BAB 3 — Perburuan dari Kekaisaran Vagenta
Drain berdiri dengan sisa tenaga yang ada.
Ia menatap Verendar dan berkata:
“Aku tidak tahu apa yang menunggu kita di depan.”
"Baik."
“Aku tidak tahu apakah kekaisaran akan memburuku.”
"Mereka pasti akan."
“Aku tidak tahu apa aku bisa mengendalikan kekuatanmu.”
"Itu tugas kita bersama."
Drain menghela napas panjang.
“Tapi aku tahu satu hal… aku tidak akan hidup seperti dulu lagi.”
Suara Verendar menjadi tenang, hampir seperti suara guru yang sabar.
"Dan aku akan menemanimu… sampai kau menjadi seseorang yang bahkan takdir pun tidak bisa menolak."
Drain tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, senyum itu terasa benar.
Ia melangkah keluar dari gua, menembus cahaya pagi.
Dan babak baru kehidupannya dimulai—
bukan sebagai pangeran buangan,
tetapi sebagai pemilik pedang yang menunggu seribu tahun.
Pagi Setelah Bisikan Pedang
Embun pagi menggantung di daun-daun lumut yang menempel di dinding gua. Cahaya matahari merambat perlahan masuk melalui celah mulut gua, menyentuh wajah Drain yang masih terpejam. Untuk pertama kalinya sejak diusir, ia tidur tanpa mimpi buruk. Tidak ada suara ejekan. Tidak ada tatapan dingin keluarga istana. Hanya keheningan.
Drain membuka matanya perlahan.
Pedang patah itu tergeletak di sampingnya — separuh bilahnya memantulkan kilau tipis, seolah menyerap cahaya pagi.
“Jadi kau benar-benar berbicara… bukan mimpi,” gumam Drain lirih.
Pedang itu bergetar pelan. Suaranya terdengar lagi — lebih jelas daripada semalam.
“Pagi, pewaris yang dicampakkan.”
Drain menelan ludah.
Ia masih belum terbiasa dengan suara itu — suara yang seperti gema dari kedalaman bumi, namun juga selembut desah angin.
“Jangan panggil aku pewaris,” kata Drain datar. “Aku sudah diusir.”
“Gelar tidak hilang hanya karena manusia menyuruhnya.”
Drain memutar bola mata.
“Baiklah, apa pun. Tapi… aku tidak tahu kenapa kau memilihku.”
Pedang itu diam sejenak, sebelum menjawab:
“Karena darahmu.”
Drain menegang.
“Darah Draga… bukan darah biasa. Tapi itu pembicaraan nanti. Sekarang, bangkitlah.”
“Ada apa?” tanya Drain.
“Kita harus pergi dari sini sebelum mereka tiba.”
Drain mengerutkan alis.
“Mereka? Siapa—”
Sebuah suara jauh, samar, seperti derap kaki kuda dan denting baja dari kejauhan, memotong kalimatnya.
Drain langsung bangkit.
Jantungnya memukul dadanya dari dalam.
“Jadi… mereka benar-benar mencariku.”
“Bukan mencari. Memburu.”
________________________________________
Jejak yang Tidak Pernah Hilang
Drain bergegas keluar mulut gua, menajamkan pendengarannya. Entah bagaimana, inderanya terasa sedikit meningkat — mungkin karena sentuhan pedang itu semalam. Atau mungkin hanya adrenalin.
Di lembah jauh di bawah, terlihat titik-titik kecil bergerak cepat. Cahaya matahari memantul pada baju zirah mereka.
“Pasukan elite…” desis Drain.
Di antara mereka, terlihat standar kekaisaran — bentuk naga bersayap dengan mata merah.
Itu bukan sembarang pasukan.
Itu adalah Divisi Pemburu Pengkhianat, unit yang hanya bergerak atas perintah langsung kaisar.
Drain merasakan tenggorokannya mengering.
“Kenapa mereka memburuku secepat ini? Aku hanya diusir… bukan disuruh mati.”
Pedang itu tertawa pendek, getir.
“Usirmu hanya sandiwara. Kaisar tidak bisa membiarkan seseorang sepertimu hidup bebas.”
Drain menegang.
“Karena apa? Penampilanku? Kutukan? Hal konyol seperti itu?!”
“Bukan hal konyol… tapi hal berbahaya.”
Drain memukul batu di sampingnya dengan kepalan tangan.
“Aku bahkan tidak tahu apa salahku!”
Pedang itu membalas dengan tenang:
“Itulah masalahnya. Kau tidak tahu apa yang sebenarnya mereka takutkan darimu.”
Drain memejamkan mata, mengatur napas.
Ingin marah, ingin menolak penjelasan, tapi suara pasukan semakin dekat.
Drain menggenggam pedang patah itu.
“Baiklah. Aku tidak mau mati di sini. Arah mana?”
“Ke timur. Kita harus menuruni lereng, menuju hutan kabut.”
Drain pun berlari.
________________________________________
Pasukan Elite Mendekat
Baru beberapa menit menuruni lereng, suara teriakan lantang terdengar di belakang.
“Hentikan!! Atas nama Kaisar Vaelgard, menyerahlah, Pangeran Drain!!”
Drain tersentak.
“Mereka masih memanggilku pangeran… padahal sudah membuangku.”
“Karena gelar itu hanya alasan. Yang mereka inginkan adalah tubuhmu — atau lebih tepatnya, apa yang ada di dalam dirimu.”
Drain tidak punya waktu bertanya.
Anak-anak panah melesat dari atas. Drain menunduk spontan, berguling, lalu menuruni bebatuan tajam. Satu anak panah nyaris menembus bahunya.
Sementara itu, salah satu komandan pasukan — seorang pria bertubuh besar dengan armor obsidian — berdiri di atas tebing. Suaranya bergema kuat.
“Pangeran Drain! Perintah sudah jelas. Jika kau menyerah, kami akan memberimu kematian yang cepat dan terhormat!”
Drain hampir tersandung akibat amarah yang meledak di dadanya.
“Terhormat?! Mereka mengusirku, lalu bilang akan memberiku kematian terhormat?! Dasar… gila!”
“Manusia istana selalu begitu,” bisik pedang itu.
“Penuh sandiwara dan darah.”
Drain menarik napas dalam.
“Baik. Aku tidak akan tertangkap.”
________________________________________
Kekuatan yang Mulai Bangkit
Saat Drain mencapai dasar lereng, tubuhnya kelelahan. Ia bukan prajurit terlatih seperti kakaknya. Tubuhnya lebih kurus, ototnya belum terbentuk sempurna.
Namun pedang itu berkata:
“Pegang aku dengan kedua tangan.”
Drain mengangkat pedang patah itu.
Walaupun hanya separuh bilah, rasanya lebih berat daripada pedang panjang biasa — tapi juga seolah menyatu dengan telapak tangannya.
Tiba-tiba, sesuatu di dalam dadanya berdenyut… seperti sumber panas yang lama tersegel.
Drain menggigit bibir.
“Apa ini…?”
“Kekuatanmu. Kekuatan yang membuat mereka takut.”
Drain tidak bisa bertanya lebih jauh karena teriakan pasukan itu semakin dekat.
“Cepat! Jangan beri dia waktu kabur!”
“Kelilingi sisi timur!”
“Panah siap!”
Drain bersiap berlari lagi, namun pedang itu berbicara cepat:
“Tenang. Dengarkan. Ada celah antara dua batu besar di depan. Masuk ke sana.”
Drain berlari sekuat tenaga, melompati akar pohon, menghindari anak panah yang meluncur seperti hujan logam. Keringat dan adrenalin bercampur.
Ia melihat dua batu besar menjulang seperti gerbang alami.
“Di sana!”
Ia menyelinap masuk. Bebatuan sempit itu membuat pasukan sulit mengejar dengan formasi penuh. Namun mereka tetap mendekat.
Drain merangkak keluar dari celah itu—
Dan tiba di sebuah hutan berkabut tebal.
________________________________________
Hutan Kabut
Drain berhenti sejenak, mengatur napas.
Kabut di sini tidak normal — terasa berat, dinginnya seperti merayap ke tulang.
“Apa tempat ini?” tanya Drain.
“Hutan Kabut. Perbatasan alam liar. Pasukan biasa tidak akan berani masuk.”
“Lalu para elite?”
“Mereka mungkin akan tetap mengejarmu. Mereka dilatih untuk tidak takut apa pun kecuali gagal menjalankan perintah.”
Drain mengatupkan rahangnya.
“Kalau begitu, kita harus terus bergerak.”
Ia melangkah ke dalam kabut, namun pedang itu bergetar.
“Hati-hati. Kau tidak sendirian…”
Drain berhenti.
“N—maksudmu ada makhluk di sini?”
Pedang itu menjawab pelan:
“Ada sesuatu yang bahkan pasukan elite Vagenta pun takutkan.”
Drain menelan ludah.
“Aku bertemu pasukan yang ingin membunuhku saja sudah cukup buruk. Jangan bilang—”
Namun langkah kaki berat terdengar dari dalam kabut.
Drain mengangkat pedang patah itu, jantungnya berdegup keras.
Siluet besar tampak.
Kabut menyingkap perlahan…
Namun bukan monster.
Melainkan… manusia.
Seorang pria tua dengan jubah compang-camping, membawa tongkat kayu, menatap Drain dengan matanya yang kuning samar.
Drain tertegun.
Siapa dia? Kenapa ada orang seperti itu tinggal di sini?
Sebelum ia sempat berbicara, pria tua itu membuka mulutnya…
Dan di saat yang sama—
Teriakan pasukan elite meledak dari belakang.
“DIA DI SANA!!”
Drain menoleh cepat.
Pasukan elite sudah memasuki hutan kabut.
Drain harus mengambil keputusan:
• Tetap menghadapi pria misterius itu, atau
• Lari lebih dalam ke kabut yang penuh bahaya.
Pedang itu membisik tajam, secepat kilat:
