Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

03. Malam Pertama Nestapa

“Mas Rama? Kenapa Mas yang duduk di sini?”

“Di mana Mas Shandy, apa yang terjadi, Bu?” matanya sudah berembun membuat Rama semakin menyukai Safira yang menderita.

“Sekarang saya yang sudah menjadi suami kamu, dan cepat lakukan ritual dulu setelah kita akan bicara,” bisiknya di telinga Safira.

Wanita cantik itu menatap sendu kepada kedua orang tuanya, tetapi dia sudah tahu jawabannya pasti mereka sudah di tekan, hanya untuk pencitraan yang tidak ingin rusak di mata orang lain.

Mau tak mau Safira mengikuti semua yang harus dilakukan, mulai menandatangani buku nikah, penyematan cincin kawin dan berat hati dai harus mencium punggung tangan pria yang dia benci.

Rama yang tak bisa berhenti menatap istrinya yang semakin cantik, membuatnya tidak tahan untuk mulai menyentuhnya.

Setelah semua proses selesai, mereka pun akhirnya memberitahukan sebenarnya kalau Shandy telah meninggal dunia.

Hal ini sudah di pastikan saat Dokter Bagas menghubungi Tuan Dani dan memberikan kabar duka itu. Mereka akan membawa pulang jenazah Shandy ke rumah.

Safira terduduk dan terdiam setelah semua keluarga mengambil tindakan tanpa persetujuan Safira. Nasi telah menjadi bubur kini Safira harus menerima kenyataan kalau sekarang Rama lah yang telah menjadi suaminya.

Di hari itu juga Shandy diantar ke rumah peristirahatannya yang terakhir, banyak yang merasa kehilangan sosok Shandy yang baik dan pemaaf.

Semua karyawan sangat begitu kehilangan dengan kepergian sang CEO yang tampan itu. Bu Fani dan Tuan Dani, merasa terpukul dan sangat bersedih.

Namun, tidak ada yang bisa mengubah takdir kini Safira harus terus melihat wajah pria yang sangat dia bencinya itu.

“Bagaimana Safira, sudah ter buktikan apa yang saya katakan kepada kamu?”

“Kamu tidak bisa lari dariku, sekarang tidak ada yang menolong dirimu dan cepat hapus air matamu, saya tidak suka wajahmu yang cantik ini dibanjiri oleh air matamu,” ucap Rama saat mereka sudah ada berada di satu kamar pengantin.

“Kamu lihat ini kamar yang seharusnya kalian tempati berdua, tidak bisa kalian nikmati, tetapi tenang Sayang ada suamimu yang akan selalu setia berada di dekatmu,” lanjutnya lagi.

Safira masih mengatur napasnya, semenjak acara itu berlangsung tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut kecilnya itu.

“Mas, tolong jauhi aku! Aku tidak mau menjadi istrimu, aku mohon lepaskan aku!” pintanya memelas.

“Apa yang kamu katakan Sayang?”

“Plak!” Sebuah tamparan berhasil mendarat mulus di pipi Safira sehingga meninggalkan bekas di sana.

“Augh ...Mas?”

“Mas, kamu tahu kan aku tidak mencintaimu dan aku membencimu, aku sangat mencintai Mas Shandy ... hiks ... hiks ... tangisnya pecah.

“Kamu mau semua keluarga menanggung malu, pikirkan keluargamu, ibu dan bapakmu sudah tua dan sering sakit-sakitan, mereka mengandalkan kamu, dan bagaimana dengan kedua adikmu?”

“Apakah kamu mampu membiayai hidup mereka dengan gajimu yang pas-pasan?”

“Apakah kamu tidak lihat wajah kedua orang tuamu yang sedih dan malu, sudah bagus saya menyelamatkan kalian dari pandangan buruk orang lain, tetapi kamu tidak bersyukur.”

“Dan kamu tahu juga kalau papa dan mama sangat menyayangimu, sudah menganggap kamu sebagai putrinya, jadi tidak perlu melakukan drama lagi!”

“Sekarang kita sudah sah menjadi sepasang suami istri, bagaimana pun juga kita sudah menikah dan lakukan saja tugasmu sebagai istri yang penurut.”

“Kamu tidak mau kan jika suatu hari nanti keluargamu menderita?” tanyanya berbisik di telinga Safira.

Seketika Safira bergidik ngeri saat hembusan napas Rama terasa olehnya.

“Sekarang keputusan ada di tanganmu, mau melihat keluargamu menderita atau tenang seperti biasa,” ancamnya.

“Mas, apakah kamu tidak merasa sedih kehilangan Mas Shandy, dia adikmu dan kamu ingin aku melayani kamu di saat kita berduka, kamu memang tidak mempunyai perasaan, Mas!”

“Mas Shandy itu ...

Tiba-tiba saja Rama mengambil sebuah asbak rokok yang terbuat dari kaca dan melemparkannya di cermin hias, sehingga hancur menjadi berantakan.

Safira terkejut dan takut, dia lalu meringkuk memeluk kakinya sendiri.

“Saya tidak peduli cepat bersihkan dirimu sekarang juga, atau kamu harus melihat orang tuamu menderita atau kamu perlu bukti, Safira ?” tanyanya dengan menatap tajam ke arah istrinya.

Safira pun terdiam dia tidak ingin keluarganya terbebani dengan masalahnya lagi, dia sangat menyayangi mereka. Pilihan sulit pun dia harus ambil untuk sementara waktu agar bisa mencari jalan keluarnya.

Dengan terpaksa pun Safira harus mengikuti kemauan suaminya. Dengan berjalan pelan dia lalu membuka kopernya dan mengambil pakaian tidur yang tertutup. Mata Rama sekilas melihatnya, lalu membuang koper itu dengan berserta isinya.

“Jangan kamu ambil koper itu, pakaianmu sudah tidak layak kamu pakai, saya sudah menyiapkan semuanya di lemari dan pakai pakaian itu saat kita akan bercinta, kamu mengertikan, Sayang?” ucapnya dengan tersenyum nakal.

Safira tidak mengindahkan perkataan Rama, dia tetap mengambil kopernya dan membuka di hadapan suaminya.

Rama lalu mengambil paksa dan melempar keluar semua pakaian Safira di bawah tangga.

“Alex!” teriaknya menggema memanggil salah satu kepala pelayan di rumahnya.

Dengan gerak cepat Alex datang dan menghadap Tuannya yang sedang emosi.

“Iya Tuan?”

“Bakar semua barang rongsokan itu pastikan tidak ada tersisa sedikit pun!” perintahnya.

“Mas, itu bajuku, kamu tidak berhak untuk membuangnya, aku akan memberitahukan semua kelakuan kamu sama mama dan papa!” ancamnya dengan mata melotot.

Safira lalu ingin mengambil ponselnya yang dia taruh di depan kamar hias itu, tetapi ternyata sudah tidak ada. Dia mencari ke segala tempat tetapi tetap saja tidak menemukan ponselnya sendiri.

“Apa ini yang kamu cari, Safira?” tanya Rama sembari memegang ponsel milik istrinya.

“Mas, kembalikan ponselku!” teriak Safira.

Rama yang masih terlihat emosi dia kembali keluar dan menjatuhkan ponsel itu ke bawah sampai hancur tidak berbentuk lagi.

Seketika Safira tak kuasa menghadapi Rama yang selalu terbawa emosi dengan amarah yang meledak-ledak.

“Alex pastikan semua rumah terkunci dengan rapat siapa tahu ada kucing nakal ingin keluar dari rumah ini!”

“Oh ya bereskan semua itu dan bakar, Mama dan Papa mereka tidak akan pulang ke rumah, mereka akan pergi selama seminggu untuk berlibur,” ucapnya dengan lantang.

“Apa maksudmu Mas, mereka pergi ke mana dan kenapa mereka pergi dan meninggalkan aku di sini bersama pria tidak waras ini?”

“Iya, saya yang menyuruh mereka untuk pergi sementara agar Mama bisa beristirahat dengan tenang, dia juga perlu ketenangan dan mereka mempercayai kamu kepada saya, jadi kamu tidak perlu mencari mereka. Bagaimana?”

“Sekarang lakukan tugasmu sebagai istri dan kamu bisa cepat beristirahat, dan jangan banyak berkomentar sebelum saya menyiksa keluargamu satu-persatu,” usapnya dengan santai.

“Kamu sangat keterlaluan Mas Rama , aku akan sangat-sangat membencimu!”

“Oh ya apakah kamu yakin, kamu akan selalu membenci saya?” sindir Rama tersenyum kecil.

“Kenapa kamu tidak terima silakan, dan turunkan matamu itu , jangan membuat aku bertambah marah, cepat Safira!” bentaknya.

“Mimpi apa aku semalam bisa menikah dengan orang ini?”

Safira akhirnya malas berdebat, dia pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi, kini dia harus menerima takdirnya sebagai istri CEO Arogan.

“Mas Shandy kenapa kamu meninggalkan aku, kenapa kamu tidak membawa kau pergi bersamamu daripada menjadi istri kakakmu ini?” gerutunya dalam hati.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel