Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

5. Pemakaman Opa Robi

Langit pagi itu diselimuti mendung berat. Awan kelabu menutupi matahari, membuat seluruh kawasan San Diego Hills Memorial Park tampak muram dan dingin. Udara terasa lembab, aroma bunga segar bercampur tanah basah menyelimuti setiap langkah para pelayat.

Puluhan mobil hitam berjajar rapi di area parkir. Di ujung jalan setapak yang mengarah ke taman pemakaman Keluarga Levin, bendera putih kecil dikibarkan pelan oleh petugas upacara.

Di tengah kerumunan, berdiri Asher Levin dalam setelan jas hitam, wajahnya pucat dan kaku. Tangannya menggenggam sebatang mawar putih, bunga kesukaan almarhum Opa Robi. Di sampingnya, Ayin menggenggam lengan Nyonya Mitha yang tak berhenti menangis sejak semalam.

Tuan Fred, berusaha menguatkan Nyonya Anisa, istrinya. Elrod memegang kuat kedua tangan orang tuanya mencoba menguatkan mereka.

Biela dan Lui juga terlihat saling berpegangan tangan erat.

Sementara Oma Rini berdiri di depan peti jenazah, tubuhnya gemetar, matanya tak pernah lepas dari wajah suaminya yang kini terbujur tenang di balik kaca peti. “Robi, Darling.” Suaranya bergetar. “Kamu sudah berjanji akan menemaniku sampai tua. Lihatlah, sekarang aku sendirian di dunia ini.”

Nyonya Anisa memeluk bahunya erat. “Sudahlah, Oma. Kamu harus ikhlas. Opa pergi dengan damai.”

“Damai?” Suara Oma Rini meninggi. “Bagaimana aku bisa damai kalau Opa mati di tangan dokter yang ceroboh?”

Beberapa tamu menunduk, suasana makin berat.

Asher menatap ke tanah. Rahangnya mengeras. Setiap kali nama dokter itu disebut, darahnya mendidih.

Petugas mulai menurunkan peti perlahan ke liang lahat.

Bunga-bunga putih dilemparkan satu per satu.

Tangisan memenuhi udara.

Asher maju terakhir.

Dia berdiri di tepi liang, memandang ke bawah lama sekali. “Opa,” bisiknya serak. Aku janji akan cari keadilan buatmu. Aku nggak akan diam sampai orang yang membuatmu pergi selamanya membayar semua ini!”

Asher melemparkan mawar putih itu secara perlahan ke atas peti.

Setetes air mata jatuh bersamaan dengan kelopak bunga.

Nyonya Mitha menatap putranya dari jauh, wajah Asher tampak dingin, tapi di balik itu ada amarah yang bergejolak, menunggu waktu untuk meledak.

Beberapa hari kemudian, ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat dipenuhi wartawan.

Kamera, mikrofon, dan blitz berkelap-kelip setiap kali nama Keluarga Levin disebut.

“Kasus dugaan malapraktik pada pasien senior Robi Levin.” Suara pembawa berita dari TV nasional bergema di ruangan.

“Pihak keluarga menggugat Rumah Sakit dan dokter bedah jantung terkenal, dokter Paul Subroto, atas dugaan kelalaian medis yang menyebabkan kematian.”

Asher duduk di barisan depan, berdampingan dengan Tuan Erlan dan pengacara keluarga, Tuan Wirawan.

Dia memakai jas abu tua, dasinya hitam, wajahnya tanpa ekspresi.

Sementara di sisi lain, duduk dokter Paul bersama istrinya Nyonya Lusi, yang tampak pucat dan menunduk, serta pengacaranya sendiri.

Wartawan terus memotret.

Beberapa berbisik pelan.

“Itu salah satu putra Keluarga Levin yang katanya perfeksionis itu ya?”

“Iya, namanya Asher Levin. Katanya dia yang paling ngotot menuntut dokter itu.”

Ketua majelis hakim masuk. Semua berdiri.

Sidang dimulai.

“Pihak penggugat, silakan menyampaikan pokok gugatan,” ucap hakim.

Pengacara Wirawan berdiri, membuka berkas.

“Yang Mulia, Keluarga Besar Levin menggugat karena adanya kelalaian medis dan gangguan teknis dalam operasi jantung yang menyebabkan kematian Tuan Robi Levin. Lampu ruang operasi padam selama lima detik, dan menurut keluarga, waktu itu cukup untuk mengubah hasil operasi.”

Asher menatap lurus ke arah dokter Paul, matanya tajam.

“Selain itu,” lanjut Wirawan, “Dokter yang bersangkutan juga tidak memberikan laporan pasca operasi secara lengkap dan menolak bertanggung jawab atas efek darurat yang terjadi.”

Hakim menoleh ke dokter Paul. “Bagaimana tanggapan pihak tergugat?”

Dokter Paul berdiri perlahan. Suaranya tenang, tapi ada nada lelah di sana.

“Yang Mulia, saya menyampaikan duka mendalam kepada Keluarga Levin. Namun saya tegaskan, tidak ada kelalaian dalam prosedur operasi. Lampu memang padam dua detik, tapi sistem cadangan langsung aktif, dan tidak ada pengaruh pada alat utama. Semua tindakan sudah sesuai protokol medis internasional.”

Erlan mengetuk meja. “Lalu kenapa kakek buyut saya mati, dok?”

Dokter Paul menatapnya dalam-dalam. “Karena Tuhan memutuskan demikian, bukan karena saya gagal.”

Suasana ruang sidang langsung riuh. Beberapa wartawan membisikkan komentar, kamera kembali berbunyi.

Asher bangkit berdiri, menatap tajam. “Jadi menurut Anda ini takdir, dok? Padahal kami percaya penuh pada Anda!”

Hakim mengetuk palu. “Tuan Asher! Harap tenang. Sidang ini bukan tempat emosi!”

Asher duduk lagi, namun tatapannya tak lepas dari dokter Paul.

Sementara di barisan belakang, Nyonya Lusi menunduk, air mata jatuh tanpa suara.

Setelah sidang usai, wartawan menyerbu keluar.

“Dokter Paul! Apa komentar Anda atas tuduhan keluarga Levin?”

“Benarkah Anda lalai?”

“Apakah benar Anda sempat keluar dari ruang operasi?”

Dokter Paul menutup wajah dengan tangan, menahan diri untuk tak menjawab.

Nyonya Lusi menggenggam lengannya erat. “Sudah, jangan bicara apa-apa dulu. Media hanya cari sensasi.”

Namun kamera terus mengikuti mereka sampai ke parkiran.

Satu headline langsung muncul di layar televisi sore itu.

“Dokter Bedah Terkenal Diduga Lalai Operasi Pasien Kaya.”

Sementara itu, di rumah besar keluarga Levin, suasana tak kalah tegang.

Ruang tamu dipenuhi koran dan salinan berita online.

Oma Rini membaca dengan kacamata gemetar, “Lihat ini, Lan. Semua media tulis dokter itu salah! Dunia tahu dugaan Asher benar!”

Tuan Erlan mengangguk pelan, tapi raut wajahnya tidak puas. “Kita belum sepenuhnya menang, Oma. Ini baru sidang awal.”

Asher berdiri di depan jendela besar, menatap langit sore.

Dari jauh, langit Jakarta mulai memerah seolah ikut terbakar bersama amarahnya.

“Dokter itu harus bayar semuanya, Daddy,” katanya pelan.

“Dokter Paul nggak cuma bunuh Opa, dia juga telah hancurkan keluarga ini!”

“Tenang, Asher,” jawab Tuan Erlan. “Kita akan menempuh jalur hukum. Semua sesuai aturan.”

Asher menoleh cepat, matanya tajam. “Aturan nggak akan buat Opa balik, Dad.”

Nyonya Mitha menatap putranya sedih. “Asher, jangan simpan benci itu terlalu lama. Opa pasti nggak akan suka melihat kamu begini.”

Tapi Asher hanya menatap kosong. “Kalau Opa nggak suka, biarin dia marah di sana. Aku cuma menuntut keadilan baginya!”

Malamnya, di rumah milik Keluarga dokter Paul, suasana tak kalah berat.

Televisi di ruang tamu masih menyiarkan berita tentang kasus Levin.

Wajah dokter Paul terpampang di layar, sementara suara penyiar berkata,

“Kasus ini menarik perhatian publik karena melibatkan keluarga konglomerat terkenal. Banyak pihak menilai reputasi dokter Paul akan terancam.”

Nyonya Lusi menatap layar itu dengan mata sembab. “Wartawan itu menulis seolah-olah kamu seorang pembunuh, Paul.”

Dokter Paul menghela napas. “Aku nggak bisa menghentikan mereka. Yang bisa kulakukan hanya jujur pada diriku sendiri. Aku tahu aku tidak bersalah.”

“Ya, tapi publik nggak tahu! Semua orang sekarang memandang rendah kamu. Rumah sakit bisa pecat kamu kapan saja!” tutur sang istri.

Dokter Paul tersenyum getir. “Aku lebih takut kehilangan kepercayaan pasien daripada pekerjaanku.”

Sarah, putri mereka, keluar dari kamarnya. Rambutnya terurai, wajahnya pucat. “Daddy, aku baca berita di internet. Teman-temanku di kampus juga kirim pesan. Mereka bilang Daddy pembunuh.”

Dokter Paul bangkit, menghampiri putrinya. Dia menepuk bahu Sarah lembut. “Kamu tahu siapa Daddy sebenarnya, kan?”

Sarah mengangguk, air matanya jatuh. “Aku tahu, Daddy orang baik. Tapi kenapa mereka semua nggak lihat itu?”

Dokter Paul tersenyum tipis. “Kadang dunia lebih suka menelan kebohongan daripada percaya kepada kebenaran yang pahit.”

Di sisi lain kota, Asher duduk sendirian di ruang kerja Opa Robi.

Ruangan itu masih sama, ada foto-foto keluarga, sertifikat penghargaan, dan jam tua yang berdetak pelan.

Di atas meja kayu besar, terdapat foto dirinya saat kecil sedang duduk di pangkuan Opa Robi.

Erlan menatap foto itu lama, lalu berkata pelan, “Opa, aku janji. Orang yang bikin ini semisal terjadi, bakal kehilangan segalanya!”

Suara hujan kembali turun di luar jendela.

Setiap tetesnya seperti gema dendam yang makin dalam di hati Asher Levin, seorang cucu yang tak tahu bahwa dendamnya kelak akan menjerat dirinya sendiri.

Beberapa minggu kemudian, berita semakin liar.

Setiap stasiun TV menayangkan ulang sidang keluarga Levin.

Beberapa jurnalis berdiri di depan rumah sakit, berkata lantang,

“Pihak keluarga menuntut ganti rugi sebesar lima puluh miliar rupiah serta pencabutan izin praktik dokter Paul.”

Dokter Paul nyaris tak keluar rumah lagi. Telepon dari pasien lama berhenti.

Panggilan kerja dibatalkan. Rekan-rekan sejawat menjauh.

Nyonya Lusi jatuh sakit karena stres.

Sarah yang kini menjadi satu-satunya penguat keluarga itu berusaha tegar, meski hatinya hancur.

Setiap malam, dia berdoa agar Tuhan membuka kebenaran, supaya nama ayahnya bersih kembali.

Tapi di tempat lain, Asher justru duduk di ruang rapat keluarga, menerima laporan pengacara.

“Semua bukti sementara mendukung pihak kita, Tuan Asher,” ucap Pengacara Wirawan. “Media ada di pihak keluarga Levin. Rumah sakit juga mulai goyah.”

Asher tersenyum tipis, tapi matanya gelap. “Bagus. Pastikan mereka semua tunduk. Aku nggak mau cuma menang, aku mau mereka hancur!”

Tuan Erlan menatap putranya, cemas. “Asher, hati-hati dengan apa yang kamu tanam. Dendam nggak pernah berhenti di satu orang saja.”

Asher menatap ayahnya tajam. “Kalau bukan aku yang menghukum mereka, siapa lagi?”

Hening pun menyelimuti.

Di luar, kilat menyambar langit Jakarta, seolah-olah alam ikut menyaksikan permulaan balas dendam yang kelak menelan semua orang di dalamnya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel