Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

06. Hati Bimbang

Rama sedikit membuka kedua matanya saat tercium aroma bubur yang menyengat, perutnya pun langsung berbunyi seperti ingin dimasukkan bubur itu ke mulut.

Sedikit agak malas tetapi memaksakan dirinya untuk bangun.

“Apa ini?” tanya ya sedikit dengan suara serak.

“Bubur nasi, Mas kan harus makan kata Dokter Mas harus makan walaupun hanya sedikit.”

“Iya tetapi kenapa harus bubur, aku tidak suka dengan makanan ini terlalu kental seperti ..

“Sudahlah jangan banyak protes tinggal makan apa susahnya sih, dengar jika Mas Rama tidak mau makan bubur buatanku terserah, setelah itu jangan harap minta dibuatin masakan, katanya harus menjadi istri yang baik dan penurut, tetapi setelah capek-capek buatkan eh malah nggak mau makan,” gerutunya kesal.

“Bu-bukan begitu tetapi aku sangat tidak suka dengan bubur, rasanya hambar dan itu tidak enak sekali,” protesnya.

“Coba dulu Mas, belum juga di rasa, atau mau aku suapin?” usulnya membuat hati Rama tersentuh.

“Kamu mau menyuapi aku?” tanyanya memastikan.

“Iya, atau kamu mau makan sendiri?”

“Tidak, Ayuk lakukan,” ucapnya kembali bersemangat.

Rama langsung terlihat semangat dan bahagia, dia lalu menunggu suapan pertama yang baru ingin dia rasakan. Ada yang memperhatikannya ada yang mengurusnya.

Safira lalu duduk di tepi ranjang, walaupun sebenarnya sangat malas terapi dia harus melakukan agar terlihat memang mulai terbiasa dengan kehadiran Rama di sampingnya agar misinya untuk balas dendam bisa tercapai.

Wanita berambut panjang itu pun menyuapi suaminya dengan perlahan. Meniupkan bubur itu agar tidak terlalu panas. Rama memperhatikan gerakan bibir istrinya yang sedang meniupkan makanannya. Hati Rama tersentuh. Bubur itu pun di sodorkan oleh Safira setelah dirasa tidak terlalu panas.

Rama memakannya dan mencoba berdamai dengan hatinya yang selalu menolak makanan itu, tetapi tiba-tiba rasa bubur yang dirasakannya begitu nikmat. Dia pun mencobanya lagi. Mengambil langsung dari tangan Safira dan memakannya sendiri.

“Sayang, ini bubur?”

“Iya Mas, nggak lihat gitu kental banget.”

“Rasanya kok beda dan ini lebih lembut dari yang pernah aku makan,” ucapnya sambil melahap bubur itu dengan nikmat

Tidak sampai lima menit bubur itu telah habis, Safira mendelik bukannya dia tidak suka bubur?”

“Bagaimana kamu suka kan dengan bubur buatanku?”

“Rasa buburmu sangat enak sangat berbeda dari sebelumnya orang memasakkan untukku. Apakah kamu pintar memasak?"

“Mas mau aku masak in?”

“Jika kamu tidak keberatan aku mau kamu yang memasak untuk makananku, apakah kamu keberatan?”

“Nggak.”

“Safira, aku tahu kamu belum bisa mencintaiku seperti kamu mencintaiku Shandy, tetapi bisa kamu belajar untuk mencintaiku?” tanyanya penuh harap.

Kedua mata mereka beradu pandang seketika hati Safira hampir luluh saat menatap wajah tampan Rama.

“Siapa kamu sebenarnya Mas Rama? Mengapa aku merasa kamulah yang telah membuat Mas Shandy meninggal, dia tidak mungkin secara tiba-tiba terkena serangan jantung.”

Alibimu itu sangat kuat Mas, karena kamu tidak ingin aku bersama Mas Shandy, tetapi setelah ini mengapa kamu seperti orang yang haus kasih sayang?”

“Apakah aku harus percaya kalau masa lalumu itu penuh penderitaan?” batinnya berkata.

Namun, dia terkejut saat merasakan ada yang menyentuh bibirnya dengan ganas, seketika mata Safira melotot, tetapi lama-lama Safira ikut terbuai dengan permainan lidah Rama.

Setelah makan bubur itu, tubuhnya terasa kembali bugar, dan akhirnya Rama kembali melakukan aksinya lagi untuk menjelajah setiap inci di tubuh Safira.

Kali ini Safira tidak menolaknya lagi, dia membiarkan Rama menyalurkan hasratnya. Safira pun mulai terlena dan akhirnya sarapan kedua di ranjang mereka pun terjadi lagi.

***

Hari demi hari Safira telah terbiasa dengan kehadiran Rama di sampingnya. Tidak dipungkiri memang pesona Rama dan perhatiannya telah membuat melupakan Shandy, dia pun tidak ingin larut dalam kesedihan.

Dia tidak ingin menjadi wanita lemah di hadapan keluarga suaminya, sebisa mungkin untuk tetap bertahan sampai tiba waktu ya dia bisa mencari bukti atas kematian calon suaminya dulu.

Namun, seiring berjalannya waktu Safira lama kelamaan dendam itu terabaikan oleh kebaikan dan perhatian Rama selama ini. Ada rasa di lema di dalam hati ingin rasanya percaya seratus persen kalau Rama tidak ada sangkut pautnya dengan kematian Shandy, tetapi Safira selalu meyakinkan dirinya kalau itu bisa saja terjadi.

Rama selalu berusaha membuat Safira tersenyum, memberikan perhatian lebih agar bisa menumbuhkan cinta di hati Safira. Bahkan setiap Rama melancarkan aksinya untuk bisa bermanja-manja dengan sang istri, Safira pun tidak menolaknya justru menikmatinya.

“Kamu adalah istri yang baik, Sayang. Aku sangat mencintaimu,” ucapnya berbisik di telinga Safira.

“Kamu memang canduku, aku tidak membiarkan tubuh ini menjadi milik orang lain, dan akan selalu aku jaga, hanya aku yang boleh menikmati tubuh indahmu ini, karena aku adalah suamimu, jiwa ragamu,,” jelasnya lagi setelah mereka melakukan hubungan manis mereka.

Safira hanya bisa tersenyum tanpa mengatakan apa-apa, hatinya masih bimbang.

“Mas, aku tahu kamu selalu memberikan aku perhatian, kasih sayang dan cinta untukku, tetapi tolong beri aku waktu untuk bisa beradaptasi dengan semua ini.”

“Kamu tahu siapa yang aku cintai sampai saat ini, walaupun tubuh ini sudah kamu miliki seutuhnya tetapi perasaanku masih sama milik orang lain,” tegasnya.

Rama bangkit dari ranjang dia kembali marah dan melempar semua benda yang ada di kamar itu. Cermin hias yang sudah diganti dengan harga mahal pun kembali menjadi sasaran amukan Rama. Melempar asbak itu ke cermin dan terulang kembali.

“Dengar Safira, orang yang kamu cintai itu sudah mati, sudah tenang di alam sana, buat apa kamu mencintai orang meninggal!” teriaknya keras sambil membanting sebuah pot bunga dan mengenai tangannya seketika.

Warna cairan berwarna merah itu membasahi tangannya tanpa dia sadari, Safira ingin mengobatinya tetapi pria tampan itu langsung pergi meninggalkan Safira setelah puas untuk meluapkan amarahnya. Wanita itu terdiam ada rasa penyesalan setelah mengatakan kalimat itu.

Tok! Tok! Tok! Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Safira langsung memakai baju tidurnya dan bergegas membukakan pintu kamarnya.

“Ada apa Mas Alex?” tanyanya saat pintu telah terbuka.

“Maaf Nyonya saya dapat perintah untuk membersihkan kamar Anda dan jika tidak keberatan Anda bisa menunggunya di luar atau memakai kamar tidur lain sementara, setelah kami bersihkan baru Anda bisa menempati kamar Anda lagi,” jelas Alex dengan sopan.

“Apa bos mu itu sering seperti ini? Menghancurkan kamarnya sendiri setelah itu membeli yang baru dengan harga yang mahal?”

“Huh dasar orang kaya, semaunya mentang-mentang banyak uang bagaimana kalau jatuh miskin apakah dia bisa melakukan ini semua , memerintah seenaknya saja?” gerutu Safira kesal.

“Maaf Nyonya, kami hanya menjalankan perintah, tolong turuti saja jika tidak kami yang akan mendapat masalah, tolong bantu kami karena kami hanya bawahan dan kami masih perlu makan,” jelas Alex sopan.

“Mas Alex, kamu seperti robot saja,” sahut Safira sembari keluar dari kamar tidur itu.

Ada tiga pelayan yang segera membersihkan kamar itu dengan cepat dan bersih. Rama termasuk orang yang sangat menjaga kebersihan, tidak luput sejengkal pun dari penglihatannya jika terbukti masih ada yang menurutnya masih ada debu atau kotoran sedikit pun, dia pun tak segan-segan untuk memecatnya atau mengurangi gaji pelayan itu.

“Selamat pagi Neng Safira?” tegur seseorang paruh baya dari belakang dia berdiri.

“Selamat pagi, Ibu siapa? Kok tahu namaku?” jawabnya terkejut dan menoleh ke arah wanita paruh baya itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel