04. Pakaian Mini
Safira kembali ke kamar dan membuka isi lemari pakaian. Satu lemari besar itu sudah tersusun rapi perlengkapan wanita. Wanita cantik itu terkejut saat melihat begitu banyak pakaian.
Satu pintu untuk gaun pesta, satu pintu yang lain untuk pakaian santai di rumah, dan satu pintu kemudian adalah pakaian dalam wanita dengan berbagai model dan warna.
“Apa ini? “ Safira bergidik ngeri saat melihat pakaian dalam wanita itu, dia pun sudah membayangkan jika memakainya akan terlihat semua lekuk tubuhnya yang putih mulus.
“Kenapa, apakah kamu sudah tidak sabar memakainya? Cobalah Sayang, saya ingin kamu memakainya saat kamu berada di dalam kamar dan puaskan saya dengan begitu rasa sedihmu akan hilang, apakah kamu mau melakukannya?” ucapnya yang tiba-tiba masuk dan mengecup leher jenjang Safira.
Seketika Safira terdiam, dan Rama meninggalnya sebentar.
Safira kembali menangis saat mengingat Shandy, seakan dia pun tidak percaya bisa menikahi kakak Shandy yang begitu dia benci.
Safira tidak mempunyai pilihan lain dia pun akhirnya pasrah. Dengan langkah gontai sambil membawa pakaian dalam itu ke kamar mandi. Dia langsung membersihkan dirinya.
Wanita cantik itu pun akhirnya mencoba memakai linggre yang diambil asal dari dalam lemarinya.
Menatap di cermin hias , semua terekspos sangat jelas, hampir tidak ada yang menutupi kulit putihnya.
“Pakaian apa seperti ini, sama saja tidak memakai baju, dan aku harus berpenampilan seperti ini di dalam kamar?” ucapnya tidak percaya.
Safira lalu menutupinya dengan handuk piama berwarna merah muda yang sudah tersedia di kamar mandi.
Dengan langkah pelan Safira membuka kamar mandi, tetapi ternyata Rama sudah berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Mas Rama, ngapain kamu berdiri di depan pintu?” tanyanya dengan gugup.
“Mau mandi lah,” jawabnya singkat dan melangkah ke kamar mandi.
Lima menit berlalu Rama keluar dari kamar mandi, seketika Safira terkesima saat melihat tubuh suaminya yang hanya terbalut handuk tebal di pinggang. Aroma wangi yang masih melekat di tubuh Rama sudah membuat Safira terhanyut.
Pria itu sudah tidak sabar untuk menjelajahi setiap tubuh istrinya sendiri.
“Buka piama itu atau harus saya yang membukanya dengan paksa ,”bentak Rama seketika.
Wajah wanita itu semakin takut dengan tangan gemetar dia ingin membuka piama itu tetapi karena menurut Rama terlalu lambat membuat dirinya kesal.
Rama menghampiri Safira, dengan sekali tarikan piama itu terlepas dan terlihat apa yang dipakai oleh Safira yang sangat menantang
Rama lalu melumat bibir Safira secara mendadak membuat Safira terkejut, kedua matanya melotot, tetapi lama-kelamaan Safira pun hanyut dalam permainan Rama yang penuh kelembutan.
Malam pertama mereka pun terjadi, Rama tidak membiarkan istrinya bernapas, Pria arogan itu terlihat puas bisa memiliki Safira wanita yang telah dicintainya semenjak pandangan pertama mereka bertemu.
Malam itu sebagai saksi kalau Safira telah menyerahkan kehormatannya kepada orang yang sangat dia benci, tetapi dia pun tidak bisa mengelak saat sentuhan malam pertama itu membuatnya ikut menikmati.
“Kamu sudah menjadi milikku, Sayang, mulai sekarang kamu adalah wanitaku, istriku, dan akan tetapi menjadi pendamping hidupku untuk selamanya, jadi belajarlah untuk mencintaiku,” ucapnya sembari mengecup kening Safira dengan lembut.
Setelah pergulatan panas itu Rama pun tertidur, sedangkan Safira tidak bisa menutup kedua matanya. Bulir-bulir air matanya masih membasahi kedua pipi Safira.
Dia ingin menggerak tetapi rasa perih di bagian bawah membuatnya sulit untuk melangkah.
“Maafkan aku, Mas!”
“Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, aku sudah menyerahkan hidupku kepada Mas Rama , aku tidak tahu apakah dengan sifatnya yang pemarah bisa membuatku bertahan hidup dengan dia.”
“Aku akan selalu mengingat dirimu, Mas Shandy, kamu adalah cinta pertama dan terakhir untukku,” batinnya berkata.
Safira tidak bisa bergerak kembali saat tangan kekar itu menahannya. Untuk memindahkan tangan itu pun Safira tidak mempunyai kekuatan setelah Rama melakukan aksinya.
Safira kembali terbangun, dan melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul tiga malam. Untung saja dia bisa bernapas dengan lega karena tangan itu sudah berpindah tempat.
Safira dengan jalan berjinjit dan pelan-pelan akhirnya dia sampai ke kamar mandi.
“Augh ... masih sakit,” rintih Safira di kamar mandi.
“Seharusnya aku melakukan ini dengan Mas Shandy tetap malah dengan Mas Rama!” cemetuknya kesal.
Setelah selesai dan memakai pakaian, Safira kembali ke sisi ranjang mereka. Wanita cantik itu lalu melihat dekat wajah pria itu yang tidak dipungkiri masih berwajah tampan.
Rambut ikal hitam, alis tebal dan bibir yang sangat menawan. Mempunyai karisma tersendiri. Berkulit putih dan berotot.
Tidak dipungkiri kalau Rama mempunyai paras yang tampan dan pasti diluar sana banyak yang mengagumi dirinya.
Jika Shandy adalah CEO tampan yang berwibawa dan bijaksana, tetapi Rama adalah CEO yang terkenal disiplin dan pemarah.
Mereka berdua di tunjuk oleh ayah mereka untuk memegang masing-masing perusahaan, tetapi setelah berjalan selama lima tahun terakhir perusahaan yang dipegang Shandy perkembangannya semakin baik.
Berbanding dengan Rama, yang mudah marah dan tidak suka di dikte oleh karyawannya.
Safira tidak bosan memandangi wajah pria itu. Entah kenapa tangannya mengusap wajah suaminya yang tampan.
“Siapa kamu sebenarnya Mas Rama?”
“Kadang sikapmu seperti orang tidak waras dan pemarah, aku sangat takut saat melihatmu membungkam orang itu dengan tindakanmu seperti kriminal.
“Kamu selalu bersaing dengan Mas Shandy untuk bisa mengalahkannya, tetapi kamu selalu terjebak dalam permainan kamu sendiri.”
“Kamu selalu iri dengan Mas Shandy, kenapa Mas? Sepertinya kamu sangat membenci Mas Shandy ada apa dengan kalian?”
“Aku tidak mau berpikir kalau akibat ulah kamu Mas Shandy kehilangan nyawanya. Mas Shandy selalu minum obat itu, tetapi ...
“Safira tolong jangan membenciku, aku sangat mencintaimu, tolong biarkan aku bisa memilikimu seutuhnya, aku ingin ada wanita yang betul-betul memahami diriku, dan itu adalah kamu.”
“Tidak ada yang menyayangi , aku ingin butuh kasih sayang dari orang tua, tetapi dari kecil aku tidak mendapatkannya,”
“Aku akan berubah seperti yang kamu mau, tetapi jangan tinggalkan aku, Safira,” ucapnya mengigau.
“Aku sangat membutuhkan kamu!”
Safira terkejut dengan penuturan sang suami di dalam tidurnya, dia pun tidak menyangka kalau CEO arogan ini sangat kesepian.
Entah kenapa tiba-tiba Safira mencium kening suaminya. Dia membetulkan selimut yang dipakai Rama, setelah itu dia pun tertidur di samping tubuh kekar milik suaminya.
Hari telah menjelang subuh, tetapi tanpa sengaja posisi tidur mereka sudah sambil berpelukan. Safira ingin kemi ke kamar mandi tetapi dengan tiba-tiba saja, Rama kembali sadar, badannya tiba-tiba saja mengigil dan panas.
Safira sangat terkejut dan dia pun langsung menghubungi Dokter Bagas melalui ponsel milik Rama sendiri untuk memeriksanya.
“Menyebalkan sekali kenapa juga harus pakai acara sakit sih, seharusnya aku yang sakit bukan dia?”
“Mas Rama, kamu kenapa sih?” tanyanya kesal.
“Kamu nggak bisa lihat?” tanya balik dengan suara berat.
“Nggak tuh ini akibatnya kalau kamu semena-mena kepadaku, makanya jangan membuat hati wanita sakit.”
“Aku sudah memanggil dokter, sebentar lagi akan datang. Apa perlu aku telepon mama?”
“Nggak usah, buat apa?”
“Ya sudah.” Safira beranjak dari tepi ranjang dan ingin keluar.
“Mau ke mana kamu?”
“Keluar cari angin, bosan di kamar terus!”
“Siapa yang suruh kamu pergi?”
“Nggak ada.” Safira tetap keluar tanpa melihat Rama dengan wajah memerah.
