3. Opa Robi Kena Serangan Jantung
Malam itu sangat sunyi.
Jarum jam menunjuk pukul satu dini hari ketika hujan gerimis mulai turun di luar jendela besar Rumah Keluarga Levin. Angin malam menggetarkan tirai tipis di kamar Opa Buyut Robi.
Di dalam kamar, lampu tidur menyala redup. Opa Robi berbaring dengan tubuh yang tampak tenang, tapi dadanya naik turun tidak teratur. Napasnya mulai tersengal-sengal. Dia berusaha bangun, tapi tubuhnya terlalu lemah.
Tangannya bergetar, mencari tongkat di sisi tempat tidur. “Rini,” panggilnya lirih.
Tak ada jawaban. Oma Rini ternyata tertidur di kamar sebelah.
Tubuh Opa Robi goyah. Dia mencoba berdiri, namun seketika jantungnya terasa seperti diremas. Rasa nyeri menjalar ke dada kiri, menembus hingga ke bahu dan rahang.
Dia terhuyung dan
Brak!
Tubuhnya jatuh ke lantai marmer. Suara benturan keras membangunkan seluruh rumah.
Dari kamar sebelah, Oma Rini berteriak, “Robi? Darling!”
Dia berlari dengan langkah terburu-buru, membuka pintu kamar dan menjerit melihat suaminya tergeletak di lantai.
“Ya Tuhan! Asher! Erlan! Cepat ke sini!”
Langkah kaki berlarian dari berbagai arah.
Daddy Erlan dan Mommy Mitha muncul pertama kali, disusul Asher dengan piyama abu-abu, wajahnya masih setengah ngantuk tapi berubah panik seketika melihat pemandangan itu.
“Opa!” Asher segera berlutut di samping tubuh tua itu. “Opa! Dengar aku, ini Asher!”
Opa Robi berusaha bicara, tapi yang keluar hanya suara napas berat.
“Dadaku … sangat sakit.”
Nyonya Mitha menjerit, “Erlan! Telepon ambulans! Cepat!”
Tuan Erlan sudah lebih dulu menekan nomor darurat.
“Satu pasien serangan jantung! Rumah Keluarga Levin, Menteng Timur!” Suaranya terburu-buru.
Sementara itu, Asher mulai menepuk-nepuk pelan pipi Opa Robi. “Opa, tolong bertahan ya. Aku di sini. Jangan tidur!”
Oma Rini menangis di sisi tempat tidur. “Kenapa tadi kamu nggak bilang kalau lagi sakit, Darling? Kenapa diam aja?”
“Karena Opa nggak mau bikin kita khawatir,” jawab Tuan Erlan lirih sambil membantu mengangkat tubuh Opa Robi ke atas kasur.
Beberapa menit kemudian, suara sirine ambulans meraung di depan gerbang. Petugas medis segera masuk membawa tandu dan peralatan darurat.
“Pasien usia berapa?” tanya salah satu paramedis cepat.
“Tujuh puluh delapan tahun,” jawab Erlan cepat. “Riwayat jantung lemah.”
Paramedis memeriksa tekanan darah dan detak jantung. “Denyut jantungnya lemah, tekanan darah juga turun cepat. Kita harus bawa ke rumah sakit sekarang!”
Asher menggenggam tangan Opa Robi saat mereka membaringkannya di tandu. “Opa, aku ikut ya. Aku janji Opa bakal selamat.”
Opa Robi membuka matanya samar, menatap cucu buyutnya itu dan tersenyum tipis.
“Asher, kuatlah jika terjadi sesuatu kepada Opa.”
Lalu matanya terpejam lagi.
“Opa, tolong jangan katakan apapun. Opa akan sehat kembali! Aku berjanji Opa pasti baik-baik saja!” ucap Erlan penuh tekad.
Hujan turun semakin deras ketika ambulans melaju menembus malam menuju Rumah Sakit Heart Center, Jakarta.
Suara monitor jantung terus berbunyi, “bip … bip… bip …” dengan ritme yang tidak stabil.
Di ruang tunggu IGD, Keluarga Besar Levin berkumpul dalam kecemasan.
Oma Rini duduk di kursi dengan wajah pucat, sementara Nyonya Mitha memeluknya erat.
Asher berjalan mondar-mandir, gelisah.
“Kenapa lama sekali penanganannya, Daddy?” Suaranya serak karena menahan emosi. “Kenapa tim dokter belum keluar juga dari rumah operasi dan memberi informasi tentang kesehatan Opa?”
Tuan Erlan hanya menatap jam di pergelangan tangannya, tapi matanya kosong. “Kita harus sabar, Asher.”
“Bagaimana bisa sabar? Ini tentang Opa!” Asher membentak ayahnya tanpa sadar, lalu segera menyesal. “Maaf, Daddy. Aku cuma takut.”
Nyonya Mitha menatap putranya lembut. “Kita semua juga takut, Asher. Tapi kita harus percaya pada tim dokter.”
Tak lama kemudian, seorang pria berjas putih keluar dari ruang darurat.
Tubuhnya tegap, berusia matang, wajahnya tenang tapi berwibawa. Namanya dokter Paul Subroto. Seorang dokter bedah jantung terkenal, lulusan luar negeri, yang sudah menangani banyak kasus besar.
“Selamat malam,” sapanya dengan nada profesional namun hangat. “Saya dokter Paul, dokter jantung yang menangani Tuan Robi Levin.”
Semua langsung berdiri. “Bagaimana kondisi ayah saya?” tanya Tuan Fred tergesa-gesa yang dari tadi memilih berdiam diri di ruang tunggu.
Dokter Paul menatap mereka satu per satu sebelum menjawab. “Serangan jantungnya cukup berat. Kami sudah stabilkan tekanan darahnya, tapi ada penyumbatan serius di pembuluh koroner. Kami harus segera melakukan operasi pemasangan ring.”
Oma Rini menutup mulutnya, terisak. “Operasi? Malam ini juga?”
“Ya,” jawab dokter Paul tegas. “Setiap detik sangat berarti. Jika terlambat, jantung pasien bisa berhenti.”
Asher menatap dokter itu lekat-lekat. “Anda yakin bisa menyelamatkannya?”
Dokter Paul tidak tersinggung, hanya menatap balik dengan tenang. “Saya sudah menangani ratusan kasus serupa, Tuan Asher. Tapi saya tidak akan berbohong, operasi ini sangat berisiko tinggi, mengingat usia dan kondisi jantung Beliau.”
Nyonya Mitha memegang tangan Asher. “Kita harus izinkan operasi itu. Opa harus diselamatkan.”
Nyonya Anisa, juga ikut membujuk suaminya, Tuan Fred untuk menyetujui tindakan operasi tersebut.
“Saya setuju dengan operasinya.” Tuan Erlan ikut angkat bicara.
Asher mengangguk pelan, meski wajahnya masih tegang. “Baik, dokter. Lakukan yang terbaik. Tapi saya ingin laporan lengkap. Tidak boleh ada kesalahan sedikitpun.”
Dokter Paul mengangguk mantap. “Kami akan lakukan yang terbaik. Mohon doanya.”
Beberapa menit kemudian, Opa Robi dibawa ke ruang operasi.
Keluarga menunggu di lorong panjang yang sepi, hanya diterangi cahaya lampu putih kebiruan.
Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Ayin datang menyusul dengan pakaian seadanya, wajahnya masih bengkak karena menangis. “Mommy, gimana keadaan Opa?”
Nyonya Mitha segera memeluk putrinya. “Opa sedang dioperasi, Sayang. Dokter bilang harus pasang ring.”
Ayin menatap kaca besar menuju ruang operasi. Di balik sana, bayangan dokter dan perawat tampak bergerak cepat, mengenakan masker dan sarung tangan.
“Kenapa harus Opa?” gumamnya lirih. “Dia kan baru saja bahagia tadi malam.”
Asher berdiri di samping adik perempuannya, menatap pemandangan itu. “Kadang Tuhan punya rencana lain.”
Tapi suaranya bergetar mengatakan itu.
Waktu berjalan terlalu lambat.
Oma Rini berdoa pelan, bibirnya bergetar.
Tuan Fred dan Tuan Erlan duduk terpaku, menatap lantai, sesekali mengusap wajahnya.
Sementara Asher berdiri tanpa bergerak di depan kaca, matanya tak lepas dari pintu ruang operasi.
Nyonya Mitha menghampiri putranya. “Asher, duduk dulu. Kamu belum makan apapun sejak semalam.”
“Aku tidak lapar, Mommy,” jawab Asher pendek. “Aku harus di sini. Aku ingin jadi orang pertama yang tahu kalau Opa sudah sadar dan sehat kembali.”
Nyonya Mitha menatap wajah keras putranya. Dia tahu, di balik keangkuhan itu, Asher menyimpan hati yang rapuh.
“Kalau Opa lihat kamu sekarang, dia pasti bangga,” bisiknya.
Asher menoleh, matanya memerah. “Opa selalu bilang aku harus kuat. Tapi sekarang aku merasa lemah, Mom.”
Nyonya Mitha memegang pipi putranya lembut. “Kuat itu bukan berarti tidak menangis, Asher. Kuat itu jika tetap berdiri walaupun hati retak.”
Tak berapa lama kemudian.
Pintu ruang operasi tiba-tiba terbuka sedikit.
Seorang perawat keluar, wajahnya tertutup masker. “Operasi sedang berjalan. Mohon tetap tenang.”
“Berapa lama lagi?” tanya Erlan cepat.
“Masih proses pemasangan ring kedua, Tuan. Mohon doa.”
Perawat menutup pintu kembali.
Ayin menatap Nyonya Mitha dengan cemas. “Berarti Opa masih bertahan, kan?”
“Iya, Sayang. Masih.”
Tapi suaranya terdengar gemetar.
Asher berjalan ke pojok lorong, menatap langit-langit rumah sakit. “Kalau saja aku bisa gantikan posisi Opa,” gumamnya. “Aku rela.”
Elrod yang baru datang dari luar menepuk bahu Asher. “Kita semua sayang Opa, Bro. Tapi sekarang kita harus percaya sama dokter.”
Asher hanya mengangguk. “Aku tahu. Tapi aku tidak percaya pada keajaiban, tapi pada hasil akhir.”
Elrod tersenyum tipis. “Mungkin kali ini, kamu perlu percaya pada keajaiban juga.”
Setelah dua jam, pintu ruang operasi kembali terbuka.
dokter Paul keluar, melepas sarung tangan dan masker, wajahnya sedikit lelah.
Semua langsung berdiri. “Bagaimana, Dokter?” tanya Erlan cemas.
Dokter Paul menatap mereka dengan ekspresi serius. “Kami sudah berhasil memasang dua ring. Tekanan darah beliau sempat turun drastis, tapi sekarang mulai stabil.”
“Puji syukur,” seru Nyonya Anisa dan Nyonya Mitha bersamaan, merasa lega.
Namun dokter Paul belum selesai berbicara. “Tapi … ada hal lain. Kami masih khawatir dengan satu pembuluh kecil yang tersumbat. Kami sedang pantau kondisinya. Pasien masih dalam keadaan kritis.”
Oma Rini langsung menangis. “Berarti masih belum aman, Dok?”
Dokter Paul menggeleng pelan. “Belum sepenuhnya, Nyonya. Tapi kami akan lakukan segalanya.”
Asher menatap dokter itu lekat-lekat. “Anda harus berjanji, dokter. Jika Anda akan selamatkan Opa buyut saya!”
Dokter Paul menatap matanya dengan ketulusan yang tenang. “Saya akan berusaha sekuat tenaga. Tapi hidup dan mati bukan di tangan saya, Tuan Asher. Tapi di tangan Tuhan.”
Asher terdiam. Namun dia berkata lagi.
“Saya tidak mau tahu, dokter! Anda harus bisa menyelamatkan Opa Robi, bagaimanapun caranya!” serunya tajam.
Malam semakin larut.
Lampu di ruang operasi kini sudah redup. dokter Paul kembali masuk, dibantu beberapa dokter lain dan juga perawat.
Keluarga Levin kembali menunggu dalam hening.
Suara detak jam dinding kembali terdengar, satu-satunya suara yang menemani kecemasan mereka.
Waktu terus berjalan, dan di antara harapan dan ketakutan itu, semua orang hanya bisa berdoa dalam diam.
“Tuhan, tolong selamatkan Opa Robi.”
