Kost - 3
Sore itu aku sedang asyik menyirami bunga di pekarangan rumah. Campuran air dan pupuk daun mengalir pelan dari gembor plastik biru kesayanganku. Harusnya ini momen damai. Angin sepoi-sepoi, matahari mulai turun, dan bunga-bungaku terlihat segar.
Sayangnya, kedamaian itu hanya bertahan sampai suara cempreng yang sudah sangat kukenal menyapa dari balik pagar.
“Neng Alda, mau kapan kita ke si Mbah?”
Aku mendesah dalam hati. ‘Ah, manusia ini datang lagi.’
Wanita itu berdiri dengan pose percaya diri, tangan bertolak pinggang. Usianya di atas lima puluh, wajahnya selalu tampak penuh keyakinan, seolah semua masalah dunia bisa diselesaikan dengan satu nomor kontak saja.
Bu Marni.
Tetangga jauhku. Pemilik toko kelontong besar. Suaminya punya dealer motor. Hidupnya mapan, sejahtera, dan entah kenapa sangat sibuk mengurusi rumah tangga orang lain, terutama rumah tanggaku.
“Mau kita yang ke sana atau si Mbah-nya aja yang disuruh ke sini? Tapi kalau mau ketemu di rumah ibu juga bisa. Malah itu jauh lebih baik. Gimana, Neng?” lanjutnya tanpa jeda.
Aku tetap menyiram bunga, pura-pura fokus.
“Gak tahu, Bu. Saya gak terlalu yakin,” jawabku setengah malas. Bahuku kuangkat sedikit, kode halus tapi semoga terbaca. Aku sedang tidak ingin ngobrol. Sama sekali.
“Neng Alda itu masih sangat muda, cantik, punya masa depan cerah juga,” katanya mulai dengan nada manis.
Aku sudah hafal polanya.
“Sayangnya suamimu terlalu nakal. Celakanya, Neng Alda sendiri malah terlalu takut sama suami!”
Nah. Itu dia. Pujian pembuka, lalu bantingan keras ke lantai.
Aku menghentikan siraman dan menoleh.
“Hmmm… suami saya bukan monster, Bu. Saya juga tidak pernah merasa takut sama dia. Kok ibu bisa menyimpulkan begitu?” tanyaku, berusaha tetap sopan.
“Maaf ya Neng, maksud ibu…” Bu Marni menggeser posisi berdirinya, lalu mendekat sedikit. Volume suaranya diturunkan.
“Kalau ibu pikir-pikir, Neng Alda itu terlalu mengalah. Ini nggak wajar. Pasti ada apa-apanya. Ibu yakin, Neng Alda itu diguna-guna pelakor. Mas Fathan itu banyak penggemarnya loh!”
Aku menggumam pelan. “Hemm…”
Dalam hati aku ingin tertawa. Aku sama sekali tidak percaya hal-hal klenik seperti itu. Sudah beberapa kali Bu Marni datang dengan misi yang sama. Menawarkan jasa guru spiritualnya yang katanya bisa menyelesaikan semua masalah keluarga. Tanpa masalah. Tapi bukan pegadaian.
“Bu,” kataku akhirnya, “sejak pertama saya kenal Mas Fathan, dia tidak pernah berubah. Hubungan kami baik-baik saja. Bahkan makin mesra akhir-akhir ini.”
Kebohongan yang cukup rapi. Padahal di lubuk hati terdalam, ada bagian diriku yang tahu Bu Marni tidak sepenuhnya ngawur.
Tapi aku lebih memilih berbohong daripada membuka rahasia dapur rumah tanggaku. Apalagi soal urusan ranjang. Itu wilayah sakral.
“Neng Alda gak usah munafik,” katanya tanpa basa-basi. “Ibu tahu rumah tangga kalian lagi nggak baik-baik saja. Ibu cuma ngingetin. Sebelum semuanya keburu hancur.”
“Terima kasih nasihatnya, Bu,” jawabku datar.
“Neng Alda nggak takut suaminya diambil pelakor?” lanjutnya tanpa ampun. “Mas Fathan itu muda, ganteng, punya masa depan cerah. Banyak gadis atau janda yang rela antre buat jadi selingkuhannya.”
“Maaf, Bu. Saya tidak berminat,” potongku cepat.
Raut wajah Bu Marni langsung mendung. Tapi itu tidak membuatku iba. Aku justru baru menyadari betapa absurd penampilannya sore itu. Kerudung krem bermotif bunga rapi menutup kepala, tapi tubuhnya dibungkus daster pendek tanpa lengan. Kontras yang… unik.
“Jadi gimana dengan si Mbah itu, Neng?” tanyanya lagi, pantang menyerah.
Aku menggeleng. Seperti biasa. Aku memang sering geleng-geleng kepala setiap ngobrol dengannya.
“Maaf ya Bu, saya mau masuk dulu. Belum masak. Takut keburu suami pulang,” kataku, lalu berbalik.
“Neng Alda, tunggu!”
Aku berhenti.
Sabar, Alda. Sabar.
“Ada apa lagi, Bu?” tanyaku, nada suaraku masih kutahan.
Bu Marni mendekat, bahkan menarik tanganku agar lebih dekat ke dinding.
“Si Mbah itu bukan cuma bisa ngobatin guna-guna. Dia juga bisa bikin suami nggak berpaling lagi. Dijamin, pelakornya secantik apa pun bakal luntur dalam hitungan menit!”
Aku menahan tawa.
“Oh ya? Serius, Bu?” tanyaku berpura-pura antusias.
Matanya langsung berbinar.
“Serius! Pasiennya sampai mancanegara!”
“Wah, pasti mahal dong, Bu. Dukun internasional soalnya,” kataku dengan wajah polos.
“Halah, apa sih yang mahal buat Neng Alda,” katanya terkekeh. “Dari gaji suami aja nggak bakal habis. Apalagi Mas Fathan kan jago bisnis juga.”
Aku nyengir kuda.
“Bisa lihat testimoni?”
Ia langsung berapi-api. Menyebut Bu Garin, Tante Ida, dan sederet kisah rumah tangga yang menurutnya spektakuler. Dari suami bandel, brondong, sampai cerita ranjang yang membuatku ingin menutup telinga.
“Hubungannya apa, Bu?” tanyaku akhirnya, nyaris kehabisan kesabaran.
“Intinya,” katanya mantap, “setelah ketemu Mbah Lontar, semuanya takluk.”
“Takluk?” aku mengernyit. “Kenapa suami harus takluk sama istri?”
“Biar nggak sembarangan di luar!” jawabnya penuh semangat.
Aku mengangguk pura-pura paham. Terakhir, ia menyebut angka. Dua puluh juta. Murah, katanya. Paten.
“Terima kasih, Bu,” kataku akhirnya, tegas. “Tapi saya tetap tidak tertarik.”
Aku berbalik dan melangkah pergi.
“Neng Alda, denger dulu—!”
Suara adzan Maghrib menggema, memotong ucapannya.
Aku tersenyum kecil. Akhirnya, ada juga yang menghentikan Bu Marni.
Waktu terus berlalu. Mas Fathan sama sekali tak berubah, masih dengan sikap dan kebiasaannya yang itu-itu saja. Anehnya, aku justru perlahan mampu melupakan kegelisahanku sendiri. Mungkin karena perhatianku terbagi. Ada Feby, malaikat kecilku, yang menyita hampir seluruh energiku. Ada juga para penghuni kost, yang meski jarang berada di rumah, sekali muncul selalu membawa suasana hangat dan ramah.
Namaku Alda Pusparani, nama yang diberikan orang tuaku dan selalu kugenggam dengan bangga. Di mata para penghuni kost, aku adalah “Bu Alda”, sosok ibu kost yang mereka hormati. Jovan, yang paling pendiam di antara mereka, selalu memanggilku begitu, dengan nada yang tenang dan penuh sopan santun.
Dalam keseharian, aku selalu mengenakan jilbab panjang. Kebiasaan itu sudah kulakukan sejak sekolah menengah. Bukan semata kewajiban, tapi juga bagian dari identitasku. Jilbab membuatku merasa aman, terlindungi, sekaligus menjaga jarak yang sehat antara diriku dan dunia luar.
Saat para penghuni kost sedang ada di rumah, sore hari menjadi waktu favorit. Kami biasa berkumpul di teras, duduk santai sambil mengobrol ringan. Suasananya sering terasa seperti keluarga kecil. Aku biasanya menyiapkan camilan sederhana, pisang goreng atau teh hangat, dan mereka datang satu per satu, membawa cerita dan energi masing-masing.
Rizwan dan Hendro, meski sering lelah sepulang dari kampus, selalu paling antusias membuka percakapan. Jovan biasanya ikut duduk, lebih banyak mendengarkan, sesekali menimpali dengan kalimat singkat.
Suatu sore yang cerah, angin berembus pelan, menggerakkan daun-daun di halaman. Rizwan datang lebih dulu. Rambutnya masih sedikit basah, aroma sabun segar tercium samar. Ia duduk di dekatku, tetap menjaga jarak, tapi terlihat lebih santai dari biasanya.
“Bu Alda, panas banget hari ini di kampus. Untung di sini adem,” katanya sambil tersenyum. “Apalagi kalau sore-sore begini ada camilan.”
Aku tersenyum menanggapi. “Panas itu biasa, Wan. Skripsimu gimana? Masih bab tiga?”
Ia menghela napas kecil, lalu tersenyum lagi. “Masih macet, Bu. Tapi ngobrol di sini tuh bikin kepala agak ringan.”
Tak lama kemudian Hendro menyusul. Ia datang dengan gaya khasnya, santai dan penuh percaya diri. Duduk di seberang kami, ia langsung ikut nimbrung.
“Wah, lengkap nih. Terima kasih ya, Bu Alda. Kostan ini selalu bikin betah,” katanya sambil tertawa ringan.
“Bisa aja kamu, Ndro,” balasku. “Skripsimu jangan ditinggal gara-gara kebanyakan nongkrong.”
Hendro terkekeh. “Tenang, Bu. Semua ada waktunya.”
Jovan sudah duduk sejak tadi di pojok teras, buku masih di tangannya. Ia mengangkat kepala dan berkata singkat, “Terima kasih camilannya, Bu Alda.”
Obrolan sore itu mengalir apa adanya. Tentang kampus, rencana setelah lulus, keluhan kecil, dan canda ringan. Rizwan dengan caranya yang ekspresif, Hendro dengan kepercayaan dirinya, dan Jovan yang tenang, ketiganya memberi warna berbeda dalam keseharianku. Kost ini terasa hidup, hangat, dan entah kenapa membuatku merasa ditemani.
Namun keadaan itu tak berlangsung lama.
Suatu hari, Rizwan dan Hendro datang menemuiku dengan raut wajah yang berbeda. Mereka berdiri di teras, sikapnya lebih serius dari biasanya.
“Bu Alda,” Rizwan membuka percakapan, suaranya lebih pelan. “Saya dan Hendro mau pamit. Kami pindah kost. Tempat magang kami jauh dari sini, jadi harus cari yang lebih dekat.”
Aku terdiam sejenak. Berita itu datang tiba-tiba, seperti hembusan angin yang menggeser sesuatu yang selama ini terasa mapan.
“Oh… begitu,” kataku akhirnya. “Ya, itu keputusan yang masuk akal. Kalian harus fokus sama magang dan masa depan.”
Meski tersenyum, ada rasa sepi yang menyelinap tanpa izin.
Rizwan melangkah sedikit mendekat. “Terima kasih banyak, Bu, selama ini. Ibu baik banget sama kami.”
Ia memelukku singkat, pelukan hangat yang terasa tulus dan penuh rasa hormat. Lalu ia melepaskannya dengan cepat, seolah tak ingin melampaui batas.
“Jaga diri ya, Bu,” ucapnya pelan.
Aku mengangguk, mencoba menahan perasaan yang tiba-tiba mengendap di dada. Sore itu terasa berbeda. Lebih sunyi, meski matahari masih bersinar sama terang seperti biasanya.
Aku terpaku sejenak, merasakan getaran aneh di dada, campuran antara kehilangan dan sesuatu yang lebih intim, perasaan yang selama ini kusimpan rapat tanpa pernah berani mengakuinya.
“Iya, Wan. Kamu juga hati-hati di sana. Jangan lupa makan yang benar,” balasku. Suaraku terdengar pelan, sedikit bergetar, meski aku berusaha tetap tersenyum.
Tak lama setelah Rizwan pergi, Hendro muncul dengan langkah tegap khasnya. Wajahnya yang sawo matang tampak lebih serius dari biasanya, meski ia tetap berusaha menyelipkan tawa kecil untuk mencairkan suasana.
“Bu Alda, Rizwan sudah bilang ya? Saya juga pamit. Besok mulai magang, jadi pindah ke kost yang lebih dekat,” katanya.
Ia berdiri di hadapanku, posturnya tegak, bahunya sedikit diregangkan seperti kebiasaannya. Kaosnya terangkat sedikit, memperlihatkan garis perutnya yang tegas, gestur yang terasa seperti salam perpisahan versi Hendro: genit, percaya diri, tapi tetap dalam batas yang sopan.
Aku mengangguk, mataku terasa hangat.
“Iya, Ndro. Selamat ya. Kost ini bakal kangen sama tawa kamu.”
Hendro tersenyum lebar. “Saya juga bakal kangen, Bu. Kost ini tanpa Bu Alda rasanya hambar. Kayak masakan kurang garam.”
Lalu, seperti Rizwan sebelumnya, ia memelukku. Pelukannya lebih erat, tangannya menyentuh punggungku dengan lembut. Tidak kasar, tidak tergesa, tapi cukup lama untuk membuat jantungku berdetak lebih cepat. Aroma tubuhnya yang hangat dan maskulin menyapu inderaku, membuat pikiranku kosong sesaat.
Ia mencium pipiku, sedikit lebih lama dari Rizwan, lalu berbisik, “Kalau butuh apa-apa, panggil saya ya, Bu.”
Aku mundur selangkah, menarik napas perlahan.
“Terima kasih, Ndro. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa mampir.”
Setelah mereka pergi, kost yang biasanya terasa hidup mendadak sunyi. Hanya Jovan yang tersisa, dengan sikapnya yang tenang dan pendiam. Kepergian Rizwan dan Hendro seperti menutup satu bab kecil yang hangat dalam hidupku, meninggalkan ruang kosong yang terasa nyata.
Malam itu, angin berembus pelan lewat jendela. Aroma tanah basah sisa hujan sore tadi masuk ke kamar. Dalam keheningan itu, pikiranku kembali pada pelukan dan ciuman perpisahan mereka. Ada rasa manis yang getir, kenangan singkat yang menempel di ingatan, menimbulkan gelombang perasaan yang sulit kuurai.
Sejujurnya, pelukan mereka adalah pelukan pertama dari lelaki selain suamiku. Sentuhan yang asing, namun menggugah sesuatu yang selama ini tertidur. Tubuhku bereaksi dengan cara yang tak pernah kualami sebelumnya, seperti ada panas halus yang merambat dari dalam, membuat napasku sedikit tercekat.
Aku dibesarkan sebagai perempuan kampung yang memegang batas dengan ketat. Sentuhan fisik selalu kupahami sebagai sesuatu yang sakral, hanya untuk suami setelah akad terucap. Bahkan dengan Mas Fathan, pelukan pertama kami baru terjadi setelah sah menjadi suami istri.
Kini, dua pelukan singkat itu telah membuka pintu kecil yang selama ini tertutup rapat.
Aku gelisah sepanjang malam. Berbaring di ranjang yang terasa lebih dingin dari biasanya, sementara putri kecilku tidur lelap di sampingku. Pikiranku berputar, menanyakan hal-hal yang tak ingin kujawab: apakah ini salah, atau hanya reaksi wajar dari hati yang terlalu lama sepi?
Keesokan harinya, aku menenggelamkan diri dalam rutinitas. Mengurus anakku, menyuapinya, menemaninya bermain, menyanyikan lagu-lagu sederhana seperti yang dulu dinyanyikan ibuku. Senyumnya menjadi jangkar yang menahanku agar tidak hanyut terlalu jauh.
Sejak itu, aku menjaga jarak dengan Jovan. Bukan karena ia berbuat apa-apa, justru karena sikapnya yang tenang dan tatapannya yang jernih membuatku takut. Aku khawatir perasaan yang sama akan muncul lagi, sementara aku belum siap menghadapi diriku sendiri.
Apalagi Mas Fathan semakin sering dinas luar, meninggalkan aku dan Feby di rumah yang terasa makin luas dan sunyi.
Dan di situlah aku mulai menyadari: hidupku perlahan berubah, bukan karena orang lain semata, tapi karena sesuatu di dalam diriku sendiri telah bergeser.
^*^
