Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Selama ini Yeri selalu jujur terhadap Safira. Bahkan Yeri tidak tega kalau melihat kekasihnya sampai menangis. Safira gadis sederhana yang cantik, dengan tinggi 165, berkulit kuning langsat dengan rambut bob keriting sebahu. Selalu terseyum manis saat menyambut Yeri datang di rumahnya.

“Malam sayang… “kata Yeri sambil mengecup bibir merah Safira.

Mereka langsung menuju mobil Bugati veyron hitam yang terparkir didepan rumahnya. Sepanjang perjalan menuju Cafe, Yeri dan Safira diam saja. Yeri mengajak Safira ke cafe yang sedang happening di Kota Jakarta. Musik mengalun dengan lembut. Yeri memegang terus tangan Safira walaupun mereka sudah duduk di meja.

“Sepertinya ada hal penting yang mau kamu sampaikan ?” kata Safira dengan hati yang terasa tidak enak, sambil memandang Yeri.

Huffttttt Yeri menarik nafas dalam dalam, “pesan minum dulu sayang, kamu mau minum apa ? Seperti biasa ? 2 hot coklat.” Pesan Yeri pada pelayan. “papa serius dengan ucapannya dalam perjodohan aku dan Felicia, bulan depan Felicia pulang ke Indonesia. Seperti yang kamu rasakan, aku sangat mencintai kamu.” Lanjut Yeri pelan sambil tetap memegang erat tangan Safira.

Safira berusaha tenang, sambil tetap menggenggam erat tangan Yeri diatas meja.

“Aku selalu berfikir kalau hubungan kita tidak akan sampai ke jenjang pernikahan Yeri. Aku harusnya tahu diri karena sejak kecil kalian sudah dijodohkan. Tapi aku seperti pungguk merindukan bulan, selalu berharap hubungan kita akan baik-baik saja dan berhasil.” Sahut Safira dengan lirih. Yeri segera menatap lekat mata Safira, benar saja tidak lama lagi butiran bening mengalir di kedua pipi kekasihnya.

“Hey ….., jangan nangis sayang, aku akan memikirkan jalan yang terbaik, perasaan aku tidak akan terbagi, aku selalu mencintaimu. Setelah pernikahan aku dengan Felicia, aku akan langsung menikahkan kamu, kita akan mempunyai anak yang lucu-lucu, jangan kwatir, aku tidak akan jatuh cinta dan mempunyai perasaan lebih terhadap Felicia. Dia masih anak kecil, umurnya saja masih 19 tahun, cukup jauh dari umur kita. Jangan kwatir sayang.” Sahut Yeri sambil meremas tangan Safira untuk menenangkan kekasihnya.

“Yeri, aku tidak mau diduakan dengan Felicia. Aku ingin memiliki kamu utuh, untuh untuk aku sendiri.” Ucap Safira bergetar. Yeri sangat pilu dan sakit hatinya mendengar ucapan Safira. Ya, yang benar seharusnya seperti itu, utuh dan tidak terbagi. Tapi disatu sisi Yeri sangat menyayangi ayahnya. Yeri ingin membahagiakan ayahnya. Yeri sudah berjanji pada ayahnya bahwa tidak akan menceraikan Felicia apa pun yang terjadi.

“ini rasanya lebih menyakitkan dari pada di tinggalkan kamu, nantinya aku harus menghadapi Felicia setiap hari, melihat kebersamaan kalian berdua, namanya perasaan siapa yang tahu. Cinta bisa saja berkembang dengan adanya setiap hari bertemu.” Sahut Safira dengan lirih.

“Heyyyy …… sayang jangan bicara itu, perasaan cinta dan sayang aku sama kamu lebih dari segala galanya dan tidak akan berubah, sedangkan sama Felicia aku tidak ada perasaan apa pun, aku percaya kita dapat bertahan. Jangan menyerah sayang.” Jawab Yeri menguatkan Safira.

Safira diam dan hanya bisa mengeluarkan air mata dengan sakit, sakit takut kehilangan cinta Yeri, takut harus berbagi Yeri dengan Felicia. Takut dan takut untuk hidup jadi yang kedua. Semua perasaan Safira bercampur aduk.

“Yeri sebaiknya kita pulang dulu, aku lelah mau istirahat.” Ujar Safira lirih.

“Baiklah kita pulang, aku antar kamu pulang.” Sahut Yeri

Mobil Bugati Veyron hitam sudah berhenti di depan rumah Safira. Yeri mengikuti Safira masuk kedalam ruang tamu, tiba-tiba Safira membalikan badan langsung mencium bibir Yeri. Yeri membalas ciuman Safira dengan lembut. Mereka saling menghisap dan melumat. Tangan kiri Yeri mengelus pinggang ramping Safira dan merapatkan tubuh mereka diantara keduanya, tangan kanan Yeri mengusap tengkuk Safira yang membuat Safira terangsang dan mendesah dalam ciumannya. Perlahan mereka bergerak mencari sebuah sandaran, hingga punggung Safira menempel pada dinding ruang tamu. Yeri mengurung tubuhnya dan melepaskan ciuman mereka sejenak. Namun bibir ranum Safira yang basah, membuat libido Yeri naik. Yeri kembali mencium bibir Safira dengan lembut, ciuman Yeri turun ke leher Safira, mengecupi dan menjilat, membuat Safira mendesah nikmat. Tangan kiri Yeri masuk ke dalam bluse Safira, mencari kaitan Bra. Safira mengerti keinginan Yeri, segera membuka blusenya dan payudara montoknya jatuh, segera kedua tangan Yeri meraup dan meremas payudara indah dengan puting yang tegak, Yeri memasukan kemulut dan menghisap lembut bergantian sampai puas. Desahan Safira lolos begitu saja dari bibirnya ketika Yeri menghisap kuat dan mengulum puting didalam mulutnya. Puas dengan payudara Safira, ciuman Yeri turun ke bawah, Yeri bersimpuh di hadapan Safira dan menaikan rok pendeknya dan menurunkan celana dalam renda Safira kebawah. Yeri mengecupi kewanitaan Safira yang sudah basah. “Ahhhhhhhhh.” Safira tidak tahan lagi, mendesis kegelian. Saat Yeri menjilat klitorisnya yang basah, mengulum dan menjilat lagi. Menjilat turun naik dengan cepat, membuat Safira menggelinjang karena geli sekali dan Safira meraih organsme nya. “Enak sayang…. ?” kata Yeri sambil merapihkan rok Safira dan memakaikan kembali blouse Safira. “Ehmmm kamu …. Ngak mau?” tanya Safira dengan wajah masih ada sisa air mata. “Ngakkk, nanti saja. Aku pulang ya.” jawab Yeri sambil mengecup kening Safira lembut.

Memang baiknya pulang dulu, mungkin masing masing perlu menenangkan diri supaya jernih, sehingga dapat berfikir jernih, kata Yeri dalam hati. Yeri pun sangat sedih sekali, tetapi sebagai laki-laki dia harus kuat. Ang Grup pun tidak dapat bertahan jika harus kehilangan Felicia, karena setengah kepemilikan saham Ang Grup adalah Felicia.

Setelah kejadian di cafe dan dirumah Safira malam itu, Yeri dan Safira tidak bertemu dulu, sampai tiba - tiba kejadian Oma Felicia meninggal. Hal ini sangat mengagetkan Yeri. Dengan sendirinya mempercepat Felicia memasuki kediaman keluarga Ang sebagai menantu yang di harapkan orang tuanya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel