Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7

Felicia mencoba mencerna setiap perkataan Yeri malam ini. Sedari pulang makan malam dengan Yeri , hatinya menjadi gundah gulana. Membuat gelisah. Felicia berusaha tidur tetapi tidak bisa tidur. Terbayang dalam benak Felicia, perkawinan macam apa yang akan ia jalani. Keesokan harinya ia bangun dengan rasa sakit dikepalanya, karena kurang tidur. Maunya ia ingin seharian dikamar tetapi pagi ini ia sudah janji dengan Yeri yang akan mengantarkan ke universitas.

“Pagi Cia, sudah siap berangkat.” kata Yeri dengan senyum cerah. Pagi ini Yeri mengenakan setelan jas biru tua Armani, sangat pas dibadannya, menjadikan tampilan Yeri dingin, tidak hangat lagi.

“Sudah siap kak.” Jawab Felicia dengan senyum manisnya.

Felicia pagi ini mengenakan jeans dengan kemeja warna putih yang dikeluarkan, dua kancing atasnya dibiarkan terbuka, menampilkan tulang selangka yang indah dimata Yeri. Memakai sepatu sneakers putih brandednya dengan tas backpack di punggungnya. Sungguh penampilan yang menggoda hati Yeri. Yeri membenarkan perkataan Safira malam itu, rasa hati tidak ada yang tahu, jika bertemu terus pelan pelan cinta bisa bersemi.

Mereka berdua pergi ke universitas yang Top dan bergengsi di ibukota Jakarta, dengan mengendarai mobil sport Yeri. Yeri tersenyum dalam hati melihat disampingnya ada gadis muda yang cantik dengan penampilan modis.

“Kak, apakah aku nanti setelah kuliah boleh memiliki duniaku sendiri.? “ tanya Felicia dengan sopan

“Pasti boleh Cia, kamu bebas memiliki dunia sendiri, yang penting fokus belajar sampai lulus dengan nilai terbaik. Aku tau kamu anak yang pintar, nanti aku pikirin gimana kamu bisa transfer ke universitas di Ausee atau US pada semester 4.” janji Yeri.

“Terima kasih kak. Ehmmmm aku mau tanya, apakah aku juga boleh pacaran ?” tanya Felicia.

Membuat jantung Yeri berdebar dengan cepat.

“Tidak boleh, kamu harus focus kuliah!” jawab Yeri tegas.

“Kenapa Kak, bukannya aku boleh punya dunia sendiri, artinya aku boleh punya teman dan pacaran. Seperti Kakak juga punya dunia sendiri, benarkan Kak.? jawab Felicia dengan polosnya.

Ampunnn kata Yeri dalam hati, ternyata calon istri kecilnya mempunyai pikiran selangkah lebih maju dari dugaannya. Bener-bener polos atau pura-pura polos.

“Mana boleh kamu pacaran dengan laki-laki, terus mana ada laki-laki yang mau dengan istri orang, terus kamu belum pernah pacaran, belum pernah ciuman, nanti kalau pacarannya bablas aku ngak mau mengurus anak dari laki-laki lain, mengerti.? “ tegas Yeri dengan suara tinggi.

Felicia kaget mendengar nada bicara Yeri yang tinggi dan saat itu juga Felicia merasakan udara dingin menyelimuti dirinya.

Sampai di universitas yang dituju, Felicia merasa senang, melihat gedung besar dengan halaman rumput yang luas, melihat banyak mahasiswa yang lalu lalang. Yeri menatap puas wajah Felicia yang tampak suka dengan kampusnya.

“Suka? tanya Yeri

Felicia menganggukan kepala dengan senyum sumringah kepada Yeri.

“Terima kasih Kak.”

“Mahasiswa baru mulai belajar bulan September, aku sudah mengatur Sekretarisku untuk mendaftar dan kamu tinggal mempersiapkan diri saja setelah acara pernikahan kita. Jadwal kita minggu ini sangat padat, harus fitting gaun pengantin, ketemu WO, karena waktunya mepet, awal agustus kita akan menikah.” kata Yeri sambil menggenggam tangan Felicia erat-erat, menuju parkir mobil. Yeri membukakan pintu untuk Felicia setelah itu ia berjalan menuju pintu satunya.

“Cia, mau makan apa? “ tanya Yeri sambil mengemudikan mobilnya

“Apa saja Kak.” Jawab Felicia singkat.

“Aku ajak kerestoran masakan Indo ya, kamu kan suka ayam panggang. Di restoran ini ada menu ayam panggang sambal matah, enak sekali.” kata Yeri seolah-olah Felicia yang favorit ayam panggang, padahal Safira yang suka sekali ayam panggang sambal matah. Harus begitu kata Yeri dalam hati, harus menunjukan keadilan terhadap keduanya, terlebih terhadap Safira yang sangat dia cintai.

Sesampai di restoran, Yeri mengajak kedalam dan memilih meja ditengah-tengah kebun luas dan tampak asri. Dipinggirnya banyak tanaman baby rose dengan warna warni. Cantik sekali kata Felicia dalam hati.

Yeri memesan ayam panggang sambal mata lengkap tiga porsi .

“Aku pesan ayam panggang sambal mata lengkap dengan nasi dan condiments nya, Safira akan datang menemani kita makan siang, Aku akan memperkenalkannya dengan kamu siang ini, kamu bisa memanggilnya kakak karena umurnya dua tahun diatas aku.” kata Yeri memberi penjelasan kepada Felicia.

Felicia hanya menganggukan kepala dengan diam . Dia tahu setelah perkenalan ini, masalah mulai ada didepan mata. Dia harus kuat menghadapi madunya, mengingat sahan Ang Grup milik dia setengahnya. Papa Ronald sudah memberitahukan ketika ia sampai di Jakarta malam itu.

“Sebentar lagi dia datang” kata Yeri sambil melihat ke arah jam tangan mahalnya.

Felicia menyeruput oranges juice dengan anggun. Sekali lagi Yeri membenarkan dalam hati, kalau Felicia disiapkan menjadi istri seorang CEO. Dari tampak luar Yeri memperhatikan kalau air muka Felicia tetap tenang dan tersenyum, Yeri suprised, tadinya dia pikir Felicia akan cemberut atau ngambek.

Tak lama datanglah seorang wanita dewasa dan tinggi, dengan kulit kuning langsat, pakaiannya sederhana, dengan makeup tipis dengan tersenyum penuh cinta kepada Yeri, kemudian memandang Felicia.

“Sayang, gimana pekerjaan kamu.? Kapan resign ? Oh yaaa kenalin ini Felicia.” kaya Yeri dengan mesra kepada Safira. Beda sekali sikap Yeri kepada Felicia yang biasa biasa saja.

“Felicia.” Sambil menjabat tangan Safira dengan senyum dan tetap tenang.

Felicia melanjutkan makan sambil melirik pasangan didepannya yang tampak mesra. Felicia melihat mata wanita itu memerah seperti habis menangis, Entahlah Felicia tidak mau memikirkan lebih lanjut, kenapa mau menjadi yang kedua kata Felicia dalam hati sambil menikmati ayam panggang sambal matah. .

Enakkk juga…., ehkmmm ngak salah dengar? Felicia mendengar suara Yeri pelan, mengatakan kalau ia lebih memperhatikan Safira dengan mengajak bertemu di restoran ini dan memesan ayam panggang sambel matah kesukaannya. Huftttt dasar laki-laki, belum juga menikah sudah seperti ini, apalagi kalau sudah menikah, gerutu Felicia dalam hati sambil meletakan ayam panggang ke piring dan menggeserkan piringnya tanda sudah selesai. Pelayan pun mengangkat piring Felicia yang masih ada ayam panggang tersebut.

“Jadi Kak Safira yang mau menikah juga dengan Kak Yeri ? Kak Yeri, aku melihat kakak sangat mengasihi kak Safira, Aku tau pernikahan ini pasti sangat menyakitkan buat kak Safira juga. Mungkin usulan aku tadi, kak Yeri bisa pertimbangkan untuk aku bisa transfer ke kuliah di luar negeri.” kata Felicia dengsn senyum dan tenang sambil nenatap mata Yeri tanpa kedip.

Yeri kaget, sebenarnya dia hanya asal omong didepan Felicia tadi, tidak ada maksud hati meluluskan keinginan Felicia melanjutkan kuliah ke luar negeri. Dia merasa sayang untuk melepaskan Felicia, ya seorang Yeri mulai sedikit menyukai Felicia.

“Aku akan pikirkan Cia, tapi aku percaya kita bertiga akan kuat menghadapi kedepannya.” Jawab Yeri dengan dengan tegas.

Felicia dan Safira menganggukan kepala dengan diam.

Ini baru babak permulaan saja sudah berat batin Felicia dalam hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel