Bab 4
Kembali ke masa sekarang.
“Cia, mandi dulu ya, setelah mandi dan berganti baju mama tunggu dibawah, kita makan malam bersama sama.” kata mama Indira dengan lembut. Felicia menganggukan kepala.
Dia membuka bajunya dan meletakan dikeranjang pakaian yang sudah disiapkan untuk baju kotor, lalu berdiri didepan cermin memperhatikan dadanya dengan puting merah muda dan tubuh bawahnya yang tidak ditumbuhi bulu, karena belum sempurna pertumbuhannya, masih berumur 18 tahun. Apakah akan bisa memuaskan suaminya jika menikah sekarang, pikir Felicia didalam hati. Felicia lalu masuk ke kamar mandi dan memutar kran shower, ehmmm Felicia merasa nyaman dalam guyuran air hangat yang membasahi rambut dan tubuhnya. Selesai mandi, dia memakai kimono handuk dan mengeringkan rambutnya yang hitam dan tebal. Lalu Felicia mengambil kaos putih bergambar hati kecil yang dipadu dengan hotpans merah, melihatnya didepan cermin, bagus dan pass kata Felicia dalam hati, lalu turun kebawah.
Pelayan wanita yang berpakaian seragam hitam putih khas pelayan, melihat Felicia langsung mempersilahkan dan membawa nya ke ruang makan. Sampai disana sudah ada papa Ronald, mama Indira, dan Yeri yang nenunggu. Aneka hidangan sudah tersedia di meja makan. Melihat Yeri tersenyum ke arahnya, namun Felicia tidak membalasnya, malah menggedik karena merasa akan dinikahkan dengan om om. Felicia lebih memilih membuang pandangan ke arah mama Indira yang sudah berdiri dari kursinya dan menarik kursi disebelahnya untuk Felicia. “Sini… sayang.” Felicia duduk disebelah mama Indira dan berhadapan dengan Yeri.
Setelah Felicia duduk, para pelayan mulai melayani majikannya dengan berbagai hidangan. Mereka membantu mengambilkan nasi dipiring. Felicia makan dengan sopan, membuat mama Indira semakin berkesan.
“Cia ini ayam panggang kesukaan kamu loh, mama ambilin ya, mau dada atau paha .?” kata mama Indira dengan lembut.
“Dada saja mah” jawab Felicia pelan
“Cia, ini juga sambelan hati kesukaan kamu, mama ambilin ya, ngak kangen makanan indo .? tanya mama Indira lagi.
“Mau maaa dikit saja.” jawab Felicia pelan.
Yeri melihat interaksi mamanya penuh perhatian dengan Felicia, hatinya perih, teringat Safira yang tidak disukai kedua orang tuanya.
Melihat Yeri makan dengan diam, mama Indira berceloteh lagi, “Yeri, Kamu juga suka ayam panggang, ini mama ambilin pahanya, wah kalian cocok sekali, dalam hal makanan kesukaannya sama.” Kata mama Indira sambil mengambilkan paha ayam ke piring Yeri.
Yeri hanya tersenyum ke mamanya lalu memandang Felicia. Felicia sekarang tumbuh menjadi gadis cantik yang mempesona, dengan cara makan yang sopan dan anggun, memang dipersiapkan untuk menjadi istri seorang CEO, pikir Yeri dalam hati. Beda dengan penampilan Safira dari keluarga Sederhana, sambung Yeri dalam hati. Tapi Yeri sangat menyayangi Safira.
Setelah selesai hidangan utama, para pelayan menghidangkan hidangan pencuci mulut, puding coklat, kesukaan Tuan Muda dan nona Felicia.
“Maaaa enakkkk … rhum vlanya terasa sekali.” kata Felicia manja sama mama Indira sambil menyuap puding coklat ke mulutnya.
Yeri tersenyum Lagi memandang calon istri kecilnya itu. Huffftttt manjanya, batin Yeri dalam hati.
“Cia, besok kita shopping ya” kata mama Indira.
“Jam berapa ma, biar Cia bisa siap, jadi mama tidak menunggu lama” jawab Felicia
“Jam 11 ya Cia. Sampai besok sayang.” Jawab mama Indira sambil memeluk Felicia dengan sayang.
“Mau beli apa sih ma.”
“Baju, kosmetik, sepatu, laptop, hp, semua keperluan kamu deh.” Kata mama Indira yang masih memeluk Felicia.
“Baik maaa.” Jawab Felicia dengan girang dengan senyum sumringah di wajahnya.
“Gihhh, Yeri sudah nunggu di depan. Hati-hati ya Cia.” Kata mama Indira dengan lembut.
Selesai makan malam, Yeri mengajak Felicia keliling kota Jakarta dengan mengendarai aston martin silver edisi terbaru.
Membuat Felicia kagum, “Cia mau coba bawa?” tanya Yeri dengan tersenyum.
“Bolehhhhh.” Jawab Feliacia sambil berjalan ke kursi pengemudi
Felicia menyetir dengan hati-hati dengan kecepatan sedang melewati arteri pondok indah dan masuk ke jendral Sudirman. Yeri duduk disebelah Felicia dengan tenang dan kagum melihat cara Felicia megendarai mobilnya. Yeri tersenyum melihat calon istri kecilnya yang asyik membawa mobilnya, seperti mendapat mainan baru. Yeri mengakui kalau selera Falicia lebih tinggi dari Safira.
Jam 9 malam, mereka berdua tiba di rumah kembali, satpam berlari lari membuka pintu gerbang dan mobil aston martin berhenti di lobby rumah keluarga Ang yang megah. Yeri dan Felicia keluar dari mobil dan menuju kamar tidur masing masing.
“Good Nite Cia, sweet dream.”
“Youu too Om.” Sahut Felicia
Spontan Yeri membalikan badan menyusul Felicia, “kamu panggil saya apa? Om? Tua amat.” protes Yeri dengan mata melotot.
“Mau nya dipanggil apa ? Bapak? “ sahut Felicia cuek.
“Kakak lah Cia, memang aku setua itu.” jawab Yeri
“Baiklak Kak, good nite and sweet dream toooo .” jawab Felicia sambil tersenyum
Melihat senyum manis Felicia, Yeri menarik Felicia masuk kedalam pelukannya, sambil mencium kening Felicia dengan lembut, “Sweet dream, ya Cia. Be strong Cia, ada apa apa cari aku ya.” kata Yeri.
Dari jauh Orang Tua Yeri menyaksikan kelakuan Yeri dan Felia dengan tersenyum bahagia.
