08. Gaun Malam
Safira mulai membuka satu persatu isi dari paper bag itu dan sungguh di luar dugaan kalau ternyata semua tidak sama dengan apa yang dipikirkannya.
Sebuah gaun cantik panjang yang tertutup, nampak elegan berwarna merah marun berlengan panjang dengan bagian depan tertutup, walaupun sedikit ketat dan memperlihatkan lekuk tubuh Safira jika dia memakainya dan sedikit terbelah bagian depan memperlihatkan kaki jenjang Safira nantinya.
Satu paper bag lainnya masing- masing berisikan satu perhiasan berlian yang sangat serasi dengan gaun malam itu. Sebuah tas tangan kecil berwarna hitam, dan satunya lagi adalah sepatu dengan hak tinggi yang menambah aksen sangat anggun.
Safira terpana dengan kualitas bahan yang dia berikan kepadanya, walaupun Safira dari kampung, tetapi dunia fashion dia sangat mengerti betul sehingga dia pun sangat mengaguminya.
“Ya ampun cantik sekali, apakah aku bermimpi?” tanyanya dalam hati.
“Neng cepatan itu dinyalakan ponselnya,” tegur Mbok Asih yang masih terpaku saat melihat gaun itu begitu cantik.
“Oh iya Mbok.” Safira langsung menyalakan ponsel baru yang ternyata sudah dilengkapi dengan SIM card nya. Tak lama kemudian ponsel itu pun berdering dan tentu saja namanya tertera jelas Suamiku Rama.
“Apa? Dia juga sudah memberikan namanya sendiri di ponsel ini, ah sungguh menyebalkan,” gerutu Safira kesal.
[Ya, halo]
[Akhirnya kamu bisa menjawab telepon ini lama sekali]
[Ya aku tadi sangat-sangat malas sekali membuka semua paper bag ini, lagian buat apa semua ini?]
[Kamu tinggal pakai semua yang aku beli untuk kamu dan jangan membuat masalah , kita akan menghadiri makam malam di hotel, sopirku akan menjemputmu]
[Ingat satu hal Safira, Kita membawa nama keluarga Bimantara dan pastikan tidak ada yang salah dalam sikap dan penampilan kamu, jangan membuat kami malu]
Tut! Tut! Tut! Rama langsung memutuskan sambungan teleponnya. Nampak sekali wajah Safira kesal, baru kali ini dia diperintah seperti pelayannya.
Ponsel itu dia lempar begitu saja di ranjang tanpa memedulikannya.
Mbok Asih hanya bisa menghela napas panjang saat melihat Safira sama seperti Rama yang membuang barang jika terlihat kesal atau marah.
“Mbok, Safira malas banget bertemu orang-orang di sana, Safira nggak tahu pergi ke mana, Mas Rama hanya bilang akan ada sopirnya yang akan menjemput Safira dan pergi ke sebuah acara di hotel.”
“Lagian ya Mbok, tadi pagi dia sakit, nggak bisa bangun, nah sekarang tiba-tiba saja ada di kantor dan memaksa Safira untuk ikut.”
“Dia itu manusia atau bukan sih, kok badannya nggak lemas lagi?” rutuknya kembali cemberut.
“Sudah Neng turuti saja, mungkin efek dari Neng Safira membuatkan bubur nasi itu, padahal seumur-umur Den Rama itu benci dengan yang namanya bubur loh.”
“Waktu Alex bilang kalau Neng yang membuat bubur itu, malah bisa dihabiskan sama Den Rama , mungkin kalian memang jodoh kali, Neng.”
“Dan mengenai undangan makan malam itu siapa tahu nanti di sana ada yang bisa Neng lakukan atau bertemu dengan teman lama, siapa tahu kan?” bujuk Mbok Asih mengharap agar Safira tidak berbuat masalah.
Safira berpikir sejenak sambil memperhatikan kembali gaun itu yang memang terlihat sangat cantik. “Jika aku ke sana apa yang aku lakukan?”
“Apakah Mas Rama ingin mempermalukan aku di sana atau dia ingin memamerkan kepada teman-temanya kalau dia bisa menikahiku karena sebagai pengganti Mas Shandy?”
“Atau ... Safira teringat dengan perkataan Alex kalau dia mempunyai alergi udang. Di rumah tentu saja tidak bisa menyetok sea food itu dan para pelayan sudah tahu dan tidak akan yang berani memakan atau membelinya meskipun hanya untuk mereka yang menyukainya.
“Ya aku bisa mengerjai dia di pesta itu, sudah aku bilang di mana ada kesempatan untuk membuatmu marah itu akan menjadi kepuasan aku, Mas,” ucapnya dalam hati sembari tersenyum.
“Neng ada apa kok senyam-senyum gitu?”
“Eh nggak apa-apa Mbok, ya sudah Safira siap deh pergi ke pesta, jam berapa mereka akan datang?”
“Jam enam sore Neng.”
“Oh masih ada waktu enam jam lagi , baiklah Mbok Safira setuju dan menuruti semua keinginan Mas Rama,” ucapnya tersenyum licik.
***
Tepat jam enam sore akhirnya penata rias yang di datangkan langsung ke rumah untuk mendandani Safira.
Walaupun pada dasarnya wanita yang bergelar istri Rama ini sudah terlihat cantik walaupun tanpa polesan.
“Duh, Nyonya sebenarnya tanpa make up saja sudah cantik apalagi saya tambahkan make up ya?”
“Pokoknya tenang aja ya Nyonya Safira, Anda akan terlihat lebih cantik dan anggun, tenang saja saya tidak akan memakaikan make tebal,” ucap Mince penata rias itu.
“Jangan panggil Nyonya kesannya terlalu tua, Mas , panggil saja Safira.”
“Aduh Sayang, jangan panggil Mas dong, tetapi Mince saja, oke?”
“Oke, Min.”
“Duh pantas saja Rama tergila-gila sama kamu, senyum kamu sudah cantik banget natural, pasti ya nanti di pesta itu kamu deh yang menjadi primadonanya,” puji Mince saat mendandani Safira.
“Kamu sudah lama kerja seperti ini?”
“Sudah Say, mungkin ada sepuluh tahunan gitu deh, ya disyukuri saja apa yang bisa menjadi usaha kita, iya nggak sih?”
“Sudah lama kenal dengan Mas Rama atau Mas Shandy, Min?”
“Saya itu sudah kenal baik sama keluarga ini, sebenarnya nggak ada bedanya sih antara Mas Shandy dan Mas Rama, mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing loh, walaupun mereka hannyalah saudara ...
“Min, sudah selesai kamu dandani Neng Safira nya ?”
“Sudah Mbok, bentar lagi pokoknya beres,” sahutnya bersemangat.
Tak lama kemudian ponsel Safira kembali berbunyi, kini Rama mengirim pesan untuk sang istri. Dengan malas Safira membuka pesan itu.
[Ingat Safira berlakulah seperti wanita kota jangan seperti wanita kampungan, aku tidak sama dengan Shandy yang selalu menerima kesalahanmu, sekali saja kamu berbuat yang aneh-aneh maka pelayan di rumah itu yang akan menerimanya atau keluargamu saja, bagaimana? Keputusan ada di tanganmu sekarang, Sayang]
[Oh ya satu lagi, bukan sopirku yang akan datang menjemput ke rumah, tetapi temanku, kebetulan dia akan datang juga ke sini dan satu arah dengan rumah kita.]
“Duh malas banget balas, tetapi nanti dia kembali marah ... ah nasib-nasib kenapa juga aku bisa bertemu orang seperti ini,” batinnya berkata.
Safira pun dengan terpaksa membalasnya singkat.
[Ya]
***
“Jam dinding semakin berdetak cepat membuat Safira semakin gugup karena sebentar lagi ada orang yang menjemputnya.
“Min, bagaimana penampilanku apakah sudah cukup dibilang wanita berpenampilan elegan dan anggun?”
“Ya Allah Neng Safira, kamu cantik sekali, dan apa yang Neng pakai semuanya pas,” sahut Mbok Asih tidak bisa berkedip melihat perubahan Safira yang begitu memesona.
Begitu juga dengan Alex dan Mince yang setuju dengan perkataan Mbok Asih barusan.
“Iya Sayang, apa yang Mbok Asih bilang memang betul sih kamu kan memang dasarnya sudah cantik sekali poles dikit saja sudah terlihat auranya,” ucap Mince sangat puas dengan hasil kerjanya.
Tak lama kemudian terdengar suara bunyi bel. Mbok Asih segera membukakan pintu karena sudah pasti itu adalah orang yang di suruh untuk menjemput Safira.
“Loh, Nak Bima, toh?”
“Assalamualaikum, Mbok apa kabar?”
“Walaikumsalam, kapan balik dari Indonesia toh, kok nggak bilang mau ke sini, Den Rama lagi pergi tuh ada acara katanya, kenapa nggak hubungi Den Rama toh, Nak Bima?” tanyanya bingung.
“Alhamdulillah baru dua hari yang lalu dan memang saya ke sini di suruh Rama katanya sekalian jemput istrinya Rama. Kami ada acara di sebuah hotel teman kami sedang merayakan ulang tahun pernikahan nya yang kedua dan sekalian kumpul-kumpul lah,” jelas Bima tersenyum.
“Oh begitu, aduh sampai lupa suruh masuk, Ayuk Nak Bima silakan masuk tunggu sebentar di dalam, Mbok panggilkan Neng Safira,” ucap Mbok Asih bersemangat.
“Ma—maaf Mbok siapa namanya tadi?” tanya Bima seperti mengenal nama itu.
“Oh namanya Neng Safira Maharani, sebentar ya.”
“Mbok siapa yang datang apakah itu suruhan Mas Rama?” panggilnya seketika.
“Apa suara itu ...tidak mungkin dia ... tetapi ...
Safira berjalan dengan anggun menghampiri mereka. Bima yang sedari tadi menerka-nerka siapa pemilik suara itu, akhirnya bisa melihat siapa pemilik suara itu.
