki jawaban. Tidak ada kata-kata yang mampu mengubah keadaan.

Tidak ada alasan yang bisa membuat ketiga pria itu merasa iba. Yang tersisa hanyalah dirinya sendiri dan keberanian kecil yang masih ia miliki.

Mirna mengepalkan tangannya. Ia harus bertahan. Entah sampai kapan. Entah bagaimana caranya. Tetapi ia harus bertahan.

Malam semakin larut. Lampu temaram masih menerangi ruangan. Bayangan ketiga pria itu masih terlihat jelas di hadapannya.

Mirna meringkuk sambil memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar, tetapi ia berusaha tidak menyerah.

"Ya Tuhan..." bisiknya sekali lagi. "Kalau memang tidak ada siapa-siapa yang bisa menolongku malam ini..."

Air matanya jatuh.

"...beri aku kekuatan untuk bertahan."

Ruangan kembali dipenuhi keheningan. Tidak ada seorang pun datang. Tidak ada pertolongan. Tidak ada jalan keluar.

Malam itu masih panjang. Dan Mirna masih harus menghadapi ketakutannya seorang diri.