Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4. Kabar Buruk dari Ruang Operasi

Waktu menunjukkan pukul tiga dini hari.

Lorong rumah sakit terasa seperti membeku. Lampu-lampu putih dingin menggantung di atas kepala, membuat bayangan panjang di dinding. Hujan yang sejak tadi deras kini hanya tersisa rintik lembut, menetes di jendela kaca besar di ujung lorong.

Keluarga Levin masih menunggu di kursi panjang wajah lelah, mata sembab.

Oma Rini berdoa dalam bisikan, jemarinya menggenggam erat hingga buku jarinya memutih.

Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha duduk di sebelahnya, menatap kosong ke lantai, sementara Tuan Fred dan Tuan Erlan berdiri dekat pintu ruang operasi, menatap jam tangannya untuk kesekian kali.

Di depan pintu kaca, Asher berdiri tegak.

Tubuhnya kaku, rahangnya mengeras, matanya tak pernah lepas dari tulisan merah, “Operation Room, Do Not Enter.”

Sudah lebih dari tiga jam. Terlalu lama.

“Mom,” Suara Ayin berkata pelan nyaris tak terdengar. “Kalau operasinya lama, itu pertanda baik atau buruk?”

Nyonya Mitha menoleh perlahan, berusaha tersenyum, tapi air matanya jatuh juga. “Tanda jika para tim medis sedang berusaha keras, Sayang.”

Ayin mengangguk pelan, tapi wajahnya pucat. “Aku takut, Mom.”

Nyonya Mitha menarik putrinya ke dalam pelukannya. “Semua juga takut. Tapi kita harus kuat untuk Opa, ya.”

Pintu ruang operasi tiba-tiba berbunyi keras, terbuka setengah.

Semua langsung berdiri.

Namun bukan dokter Paul yang keluar melainkan seorang perawat, wajahnya tegang, napasnya tersengal-sengal.

“Asher segera maju. “Bagaimana suster? Bagaimana keadaan Opa saya?”

Perawat menatap mereka dengan raut campur aduk antara lelah dan duka.

“Saya … saya sangat minta maaf. Kami sudah berusaha sebaik mungkin, tapi ...”

Suara itu pecah sebelum selesai.

Oma Rini langsung menjerit, “Jangan bilang begitu! Jangan bilang Robi sudah pergi!”

Perawat menunduk. “Pasien, tidak bisa diselamatkan. Kami kehilangan Beliau lima menit yang lalu.”

Hening.

Untuk sepersekian detik, dunia berhenti.

Tak ada suara, dan napas yang berhembus. Hanya gema kata-kata itu yang menggantung di udara,

“Tidak bisa diselamatkan.”

Suara tangisan pecah seketika.

Oma Rini jatuh berlutut di lantai, menangis tersedu-sedu. “Tidak! Tidak mungkin! Robi sudah janji akan merayakan ulang tahun pernikahan kami bulan depan!”

Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha langsung memeluk mertuanya, ikut menangis. “Oma, sabar ya, sabar. Kita semua kehilangan Opa.”

Erlan berdiri terpaku, wajahnya kosong. Dia tak bisa bicara.

Ayin menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya bergetar hebat.

“Opa …”

Elrod menangis tersedu-sedu di dalam pelukan ibunya, Nyonya Jane. Sementara Tuan Arjuna merangkul bahu Tuan Erlan dan Tuan Fred.

Sementara Nyonya Biela Levin, saudara perempuan Tuan Erlan juga ikut menangis dalam pelukan suaminya, Tuan Lui.

Seluruh anggota keluarga besar Levin menangis tersedu-sedu saat ini.

Namun di antara semua tangisan itu, Asher tetap berdiri diam.

Matanya menatap kosong ke arah pintu operasi yang kini terbuka lebar.

Dia menatap ke dalam tubuh kakek buyutnya yang telah terbujur kaku di atas meja operasi, diselimuti kain putih, hanya sebagian wajahnya yang terlihat.

Dokter dan perawat menunduk hormat sebelum menutup wajah itu sepenuhnya.

Asher memejamkan mata. Air mata pertamanya jatuh.

Lalu tiba-tiba, tubuhnya bergerak. Asher melangkah cepat ke depan, mendorong pintu operasi hingga terbuka penuh.

“Asher!” panggil Nyonya Mitha, tapi dia tak peduli.

Asher masuk ke ruang operasi, mendekati meja itu.

“Opa …” Suaranya lirih, serak, dan gemetar. Dia menyentuh tangan dingin yang dulu sering menepuk bahunya dengan bangga.

“Bangun, Opa. Aku sudah ada di sini. Aku nggak akan marah lagi soal bisnis, sungguh. Aku berjanji akan jadi cucu buyut yang baik,”

Tak ada jawaban.

Hanya suara mesin monitor yang sudah berhenti berdetak.

Asher menggenggam tangan itu lebih keras. “Opa, tolong buka mata.”

Suara tangisnya pecah. “Opa, jangan pergi! Aku masih butuh Opa!”

Perawat mencoba mendekat, tapi Asher menepis tangan mereka.

“Jangan sentuh Opa!” bentaknya. “Jangan!”

Beberapa menit kemudian, dokter Paul akhirnya keluar dari ruang sterilisasi.

Wajahnya basah oleh keringat, langkahnya pelan. Dia menatap Keluarga Levin dengan tatapan berat.

“Dokter!” Erlan segera menghampirinya. “Tolong jelaskan, kenapa hal ini bisa terjadi? Bukankah tadi semuanya sudah stabil?”

Dokter Paul menarik napas panjang. “Kami sudah berhasil memasang dua ring. Tapi pembuluh ketiga, yang paling kecil dan letaknya paling dalam dan pecah tiba-tiba. Kami sudah lakukan CPR selama dua puluh menit, tapi jantung pasien tak merespons lagi.”

Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha menangis histeris. “Berarti, semua sudah terlambat?”

Dokter Paul menunduk dalam-dalam. “Saya minta maaf, Nyonya. Kami benar-benar sudah berusaha sekuat tenaga.”

Hening terjadi lagi.

Namun tiba-tiba Asher berdiri pelan dari sisi meja.

Wajahnya merah, matanya basah, tapi sorotnya tajam. “Berusaha sekuat tenaga?” Suaranya pelan tapi tajam seperti pisau. “Itu saja yang bisa Anda katakan, dokter?”

Dokter Paul menatapnya tenang. “Tuan Asher, saya mengerti rasa kehilangan Anda."

“Tidak, Anda tidak akan mengerti!” Asher mendekat, jarak mereka kini hanya beberapa langkah. “Anda telah berjanji! Anda bilang Opa akan selamat! Anda sudah berjanji di depan kami semua tadi!”

Dokter Paul tetap menatapnya tanpa gentar. “Saya bilang, saya akan berusaha. Tapi tidak ada dokter di dunia yang bisa menjamin hidup atau mati.”

“Asal Anda tahu, Opa saya bukan pasien sembarangan!” Asher membentak. “Beliau Kepala Keluarga Levin! Anda tahu artinya itu? Anda seharusnya memanggil tim terbaik! Kenapa Anda biarkan Opa mati begitu saja?”

“Asher, cukup!” tegur Tuan Erlan keras. Tapi Asher menepis tangan ayahnya.

“Tidak, Daddy! Aku tidak akan diam! Ini sebuah kelalaian! Aku lihat sendiri tadi, lampu ruang operasi sempat padam lima detik sebelum perawat keluar! Itu artinya apa? Kenapa bisa mati lampu di ruang operasi jantung?”

Dokter Paul terdiam sesaat, lalu menjawab tenang, “Kami memang mengalami gangguan daya sesaat, tapi generator otomatis langsung menyala kembali dalamwaktu dua detik. Tidak memengaruhi prosedur medis.”

“Dua detik bisa membunuh seseorang, dokter!” seru Asher, matanya liar. “Kalian telah membunuh Opa aku!”

Nyonya Mitha menangis lebih keras. “Asher, jangan bicara begitu!”

Tapi Asher sudah terbakar emosi.

Dia menunjuk dada dokter itu. “Aku akan menuntut Anda, dokter Paul! Aku akan pastikan seluruh dunia tahu bahwa dokter jantung paling terkenal di Jakarta gagal menyelamatkan satu nyawa Keluarga Levin!”

Dokter Paul tidak membalas. Dia hanya bisa menunduk sedikit. “Kalau itu bisa meringankan duka Anda, lakukanlah, Tuan Asher. Tapi saya tidak pernah bermain-main dengan nyawa manusia.”

“Asher!” Tuan Erlan menarik putranya menjauh. “Kendalikan dirimu! Ini bukan waktunya berdebat!”

Asher menepis kasar. “Waktu apa yang tepat, Dad? Kita baru saja kehilangan orang paling penting di keluarga ini karena dokter yang ceroboh!”

Oma Rini berteriak, “Cukup, Asher! Jangan menambah dosa di atas duka!”

Asher menoleh, suaranya melemah. “Oma …”

Air matanya jatuh lagi. “Aku cuma … aku cuma nggak siap kehilangan Opa.”

Oma Rini memeluk cucu buyutnya erat. “Tidak ada seorang pun yang siap, Asher. Tapi kemarahan tidak akan membangunkan Opa kembali.”

Asher jatuh berlutut, menangis di pangkuan nenek buyutnya seperti anak kecil.

Suaranya serak, patah-patah. “Opa selalu bilang aku harus jadi pemimpin. Tapi gimana caranya aku memimpin, kalau aku bahkan nggak bisa menyelamatkan Opa.”

Beberapa jam kemudian, tubuh Opa Robi dibawa ke ruang perawatan jenazah.

Keluarga mengiringinya dengan langkah berat.

Nyonya Mitha menggenggam tangan Tuan Erlan erat, sementara Ayin memeluk Asher dari belakang, berusaha menenangkan kakaknya.

Langkah mereka juga diikuti oleh anggota keluarga lainnya.

“Opa sudah tenang sekarang, Kak,” bisik Ayin.

Asher hanya menatap lurus ke depan. “Tenang di mana? Di kotak dingin itu?”

“Jangan ngomong begitu.” Ayin memohon.

Asher menatap ke arah dokter Paul yang berdiri di ujung lorong, mengamatinya dari kejauhan.

Wajah dokter itu tampak sendu, namun tetap tenang. Dia menundukkan kepala sebagai bentuk penghormatan terakhir.

Namun Asher menatapnya dengan kebencian yang belum padam.

“Lihat wajahnya,” gumamnya pelan. “Begitu tenang, seolah tak terjadi apa-apa.”

Tuan Erlan menepuk bahu putranya. “Asher, lepaskan dulu emosimu. Kita urus pemakaman. Setelah itu baru kita bicara dengan kepala dingin.”

Asher mendengus pelan. “Tidak, Daddy. Aku akan bicara sekarang. Aku mau melihat laporan lengkapnya malam ini. Setiap detik dari operasi itu. Dan kalau aku temukan satu kejanggalan saja!”

Asher menatap lurus ke arah dokter Paul.

“Aku akan pastikan izin prakteknya dicabut!”

Dokter Paul menatapnya lama, lalu menjawab lembut, “Saya siap menjawab semua pertanyaan Anda, Tuan Asher. Tapi tidak malam ini. Malam ini, berdukalahlah dulu. Itu mungkin yang akan diinginkan Almarhum Tuan Robi.”

Asher terdiam.

Untuk pertama kalinya, matanya tidak lagi menyala karena marah tapi karena kosong, sepi, dan hancur.

Pagi menjelang.

Langit Jakarta perlahan berwarna abu-abu muda. Rumah sakit mulai ramai, tapi Keluarga Levin masih di lorong yang sama, masih dengan pakaian semalam.

Nyonya Mitha memandangi peti pendingin tempat tubuh Opa Robi disimpan, lalu berbisik pada suaminya, “Opa pergi terlalu cepat, Lan.”

Tuan Erlan mengangguk pelan. “Tapi Opa pergi dengan tenang. Tanpa menanggung rasa sakit lagi.”

Nyonya Mitha menangis lagi, menutup wajah dengan tangan.

Di seberang ruangan, Asher berdiri di depan jendela besar, memandangi hujan yang masih menetes pelan.

Asher berbisik lirih, suaranya hampir tak terdengar, “Aku janji, Opa. Aku nggak akan biarkan nama Keluarga Besar Levin jatuh. Aku akan cari tahu apa yang sebenarnya terjadi malam ini, meski aku harus melawan dunia.”

Dan di luar sana, langit pagi perlahan berubah cerah, tapi bagi keluarga Levin, terutama Asher hari itu akan selamanya menjadi pagi paling gelap dalam hidup mereka.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel