
Ringkasan
Pendahuluan. “Baby….., bangun “ kata Yeri sambil meremas payudara indah Felicia. “Ahhhh Nanti Kak…”. Rengek Felicia manja. Yeri semakin gemes melihat istri kecilnya yang begitu manja . Tangan kanannya terus meremas dan bermain di payudara kiri Felicia dan mulutnya menyusu di payudara kanan dengan lembut . “Ahhhhhh….” Mata Felicia terpejam dan mulutnya terbuka mengeluarkan desahan nikmat. “Bangun Baby, kak Safira sudah menunggu dibawah” kata Yeri sekali lagi.
Bab 1
Para pelayat mulai meninggalkan rumah kediaman Hadinata yang besar di kota Temanggung. Tampak seorang gadis muda yang masih menangisi kematian omanya yang merawat dari kecil.
Gadis muda itu adalah Felicia Hadinata, Putri Tunggal Almarhum Hadinata, yang berumur 18 tahun - baru saja lulus high school di Ausee dengan peringkat terbaik, berwajah oval, bermata bulat dengan kulit putih yang terawat, tinggi 165 cm. Felicia dirawat almarhum oma dengan penuh kasih sayang. Kedua orangtua nya meninggal kecelakaan sewaktu Felicia masih dibangku sd, setelah selesai kelas 6 sd, Felicia dikirim
Ke Ausee oleh omanya. Kegiatan sang Oma sehari hari diperkebunan tembakau di Kota kecil Parakan, dekat Temanggung. Semuanya itu untuk membiayai kehidupan Felicia selama di luar negeri.
Seharusnya saat ini Felicia sedang bersenang- senang atas kelulusannya dengan nilai tertinggi, tetapi dikejutkan dengan berita Oma meninggal dunia. Kepulangan Felicia yang tergesa-gesa dengan menaiki penerbangan pagi hari dari Ausee ke Jakarta,membuat gadis muda ini tampak kelelahan, rambut hitamnya dibiarkan tergerai dengan kedua mata yang bengkak karena menangis terus di pesawat. Sesampai di Bandara Soeta Jakarta, Felicia dijemput oleh keluarga Ronald Ang beserta istrinya Indira Ang. “Cia turut berduka cita ya. Mulai sekarang kamu panggil Tante dan Om, dengan panggilan Mama dan Papa, mulai sekarang kamu anak kami.” kata mama Indira. Felicia hanya bisa mengangguk dan menangis di pelukan mama Indira. “Sayang jangan menangis terus, iklasin oma.” kata papa Ronald Ang sambil nengelus kepala Felicia dengan penuh sayang. Kemudian mereka bertiga melanjutkan perjalanan menuju Kota Dingin Temanggung dengan jalan darat. Pak Opi supir keluarga Ronal Ang sangat cekatan membawa mobil Alfard di tol menuju Kota Temanggung.
Sesampai di kota Temanggung - Papa Ronald, Mama Indira dan Felicia langsung mempersiapkan ucapara pemakaman Oma tercinta. Setelah selesai penguburan, mereka kembali ke rumah besar untuk beristirahat. Felicia menangis terus, membuat mama Indira menjadi tidak tenang, “Cia jangan menangis terus,
Iklasin Oma supaya tenang di alam baka” kata mama Indira sambil memeluk badan Felicia yang ramping. “Mulai sekarang Cia tinggal bersama papa dan mama di Jakarta ya, dan kamu sekarang menjadi anak papa dan mama,” kata Papa Ronald.
“Kamu ingat Yeri ? Dulu sewaktu almarlum papa Hadinata masih hidup, kami menjodohkan Cia dengan Yeri dari masih kanak-kanak, Papa yakin Yeri bisa membimbing dan menjadi suami yang baik untuk Cia.” Kata papa Ronald. Felicia tidak ada pilihan hanya menganggukkan kepala menurut. Selama ini dia hanya tinggal dengan Omanya. “Anak yang baik” kata mama Indira sambil tetap memeluk calon menantu kesayangan. “Cia, beberes yukkk, ada yang kamu mau bawa lagi ngak?” Kata mama Indira sambil membereskan barang-barang Felicia yang mau dibawa ke Jakarta. Sedangkan papa Ronald meeting dengan pengurus kebun tembakau almarhum Oma dan mbok Siti kepala rumah tangga di kediaman Kel Hadinata. “Mulai sekarang saya bertanggung jawab untuk gaji kalian dan semua kegiatan perkebunan harap dilaporkan seminggu sekali dengan sekretaris saya Nando.” kata papa Ronald dengan tegas.
Keesokan hari mereka kembali nenuju ke Jakarta. Sebelum berangkat, Felicia menatap kembali rumah yang penuh kenangan indah bersama Almarhum Oma. Sepanjang jalan mama Indira menggenggam tangan Felia terus. Felicia meneteskan air mata setiap mengingat kenangan bersama Oma. “Sabar ya Cia, yang kuat, papa dan mama selalu mendampingi Cia terus.”kata mama Indira. Dari kecil Indira sangat sayang sama Felicia, karena sejak melahirkan Yeri, Indira tidak bisa mempunyai anak lagi. Terlebih setelah sahabat suaminya, Hadinata, istrinya melahirkan bayi perempuan yang mungil - mereka langsung ingin berbesanan. Umur ditangan Tuhan, Keluarga Hadinata meninggal dalam kecelakaan, tidak membuat perjodohan Yeri dan Felicia batal, Ronald dan Indira sering menjenguk Felicia selama di Ausee dan Oma di Temanggung. Tali sirahturami yang sangat baik dan erat di kedua keluarga ini.
Mobil berhenti di depan rumah besar bertingkat tiga dengan pilar pilar yang megah dan halaman luas. Rumah itu didominasi warna putih sehingga membuat rumah tersebut tampak mewah. Mobil bergerak pelan melewati garasi menuju lobby rumah tersebut. Terlihat oleh Felicia di garasi masih ada lima mobil mewah lainnya. Mbok Darmi berlari kedepan lobby menyambut kedatangan majikan mereka. “Selamat datang tuan dan nyonya, nona Felicia.” Kata mbok Darmi dengan ramah. Para pelayan segera menurunkan barang - barang dari bagasi mobil Alfard tersebut. Yeri pun keluar menyalami kedua orang tuanya. “Yeri, ingatkan sama Felicia calon istri kamu, terakhir ketemu Felicia lima tahun lalu di Ausee.” Kata papa Ronald sambil tersenyum. “Yeri ingat pa, turut berduka cita Cia, yang kuat ya.” Kata Yeri sambil tersenyum menyalami Felicia yang masih bengong, karena bingung, apakah aku dibawa ke Jakarta langsung di nikahi dengan Yeri?, kata Felia bertanya dalam hati. Kepala Felicia bertambah pusing mendengar kata kata calon istri. “Cia yuk mama antar ke kamar kamu supaya kamu bisa istirahat.” kata mama Indira dengan kasih. Felicia sampai terdiam kagum saat memasuki kamarnya, semua tertata dengan rapih dan berwarna pink muda, tempat tidur, lemari, meja rias sampai walking closet, bathroom semua didominasi warna pink muda. Felicia langsung memeluk erat mama Indira,”terima kasih, ma. Cia suka sekali dekorasinya..” Papa Ronald dan Yeri yang mengikuti mereka masuk ke kamar tersenyum puas melihat Felicia menyukainya. Dia sekarang sudah menjadi cantik dan lembut, batin Yeri dalam hati.
