Pustaka
Bahasa Indonesia

CEO Arogan Itu Suamiku

120.0K · Tamat
Lentera hati
107
Bab
1.0K
View
9.0
Rating

Ringkasan

Safira harus merelakan kepergian sang pujaan hati karena mengalami serangan jantung pada saat ingin melakukan ijab kabul. Untuk menghindari cemooh dari kalangan bisnis mereka, Oma Citra pun menyuruh Rama anak pertama mereka untuk menggantikan posisi Shandy tanpa persetujuan dari Safira yang sangat membenci pelaku Rama sebagai CEO tampan tetapi Arogan. Mereka tidak tahu kalau penyebab kematian Shandy adalah ulah dari Rama. Akankah niat tersembunyi dari Rama terbongkar dan sanggupkah Safira menjalani pernikahannya dengan orang yang dia benci?

RomansaMenantuLove after MarriagePerselingkuhanPengkhianatanKeluargaPernikahanDewasaSweetMenyedihkan

01. Calon Pengantin Meninggal

“Ah kamu sangat menggoda Sayang, kamu terlalu cantik dan seksi, rasanya kau ingin memakanmu setiap hari,” racau pria bertubuh kekar dan tinggi itu saat menikmati setiap permainan wanita yang dia cintainya.

“Kamu menyukainya, Mas Rama?” tanya wanita itu dengan suara manja di telinga Rama.

“Apa pun itu aku akan selalu menyukainya dan ... Kring ... Kring! Bunyi dari jam wuker terdengar nyaring membuat Rama terbangun dari alam mimpinya.

“Ah sial lagi-lagi aku memimpikan Safira!”

“Ah ada apa denganku ini , aku tidak bisa melupakan gadis itu, dia sudah berani meracuni pikiranku dengan wajahnya,” ucapnya dalam hati.

Rama lalu mengambil ponselnya yang terletak di nakas, segera dia menghubungi salah satu anak buahnya.

[Iya, Bos]

[Bagaimana apakah kamu sudah menyelesaikan apa yang saya suruh?]

[Sudah, Bos , semua sudah selesai tinggal kapan kita eksekusi?]

[Tenang Dion, sebentar lagi dia akan pergi untuk selama-lamanya dan kamu akan lihat Dion, Safira pasti akan menikah dengan saya]

[Oke Bos sesuai perintah]

[Baiklah, sepuluh menit lagi saya turun, kamu tunggu saja di luar}

[Baik Bos, segera laksanakan ]

Rama pun memutuskan sambungan telepon dengan anak buahnya. Dia pun bergegas ke kamar mandi dan setelah itu bersiap diri dengan tampilan sempurna.

“Aku akan menikahimu Safira, sudah aku bilang dengan cara apa pun aku bisa mendapatkan kamu dengan cara apa pun termasuk membuang jauh suamimu.”

“Pasti kalian akan dipermalukan dan aku adalah pahlawan yang akan menolong kalian dari segala cibiran tamu undangan,” ucapnya tersenyum simpul.

Setelah dirasa penampilannya sempurna, pria tampan itu langsung pergi ke aula ke gedung pernikahan. Semua tersusun dengan rapi. Tidak ada yang mengetahui dan curiga kalau Rama Putra Bimantara adalah di balik semua peristiwa yang akan membuat sensasi nanti. Di balik senyuman itu tersimpan dendam yang mematikan.

Tamu undangan sudah memenuhi tempat, acara sakral pun akan segera tiba, di hati pria itu sudah dimabuk cinta tidak sabar untuk melepaskan masa lajangnya untuk melangsungkan pernikahan.

“Selamat Shandy akhirnya kamu bisa menikahi gadis pujaan hatimu yang miskin itu,” ucapnya dengan terang-terangan.

“Terima kasih Mas Rama,” sahutnya tersenyum tanpa ingin memperkeruh keadaan.

“Masih ada waktu jika kamu ingin membatalkan pernikahan ini, Shandy.”

“Kamu kan tahu keluarga Safira itu kampungan dan miskin, mereka itu menerima pernikahan ini karena kamu kaya raya. Kamu itu hanya sebagai boneka dan sebentar lagi uangmu akan habis untuk memenuhi kebutuhan keluarganya saja, kamu akan menderita.”

“Dan satu hal lagi, kamu yakin kalau kamu saja yang menjadi pacarnya, siapa tahu dia pernah menjual dirinya untuk kebutuhan keluarganya, kamu tahu sendiri kan Omnya Safira itu mata duitan dan selalu memaksa Safira melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hatinya,” jelas Rama panjang lebar.

“Aku percaya kok Mas dengan Safira ,dia tidak mungkin seperti itu bahkan dia itu sangat mencintaiku, kami saling terbuka, kepercayaan dan kejujuran selalu ada di antara kami,” bela Shandy yang tetap berusaha tenang.

“Baiklah, terserah kamu saja yang penting aku sudah memberitahukannya kepadamu, aku hanya bisa mengingatkan tetapi itu kembali ke keputusan kamu sendiri, jangan sampai kamu menyesal Shandy, pikirkan orang tua kita juga,” ucapnya lagi sambil menepuk bahunya .

“Terima kasih Mas Rama , kamu selalu ada buat aku, kamu memang kakak terbaik untukku, tetapi penampilanmu hari ini sangat keren melebihi aku orang yang menikah, sepertinya kamu deh yang lebih cocok dengan Safira ,” ledek Shandy tersenyum.

“Hahaha ... itu yang akan aku lakukan, tempat itu aku yang akan mengisinya sebentar lagi Shandy, ajalmu sudah mendekati tinggal hitungan menit lagi dan usahaku untuk mendapatkan Safira akan terwujud.”

“Bersiaplah Safira , suamimu yang tampan ini akan datang,” batinnya berkata.

“Oke ... Oke, sudah sana siap-siap lima menit lagi kamu ijab kabul, jangan grogi ya rileks.”

“Iya Mas, aku duluan ke sana.”

“Oke.”

“Kasihan sekali kamu Shandy, kamu selalu membela Safira, tetapi setelah itu tidak ada yang membela Safira, karena aku akan membuatnya melupakan kamu dan hanya aku pria yang dia cintainya,” ucap Rama tersenyum.

Rama lalu mengambil ponselnya dan menghubungi Dion anak buahnya.

[Segera lakukan sekarang!] Perintah tegas dari seorang CEO yang arogan itu.

“Pertunjukkan akan dimulai, sangat menyenangkan melihat tangisan mereka.”

Semua tampak bahagia, sengaja mempelai wanita hanya bisa menunggu di dalam kamar, tidak ikut menyaksikan pengucapan ijab kabul dari calon mempelai pria.

Tinggal lima menit waktu yang tersisa, melangkah dengan pasti menuju tempat di mana ikrar itu akan diucapkan.

Namun, saat tinggal satu langkah lagi menghampiri penghulu, terdengar ponselnya berdering. Dia pun segera mengambil dari saku celana dan membuka ponselnya tanpa rasa curiga.

Seketika senyuman yang dia perlihatkan kini hilang, dia berusaha tenang saat melihat video kiriman dari anak buah Rama.

Beberapa anak buah Rama yang menyamar menjadi tamu undangan pun bersiap-siap akan mengambil kembali ponsel Shandy untuk menghapus video itu jika diperlukan.

Rama memperhatikan Shandy dari jauh dengan tersenyum.

“Ayuk Shandy kamu pasti kecewa berat dengan calon istri yang kamu banggakan itu, tetapi lihat dia sedang sangat menggairahkan di dalam adegan itu, kamu pasti sangat marah, emosi,” ucap Rama dalam hati.

Tangannya gemetar, diam sesaat memperhatikan adegan panas wanita itu yang mirip dengan calon istrinya itu.

“Shandy ada apa, Sayang?” panggil Bu Fani mamahnya.

“Oh nggak apa-apa, Mah,” sahutnya. Dia lalu menutup kembali ponsel itu dan kembali menaruhnya di dalam saku celananya.

“Tidak mungkin Safira melakukan ini kepadaku, kenapa Mas Rama tadi mengatakan hal yang sama tentang Safira kalau dia bukan gadis baik-baik?”

“Tidak ...ini pasti ada orang yang sengaja ingin membatalkan pernikahan ini, tetapi siapa?” tanya Shandy dalam hati.

Pria tampan itu memperhatikan sekeliling tidak ada yang mencurigakan, kecuali Rama yang berdiri tenang dan tersenyum ke arahnya.

“A-apa mungkin Mas Rama yang melakukan ini semua, dia juga sangat mencintai Safira, tidak mungkin ...tetapi tatapannya ...augh ...

Nyeri di dada tiba-tiba muncul seketika, Shandy tak kuasa menahannya dia langsung memegang dadanya yang semakin menusuk. Semua orang berhamburan dan melihat Shandy tersungkur.

Shandy langsung dikerumuni, dan di saat itu pula ponsel Shandy pun telah raib diambil oleh salah satu anak buah Rama.

“Shandy Sayang, apa yang terjadi, bangun Sayang, jangan tinggalin Mamah!’

“Kamu sebentar lagi akan menikah dengan Safira, kamu harus bangun bukan itu yang kamu inginkan, Ayuk Sayang!”

“Pah, Shandy nggak mau bangun, kenapa Pah?” hiks ... hiks ... tangis Bu Fani pecah.

“Tolong mundur semuanya biarkan sedikit ada ruang ,” ucap salah satu tamu yang datang.

Dokter Bagas yang ikut menghadiri acara itu langsung memeriksa keadaan Shandy.

“Bagaimana Gas, apa yang terjadi dengan Shandy dia hanya pingsan saja kan?” tanya Bu Fani penuh harap.

“Maaf Mbak, kita sudah kehilangan Shandy untuk selama-lamanya,” ucap Dokter Bagas memastikan.

Semua tampak tercengang, terkejut dengan peristiwa itu. Acara yang digelar sangat mewah dengan penuh kebahagiaan kini menjadi suram.

“Apa ini Pah, kenapa Shandy meninggalkan kita seperti ini, kenapa kematiannya sangat mendadak, kenapa harus jantungnya sakit disaat dia akan bahagia?” keluh Bu Fani sembari menangis histeris.

“Itu karena calon menantumu itu pembawa sial!” jawaban itu membuat Bu Fani terdiam seketika.