BAB 3.1 Perburuan dari Kekaisaran Vagenta
Pertemuan Dengan Warga Kabut
Drain menilai pria tua itu dengan cepat. Tubuhnya bungkuk, napasnya berat… tapi tatapannya tajam seperti mata binatang.
Pria itu berbicara duluan.
Suaranya serak, tapi tegas.
“Kau… bukan orang hutan ini.”
Drain menegakkan tubuhnya, masih memegang pedang patah dengan dua tangan.
“Aku hanya lewat. Tidak bermaksud mengganggu siapa pun.”
Pria itu menggerakkan tongkatnya ke tanah.
“Tidak ada yang ‘hanya lewat’ di Hutan Kabut. Semua yang masuk… sedang melarikan diri dari sesuatu.”
Suara pasukan elite bergema makin dekat.
Mereka menyebar, berusaha meraba-raba arah karena kabut mengurangi jarak pandang mereka.
Drain semakin panik.
“Kumohon, aku tidak punya waktu—”
Pria itu mengangkat tangan.
“Kau membawa sesuatu yang berbahaya.”
Drain terdiam. Mata pria itu bergerak… tepat ke arah pedang patah.
“Triron Blade,” ujar pria itu lirih. “Jadi legenda itu benar…”
Drain mengangkat pedang.
“Kau mengenal pedang ini?”
Pria itu hendak menjawab—
Namun tiba-tiba teriakan memecah kabut.
“TARGET TERLACAK!! SERBU!!”
Drain menoleh cepat. Bayangan hitam pasukan elite mulai menerobos kabut. Mereka menggunakan formasi pemburu, bergerak cepat meski jarak pandang rendah.
Pria tua itu berdesis pelan.
“Kau membawa maut ke sini, anak.”
Drain tidak sempat menjawab.
Pedang itu berbisik cepat:
“Pergi. Sekarang. Masuk lebih dalam.”
Drain berlari.
________________________________________
Pengejaran Dalam Kabut
Hutan Kabut seperti labirin hidup. Pohon-pohon tinggi melengkung, akar-akar raksasa mencuat, dan tanahnya lembap, licin, penuh perangkap alami.
Drain berlari sekuat tenaga, terengah-engah.
Setiap napas menusuk dada.
Pasukan elite bergerak seperti bayangan gelap.
Dari balik kabut terdengar bunyi:
— langkah cepat
— logam menabrak ranting
— panah dilepaskan
— perintah komandan
“JANGAN BIARKAN DIA KABUR!”
“DEKATI LINGKARAN!”
“PAKAI BAJU BESI RASIONAL, JANGAN PANIK!”
Suara mereka kuat, terlatih, disiplin.
Drain menggigit bibir.
Dia tidak mungkin bertarung melawan 20 elite Vagenta dalam kondisi lelah dan bermodal pedang patah.
“Aku tidak bisa terus begini!” serunya.
Pedang itu menjawab:
“Kau tidak harus menang. Yang kau butuhkan sekarang hanyalah… tetap hidup.”
Drain melompat melewati parit kecil, menyelinap di antara akar-akar raksasa. Kabut semakin pekat. Semakin dalam ia masuk, semakin dingin udara menusuk kulit.
Sampai akhirnya…
SREK!
Drain terpeleset lumpur dan jatuh ke lereng licin, berguling ke bawah dengan keras.
“Ugh—!”
Tubuhnya menghantam tanah, sakit merambat dari bahu hingga pinggang.
Namun ia bangkit lagi, meski lututnya gemetar.
Dan di belakangnya, suara pasukan semakin dekat.
________________________________________
Tumbangnya Prajurit Pertama
Dari balik kabut, sebuah sosok hitam menyergap. Drain refleks mengangkat pedang patah, memblokir tebasan.
CLANG!!
Getarannya menusuk telapak tangan.
Pasukan elite itu bertubuh kekar, gerakannya cepat, mata penuh kebencian.
“Menyerahlah, Pangeran,” kata prajurit itu dengan suara teredam helm logam. “Jangan buat kami membunuhmu seperti binatang.”
Drain mendesis.
“Aku tidak akan kembali!”
Prajurit itu maju, menusuk dengan tombak. Drain menepis tusukan itu dengan langkah goyah. Namun pedang patah di tangannya tiba-tiba memancarkan aura hitam tipis… seperti asap.
Drain melompat, menebas secara insting—
SSRAAAK!!
Bilahan patah itu menembus armor prajurit, seolah memotong kain, bukan baja.
Prajurit itu jatuh.
Tubuhnya membeku beberapa detik—lalu darah gelap keluar dari dada.
Drain terpaku.
“A-Aku… membunuhnya?”
Pedang itu berkata pelan:
“Itu pilihan mereka. Bukan dosamu.”
Namun Drain tidak sempat terpaku.
Karena dari balik kabut…
Puluhan bayangan hitam muncul.
________________________________________
Komandan Perburuan
Sosok besar dengan armor obsidian melangkah keluar.
Ia membawa tombak panjang berujung merah — senjata para komandan elite.
Wajahnya keras, rahangnya tegas, mata keemasan penuh wibawa.
Namanya: Komandan Roderick Vaels
Pemimpin Divisi Pemburu Pengkhianat.
“Drain von Draga,” katanya dengan suara dalam. “Kau membuat perjalanan kami tidak efisien.”
Drain memegang pedangnya erat.
“Komandan Roderick… jadi ayah benar-benar mengutusmu.”
Roderick menatapnya tanpa emosi.
“Kaisar memerintahkan agar kau dibawa hidup-hidup. Tapi jika kau menolak…”
Ia mengangkat tombaknya.
“…kepala pun cukup.”
Drain menggigil.
Roderick bukan prajurit biasa. Dia salah satu dari Tujuh Pamungkas, elit tertinggi Vagenta.
Pedang patah berbisik tajam:
“Jangan melawannya. Dia bukan lawanmu sekarang.”
Drain berbalik, hendak lari—
Namun tanah bergetar.
Kabut di depan membelah.
Sesuatu… bangun.
________________________________________
Makhluk Kabut
Suara berat bergema dari dalam kabut.
—GRRUUUAAAAHHH—
Drain mematung.
Pasukan elite berhenti serentak.
Roderick memajukan tubuh, siaga.
“Ada sesuatu di sini,” ujar Drain dengan suara gemetar.
Kabut bergulung seperti sedang dipaksa membuka.
Dan dari dalamnya…
Muncul makhluk raksasa setinggi 4 meter.
Tubuhnya diselimuti kabut pekat.
Siluetnya menyerupai beruang, tapi jauh lebih besar.
Matanya kosong — hanya dua lubang gelap tanpa jiwa.
Roderick berteriak:
“FORMASI ANTI-BEAST!!”
Pasukan segera membentuk lingkaran.
Drain menelan ludah.
“A-Apa itu…?”
Pedang menjawab:
“Penjaga Hutan Kabut. Makhluk yang menolak kehadiran manusia. Mereka biasanya pasif… kecuali ada darah tumpah di wilayahnya.”
Drain membelalak.
“Darah prajurit tadi…”
“Ya. Dan kau berada tepat di depan amarahnya.”
Makhluk itu mengaum dan menyerang.
________________________________________
Benturan Dua Kekuatan
Makhluk raksasa melompat, menghantam tanah dengan cakar kabutnya.
Tanah bergetar, pohon-pohon tumbang.
Pasukan elite meluncur maju, menusuk dengan tombak mereka. Namun serangan itu justru menembus tubuh kabut makhluk tersebut tanpa luka.
Drain membeku.
Roderick berteriak:
“SERANG TITIK INTINYA!! CARI SEBERKAS CAHAYA DALAM TUBUHNYA!!”
Makhluk kabut menampar tiga prajurit sekaligus, melempar mereka puluhan meter.
Drain mengerutkan kening.
“Apa aku… bisa membantu…?”
“Tidak dengan pedangmu sekarang. Kau baru sekali menyentuh kekuatanmu. Kau bahkan belum bisa mengendalikannya.”
Namun makhluk itu bergerak terlalu cepat.
Salah satu prajurit elite berlari, panik, dan menuju arah Drain.
Makhluk itu mengejarnya—
Tepat ke arah Drain.
Drain membeku.
Tubuhnya tak mau bergerak.
Ia mengangkat pedang.
Dan sesuatu dalam dirinya… meledak.
________________________________________
Nafas Hitam
Saat makhluk kabut mengayunkan cakar raksasanya ke arah Drain…
Bilahan patah itu bergetar hebat.
Drain merasakan panas mengalir dari dada ke lengan.
Pedang itu berteriak:
“LEPASKAN!!”
Drain mengayunkan pedang.
WUUUUUSSHH!!
Udara di depan Drain terbelah.
Kilatan hitam memanjang dari bilah patah, seperti garis energi gelap.
Serangan itu mengenai makhluk kabut.
—GRAAAAAAAAHHH!!—
Makhluk itu terlempar ke belakang, tubuh kabutnya terpecah setengah.
Drain terengah-engah.
“A-Apa… itu…?”
Pedang menjawab, suaranya berat:
“Itu Nafas Hitam. Kekuatan… dari garis darah Draga.”
Roderick menatap Drain dengan wajah ngeri.
“Jadi… rumor itu benar,” gumamnya.
Drain menatap makhluk kabut yang mulai bangkit lagi.
“Aku tidak bisa melakukan itu dua kali…”
“Maka kita kabur,” kata pedang.
________________________________________
Retret Terakhir
Drain berbalik dan berlari sekuat tenaga.
Pasukan elite sibuk mengalihkan makhluk kabut, sehingga sementara Drain bisa kabur beberapa puluh meter lebih jauh ke dalam hutan.
Ia memanjat batang-batang tumbang, merayap melewati celah akar raksasa, tubuhnya penuh goresan.
“Lebih cepat, Drain!” teriak pedang itu.
“Aku… aku sudah… hah… berlari sejak pagi…” Drain terengah-engah.
Namun akhirnya, setelah menembus belukar tebal…
Kabut mulai menipis.
Drain terhuyung keluar dari hutan kabut dan jatuh berlutut di rerumputan lembap.
Di depannya terbentang lembah luas yang asing.
Ia berhasil lolos.
Untuk sekarang.
________________________________________
Sumpah dalam Sunyi
Drain menatap kedua tangannya yang bergetar—antara lelah, takut, dan terkejut.
“Aku… benar-benar hampir mati.”
“Tapi kau hidup. Dan itu hal penting.”
Drain memandang pedang patah itu.
“Kau bilang kekuatan ini… dari garis darahku. Kenapa mereka takut? Apa yang sebenarnya terjadi pada keluargaku?”
Pedang itu diam beberapa saat sebelum menjawab:
“Drain… keluarga Draga menyembunyikan sesuatu darimu. Sesuatu yang akan mengubah dunia, dan kau… adalah kunci yang ingin mereka hancurkan.”
Drain mengepalkan tangan.
“Aku tidak akan lari selamanya.”
Ia berdiri, tubuhnya masih goyah, wajahnya keras.
“Kaisar Vaelgard… kakakku Reizel… semua yang membuangku…”
Drain menatap lembah luas di depannya.
“…akan aku temui lagi. Entah sebagai keluarga… atau sebagai musuh.”
Angin lembah berhembus, mengangkat rambut putihnya.
Dan pedang patah itu bersinar samar, seolah setuju.
