Pustaka
Bahasa Indonesia

Broken Sword

89.0K · Baru update
Budiar
66
Bab
502
View
9.0
Rating

Ringkasan

Diusir dari istana pada usia lima belas tahun, Drain von Draga—anak Kaisar Vagenta yang dianggap kutukan—ditinggalkan sendirian dalam badai yang memecah langit. Rambut putihnya, mata berbercak merah, dan aura aneh dalam tubuhnya membuat keluarga kerajaan takut… sekaligus membencinya. Namun takdir tidak membiarkannya hilang begitu saja. Di dalam gua terpencil di Pegunungan Varkhaz, Drain menemukan sebuah pedang patah yang tertancap pada batu hitam hidup. Bilahnya hanya tersisa separuh, namun kekuatannya menekan seluruh dunia. Saat Drain menyentuhnya, petir menghantam gunung, dan pedang itu berbicara: “Akhirnya… kau datang, pewaris yang dicampakkan.” Pedang patah itu adalah GODSEVER—senjata purba yang dahulu membantai para dewa, menumbangkan raja-raja naga, dan memutus akar dunia. Sejarah pedang itu sengaja dihapus, karena satu nama saja mampu menjerumuskan bangsa-bangsa ke dalam ketakutan. Kini Godsever berada di tangan seorang anak buangan. Drain diburu oleh kekaisaran, oleh para pemburu bayaran, oleh organisasi penjaga dunia, dan oleh sisa-sisa para dewa yang masih gentar menghadapinya. Namun bersama pedang yang sudah kembali diam, Drain justru menemukan dirinya berada di tengah misteri besar—misteri asal-usul darahnya, kutukan di dalam tubuhnya, dan tujuan Godsever memilihnya. Dalam perjalanan berbahaya selama satu tahun, Drain dilatih oleh seorang penjelajah kuno bernama Ruyas, bertemu dengan Kaelion, mantan budak elf dengan masa lalu kelam, dan perlahan memahami bahwa dunia menyimpan sejarah yang sengaja dikubur. Sebuah sejarah tentang perang lama antara Dewa, Naga, dan Pedang Patah yang pernah hampir memusnahkan semuanya. Sekarang, kekuatan itu bangkit kembali… …dan dunia tidak siap menghadapi pewarisnya. Drain von Draga harus memilih: membiarkan Godsever memakan takdirnya, atau menaklukkan pedang yang pernah memakan para dewa.

FantasiwuxiaactionTuan MudapendekarpetarungRevengeKehidupan MisteriusPetualanganSupranatural

Bab 1 : Prolog : Anak Kaisar yang di buang

Di puncak Pegunungan Varkhaz, badai tak pernah berhenti berbicara. Suaranya menggulung seperti lautan amarah yang menyentuh langit. Angin menyapu batu-batu karang dengan kekuatan yang tidak dimiliki tangan manusia; ia meraung, menjerit, menabrak, lalu kembali, seolah-olah sedang berusaha merobek dunia yang berada di bawahnya.

Di tengah puncak itu, tersembunyi dari mata dunia, terdapat sebuah gua tua yang telah berdiri jauh sebelum kekaisaran mana pun berdiri. Gua itu dikenal dengan nama Ruang Ketiga, sebuah tempat yang menurut legenda hanya terbuka bagi orang-orang yang ditolak dunia tetapi diinginkan oleh takdir.

Di dasar gua, tertanam sebuah pedang patah.

Pedang itu bukan sekadar logam yang dicetak dan ditempa. Bilahnya yang hanya tersisa separuh menghitam seperti bara mati, namun memantulkan cahaya samar berwarna ungu ketika kilat menyambar langit.

Batu yang menjadi alas pedang itu bukan batu biasa. Ia merupakan lingkaran hitam pekat, seolah memiliki denyut nadi sendiri. Setiap beberapa detik, permukaannya bergetar pelan, mengeluarkan suara seperti bisikan yang tidak bisa diterjemahkan manusia.

Sudah ratusan tahun pedang itu berada di sana. Tidak bergerak. Tidak tersentuh. Tidak dipahami siapa pun.

Namun malam ini, badai terasa berbeda.

Awan-awan gelap saling bertabrakan di atas puncak gunung, menciptakan cahaya ungu yang tidak berasal dari alam. Petir menyambar lebih sering, seakan langit sedang menyalakan suar untuk memanggil seseorang.

Pedang patah itu bergetar.

Sebuah retakan halus muncul di batu penyangganya.

Seakan ada seseorang…

yang semakin mendekat.

Pedang itu merasakan kehadiran itu dengan kejelasan yang bahkan manusia tidak bisa rasakan. Ia seperti mata tanpa tubuh, melihat jauh melewati badai malam dan rintik hujan yang menutupi gunung.

Ada jejak aura.

Lemah, tapi… familiar.

"Akhirnya," suara tanpa suara itu berbisik, "pewarisku… sedang menuju ke sini."

Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, pedang itu merasa… hidup.

Dan takdir bersiap bergerak.

________________________________________

Tanda yang Tak Pernah Dimengerti

Drain lahir saat langit Vagenta memerah selama tujuh hari tujuh malam—pertanda yang bahkan para peramal istana tidak mampu menjelaskan. Vagenta, kekaisaran terkuat di benua Draveth, dikenal sebagai negeri yang tidak percaya takhayul. Namun bahkan para ilmuwan kerajaan pun kehilangan kata-kata ketika melihat bayi itu untuk pertama kalinya.

Rambutnya putih keperakan, seperti salju yang disinari bulan.

Matanya biru gelap… namun di iris kirinya terdapat bercak merah berbentuk spiral kecil.

Di zaman dulu, warna seperti itu dianggap sebagai tanda pembawa bencana.

Di zaman sekarang, itu dianggap keanehan mutlak.

Bagi sebagian rakyat, Drain dianggap sebagai anak istimewa.

Bagi istana…

Drain dianggap sebagai kutukan yang menyamar sebagai pangeran.

Ketika Drain tumbuh besar, ia menunjukkan kecerdasan di atas rata-rata. Pada usia lima tahun ia dapat membaca naskah kuno yang bahkan bangsawan tidak mampu pahami. Pada usia tujuh tahun, ia dapat menandingi pengawal istana dalam latihan pedang ringan. Namun semua pencapaian itu tidak pernah dipandang berharga.

Mengapa?

Karena ia bukan Reizel, kakak tertuanya.

Reizel putra pertama, pewaris tahta, kesayangan rakyat. Rambutnya hitam seperti ayahnya, matanya biru emas seperti ibunya. Wajahnya tampan, senyumnya berwibawa. Ia adalah gambaran sempurna dari pewaris yang diinginkan kekaisaran.

Sementara Drain…

tidak pernah dianggap layak sejak lahir.

“Wajahmu saja sudah membuat orang gelisah,” kata Reizel ketika mereka masih kecil, sebuah ejekan yang sering diulang hingga menjadi kebenaran yang diakui istana.

Drain tumbuh dalam diam.

Ia belajar tanpa guru.

Berlatih tanpa pelatih.

Membuktikan dirinya tanpa ada yang peduli.

Ibunya?

Kaisarina Valenys, seorang wanita cantik namun dingin seperti dinding marmer istana, hampir tidak pernah memanggil namanya.

Ayahnya?

Kaisar Vaelgard… hanya melihat Drain sebagai beban.

Satu-satunya tempat Drain bisa bernapas adalah di perpustakaan, di antara buku-buku tua dan debu yang tidak memberi penilaian.

Namun takdir bukanlah tempat yang bisa seseorang pilih.

Dan bagi Drain, takdirnya mulai berubah ketika ia menginjak usia lima belas tahun.

________________________________________

Pengadilan Tanpa Pengadilan

Hari itu seharusnya menjadi hari biasa. Drain bangun pagi, seperti biasa tanpa ditemani pelayan. Ia memakai pakaian latihan yang sudah tiga tahun dipakainya tanpa diganti—karena tidak ada yang mengurus kebutuhannya.

Namun ketika ia melangkah keluar kamar, dua prajurit istana berdiri di depan pintunya.

“Pangeran Drain, Yang Mulia Kaisar memanggil Anda ke aula utama.”

Drain berhenti.

Ia bukan pangeran yang sering dipanggil audiensi.

Faktanya, ini adalah pertama kalinya dalam satu tahun ayahnya ingin bertemu dengannya.

Dia menelan ludah.

Ada sesuatu dalam nada bicara prajurit yang membuat udara terasa berat.

Ketika pintu besar aula kerajaan terbuka, Drain melihat pemandangan yang membuat dadanya mengeras.

Seluruh bangsawan tingkat tinggi hadir.

Jenderal-jenderal utama berdiri tegak.

Para menteri duduk berbaris.

Dan di tengah aula, berdiri Reizel—kakaknya—dengan senyum kecil yang sulit dijelaskan… apakah itu kebahagiaan, atau kemenangan.

Kaisar Vaelgard berdiri di tangga tertinggi, jubah kebesarannya menjuntai seperti sayap raksasa.

“Drain von Draga,” suara Kaisar menggema. “Hari ini, kekaisaran telah mengambil keputusan.”

Drain menunduk sedikit—sebuah formalitas yang tidak pernah dihargai.

“Mulai hari ini, kau dicabut dari garis keturunan Draga.”

Seluruh aula terdiam.

“Dengan ini, kau diusir dari istana dan dari kekaisaran.”

Drain tidak menjawab.

Bukan karena tidak bisa,

tapi karena tidak tahu apa yang harus dikatakan.

Semua perasaan di tubuhnya mati.

Sama seperti bertahun-tahun sebelumnya.

Yang paling menyakitkan bukanlah keputusan itu.

Melainkan kenyataan bahwa ia bisa melihat jelas di mata ayahnya—

…bahwa keputusan ini membuat Kaisar lega.

Reizel tersenyum kecil.

Ibunya tidak hadir—bahkan untuk menyaksikan pembuangan anaknya sendiri.

Drain berdiri terpaku.

Namun akhirnya ia membungkuk, tanpa air mata, tanpa suara.

“Sebagaimana perintah,” katanya pelan.

Dan itulah akhirnya.

Upacara pengusiran paling dingin dalam sejarah Vagenta.

________________________________________

3. Gerbang yang Menutup Selamanya

Langkah kaki Drain menggema di jalan batu menuju gerbang utama. Tidak ada satu pun pelayan yang mengantar. Tidak ada pengawal yang mengiringi sebagai kehormatan terakhir. Bahkan seekor burung pun tidak bersuara.

Saat ia keluar dari gerbang, hujan mulai turun.

Gerbang-¬gerbang besi raksasa bergerak perlahan, gesekan logamnya terdengar seperti raungan makhluk buas yang terluka.

KRAAANG!!

Pintu itu menutup.

Itu bukan hanya pintu istana…

melainkan pintu masa lalunya.

Drain tidak menoleh ke belakang.

Ia tidak ingin melihat dunia yang tidak pernah menghendakinya.

Di depannya, jalan menuruni pegunungan. Badai mulai menggulung. Petir menyambar pohon-pohon di kejauhan. Hujan menghantam tubuhnya tanpa belas kasih.

Drain terus berjalan.

Tidak ada arah.

Tidak ada tujuan.

Hanya ada satu kalimat di pikirannya:

"Jika dunia tidak membutuhkan aku… maka aku akan mencari dunia yang membutuhkanku."

________________________________________

4. Gua yang Memanggil

Malam semakin gelap. Badai semakin ganas.

Petir menyambar sangat dekat, hingga tanah di sekitar Drain bergetar. Angin menerbangkan ranting dan batu kecil. Drain mencoba melindungi wajahnya dengan tangan—namun badai tidak berhenti.

Ia mulai merasa kehilangan kesadaran.

Namun saat tubuhnya hampir tumbang, ia melihat sesuatu…

Mulut sebuah gua.

Cahaya petir memantulkannya sesaat—seperti tanda dari langit.

Drain, setengah pingsan, menyeret tubuhnya masuk.

Begitu ia melangkah melewati ambang pintu batu, badai terdengar seolah mereda… namun sekaligus menjadi lebih jauh dan menyeramkan.

Gua itu luas—lebih luas daripada gua alam yang pernah dilihatnya. Dindingnya seperti pahatan buatan tangan, namun juga seperti terbentuk alami. Ada ukiran-ukiran samar, seperti simbol-simbol kuno.

Dan tepat di tengah ruangan…

Cahaya ungu redup memancar dari sesuatu yang tertancap pada batu hitam.

Drain mendekat.

Udara di sekitar pedang itu berat. Padat. Seolah setiap hembusan napas yang diambil Drain dikembalikan dengan gaya tekan yang lebih kuat.

Pedang itu patah—hanya separuh bilah yang tersisa. Namun aura yang terpancar darinya membuat Drain merinding dari ujung rambut sampai ujung jari.

Ia merasa seperti dilihat.

Seperti diperiksa.

Seperti diakui… oleh sesuatu yang bukan manusia.

Suara di dalam kepalanya berbisik:

"Dekatkan tanganmu… pewaris."

Drain tidak tahu mengapa ia mengulurkan tangan.

Apakah itu kemauan sendiri?

Ataukah kemauan pedang?

Jarang sekali sesuatu dalam hidupnya terasa benar.

Tapi momen ini…

anehnya terasa tepat.

Namun begitu kulitnya menyentuh gagang pedang—

________________________________________

5. Cahaya yang Menggetarkan Dunia

BRATAAAAAAR!!

Petir menghantam puncak gunung tepat di atas mereka.

Seluruh gua menyala putih.

Batu-batu berjatuhan.

Udara mendesis seperti magma membakar langit.

Drain terlempar ke belakang, tubuhnya terbanting ke dinding gua. Namun tangannya tidak melepaskan gagang pedang itu. Seolah telapak tangan dan senjata itu menyatu oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Kemudian, sesuatu terbuka di dalam dadanya.

Seperti pintu yang telah lama dikunci.

Seperti kunci yang hilang kini ditemukan.

Aura hitam kemerahan mengalir keluar dari tubuh Drain, membentuk pusaran halus di udara. Pedang itu merespons, memancarkan cahaya ungu yang melingkupi ruangan.

Drain berteriak—bukan karena sakit,

melainkan karena kekuatan yang begitu besar mengalir melaluinya tanpa kontrol.

Lalu suara itu kembali berbicara.

Kali ini lebih jelas.

Lebih dalam.

Lebih… hidup.

"Akhirnya… pewaris yang dicampakkan telah kembali."

Drain terengah, namun tidak melepaskan pedang itu.

“Siapa…” suaranya bergetar, “…siapa kau?”

Pedang itu bergetar halus.

Retakan pada batu hitam semakin lebar.

"Aku adalah pedang yang menunggu seribu tahun… untuk seseorang yang sepertimu."

"Aku adalah pecahan dari kekuatan yang ditakuti para dewa… dan dibuang dari dunia seperti dirimu dibuang dari keluargamu."

Drain terpaku.

"Pegang aku, Drain von Draga."

"Mulai malam ini… nasib kita terikat."

Drain menelan ludah.

Kemudian, ia menarik pedang itu.

________________________________________

6. Lahirnya Ikatan yang Terlarang

Pedang itu keluar dari batu hitam dengan suara yang tidak seperti logam patah…

namun seperti suara makhluk kuno yang akhirnya bangkit dari tidur panjang.

Saat bilahnya terlepas, cahaya ungu langsung padam—menyisakan keheningan yang membuat telinga Drain berdenging.

Namun sesuatu telah berubah.

Udara terasa lebih dingin.

Gua terasa lebih luas.

Dan Drain merasa… lebih kuat.

Ia menatap pedang patah itu.

Meskipun bilahnya hanya setengah panjang, pedang itu terasa berat, padat, dan hidup. Seolah memiliki denyut nadi sendiri.

Drain mengangkatnya perlahan.

“Mulai sekarang…” katanya pelan, “…kau pedangku.”

Suara itu tertawa kecil—suara yang terdengar seperti gema dari seribu tahun lalu.

"Mulai sekarang… kau adalah tuanku."

Drain tersenyum tipis untuk pertama kalinya dalam hidupnya.

Malam itu, di tengah badai yang mengguncang dunia,

Drain von Draga menemukan pedang yang mengubah takdirnya.

Pedang patah itu menemukan tuannya.

Dan perjalanan mereka…

baru saja dimulai.