Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

02. Pengganti Calon Suami

“Mamah! Kenapa Mamah mengatakan itu?” bela Tuan Dani.

“Ini semua gara-gara kalian yang tidak mau mendengarkan ucapan Mamah, sudah ter buktikan?”

“Dan sekarang tidak ada lagi penerus untuk keluarga kita, siapa lagi? Sungguh keterlaluan!” bentaknya.

“Sekarang kamu pergi kasih tahu calon menantumu yang miskin itu kalau dia tidak bisa menikah karena calonnya meninggal dunia, sekarang kalian puas kan, membuat cucu saya satu-satunya hilang?”

“Mau taruh di mana muka kita sekarang, malu Dani ... Ya ampun!”

“Kalian ingin membuat saya mati mendadak juga seperti Shandy , begitu?”

“Sudah buat acara besar-besaran tetapi tidak terjadi pernikahan, suruh bubar saja tidak ada lagi pernikahan sudah di ganti dengan acara pemakaman!” teriak ibu tua itu.

Semua tamu saling berpandangan, para wartawan juga meliput kejadian ini, ada yang bingung, ada yang mencibir, ada juga yang mengupload kejadian itu di media sosial dan memviralkan nya.

“Bagaimana ini Pah, apa yang harus kita lakukan, kasihan Safira jika tahu calon suaminya meninggal, tetapi kita harus segera memberitahukannya,” ucap Bu Fani bingung dan sesekali menangis.

“Tunggu!” teriak seorang pria berhasil menghentikan langkah Bu Fani.

“Ada apa ini, kenapa Mamah menangis?”

“Dan di mana Shandy, kenapa semua berkerumun di sini, Rama baru saja menyalami tamu undangan di luar,” kilahnya berbohong.

Bu Fani langsung menghambur ke pelukan Rama dan kembali menangis histeris.

“Ada apa, Mah ?” tanyanya dengan lembut.

“Shandy meninggal, kemungkinan mengalami serangan jantung tiba-tiba,” sahut Dokter Bagas.

“Apa? Meninggal? Rama pura-pura bersedih di hadapan tubuh yang sudah terbujur kaku itu. Sedikit ada rasa kasihan dia harus melakukan semua itu tetapi tidak dipungkiri kalau kejadian ini yang sudah membuatnya bahagia.

“Shan, kenapa kamu meninggal di saat hari pernikahan kamu ini, bagaimana dengan nasib Safira?”

“Apakah ini alasan kamu tadi untuk menjaga Safira dan menggantikan posisi kamu, tetapi apa ini aku pikir itu hanya candaan saja tetapi apa yang aku lihat ini?”

“Aku kehilangan orang tuaku sekarang aku kehilangan adikku, ini tidak adil, aku baru saja bahagia mendapat kebahagiaan di keluarga ini tetapi kamu malah meninggalkan aku seperti ini?” keluhnya.

“Maafkan aku Shandy, aku merebut posisimu sekarang, mereka akan lebih menyayangiku dan aku akan tetap berdoa semoga kamu baik-baik saja di sana.”

“Akhirnya rencana pertama sukses, dan kini Safira bisa menjadi milikku seutuhnya,” gumamnya dalam hati.

“Rama ...Rama, apa yang kamu pikirkan?” tanya Oma Citra bingung.

“Lebih baik kita memberitahukan keluarga Safira kalau ..

.

“Tidak usah, kita tetap melanjutkan pernikahan ini,” jawab Oma Citra tegas.

“Maksud Oma?”

“Kamu yang harus menggantikan posisi Shandy untuk menikahi gadis miskin itu!”

“Oma tetapi ...

“Rama tidak ada waktu lagi segera lakukan perintah Oma!”

“Oma nggak mau pernikahan ini batal, mau taruh di mana wajah kita dan lagian kita sudah banyak mengeluarkan uang untuk acara pernikahan ini, sangat mubazir!”

“Iya tetapi Safira tidak akan setuju?”

“Oma tidak peduli, yang penting reputasi keluarga kita tidak tercoreng dan kini saatnya kamu membuktikan kalau kamu layak menjadi anak tunggal keluarga Bimantara, bukan begitu Dani?” tanya Oma Citra meminta pendapat anaknya.

“Yang dikatakan oleh Oma betul, Rama , turuti saja keinginan Oma. Papa dan Mama setuju jika kamu yang menggantikan Shandy, cepat lakukan, ini perintah!” Kini Dani bersuara lantang tetapi sedikit gemetar.

“Bagus ... bagus ... sepertinya dewa keberuntungan masih berpihak kepadaku, baiklah ada saatnya giliran kalian untuk takluk di bawah kakiku, aku sudah mendapat kepercayaan kalian semua,” ucapnya tersenyum dalam hati.

“Baik Pa, Ma dan Oma jika ini adalah keputusan yang tepat, Rama akan menuruti kalian,” ucapnya.

Dokter Bagas langsung membawa Shandy ke rumah sakit untuk pemeriksaan ulang, sementara mereka kembali bersiap untuk melanjutkan acara itu.

“Ada apa ini Bu Citra, kenapa semuanya menjadi diam seperti ini?” tanya Pak Samsuri ayahnya Safira mendekati mereka.

“Nanti kita akan bahas lagi, tetapi untuk sat ini biarkan kami mengaturnya dulu.”

“Apa maksud Ibu Citra sebenarnya mengapa ada ambulans dan apakah ...

“Nak Shandy? Apa yang terjadi dengan nak Sandy Bu?” Pak Samsuri melihat Shandy tergeletak tak bergerak.

“Nak Shandy, bangun, sudah waktunya kamu menepati janji Bapak untuk menikahi Safira, bangun Nak Shandy!”

“Maaf Pak, kami juga tidak tahu kalau jadi seperti ini, Shandy sudah meninggal Pak, terkena serangan jantung barusan, nyawanya tidak terselamatkan,” jelas Tuan Dani dengan wajah sendu.

Seketika Pak Sam hampir saja terjatuh jika tidak langsung di tarik oleh Tuan Dani.

“Ya Allah ... Gusti ... bagaimana dengan nasib Safira, di kampung dulu dia dikatakan anak pembawa sial, sekarang di kota pun sama dia sudah membuat keluarga ini menjadi lebih sial lagi,” celetuk Bude Sri dengan sewot.

“Mbak, jangan bicara seperti itu, dia itu keponakan kamu juga Mbak,” protes Pak Sam sedikit marah.

“Pak, kami juga merasa kehilangan tetapi kami juga tidak mau kedua keluarga kita tidak menjadi besan, saya sangat menyukai Safira dia mengingatkan dengan putri kami sehingga kami memutuskan Safira akan tetap menikah hari ini.”

“Bagaimana mungkin Pak, dengan siapa?”

“Dengan putra pertama saya, Rama.”

“Nak Rama , Ayuk sudah waktunya.”

“Maaf Pak, tetapi Safira harus diberitahu dulu masalah ini, dia harus tahu kalau suaminya nanti adalah nak Rama bukan nak Shandy.”

“Turuti saja dulu Pak Sam, kita sudah banyak kehilangan waktu, banyak para tamu menunggu dan itu tidak pantas, biar Bu Wulan saja yang memberitahukan kepada Safira.”

“Dan bilang dengan Safira, dia harus menerimanya suka atau tidak karena ini menyangkut citra keluarga di depan umum, dan Bapak tahu sendiri kan jika anak gadis batal menikah ke depannya akan sulit untuk menerima pinangan orang lain, seperti Ibu Sri katakan dia akan di cap sebagai anak pembawa sial bagi keluarga lainnya, apakah itu yang Bapak inginkan?”

“Sudah tidak usah banyak berpikir, kita lakukan sekarang , setelah itu kita harus ke rumah sakit.”

Sementara itu di kamar, Safira hanya duduk memandangi dirinya yang ada di pantulan cermin itu. Kebaya putih panjang dengan model modern dan sedikit terbuka dia bagian depan memperlihatkan leher jenjangnya yang begitu indah, dengan rambut di sanggul kecil, make up yang natural terkesan sangat elegan, tetapi di balik riasan itu tersembunyi air mata yang ingin keluar tetapi dia tetap menahannya. Entah perasaan bahagia atau pun tidak.

“Mengapa hatiku tidak tenang, apakah terjadi sesuatu dengan Mas Shandy, hatiku gelisah, apakah aku harus melihat Mas Shandy akan mengucapkan ijab kabul , aku sangat penasaran kenapa lama sekali?” tanyanya dalam hati.

“Hei, Fir, ada apa kenapa kamu terlihat sedih gitu jelek tahu, senyum dong, sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Shandy Alfian Bimantara,” ucap Cika sahabatnya.

“Iya nih, kenapa sih elo , jangan sedih, katakan siapa yang sudah buat elo begini, Shandy?”

“Sudah mau nikah aja masih menggoda Fira, awas saja kalau dia sampai membuat elo menangis lagi, gue sendiri yang beri pelajaran tuh anak,” sahut Caca sahabatnya yang lain.

“Ih apaan sih, Cuma nggak tahu juga sih perasaan aku nggak enak saja, ada apa ya?” tanyanya bimbang.

Kedua sahabat Safira saling memandang, mereka pun bingung dengan apa yang dibicarakan oleh Safira.

“Daripada elo penasaran, gue keluar dulu deh cari informasi, tetapi sepertinya sudah mulai dari tadi, sudah ada kata sah ... sah ... atau gue pastikan lagi deh, elo tunggu sini sebentar .”

“Oke, makasih ya Ca, kalian memang sahabatku yang paling baik,” sahutnya sambil tersenyum.

“Nah, senyum sudah, gitu dong tambah cantik, duh si Shandy beruntung banget dapetin elo, pasti ini ya si Rama nggak datang, dia lagi ngumpet menangis di pojokkan kali , hahaha ... tawa Cika diikuti oleh Caca.

“Namun, saat Caca ingin keluar tiba-tiba saja Bu Wulan datang menghampiri anak gadisnya dengan wajah sendu.

Wanita paruh baya itu menangis histeris dan memeluknya dengan hangat.

“Akhirnya kamu sudah resmi Nduk, menjadi seorang istri, “ tangisnya di dalam pelukan ibu dan anak itu.

“Tuh kan berarti tadi nggak salah dengar ...

“Selamat ya Say, tinggal kita berdua nih yang belum,” ucap Cika tersenyum.

“Iya Nduk, ayuk kita keluar ,” pinta ibunya dengan lembut dan netral pun keluar.

“Mas, aku masih tidak percaya, aku bisa menikah denganmu, Mas, aku janji akan menjadi istri yang baik dan setia hanya kepadamu,” ucapnya tersenyum dalam hati.

“Nduk, sudah sampai, jangan banyak melamun, “ ucap ibunya sedikit gugup.

Wajahnya masih menunduk, dan duduk di samping pria itu yang sudah menjadi suaminya.

“Safira ...panggil lembut pria di sampingnya seketika terkejut dengan suara yang dia dengar dan langsung menoleh ke samping.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel