
Ringkasan
Bacaan dewasa. Sarah Noela, tak pernah menyangka akan terjebak pernikahan paksa dengan seorang pria asing yang tak pernah dirinya kenal sebelumnya. Dialah Asher Levin, pewaris tahta kerajaan bisnis Levin Group yang mendadak marah dan frustasi atas kematian kakek buyutnya. Berdasarkan penyelidikan penyebab kematian sang kakek, karena kelalaian seorang tenaga medis yang sangat kompeten di dunia kedokteran, yaitu dokter Paul, yang merupakan ayah Sarah. Tanpa ampun, Asher menjebloskan dokter Paul yang bertanggung jawab atas kematian pemimpin tertinggi Keluarga Levin tersebut. Bukan hanya itu saja, untuk melampiaskan dendamnya, Asher pun memaksa Sarah, putri dari dokter Paul untuk menjadi istrinya dan menjadi alat dalam rencana gelap balas dendamnya. Selama menjadi istri Asher, Sarah sering kali mendapatkan perlakuan tidak menyenangkan dari suaminya. Akankah Sarah bertahan dalam pernikahan yang bagaikan di neraka itu? Bagaimana dengan penyelidikan lebih lanjut atas kematian Opa Robi? Mungkinkah ada kekeliruan besar yang terjadi dibalik semua peristiwa ini? Mari silahkan dibaca sampai tamat. Plagiarisme melanggar undang-undang hak cipta nomor 28 tahun 2014
1. Asher, Si Keras Kepala
Mentari pagi menembus jendela kaca besar di sisi timur kediaman Keluarga Levin, menimpa pilar-pilar putih bergaya kolonial yang menjulang gagah di kawasan Menteng, Jakarta Pusat.
Rumah itu begitu mewah dan berhalaman luas dengan air mancur di tengah taman, dikelilingi oleh mawar putih dan lavender yang tertata rapi. Di atas gerbang besi, nama The Levin Residence, terukir dengan huruf elegan berwarna emas.
Namun di balik kemegahan itu, rumah Keluarga Levin bukan hanya tempat tinggal. Tapi sebuah simbol kekuasaan dan tradisi, di mana setiap langkah, ucapan, bahkan napas, harus sesuai dengan aturan keluarga.
Di ruang makan utama, meja panjang dari kayu jati dipenuhi aroma kopi, roti panggang, dan omelet keju.
Di ujung meja duduk Tuan Erlan Levin, pria berusia matang, berwajah tegas dan berwibawa.
Di sampingnya, Nyonya Mitha, perempuan berparas lembut dengan tatapan sabar yang selalu berusaha menenangkan badai dalam rumah tangganya.
Dan di seberang, dengan jas abu-abu dan ekspresi serius, duduk Asher Levin, putra sulung sekaligus cucu buyut tertua keluarga Levin, pewaris utama yang diharapkan meneruskan nama besar keluarga itu.
Ketegangan sudah terasa bahkan sebelum sarapan dimulai.
“Jadi, kamu menolak menghadiri rapat direksi hari ini?” suara Tuan Erlan datar namun tajam seperti pisau.
Dia meletakkan koran di meja, menatap anaknya tanpa berkedip.
Asher meneguk kopinya pelan sebelum menjawab. “Aku tidak menolak, Daddy. Aku hanya ingin memastikan semua laporan keuangan dari cabang Surabaya sudah diperiksa dulu. Tidak ada gunanya rapat kalau data dasarnya belum valid.”
Tuan Erlan mendengus pelan. “Kamu terlalu perfeksionis, Asher. Dunia bisnis tidak bisa menunggu sampai semua hal sempurna. Kadang kamu harus bergerak cepat.”
“Asher hanya ingin berhati-hati, Darling,” sela Nyonya Mitha dengan suara lembut, mencoba mencairkan suasana. “Dia tidak mau keputusan diambil berdasarkan angka yang salah.”
“Tapi dunia tidak menunggu kehati-hatian, Mitha,” potong Tuan Erlan. “Kamu tidak tahu berapa banyak proyek yang bisa lepas hanya karena anak ini terlalu lama menganalisis.”
Asher mendongak, menatap ayahnya dengan rahang mengeras.
“Daddy bicara seolah kehati-hatian itu sebuah kelemahan. Padahal itu bentuk tanggung jawab.”
Suara kursi bergeser, nada mereka meninggi.
“Dengarkan aku baik-baik, Asher!” Suara Tuan Erlan berubah dalam, penuh tekanan. “Kanu akan mewarisi perusahaan ini suatu hari nanti. Tapi kalau kamu terus bersikap idealis seperti ini, perusahaan kita akan hancur sebelum kamu sempat duduk di kursi CEO!”
Asher memutar sendok di cangkirnya, menahan diri agar tak meledak. “Perusahaan ini akan hancur justru kalau kita tergesa-gesa dan buta arah, Daddy. Aku tidak akan menandatangani proyek ratusan miliar hanya karena ingin terlihat cepat.”
“Ini bukan soal terlihat cepat!” bentak Tuan Erlan, tangan kanannya menghantam meja hingga cangkir bergetar.
“Ini soal insting! Bisnisman sejati tahu kapan harus menyerang. Kamu bukan akademisi yang hanya bisa menunggu sampai data terlihat sempurna!”
Hening panjang menyelimuti meja makan. Hanya terdengar detak jam antik di dinding dan helaan napas Nyonya Mitha yang berat.
“Asher,” ujarnya akhirnya, “Daddy hanya khawatir. Kamu tahu, kakekmu dulu juga keras kepala, dan itu membuat hubungan mereka retak. Aku tidak ingin hal yang sama terjadi antara kalian berdua.”
Asher menatap ibunya, lalu kembali ke ayahnya.
Nada suaranya lebih dingin kini, tapi terkontrol.
“Kalau Daddy ingin aku menjadi pewaris Levin Group, biarkan aku memimpin dengan caraku. Aku tidak akan jadi replika siapapun, bahkan kakek!”
Tuan Erlan menatap putranya tajam. “Kamu berbicara seolah sudah jadi pemimpin hebat. Padahal tanggung jawabmu baru sebagian kecil dari apa yang kulakukan!”
Asher tersenyum miring. “Karena aku tahu cara lama Daddy sudah tak relevan lagi. Dunia berubah, strategi juga harus berubah.”
Kalimat itu membuat ruangan semakin dingin. Nyonya Mitha memejamkan mata sebentar, mencoba menahan gejolak di antara dua pria yang paling dia cintai.
Nyonya Mitha kemudian berdiri dan mulai menuangkan teh ke cangkir keduanya.
“Sudah, cukup,” katanya lembut, tapi tegas. “Kalian berdua sama kerasnya. Daddy dengan caranya sendiri, Asher dengan prinsipnya. Tidak ada yang salah, tapi jangan biarkan perbedaan menghancurkan hubungan kalian.”
Asher menunduk. “Aku hanya ingin dihargai, Mommy. Aku sudah bekerja siang malam, memeriksa setiap kontrak, setiap laporan. Tapi setiap kali aku mencoba berpendapat, Daddy selalu bilang aku tidak tahu apa-apa.”
Erlan menatap putranya lama. Ada sesuatu di matanya. Bukan hanya kemarahan, tapi rasa kecewa yang dalam.
“Aku menghargaimu, Asher,” katanya perlahan. “Tapi kamu belum membuktikan apa pun. Dulu aku juga bekerja keras tanpa banyak bicara. Baru setelah dua puluh tahun, aku diakui. Kamu baru memimpin dua tahun dan sudah ingin mengubah segalanya.”
Asher membalas tatapan itu tanpa gentar. “Karena kalau aku tidak ubah sekarang, perusahaan ini akan stagnan. Dunia digital sudah bergerak, tapi perusahaan kita masih berpikir seperti tahun sembilan puluhan.”
Nyonya Mitha menatap keduanya bergantian, napasnya berat. “Kalian ini seperti dua sisi mata uang. Tak bisa dipisahkan, tapi tak bisa disatukan dengan mudah.”
Tiba-tiba suara langkah terdengar dari arah tangga.
Ayin Levin, adik perempuan Asher, muncul sambil membawa buku kuliah dan mengenakan hoodie abu-abu. Rambutnya dikuncir asal, wajahnya masih setengah ngantuk.
“Wah, pagi-pagi sudah debat?” ucapnya sambil tersenyum geli. “Bisa nggak sih sarapan di rumah ini sekali saja tanpa bikin tensi naik?”
“Asher lagi-lagi menolak instruksi,” jawab Tuan Erlan pendek.
Ayin menatap kakaknya dan mengangkat alis. “Lagi? Kak, kapan sih kalian berdua mau akur?”
“Aku tidak masalahkan akur atau tidak dengan Daddy,” jawab Asher datar. “Aku hanya ingin perusahaan berjalan dengan benar.”
“Dan aku hanya ingin anakku belajar percaya pada ayahnya,” potong Tuan Erlan. “Aku bukan musuhmu, Asher. Aku hanya ingin memastikan kamu cukup kuat untuk memimpin.”
Asher menghela napas panjang, lalu berdiri dari kursinya.
“Kalau begitu biarkan aku menunjukkan kesuksesanku sendiri dengan caraku, Daddy.”
Asher lalu mengambil jasnya dari sandaran kursi, lalu berjalan menuju pintu. Tapi sebelum keluar, suaranya terdengar lagi tenang tapi menusuk.
“Aku akan buktikan kalau kehati-hatian bukan kelemahan. Aku akan buat Levin Group jadi lebih besar lagi, tanpa harus mengorbankan integritas!”
Pintu pun tertutup pelan di belakangnya.
Ayin memandang ibunya, lalu ke ayahnya. “Daddy sadar kan, Kak Asher itu cuma mau diakui?”
Tuan Erlan diam, hanya menatap meja dengan tatapan kosong.
“Asher memang keras kepala, tapi mungkin, dia benar.”
Mitha tersenyum tipis, menuangkan teh untuk suaminya. “Itu sifat Keluarga Levin, Darling. Semua ingin jadi pemenang. Tapi yang membedakan adalah siapa yang bisa menang tanpa menghancurkan hati orang lain.”
Tuan Erlan tersenyum getir. “Mitha, kalau bukan karena kamu, mungkin rumah ini sudah lama hancur.”
“Rumah ini berdiri bukan karena dinding dan atapnya, Sayang,” jawab Nyonya Mitha pelan. “Tapi karena cinta. Asal kita masih mau bicara, dan saling mendengarkan, keluarga ini akan tetap utuh.”
Sementara itu, di luar rumah, Asher berdiri di depan mobil hitamnya.
Dia menatap langit Jakarta yang mulai terik. Suara burung samar terdengar dari kejauhan.
Asher menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan amarah yang masih membara di dadanya.
Di dalam pikirannya, suara ayahnya terus terngiang, “Kamu belum membuktikan apa pun!”
Tangannya mengepal di sisi tubuhnya.
Asher menatap bayangan dirinya di kaca mobil, lalu berbisik,
“Baiklah, Daddy. Aku akan buktikan semuanya! Aku akan buktikan kalau aku pantas menyandang nama besar Levin!”
Asher lalu masuk ke dalam mobil dan melaju meninggalkan rumah megah itu. Dari kaca spion, rumah Levin tampak kecil di kejauhan, tapi bayang-bayangnya terasa begitu besar.
Bagi Asher, hari itu bukan sekadar awal minggu untuk mulai bekerja. Tapi awal dari ambisinya untuk membuktikan bahwa dirinya mampu, bukan hanya sebagai pewaris Keluarga Levin, tapi sebagai pria yang menentukan takdirnya sendiri.
Dan Asher belum tahu, jika takdir itulah yang suatu hari nanti akan membawanya pada cinta, penyesalan, dan pengampunan yang akan mengubah segalanya.
