05. Jatuh Sakit
Ternyata Safira keluar untuk mengambil air hangat untuk mengompres kening Rama. Pria itu terdiam dan menatap lekat wajahnya.
Setelah dokter datang dan memeriksa keadaan Rama dengan teliti.
“Bagaimana keadaan Mas Rama, Dok?” tanya Safira sedikit khawatir.
“Sudah mendingan karena kamu sudah duluan mengobatinya dan ini hanya ada beberapa vitamin yang harus di konsumsi oleh Rama jika dia ingin sehat.”
“Maksud Dokter?”
“Begini Nyonya Fira, Tuan Rama sangat susah sekali untuk mengatur pola hidup sehatnya, dia salah satu pasien penderita gizi buruk, dalam artian Tuan Rama sangat malas sekali untuk bergaya hidup sehat.
Teman setianya adalah asap rokok dan minuman keras, hindari kebiasaan itu jika mau lebih lama hidup, ya setidaknya kita bisa menjaga diri kita dari segala macam penyakit.”
Safira mendengarkan semua keluh kesah Dokter itu terhadap pasiennya yang nakal tidak bisa di atur.
Sesekali Rama melirik ke arah mereka, tidak menyangka saat sakit pun Safira sudah peduli dengannya, tanpa terasa bulir-bulir air matanya pun menetes membasahi bantalnya.
“Aku sudah berbuat sesuka hatiku, memaksanya untuk menerimaku, aku sudah membuatnya menangis di saat dia tidak rela kehormatannya aku rampas dengan paksa tetapi dia masih mau mendengarkan Dokter brengsek itu bercerita tentang hal buruk kepadaku!”
“Tidak salah kan aku mengurungnya di rumah ini dan menjadi istriku? ”tanyanya dalam hati.
Rama tersenyum bahagia dan berjanji di dalam hatinya akan selalu membahagiakan istrinya.
***
Setelah Dokter Bagas memberitahukan semua tentang hal yang menyangkut dengan Rama, dia pun berpamitan pergi.
“Mas, kamu tunggu di sini sebentar, aku akan membuatkan bubur nasi agar kamu bisa makan dan ingat jangan menolak, untuk saat ini aku tidak akan marah kepadamu, karena aku tidak ingin berdebat saat kamu sakit, ini hanya rasa kemanusiaan saja,” jelas Safira dengan tegas.
Tanpa menunggu jawaban dari Rama, Safira langsung pergi dari kamarnya dan menuju ke dapur.
Dia pun bertanya kepada Alex yang kebetulan masih ada di bawah.
“Bagaimana kondisi Tuan sekarang, Nyonya ?” tanya Alex dan beberapa pelayan lainnya yang terlihat sedikit khawatir.
Seketika Safira terkejut dengan kehadiran para pelayan di rumah itu yang setia ingin mengetahui kondisi terakhir sang majikan.
“Ehmm ... dia belum mati , jadi tenang saja,” jawabnya membuat mereka terkejut.
“Oh ya Mas Alex, di mana dapur rumah ini?” tanyanya seketika.
Alex dan lainnya saling berpandangan dan bersama menunjuk arah dapur.
“Oke, terima kasih.”
“Maaf Nyonya mau buat apa di dapur, biar saya saja yang mengambilkan sesuatu, jarang sekali majikan kami berada di dapur dan jika tidak terlalu dibutuhkan” jelasnya.
“Tidak usah, saya ingin membuatkan majikan pemarah kalian makanan, dia kan sakit jadi sebagai istrinya saya harus melayani dan merawatnya bukan?” tanyanya sembari tersenyum.
“Ba-baik Nyonya, mari saya antar,” sahut Alex dan pergi menuju dapur.
Beberapa pelayan lainnya sudah kembali ke tempatnya lagi, mereka pun bisa bergosip ria jika majikannya sedang sakit atau pun keluar kota, walaupun demikian para pelayan mereka sudah tahu batasannya untuk menyelesaikan setiap tugas mereka masing-masing.
“Di mana berasnya?” tanya Safira ketika sampai di dapur mewah itu.
“Di sini Nyonya,” jawab Alex sambil menunjukkan tempat beras itu di simpan.
Safira langsung mengambil tempat dan masih kebingungan dengan tata letak peralatan di dapur itu.
“Apa yang ingin Anda buat dengan beras itu, Nyonya Safira?”
“Saya ingin membuatkan bubur nasi agar Mas Rama bisa sarapan pagi, dia masih sakit dan harus makan yang lembek dulu,” jawabnya sembari kedua tangan masih sibuk membasuhnya.
Wanita itu tidak tahu kalau bubur nasi adalah makanan yang dibenci oleh Rama sang majikan, sehingga dia pun ditegur oleh Alex, berusaha mencegah Safira untuk tidak perlu membuatkannya.
“Maaf Nyonya, Tuan muda tidak biasa memakan bubur nasi, tetapi biasanya hanya memakan buah-buahan saja, “ ucapnya menghentikan sejenak kegiatan Safira saat mengaduk bubur nasi itu.
“Kenapa, apa yang salah dengan ini?”
“Tuam Rama tidak biasa makanan itu karena ada trauma masa kecilnya yang tidak bisa dia lupakan,” jawab Alex pelan.
“Apa itu?”
“Dulu waktu Tuan muda masih kecil saat umurnya enam tahun dia mengalami demam, saat itu Nyonya Fani membuatkan bubur nasi, tetapi entah bagaimana di dalam bubur nasi itu terdapat sebuah cincin dan di telan oleh Tuan Rama, sampai akhirnya dari situ Tuan Rama sangat membenci yang namanya bubur,” jelas Alex.
“Oh ya?”
“Baiklah aku ingin tahu apakah dia mau makan apa yang aku sungguhkan dan ingin sekali melihat reaksinya, hahaha,” tawanya dalam hati.
“Apa yang Nyonya pikirkan?”
“Tidak ada?”
“Oh ya Mas Alex, apakah Mas Rama mempunyai pantangan dalam makanan?”
“Ada, dia alergi dengan udang , ketika makan itu Tuan akan gatal-gatal dan mengeluarkan bintik-bintik merah seperti biang keringat, dan bisa di sembuhkan dalam waktu seminggu,” jelasnya lagi.
“Mulai sekarang jika dia sakit harus memakan bubur nasi ini, tenang saja aku tidak memberikan racun untuk majikanmu yang pemarah itu!”
“Oh ya Mas Alex, apakah Tuanmu itu sering berganti pasangan atau dia sering membawa wanitanya ke rumah ini?” atau dia mempunyai pacar sebelum kami menikah?” selidik Safira ingin mengetahui sosok suaminya sendiri.
“Kenapa Anda menanyakan hal itu? Apa yang ingin Anda ketahui tentang Tuan Rama?” tanya balik Alex.
“Aku tidak tahu sebenarnya hanya penasaran saja, apakah itu benar?” Aku tidak tahu sebenarnya hanya penasaran saja, apakah itu benar, Mas Alex?”
“Tuan Rama memang sering berganti pasangan tetapi tidak di bawa ke rumah ini. Mereka akan di bawa di apartemen miliknya, tetapi biasanya Tuan Rama tidak sembarangan mencari wanita untuk dia tiduri, banyak pertimbangan , tetapi maaf setelah Tuan Rama bertemu dengan Anda, dia sangat berbeda.”
“Kalau mengenai pacar dulu memang ada tetapi dia berselingkuh dengan pria lain di depan matanya, dari situ sikapnya bertambah berubah.
“Maksud Mas Alex?”
“Selain mengoleksi beberapa wanita, dia juga sering larut malam dan pulang dalam keadaan mabuk, tetapi setelah bertemu dengan Anda kebiasaan itu mulai berkurang dan terus terang Tuan Dani dan Bu Fani sangat menyukai Anda, karena bisa Menikah dari salah satu anaknya.
“Mereka berdua seperti bumi dan langit. Tuan Shandy terlalu baik dengan orang lain sehingga dia mudah merasa kasihan sedangkan Tuan Rama tidak bisa merendam kemarahan, sehingga di bilang pembuat onar.”
“Saya tahu kalau Anda sangat merasa kehilangan Tuan Shandy tetapi yakinlah satu hal Nyonya, kalau Tuan Rama itu sangat baik tetapi karena masa lalunya yang seperti diabaikan oleh orang tuanya sendiri dan ditinggalkan oleh mantan pacarnya yang berselingkuh.”
“Oke, terima kasih Mas Alex informasinya, aku akan membawakan bubur ini dulu,” ucapnya setelah menaruh bubur itu di dalam sebuah mangkuk.
“Waw, aromanya sangat menggugah selera, mudah-mudahan Tuan menyukainya,” sahutnya dan tersenyum.
Safira kemudian membawakan bubur itu ke kamar, dan lalu meletakannya di samping tempat tidur.
Seketika aroma itu sudah membuatnya terbangun dan ingin memakannya.
“Kamu ingin membuatku sengsara dengan perilaku kamu yang arogan kan, baiklah aku juga bisa membuatmu menderita lewat masakan yang aku buat, aku ingin lihat sebesar apa kamu mencintaiku Mas Rama Putra Bimantara?” ucapnya tersenyum licik.
