BAB 2 — Pertama Kalinya Pedang Itu Berbicara Sepenuhnya
Gua itu hening setelah badai energi tadi mereda.
Tidak ada gema, tidak ada hembusan angin, bahkan tidak ada tetesan air dari stalaktit. Seolah seluruh dunia menahan napas setelah menyaksikan kelahiran sesuatu yang seharusnya tidak bangkit lagi.
Drain berdiri dengan napas berat, memegang pedang patah itu dengan kedua tangan. Kilatan cahaya ungu sudah padam, namun panas dingin yang mengalir di genggamannya tidak hilang. Pedang itu… hidup.
Dan ia bisa merasakannya.
"Tenang."
Sebuah suara bergema di dalam kepalanya—dalam, berat, seolah keluar dari ribuan sel. Drain terkejut, hampir menjatuhkan pedangnya.
“A—apa… kau benar-benar bicara?” bisiknya.
"Aku tidak hanya bicara. Aku berpikir, mendengar, merasakan, dan… mengingat."
Suara itu berubah lebih jelas seiring waktu, seolah-olah setiap detik Drain memegang pedang tersebut, ikatan mereka semakin tersinkron.
“Siapa kau?” Drain bertanya sambil menatap bilah setengah itu. “Apa kau roh? Kutukan? Atau… sesuatu yang lain?”
Beberapa detik hening.
Lalu suara itu menjawab:
"Aku adalah Verendar."
Nama itu menggema di ruangan, meski tidak diucapkan oleh mulut mana pun.
"Sisa dari pedang yang pernah menggetarkan dunia. Pedang yang ditakuti para raja. Dihormati para dewa. Dan diburu oleh mereka yang takut dengan bayangannya."
Drain mengerutkan kening.
Nama itu seperti pernah ia baca di sebuah catatan kuno. Tapi ia tidak pernah menghubungkannya dengan benda fisik.
“Verendar… Pedang Pembelah Malam?”
"Itu salah satu nama murahan yang diberikan manusia."
“Lalu siapa kau sebelumnya?”
Kali ini suara itu tertawa kecil, seperti seseorang yang sedang mengingat masa lalu yang terlalu luas untuk diceritakan.
"Aku pernah menjadi pedang utuh—yang dipakai oleh seseorang jauh sebelum lahirmu. Namun dunia takut pada kekuatan yang kuberikan padanya… sehingga aku dihancurkan."
Drain menelan ludah.
“Dan sekarang kau muncul di hadapanku… kenapa? Apa kau memilihku?”
Pedang itu tampak bergetar tipis, seperti bernapas.
"Karena kau sama sepertiku."
“Sepertimu…?”
"Dibuang oleh mereka yang tidak mampu memahamimu."
Kata-kata itu menghantam Drain lebih dalam dari badai mana pun.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, seseorang—atau sesuatu—mengerti perasaannya tanpa perlu bertanya apa pun.
________________________________________
Drain duduk di lantai batu, punggungnya bersandar pada dinding gua. Pedang itu ia letakkan di pangkuannya, namun auranya terasa seperti menyelimuti tubuhnya.
“Kau bilang kau mengingat sesuatu… apa kau mengingat pemilikmu sebelumnya?”
"Sebagian."
“Siapa dia?”
"Seseorang yang tidak perlu kau bandingkan. Yang penting… aku memilihmu bukan karena masa laluku. Tetapi karena masa depanmu."
Drain terdiam.
Ia belum pernah memikirkan masa depan dengan serius.
Ketika seseorang tumbuh dengan diperlakukan seperti noda, sulit membayangkan diri melakukan hal besar.
“Apa kau pikir aku pantas memegangmu?”
"Tidak."
Drain terperangah. “Jadi—”
"Belum."
"Tapi aku tidak membutuhkan seseorang yang sudah menentukan takdirnya. Aku butuh seseorang yang masih kosong—yang masih bisa dibentuk kembali."
Drain menelan ludah.
Ia tidak tahu apakah itu penghinaan atau dorongan semangat.
Mungkin keduanya.
Pedang itu kemudian berkata dengan suara yang lebih lembut:
"Aku merasakan luka dalam dirimu. Bukan luka tubuh. Tapi luka jiwa."
Drain terdiam lama. Saat akhirnya ia berbicara, suaranya rendah.
“Mereka tidak pernah menganggapku ada.”
"Dan itu menyakitimu."
“Tentu saja menyakitkan,” gumam Drain. “Tapi lama-lama… aku terbiasa. Atau mungkin… mati rasa.”
Pedang itu mengeluarkan dengungan halus, seolah menunjukkan simpati yang sangat asing bagi benda tak bernyawa.
"Ketika logam ditempa, ia harus melalui api yang membakar kulitnya. Ketika manusia ditempa… apa yang membakar dirimu hanyalah waktu."
“Saat ini aku tidak merasa jadi apa pun…”
"Karena api yang menempamu belum selesai."
Drain memejamkan mata.
Untuk pertama kalinya ia merasa aman.
Namun rasa aman itu hanya berlangsung beberapa detik.
Karena…
________________________________________
Verendar tiba-tiba bersuara tajam:
"Diam."
Drain langsung memegang pedangnya erat.
Suara langkah kaki.
Tidak hanya satu.
Banyak.
Mendekat.
Trek… trek… trek…
Drain bangkit. Sebagian tubuhnya masih lemah setelah kejadian tadi, tapi ia menahan rasa pusingnya.
“Kau merasakan mereka?”
"Ada tiga belas orang. Bersenjata. Mereka tidak datang untuk mencari berteduh."
“Sial… kekaisaran?” Drain bergumam.
"Tidak. Mereka tidak memakai armor Vagenta. Napas mereka bau darah. Ini… pemburu."
“Pemburu?”
"Pemburu manusia."
Drain membelalakkan mata.
Ia pernah membaca tentang kelompok-kelompok gelap yang menculik manusia untuk dijual sebagai budak atau bahan percobaan sihir. Tapi ia tidak pernah berpikir akan bertemu mereka di malam pertama setelah diusir dari istana.
Verendar berkata:
"Jika mereka melihatmu… kau akan dijual sebagai barang."
Drain menggertakkan gigi.
“Tidak. Aku bukan barang siapa pun.”
"Buktikan."
________________________________________
Langkah kaki semakin dekat.
Drain mundur beberapa meter dari pintu gua, menyembunyikan dirinya di balik batu besar.
Cahaya obor menembus kegelapan.
Tiga orang pertama masuk—tubuh besar, wajah kasar, pakaian kulit, dan lambang tengkorak merah di dada.
Drain mengenali simbol itu dari buku intel istana:
Kelompok Cerberus Hitam. Pemburu budak terbesar di utara.
“Aku menemukan jejak baru!” teriak salah satu dari mereka. “Ada seseorang masuk gua ini!”
“Kita ikuti. Kalau dia sendirian, dia bisa dijual mahal.”
Drain mengepalkan pedangnya.
Napasnya perlahan stabil.
Suara Verendar muncul lagi:
"Jika kau ingin bertahan hidup… dengarkan aku baik-baik."
“Apa?”
"Jangan serang dulu. Biarkan mereka mendekat."
“Tapi—”
"Kau masih lemah dan tubuhmu belum pulih. Jika kau bergerak gegabah… kau mati."
Drain mengangguk.
Ia menunggu.
Tiga orang masuk lebih dalam.
“Tidak ada tanda-tanda orang mati di sini.”
“Cahaya aneh tadi itu apa, ya?”
“Sial, jangan mikir. Cari dulu yang masuk ke sini.”
Drain merasakan detak jantungnya naik.
Ia siap melompat.
Tapi Verendar berkata:
"Tunggu."
Dua orang lagi masuk.
Lima total.
Kemudian empat lagi.
Sembilan.
Kemudian semuanya.
Tiga belas orang—masuk penuh ke dalam gua.
Dan ketika yang terakhir masuk, Verendar berbisik:
"Sekarang."
________________________________________
Drain melompat dari balik batu.
Cahaya obor menyorot wajahnya—dan pedangnya.
Salah satu pemburu berteriak, “Anak kecil?!”
“Bukan sembarang anak kecil!” teriak yang lain. “Lihat mata itu! Itu—”
Drain tidak menunggu.
Ia menyerang.
Gerakannya cepat—lebih cepat dari yang ia pikir mampu dilakukan.
Bilah pedangnya menghantam dada pemburu pertama. Meski pedang itu patah, namun aura hitam-ungu yang keluar dari bilahnya membuat serangan itu seperti hantaman palu raksasa.
BRAAK!
Tubuh pria itu terpental menabrak dinding gua dan tidak bangun lagi.
Semua pemburu kaget.
“Apa itu?! Senjata sihir?!”
Drain berdiri tegak, napasnya memburu.
Tangannya bergetar—bukan karena takut, tapi karena tenaga dalam tubuhnya meningkat drastis.
Verendar bersuara:
"Tiga di kiri, dua di kanan. Kau tidak bisa menang dalam pertempuran panjang. Habisi yang kecil dulu."
Drain bergerak.
Ia menunduk, menghindari ayunan kapak.
Ia berputar, menebas lutut lawan.
Darah mengalir.
Jeritan pecah.
Gema memenuhi gua.
Drain merasakan pedang itu menyalurkan energi ke lengannya.
Tidak berat.
Tidak lelah.
Tidak ragu.
Satu demi satu tubuh roboh.
Dari tiga belas orang, lima tersisa.
Dan mereka mulai panik.
“Sial! Anak itu bukan manusia normal!”
“Kabur! Kita laporkan ke markas!”
Drain berlari mengejar.
Namun tiba-tiba seorang pemburu tinggi besar melompat ke depan, menghalangi jalannya dengan pedang raksasa.
“Kau melawan Cerberus Hitam, anak haram!” teriaknya. “Kau akan mati di sini!”
Drain mengayunkan pedangnya—
—namun pria itu menangkis dengan mudah karena kekuatan tubuhnya yang dua kali lipat ukuran manusia normal.
Benturan itu membuat Drain terpental mundur.
Drain jatuh tersungkur.
Pemburu besar itu tertawa.
“Kau cepat, tapi tidak punya kekuatan!”
Drain menggeretakkan gigi.
Ia mencoba bangkit, namun pria itu mengayunkan pedangnya.
Verendar berkata cepat:
"Jangan menahan! Gunakan kekuatan itu—biarkan aku meminjam tubuhmu!!"
Drain tidak tahu apa maksudnya.
Tapi ia berteriak:
“AMBIL SAJA!”
Saat itu juga—
—
Aura hitam-ungu menyembur keluar dari tubuh Drain seperti kabut neraka.
Pemburu besar yang hendak memotong kepala Drain terhenti di tempatnya.
“A-apa…”
Drain membuka mata.
Matanya yang biru gelap kini berubah menjadi kombinasi biru-merah pekat, spiral di iris kirinya bergerak lambat, seolah hidup.
Suaranya keluar tumpang tindih dengan suara lain.
Drain… dan Verendar.
“Aku bilang… jangan sentuh tuanku.”
Drain bergerak dengan kecepatan di luar nalar.
Satu langkah.
Satu ayunan.
ZRAAAK!
Pedang patah itu membelah udara—dan setelah satu detik hening…
Tubuh pemburu besar itu roboh.
Terbelah dari bahu ke pinggang.
Empat pemburu lain berteriak ketakutan dan melarikan diri.
Drain tidak mengejar.
Aura itu mereda perlahan, dan ia roboh ke lutut.
Pedang itu berbicara:
"Jangan memaksakan diri. Tubuhmu belum terbiasa menahan sebagian kekuatanku."
Drain terengah-engah. “Apa… apa itu tadi?”
"Itu hanya 1% dari kekuatan asliku."
Drain menatap pedangnya.
“Kalau 1% saja seperti itu… bagaimana kalau 100%?”
Pedang itu tertawa kecil, sangat pelan.
"Jika kau sampai bisa mengendalikannya… dunia akan berlutut atau terbakar."
Drain terdiam.
Lalu ia bertanya pelan:
“Verendar… apa yang sebenarnya kau inginkan dariku?”
"Aku ingin melihat bagaimana dunia akan berubah ketika seorang anak yang dibuang menjadi seseorang yang tidak bisa lagi dibuang."
Drain menatap jauh ke mulut gua.
Di luar, badai sudah reda.
Langit mulai memerah tanda subuh.
Perjalanan barunya baru saja dimulai.
________________________________________
Drain berdiri dengan sisa tenaga yang ada.
Ia menatap Verendar dan berkata:
“Aku tidak tahu apa yang menunggu kita di depan.”
"Baik."
“Aku tidak tahu apakah kekaisaran akan memburuku.”
"Mereka pasti akan."
“Aku tidak tahu apa aku bisa mengendalikan kekuatanmu.”
"Itu tugas kita bersama."
Drain menghela napas panjang.
“Tapi aku tahu satu hal… aku tidak akan hidup seperti dulu lagi.”
Suara Verendar menjadi tenang, hampir seperti suara guru yang sabar.
"Dan aku akan menemanimu… sampai kau menjadi seseorang yang bahkan takdir pun tidak bisa menolak."
Drain tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya, senyum itu terasa benar.
Ia melangkah keluar dari gua, menembus cahaya pagi.
Dan babak baru kehidupannya dimulai—
bukan sebagai pangeran buangan,
tetapi sebagai pemilik pedang yang menunggu seribu tahun.
