09. Taruhan
Pandangan mereka bertemu, ada sedikit rasa canggung diantara mereka berdua. Bima sangat terpana melihat kecantikan yang ada pada diri Safira. Gadis yang pernah singgah di hatinya tetapi dia sangat malu untuk mengatakan kalau dia sangat mencintainya.
“Safira ... Apakah kamu Safira Maharani? Ini aku Bima Erlangga teman sekolahmu dulu,” ucapnya bahagia.
“Bima ... kamu Bima Erlangga, sudah lama kita tidak bertemu, apa kabar dan kenapa kamu tidak pernah memberiku kabar setelah kamu pergi ke luar negeri, sepertinya sudah sepuluh tahunan, benar nggak sih?” tanya Safira bersemangat.
“Loh jadi kalian sudah saling kenal?” tanya Mbok Asih penasaran.
“Iya Mbok, dia ini teman sekolah Safira dulu di kampung , tetapi karena bapaknya di pindah tugaskan ke luar negeri mereka menetap di sana, dan sekarang kamu ada di sini, aku nggak menyangka kita bisa bertemu lagi, dan di mana istrimu apakah kamu sudah berkeluarga?” tanya Safira tersenyum bahagia.
“Justru itu aku kembali ke Indonesia Safira, ingin bertemu dan mengungkapkan perasaan aku ke kamu, tetapi ternyata kamu sudah menjadi milik orang lain dan dia adalah salah satu sahabatku.”
“Tidak aku tidak mau untuk kedua kalinya kehilangan Safira, sudah cukup aku memendam rasa cinta ini selama sepuluh tahun.”
“Walaupun kamu sudah menjadi milik orang lain sekaligus itu adalah sahabatku, aku tidak peduli, aku harus bisa mendapatkan kamu Safira Maharani, kamu cinta pertamaku , dan tidak akan kubiarkan orang lain terlalu lama bersamamu,” batin Bima berkata.
“Hei Bim, apa yang kamu pikirkan?” tanya Safira lembut.
Bima masih tidak percaya kalau dia bisa bertemu sangat Safira dalam berpenampilan seperti ini. Rasa itu masih ada dan akan selalu ada, cintanya kepada Safira semakin dalam dan ingin merebutnya dari Rama.
“Ayuk kita berangkat, nanti telat sampai di sana,” ajaknya seketika.
“Apa jadi kamu yang di suruh Mas Rama untuk menjemputku?”
“Ya, Rama itu sahabatku, kami dulu pernah satu kuliah dan bekerja sama di luar negeri dan sekarang aku sudah menetap lagi di Indonesia karena ingin mengelola perusahaan Papah.”
“Wah kamu sekarang hebat,” puji Safira tersenyum.
“Duh kamu tersenyum saja semakin cantik Safira, tidak sabar merasa kamu harus menjadi istriku bukan Rama.”
“Maaf Rama aku tertarik dengan istrimu, mungkin sudah takdir aku bisa bertemu kembali cintaku yang telah hilang, tidak akan kubiarkan orang lain mendapatkannya,” gerutunya dalam hati.
***
“Mbok kami pergi dulu takut kemalaman sampai di sana,” ucap Bima.
“Iya silakan, hati-hati di jalan ya kalian.”
“Baik Mbok.”
Mereka pun akhirnya pergi acara itu, Bima sangat bersemangat ketika tahu siapa yang dijemput olehnya. Walaupun ada rasa sedikit kecewa karena Safira telah menikah, tetapi untuk mencintai Safira tidak pernah berhenti.
“Katakan apakah kamu sudah lama mengenal Rama?”
“Ya memang sih Rama bilang kalau dia hanya menggantikan posisi Shandy yang meninggal karena serangan jantung tetapi aku tidak tahu kalau wanita itu adalah kamu Safira, aku turut berduka cinta atas musibah yang kamu alami, saat itu aku masih di Kanada dan tidak bisa meninggalkan pekerjaanku,” jelasnya.
“Kamu sih nggak pernah kirim surat, nggak ada kamu padahal mau curhat jadi nggak bisa, tetapi kamu sudah ada di sini aku senang juga, dan apakah kamu sudah menikah juga, Bim?”
“Ah iya sampai lupa untuk menikah, belum lah ... belum ada yang sreg gitu, mungkin kalau sama janda boleh juga,” jawabnya tersenyum.
“Tolong carikan dong ...aku jadi iri melihat kalian.”
“Oh ya apakah kamu mencintai Rama?”
“Nggak, entahlah aku belum bisa menerimanya sebagai suamiku, kamu tahu kan dia hanya pengganti calon suamiku yang meninggal dan jika aku meminta cerai pun tidak bisa.”
“Loh kenapa kan tinggal minta cerai saja, apa susahnya sih, lagian kamu kan tidak mencintai Rama, betul nggak sih?” tanya Bima ingin mengetahui semuanya.
“Ya memang tetapi nggak mungkin aku bercerai darinya dalam waktu dekat, Mas Shandy baru seminggu lebih meninggal dan pernikahanku juga sama umur nya, banyak pertimbangan Bim, ada dua keluarga yang akan kecewa, mamah dan papahnya sangat baik dan sudah menganggap aku sebagai menantunya, makanya Oma Citra langsung menikahkan aku dengan Mas Rama,” jawabnya sedih.
“Kamu berhak bahagia juga Fir, jangan selalu mementingkan orang lain, pikirkan dirimu juga,” protes Bima.
“Ah sudahlah, sekarang kita mau ke mana sih, kita harus berpakaian formal seperti ini?” tanyanya penasaran.
“Salah satu sahabat kami sedang merayakan ulang tahun pernikahan mereka yang kedua, ya begitulah...
“Oh ...
“Aku tidak akan membiarkan kamu sendiri lagi Safira sekarang aku ada bersamamu, “ batinnya berkata.
Percakapan mereka tidak ada habisnya di dalam mobil. Ada canda tawa dan melihat Safira tertawa ataupun tersenyum membuatnya tambah semakin cantik.
***
Sementara itu Rama yang sudah menunggu di perjamuan itu mulai bosan. Dia pun ingin membanting sesuatu tetapi untungnya masih bisa menahan amarahnya saat beberapa temannya datang menghampiri.
Huh dasar wanita,” gerutunya kesal.
“Hei Bro, kenapa elo, kok manyun gitu sih?” tanya Bram sahabatnya.
“Iya nih, oh ya ngomong-ngomong istri elo mana kok nggak di bawa sih?” tanya Aldi ikut bersuara.
“Yaelah memang elo pada nggak tahu dengan siapa Rama menikah? Calon istrinya Shandy yang cupu itu, tetapi yang gue heran sama elo Ram, kok elo mau sih menikah sama dia?” tanya Bram bingung.
“Ah elo namanya juga cinta pastilah yang cupu aja di mata Rama terlihat cantik, mungkin nggak sih dia datang biasa saja, mending sama Yola, mantan elo yang seksi itu,” sahut Aldi tersenyum.
“Elo kayak nggak tahu siapa gue Rama Putra Bimantara, ya gue akui Safira memang sangat cantik dan stop elo bilang cupu ya, kalau nggak mau nyawa elo melayang.”
“Sebenarnya gue nggak cinta sama Safira, kalian kan tahu selera gue seperti apa?”
“Gue hanya ingin tahu bagaimana dia bisa melupakan Shandy dan mencintai gue, setelah itu gue lepas deh,” ucapnya santai.
“Betul-betul sakit ini orang ngapain juga elo ganggu anak orang, nggak kasihan tuh, saat dia sudah mencintai elo dan menerima elo sebagai pasangan hidup, terus elo tinggalkan begitu saja, sakit memang!”
“Ya sudah buat gue aja deh istri elo, kasihan kan, hahaha ... ejek Aldi disertai tawa mereka.
“Oh ya mana si Bima, tuh anak pasti yang terakhir datang, dia sudah elo undangkan?”
“Iya sudah, gue suruh aja jemput Safira sekalian,” jawabnya enteng.
“Parah lo, Bima itu sebelas dua belas dengan ketampanan elo, bagaimana ya jadinya kalau istri elo kepincut dengan ketampanan Bima, lagian dia baru pulang dari Indonesia, pastinya melihat istri elo seperti wanita bule, bagaimana dong?”
“Gue yakin istri gue itu nggak mau apa yang gue kasih dia itu terlalu sederhana banget, nggak tahu juga tuh Shandy mau saja dengan gadis sederhana,” rutuk Rama tersenyum.
“Masa sih, tetapi permainan dia di ranjang pasti oke kan?” tanya Aldi berbisik di telinga Rama.
“Elo ada-ada saja, kalau itu rahasia dong,” jawabnya seketika.
“Pasti Safira tidak akan memakai pakaian seperti itu, dia terlalu polos dan pasti menjadi bahan ejekan di sini, dan aku akan menjadi pahlawan bagi Safira jika dia memakai pakaian sederhana, atau apakah aku harus memastikan dia memakainya atau tidak?” gumamnya dalam hati.
“Hei, kenapa lagi sih elo? Melamun lagi nih anak?”
“Eh Bro bagaimana kalau kita taruhan, istrinya Rama memakai gaun mewah atau memakai dres biasa, pada setuju nggak?” usul Bram bersemangat.
