Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

07. Hadiah

“Ya tahu lah Neng, perkenalkan nama saya Mbok Asih, saya kepala koki plus semua kebutuhan dapur, dan sekarang saya juga mendapat pekerjaan baru sebagai teman Neng, jika Den Raka masih di kantor.”

“Oh, syukurlah Mbok, Safira juga bingung harus melakukan apa di rumah sebesar ini dan banyak sekali ya kamar di rumah, soalnya mereka kan cuma beberapa orang saja yang tinggal di sini,” sahut Safira bingung.

“Biasanya kadang keluarga Ibu atau Bapak akan menginap di sini, makanya mereka membangun banyak kamar agar bisa di tempati di mana saja,” sahut Mbok Asih menjelaskan.

“Memang orang kaya begitu ya Mbok? Kalau kita kan seperlunya aja bangun rumah yang penting bisa buat tidur dan terhindar dari hujan dan teriknya matahari,” lanjutnya lagi.

“Neng, Mbok turut berduka cita ya atas kepergian Den Shandy, pasti sangat berat buat Neng ya?”

“Mbok sudah hampir dua bulan ada di kampung karena mengurus beberapa masalah dan mengurus ibu juga walaupun akhirnya beliau meninggal, ya namanya juga sudah tua dan memang sering sakit-sakitan.”

“Makanya saat mendengar kabar duka seperti ini Mbok sangat sedih karena bersama dengan ibunya Mbok meninggal,” jelasnya lagi dengan mata mulai berkaca-kaca .

“Maaf Mbok sudah membuat Mbok sedih lagi.”

“Iya nggak apa-apa, Neng.”

“Mbok Asih sudah lama bekerja di sini, selama Safira pacaran kurang lebih setahun nggak pernah lihat Mbok Asih di rumah ini.”

“Safira sering diajak ke rumah ini tetapi nggak ada Mbok Asih?” tanyanya sedikit bingung.

“Mbok memang jarang ada di rumah ini biasanya dengan Oma Citra, tetapi berhubung sekarang Oma Citra akan tinggal di sini juga, makanya Mbok ke sini dan langsung mendapatkan perintah dari Den Rama.”

Seketika wajah Safira sedikit berubah saat mendengar nama Oma Citra. Wanita tua itu terlihat sangat dingin dan ketus, Safira belum bisa mengambil hati Oma Citra yang pada dasarnya tidak menyetujui pernikahan mereka.

“Kenapa Neng kok mukanya di tekuk gitu?”

“Nggak apa-apa Mbok.”

“Pasti mendengar nama Oma Citra takut ya?”

“Nggak usah takut Neng sama Oma Citra, beliau itu tidak jahat cuma tegas dan disiplin saja.”

Safira hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Mbok Asih barusan.

“Ayuk Neng kita ke kamar sebelah, kamar itu juga setiap hari dibersihkan dan jika kamar satu berantakan kamar lain sebagai pengganti sementara,” jelasnya sembari berjalan menuju kamar sebelahnya.

“Kok gitu Mbok, apakah Mas Rama mempunyai kelainan?”

“Hush ... nggak ada Neng, Cuma sifat pemarahnya yang tidak bisa terkontrol dan Neng harus bisa membuat Den Rama bisa mengontrol amarahnya,” jelas Mbok Asih tersenyum.

Mbok Asih lalu membuka pintu kamar itu yang sengaja memang di kunci dari luar. Betapa terkejutnya Safira karena bentuk dan segala macam jenis perabotannya bahkan semua cat dinding pun di buat persis seperti kamar utamanya.

“Neng terkejut ya dengan kamar ini?”

“Ya kamar ini di bentuk dan dihias sama seperti kamar di sebelah, kenapa Mbok?” tanyanya yang masih penasaran.

“Memang sengaja Den Rama membuatnya seperti ini, ya seperti Neng lihat jika dia sedang marah semua perabotan yang ada di sana kalau hancur berantakan dan dia akan membelinya lagi persis sama dengan di kamar lainnya. “

“Kalau bagi kami orang kecil sih sayang banget lah Neng, harga segitu bisa membuat perut kita kenyang selama dua bulan. Sifat emosi dan amarah yang tidak terkontrol itu sering membuat Den Rama kadang kehilangan banyak tawaran bisnis dan mereka beralih ke Den Shandy yang lebih bijaksana dan terkontrol.”

“Oh ya Neng ini ada hadiah untuk Neng Safira,” ucap Mbok Asih sambil memberikan lima kantong paper bag ke tangan Safira.

Wanita cantik itu melotot dan tidak percaya kalau dia bisa mendapat hadiah sebanyak itu.

“Untuk Safira , Mbok, buat apa hadiah sebanyak ini? Sedangkan di lemari saja masih banyak pakaian baru yang belum Safira sentuh sekarang ini lagi, mau taruh di mana?”

“Mas Rama itu keterlaluan sekali suka banget menghambur-hamburkan uang, dasar orang kaya nyebelin,” gerutunya kesal.

“Neng jangan begitu, kata orang benci dan cinta itu beda tipis loh, memang sih Neng Safira kan belum terlalu mengenal Den Rama, sebenarnya dia itu orangnya asyik buat curhat sangat berbeda dengan Den Shandy dulu.”

“Den Shandy itu sangat baik sekali, ramah, dan bijaksana, tetapi dia sedikit pendiam beda dengan Den Rama walaupun bagi kami Den Rama itu galak dan pemarah kami masih betah di sini karena dia begitu peduli dengan kami,” jelas Mbok Asih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

“Apa maksud Mbok Asih? Apakah Mbok sengaja mengarang cerita supaya Safira takluk di hadapannya?”

“Nggak Mbok, Mas Rama itu pemarah dan Safira takut jika dia akan melenyapkan nyawa Safira sewaktu-waktu.”

“Safira belum bisa mencintai Mas Rama, dia bukan orang yang Safira sukai, dia orang yang sama untuk Safira benci, entahlah Mbok,” jawabnya sendu.

“Sudah Neng jangan berprasangka buruk dulu, karena Neng kan baru mengenal Den Rama belum lama, nanti seiring berjalannya waktu Neng akan tahu siapa Den Rama sebenarnya.”

“Neng bisa menilainya sendiri loh.”

“Sekarang Neng harus buka apa yang ada dia dalam paper bag itu.”

“Ah malas Mbok, pasti isinya pakaian dalam yang harus Safira pakai untuk memuaskan hasratnya,” gerutu Safira melempar semua papar bag itu ke tempat tidur empuk itu.

“Aduh Neng jangan di lempar gitu nggak baik, buka dulu isinya, nanti kalau nggak Mbok yang kena marah loh dan semua pelayan di sini akan terkena imbasnya,” pinta Mbok Asih memelas.

Safira merasa tak enak hati dia lalu mengambil dan membuka satu persatu di dalamnya.

Paper bag pertama dengan warna coklat itu dia buka dan ternyata isinya adalah sebuah kotak ponsel dengan merek ternama dan keluaran terbaru.

“Ponsel?”

“Iya ponsel Neng, Den Rama sudah merusak ponsel Neng Safira kan, makanya dia ganti dengan yang terbaru, sekalian Neng ada pesannya tuh,” jawab Mbok Asih sambil menunjuk kertas kecil di dalamnya.

“Ya ampun, pakai surat beginian kayak zaman SD,” gerutunya lagi.

Safira membuka kertas kecil itu dan membacanya dengan mata melotot, setelah itu kemudian menyunggingkan sebuah senyuman seperti mengejek.

Kertas itu dia buang di sembarang tempat karena kesal. Mbok Asih lalu memungutnya kembali lalu membaca isi surat itu.

“Pokoknya Safira nggak mau keluar! Biar saja dia menunggu di sana, siapa suruh dia tidak memberitahukan dari awal dan pastinya isi dari semua paper bag itu pakaian yang sangat terbuka, Safira risih Mbok!”

“Safira tidak pernah berpakaian menantang seperti itu,” jelasnya masih kesal.

“Maaf Neng nggak bisa gitu, Neng!”

“Pokoknya Safira nggak mau kalau di suruh berpakaian seksi dan pergi menemuinya seperti itu!”

“Buka dulu atuh Neng, dan bisa protes nanti saja, soalnya nanti jam enam sore penata rias akan datang untuk mempercantik Neng loh, ya walaupun Neng sudah cantik begini,” puji Mbok Asih tersenyum.

“Ayuk Neng buka dulu, jangan buat masalah, Neng harus tahu ya setiap Neng tidak mau menuruti apa yang di minta oleh Den Rama, kami yang di bawah ini yang kena, tolong kasihani kami, Neng,” pintanya lagi mengiba.

Huuh Mas Rama apa sih maumu, kamu menyuruh aku memakai pakaian ini, awas saja jika sampai pakaian ini banyak bolongnya aku akan menambahkan lebih banyak bolongnya dan kamu yang akan malu, kamu suka kan dengan tubuh indahku ini kan, biar orang lain juga menikmatinya!” ucapnya menggerutu dalam hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel