Bab 9 Panggilaan Telepon
"Selamat pagi."
Alex memeluk Hana dari belakang. Dia sudah mandi terlebih dahulu sebelum menghampiri Hana di dapur untuk melihat apa yang tengah gadis itu lakukan di dapurnya.
"Selamat pagi. Apa tidurmu nyenyak?"
Hana berbalik, mengalungkan tangannya pada leher Alex, berjinjit, kemudian mengecup bibir Alex sekilas. Perasaan ini.. rasanya seperti seorang istri yang tengah memasak untuk suaminya.
Alex mengerutkan kening. "Bukankah kamu lebih tau dari siapapun tentang nyenyak atau tidaknya tidurku semalam?" Ujarnya seraya melingkarkan tangan pada pinggang Hana.
Hana terkekeh. Dia merasa lucu dengan ucapan Alex yang lebih terdengar seperti godaan di pagi hari. "Baiklah, aku tau tidurmu sangat nyenyak."
"Tentu saja, kamu yang membuat tidurku semakin nyenyak. Sayangnya... kamu tidak pantas seperti ini, kamu terlalu untuk menjadi wanita penggoda."
Hana meringis, menghela nafas dengan gusar. Meski dia berperilaku seperti ini karena keadaan, tetapi sepertinya dia memang tidak pantas melakukannya.
"Sayang sekali.. padahal aku sudah berusaha semaksimal mungkin."
Hana mengawasi pria ini, lagi dan lagi. Jika dia boleh jujur, Alex sangat tampan saat mengenakan setelan jas lengkap. Sangat cocok dengan badan kekarnya. Juga rambut model ivy league style yang sudah tersisir rapi kebelakang membuat penampilannya kian maskulin.
"Masak apa??" Alex mengalihkan pembicaraan.
"Omurice."
Alex menaikan sebelah alisnya, "Yakin bisa??" Bukannya dia meremehkan Hana, dia hanya tidak cukup yakin Hana bisa memasaknya. Omurice adalah nasi putih yang di goreng dengan saus tomat kemudian di bungkus menggunakan telur omelete. Cukup sulit dan tidak semua orang bisa melakukannya.
"Kamu meremehkanku?"
Alex buru buru menggeleng, "siapa bilang aku meremehkanmu? Walau kamu memasak nasi goreng gosong sekalipun, yang aku salahkan tetap wajannya."
Hana merengut, "kamu meremehkanku."
Hana menyedekapkan tangannya di dada. Berpura pura marah adalah cara terampuh untuk mendapat perhatian dari Alex.
"Kenapa marahmu semakin cantik!! Bagamana ini?? Aku semakin terpesona denganmu!!"
"Pembual! Sudahlah, kamu duduk saja di sana!"
Hana mendorong pelan tubuh Alex ke ruang tamu, "aku gugup kalau di perhatikan orang lain saat memasak. Nanti masakanku bisa rusak."
"Okey okey."
Alex melangkah ke ruang tamu dengan malas. Ingin melihat kebolehan Hana dalam memasak, namun apalah daya saat gadis itu menolaknya dengan keras. Membuatnya hanya bisa menyaksikannya dari jauh. Berpura pura melihat hp, padahal matanya melirik ke arah Hana. Dasar dia. Tidak tau sejak kapan menjadi bucin seperti ini.
Beberapa saat kemudian di meja makan.
"Waow, kamu hebat!!"
Alex mengangkat ibu jarinya. Memuji kehebatan Hana dalam memasak. Tidak menyangka jika gadis itu sungguh bisa melakukannya.
Melihat tampilan Omurice di depan matanya yang tersaji rapi di atas piring, juga salad buah yang di letakan pada mangkuk yang terpisah, membuatnya percaya jika gadis itu berbakat menjadi seorang ibu rumah tangga. Aromanya saja sudah enak, apa lagi rasanya.
Hana mendudukan diri di samping Alex. "Jangan di nilai dari rasanya, karena makanan yang di masak sepenuh hati akan terasa lezat meski nyatanya biasa saja." Dia mencoba merendah.
Alex menyendok omuricenya, kemudian memakannya tanpa ragu, "tidak enak, asin." Dia memeletkan lidahnya.
"Tidak mungkin. Masakanku pasti enak."
Hana tidak percaya dengan penilaian Alex. Tidak mungkin jika masakannya gagal, kalaupun rasanya asin, tentu lidah Alex yang bermasalah, bukan makanannya.
Dia mencicipi masakannya pada akhirnya, dan menatap tajam Alex setelah di rasa masakannya enak dan tidak bermasalah. Sialan.. Alex membohonginya.
Hana mencubit perut Alex, dia marah karena telah di bohongi.
Alex meringis, "iya iya aku salah.. masakan kamu enak. Paaallliiiing enak."
Hana yang sebenarnya hanya berpura pura marah, membuang pandangannya, tidak mau melihat Alex. Meski nyatanya dia tidak mungkin bisa membenci pria ini, tetapi untuk mendapatkan totalitasnya, dia akan melanjutkan aksi marahnya, "aku tidak mau mendengarnya.."
Alex tersenyum simpul, "masakan Nana paling enak. Maafkan aku, ya??"
Hana menggigit bibirnya, "tidak mau, aku masih marah."
"Kalau di cium??"
"Tetap marah."
"Kalau di peluk??"
"Masih marah."
Alex tertawa, "kamu sangat menggemaskan saat marah. Sini aku peluk, aku cium, nanti pasti tidak akan marah lagi." Alex menempatkan Hana dalam pangkuannya, memeluknya mesra.
"Nanti kamu bisa terlambat."
"Apa bisa kamu di bungkus saja, lalu aku bawa kemanapun aku pergi? Aku takut merindukanmu jika tidak bertemu denganmu."
Hana tersenyum manis, semanis gula alami tanpa pemanis buatan. "Kalau bisa juga aku mau."
〰〰〰
Hana mengangkat panggilan telepon dari Indonesia. Lebih tepatnya dari Suster yang bertanggung jawab untuk mengurusi Ibunya selama dia tidak ada.
Membuat rasa rindu kian membuncah manakala dia mendengar suara Ibu. Isak tangis Ibu karena rasa rindu sukses mencuri setetes air matanya. Dia juga rindu, sangat banyak. Namun, lagi lagi dia tidak memiliki kuasa.
"Hana akan pulang, Bu. Hana janji, tapi sebentar lagi. Tunggu Hana bawa uangnya dan Ibu akan sembuh."
Hana menahan agar kesedihannya tidak di ketahui Ibunya.
Susah payah dia menahan agar tidak menangis, tapi dia tidak bisa melakukannya.
Hatinya terlalu sakit saat mengingat perjuangan Ibunya dalam melawan penyakitnya selama beberapa bulan terakhir, penyakit yang kian hari semakin parah.
"Kamu jangan memikirkan Ibu, Nak. Kamu harus mengurus dirimu sendiri, jaga diri baik baik. Kamu juga harus bahagia."
Suara Bu Rianti dari balik panggilan. Meyakinkan agar Hana berhenti untuk memikirkannya. Lagi pula, dia juga mulai berhenti berharap manakala mengetahui biaya operasinya sangat mahal.
Mengetahui sifat keras Hana, tentu ini akan sangat membebankan putri satu satunya yang sangat dia sayangi.
"Tidak, Bu. Bahagia Hana itu cuma Ibu, tidak ada yang lain. Pokoknya, Hana akan berusaha sekuat tenaga untuk kesembuhan Ibu. Ibu tenang saja, doakan Hana agar bisa mendapatkan uang sesegera mungkin."
Tidak ada hal lain yang bisa Hana lakukan selain menjanjikan kesembuhan untuk Ibunya. Ini bukan sekedar janji, tapi ini adalah upayanya sampai dia mengorbankan harga dirinya. Dia hanya berharap semoga hasilnya tidak akan mengecewakan.
Tut tut tut.. sambungan terputus.
Hana membaringkan tubuhnya di atas ranjang, menghela nafas panjang dan menatap langit langit kamar dengan pandangan luas.
Dia akan pulang, tentu saja.. dia juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Ibu. Tidak sabar untuk mengucapkan selamat pagi saat Ibunya membuka mata di pagi hari, dan tidak sabar untuk menjadi orang pertama yang akan Ibunya lihat setelah kesembuhannya.
Hana senang karena perjanjian laknat itu akan segera berakhir. Seharusnya besok sore dia bisa take off dan meninggalkan Negara ini selamanya.
Meskipun ini adalah Negara yang indah, namun negara ini akan mengingatkannya pada luka yang dia torehkan pada dirinya sendiri, dan rasa sakit yang di sebabkan cukup untuk memberikan rasa takut serta trauma mendalam untuk tidak pernah menginjakan kaki di tempat sialan ini lagi.
