BAB 4 Pelatihan di Hutan Kelam & Rekan dari Ras Elf
Pagi di hutan itu selalu sama—sunyi, dingin, dan penuh dengan aroma tanah lembap. Namun bagi Drain, satu tahun ke depan bukanlah sekadar pagi yang berulang; itu adalah batas antara hidup dan mati.
Ia berdiri di tepi sungai kecil, wajahnya masih menyimpan bekas luka segar dari perburuan pasukan Vagenta. Rasa takut sudah menghilang, tergantikan dengan tekad yang mengeras seperti batu.
1. Kakek Tua yang Menyebut Dirinya—Ruyas
Orang tua yang menolongnya di tepi sungai akhirnya memperkenalkan diri. Namanya Ruyas—mantan pendekar kerajaan kuno yang namanya sudah lama hilang dari sejarah. Tubuhnya tampak renta, namun gerakannya lebih cepat dari ular gurun.
Di hari pertama pelatihan, Ruyas hanya berkata satu kalimat:
“Kekuatan tanpa kendali hanya akan membuatmu mati lebih cepat. Kau memiliki pola tangan Drain… tapi kau tak bisa menggunakannya tanpa menghancurkan dirimu sendiri.”
Drain tidak menjawab. Ia tahu itu benar.
Ruyas pertama-tama melatih dasar:
• mengendalikan nafas,
• menstabilkan aliran energi hitam dalam urat nadi,
• mengendalikan amarah,
• berlari dalam hutan penuh jebakan,
• keseimbangan di tepi jurang,
• pertarungan jarak dekat tanpa senjata.
Latihan itu menyiksa—Drain sering pingsan karena energi hitamnya menekan jantung. Namun Ruyas selalu memaksanya bangkit kembali.
“Kekuatanmu haus, Drain. Bila kau tidak menjinakannya, ia akan memakanmu.”
Hari demi hari berubah menjadi minggu. Minggu berubah menjadi bulan.
Dan di titik bulan ke-6, sesuatu berubah.
Drain tidak lagi tersungkur saat menahan energi. Tubuhnya mulai menerima, bahkan membentuk pola baru dalam aliran nadinya. Saat ia meninju pohon, kulit kayu pecah seperti lumpur kering. Saat ia berlari, tubuhnya meninggalkan bayangan samar.
Kekuatan Drain bukan hanya muncul—kini mulai terkontrol.
________________________________________
2. Pertemuan Tak Terduga — Budak Elf yang Lolos dari Kejaran
Musim panas tiba saat Drain memasuki bulan ke-7 pelatihan. Kala itu ia sedang mengasah indera pendengarannya untuk mendeteksi gerak musuh, ketika ia mendengar suara lirih—seperti ranting patah, namun terlalu teratur untuk suara hewan.
Drain berjalan perlahan menuju sumber suara. Di balik semak rimbun, ia menemukan seorang pemuda elf, tubuhnya kurus, pakaian compang-camping, dan kaki terantai besi. Telinganya panjang dan pucat—ciri khas bangsa high-elf yang terkenal anggun.
Pemuda itu terjatuh dan bernafas tersengal, wajahnya penuh luka cambuk.
Drain mengangkatnya, namun pemuda itu panik.
“Jangan sentuh aku!… Aku—aku budak buronan. Mereka mencariku… kau bisa ikut terbunuh.”
Drain hanya menjawab singkat:
“Aku juga buronan. Jadi kita sama saja.”
Pemuda itu tertegun beberapa saat, lalu akhirnya membiarkan dirinya dibantu.
Namanya adalah Kaelion Virde, seorang elf murni dari hutan Eirilyn yang dijual sebagai budak setelah desanya diserang para pemburu.
Malam itu, Ruyas melihat Drain membawa Elf itu, namun tidak menolak.
“Biarkan ia tinggal. Orang dengan masa lalu remuk seperti kalian… biasanya menemukan kekuatan baru bersama.”
Kaelion tinggal bersama mereka dan mulai memulihkan diri.
Ia tidak seperti yang Drain bayangkan tentang kaum elf yang angkuh. Kaelion justru pemalu, sopan, dan sering merasa bersalah karena merepotkan.
Namun kekuatan tersembunyi di tubuh elf muda itu mulai terlihat.
________________________________________
3. Pelatihan Ganda — Drain & Kaelion
Ruyas akhirnya memutuskan:
“Mulai hari ini, kalian berlatih bersama.”
Kaelion ternyata memiliki bakat luar biasa dalam dua hal:
1. Kelincahan ekstrem — ia bisa berlari di atas batang pohon kecil tanpa suara.
2. Sihir alam tingkat dasar — meski tertekan sebagai budak, ia masih bisa memanggil angin lembut sebagai perisai.
Ruyas memadukan latihan mereka:
Latihan Keselarasan
Drain harus mengontrol energi hitamnya agar tidak lepas.
Kaelion harus menguatkan sihirnya agar tidak mudah pecah.
Mereka duel tanpa senjata selama berjam-jam setiap hari:
• Kaelion menghindar seperti bayangan angin.
• Drain menyerang dengan kekuatan kasar yang mulai terarah.
Lama-lama, serangan Drain tidak lagi liar.
Dan Kaelion tidak lagi mudah terjatuh.
Mereka seolah menjadi dua kutub:
• kekuatan hitam yang terikat,
• angin murni yang bebas.
Pertemanan itu tumbuh secara perlahan, tanpa perlu banyak bicara.
________________________________________
4. Tahun Berganti — Drain Lahir Kembali
Saat satu tahun pelatihan berakhir, Ruyas berdiri di depan mereka berdua di tepi sungai—tempat pertama Drain ditemukan.
Ruyas berkata:
“Drain, kekuatanmu kini tidak lagi menelanmu. Tapi itu baru awal.
Dan Kaelion… kau bukan lagi budak yang ketakutan.
Kalian berdua akan menghadapi dunia yang ingin menghancurkan kalian.”
Drain menatap tangannya.
Pola hitam berbentuk spiral mulai muncul jelas di permukaan kulit: Pola Drain—sebuah tanda purba yang hanya dimiliki keturunan tertentu yang bisa mengendalikan energi gelap.
Kaelion berdiri di sampingnya, tanpa rantai.
Untuk pertama kalinya, ia tersenyum.
Namun ketenangan tidak berlangsung lama.
Drain sedang mempraktikkan teknik pernapasan hitam saat Ruyas datang membawa tongkat kayu tua yang tak pernah ia bawa sebelumnya. Ekspresinya serius, seperti seseorang yang telah menimbang keputusan berat.
“Drain, Kaelion… waktunya telah tiba.”
Kaelion menghentikan latihannya. Drain bangkit, merasakan sesuatu yang berbeda dari aura sang guru.
Ruyas menatap langit, lalu berkata:
“Aku harus pergi. Ada tempat bernama Tenah Para Penjaga—tanah tersembunyi tempat para Penjaga kuno menyimpan sejarah dunia.
Di sanalah rahasia tentang Pola Drain dan kekuatan kegelapanmu disembunyikan.”
Drain menegang.
Selama ini Ruyas tidak pernah membahas sejarah kekuatan hitam yang mengalir dalam tubuh Drain.
Guru itu melanjutkan:
“Hanya Penjaga Purba yang tahu kenapa kekaisaran Vagenta mengincarmu.
Jika aku tidak pergi sekarang, kita akan tetap buta.”
Kaelion melangkah maju.
“Master, apakah berbahaya?”
Ruyas tersenyum samar.
“Berbahaya? Ya. Tapi tidak lebih berbahaya dari misi yang kuberikan untuk kalian.”
Drain dan Kaelion saling memandang.
________________________________________
Misi Drain dan Kaelion — Tanah Dark Elf
Ruyas meraih gulungan peta dari balik jubahnya dan membentangkannya di atas tanah.
Peta itu menggambarkan sebuah wilayah gelap di selatan:
Tanah Dark Elf — Nox’Eldras
Tempat yang bahkan bangsa elf biasa pun takut memasuki.
Di pusat wilayah itu berada:
Eldra-Root, Pohon Elf Besar, tempat Roh Bumi bersemayam.
Ruyas menunjuk titik itu.
“Pohon itu adalah sumber ingatan dunia. Ia menyimpan catatan para leluhur, termasuk sejarah yang dihancurkan Vagenta.”
Kaelion menelan ludah. Tanah Dark Elf adalah tempat yang dianggap kutukan—rumah bagi elf-elf yang terbuang, gelap, dan ganas.
Ruyas melanjutkan:
“Drain… Pohon itu mungkin mengetahui asal-usul pola di tanganmu.”
“Kaelion… hanya kau yang bisa membuka jalan. Tak ada manusia yang diterima di wilayah Dark Elf kecuali didampingi kaum elf.”
Drain bergumam pelan.
“Lalu apa tugas kita sebenarnya?”
Ruyas memegang bahu mereka berdua.
“Temui Roh Bumi. Mintalah jawaban tentang kekuatan kalian.
Dan yang terpenting—jangan biarkan siapapun mengetahui perjalanan ini.”
Drain mengangguk mantap.
Kaelion pun akhirnya menegakkan tubuhnya, meski matanya gugup.
________________________________________
Perpisahan Guru & Murid
Sebelum pergi, Ruyas memberikan dua benda:
1. Keping Batu Hitam kepada Drain — pecahan kuno yang beresonansi dengan energi gelap.
2. Daun Perak Eirilyn kepada Kaelion — simbol bangsanya, pelindung dari sihir kotor.
Ruyas berkata:
“Ini bukan jimat perlindungan… tapi pengingat bahwa kalian tidak sendirian.”
Kaelion menunduk.
Drain bertanya pelan, “Guru… kapan kau kembali?”
Ruyas tertawa pendek—tawa yang tidak sepenuhnya ringan.
“Jika aku berhasil menemukan Penjaga… mungkin dalam satu bulan.
Jika tidak… anggap saja kalian harus berjalan sendiri.”
Kata-kata itu membuat udara terasa berat.
Namun Drain menghormatinya. Selama satu tahun, Ruyas tidak pernah memberi perintah yang sia-sia.
Sebelum pergi, Ruyas berpesan:
“Jaga satu sama lain. Kalian bukan lagi buronan… Kalian pewaris masa depan.”
Lalu, seperti bayangan, Ruyas menghilang masuk ke dalam hutan, menuju tempat yang hanya ada dalam legenda.
________________________________________
