Bab 6
Hari ini Yeri berencana memberitahukan Felicia tentang rencananya ingin menikahi Safira juga. Dia harus mencari cara yang effektif untuk berbicara dengan Felicia agar rencananya berjalan mulus. Yeri tidak mau membohongi gadis polos seperti Felicia.
Malam ini Yeri mengajak Felicia makan malam disebuah restoran steack yang terkenal di Jakarta. Yeri mengendarai mobil sport lamborgini Huracen didampingi Felicia menelusuri jalan di ibu kota Jakarta yang ramai. Malam ini Felicia mengenakan rok span highwest hitam dengan blouse berenda putih dengan krah tinggi dan memakai highhill 10 cm, dengan tas himalaya, membuat penampilan Felicia terlihat tinggi dan ramping, juga modis. Lagi-lagi Yeri dibuat terkesan melihat penampilan Felicia. Yeri mengandeng erat lengan Frlicia pada waktu memasuki restoran tersebut, seolah olah Felicia miliknya. Membuat iri para wanita yang melihatnya, belum lagi Yeri kesal melihat mata para pria memandang Felicia dengan terpana. Yeri mengakui dalam hati kalau Felicia cantik dan anggun.
“Kalau kamu yang pergi ngak dikawal ya,kak ?” Tanya Felicia setelah duduk dimeja yang dipesan Yeri.
“Coba kamu ingat, tadi mobil hitam dibelakang kita adalah mobil pengawal kita.” kata Yeri.
“Ohhhh ya ya. Aku ingat Kak” sahut Felicia dengan tersenyum manis
“Ya itu pengawal kita, tidak mungkin keluar tanpa pengawalan. Nanti kamu juga mengetahui, kita akan dikawal terus sampai tidak bisa punya privasi sendiri kecuali di kamar tidur,” kata Yeri dengan tertawa kecil.
Felicia hanya menganggukan kepala saja, sambil berfikir dalam hati, repot juga ngak bisa kemana mana.
Felicia melirik Yeri, malam ini Yeri tampan dengan pakaian casualnya. Felicia merasa nyaman dengan Yeri malam ini. Saat Yeri mengenakan pakaian kerja, Felicia melihat diri Yeri yang lain, terlihat dingin, membuat Felicia merasa semakin jauh.
Yeri sudah memesankan menu makanan mereka berdua lengkap dengan desertnya.
Sesekali mereka berbincang tentang kehidupan sebelum mereka bertemu.
“Jadi kamu belum pernah pacaran.?” tanya Yeri penasaran
“Belum kak, mana sempat pacaran, jadwal pelajaran padat sekali, ditambah Oma suruh aku belajar piano, kursus table maner, kursus bahasa Cina dan Jerman, coba kapan mainnya. Ditambah sekarang harus kuliah dan menikah pula,” jawab Felicia dengan lirih.
“Kamu keberatan dengan menikah sekarang.? tanya Yeri dengan senang. Hemmm ini waktunya bicara dengan calon istri kecilnya, kata Yeri dalam hati.
“Kak, sekarang ak sudah tidak punya siapa-siapa lagi, hanya punya papa, mama dan kakak, aku ngak ada pilihan, tapi aku akan berusaha menjadi istri kakak yang baik, tentunya kakak harus mengizinkan aku kuliah.” jawab Felicia dengan senyum yang manis.
Membuat Yeri semakin berat untuk berkata-kata. Disatu sisi mulai ada ketertarikan dengan Felicia, disisi lain dia sangat menyayangi Safira dengan tulus.
“Cia, sebenarnya ada yang aku mau bicarakan, pasti sangat berat buat kamu juga, tapi aku ngak mau memulai suatu pernikahan dengan kebohongan. Sebenarnya……. Aku sudah mempunyai pacar sejak 14 tahun yang lalu, namanya Safira, aku mulai bertemu dan dekat sejak kelas 3 smp, dia dua tahun lebih tua dari aku, saat itu dia kelas 2 sma di satu sekolah yang sama. Kami terus berhubungan sampai sekarang, papa dan mama tidak setuju karena mereka menjodohkan kita sejak kita kanak kanak, aku akan menikah dengan kamu, tetapi setelah menikah dengan kamu, aku akan menikahi dia.” jelas Yeri dengan panjang lebar.
Felicia terdiam kaget, hatinya berdebar-debar kencang mendengar penjelasan Yeri. Apa lagi yang akan terjadi dengan hidupnya kedepan, belum selesai kesedihan ditinggal oma tercinta, sudah masuk ke masalah lain lagi. Perlahan butiran bening mulai turun di pipi nya.
Yeri kaget melihat nya. Dia paling ngak tega kalau melihat wanita mulai menangis.
Yeri menggenggam erat tangan Felicia, seolah olah memberi kekuatan.
“Kak….. cinta ngak bisa dipaksakan, jika kakak mencintai dia, kakak harus memperjuangkan, aku masih kecil, masih bisa menikah setelah selesai kuliah, kalau kakak mengizinkan aku akan bilang ke papa dan mama untuk menunda pernikahan ini, aku akan mundur kak.” kata Felicia dengan terbata bata.
Membuat genggaman Yeri semakin kuat ditangan Felicia, ada rasa tidak rela melepas Felicia.
Dua orang pelayan datang mengantarkan steack untuk mereka.
Yeri memotong motong daging steack menjadi kecil, dan memberikan piringnya pada Felicia.
“Makanlah dulu jangan memikirkan yang tadi aku katakan.” kata Yeri sambil mengambil piring Felicia untuk dia.
Felicia makan dengan diam dan pelan. Sebenarnya Felicia sudah tidak bernafsu makan.
“Cia, kamu ngak usah kuatir, semasa dalam pernikahan aku juga tidak akan meminta kamu untuk melakukan kewajiban suami istri, kamu pikirkan kuliah sampai lulus, cuma status saja, kamu istri aku, kedunia luar orang taunya kamu istri aku, kita akan menghadiri acara resmi dan keluarga, kedalam biar Safira yang melayani kewajiban sebagai istri. Kamu focus kuliah sampai lulus, setelah lulus baru kita pikirkan lagi.” jelas Yeri sambil menyuap potongan steack ke dalam mulutnya.
“Kak, pernikahan ini pasti sangat berat buat aku, walaupun aku masih kecil tetapi aku sangat mengerti apa yang namanya dimadu. Kak apakah boleh setelah menikah, aku melanjutkan kuliah ke Ausee lagi, jadi Kakak dan Kak Safira tidak terganggu dengan aku. Kalian pastinya lebih bebas jika aku tidak ada.” jawab Felicia dengan lirih.
Huftttt rasanya berat hati Yeri melepas Felicia kembali ke Ausee. Tanpa disadari hatinya tidak rela melepas Felicia, dia ingin Felicia berada didekatnya terus. Tungguuuuu ! Apakah aku mulai menyukai Felicia, batin Yeri berkata. Tapi Yeri berusaha menekan perasaan itu. Perasaan suka kepada Felicia, gadis muda yang akan menjadi istri kecilnya itu.
