Pustaka
Bahasa Indonesia

Birahi Liar Anak Kost

12.0K · Ongoing
Fajar Merona
9
Bab
197
View
9.0
Rating

Ringkasan

Di balik rumah yang tampak tenang, dua jiwa dewasa beradu dengan keinginan yang tak pernah mereka undang. Tatapan yang terlalu lama, kata-kata yang disimpan, dan masa lalu yang menuntut ditebus. Saat batas moral diuji, mereka harus memilih antara menjaga tatanan yang rapuh atau menyerah pada hasrat yang menjanjikan kebebasan sekaligus kehancuran.

RomansaIstriPerselingkuhanKampusKeluargaPernikahanMandiri

Kost - 1

Dor… Dor… Dor…

Suara itu bukan sekadar ketukan. Ia seperti peluru yang menghantam pintu, memantul ke dinding rumah, lalu meledak di dadaku.

Aku yang sedang tertawa kecil bersama bayiku langsung terlonjak. Mbak Ipat sampai menjatuhkan mainan di lantai. Bayiku terdiam, menatapku dengan mata membulat, seolah ikut merasakan gelombang panik yang tiba-tiba menguasai ruangan. Ketukan itu datang lagi, lebih kasar, lebih tak sabar. Tidak ada salam. Tidak ada jeda.

Aku berjalan ke pintu dengan langkah ragu, jantungku berdegup seperti ingin kabur dari tubuhku sendiri.

Saat pintu terbuka, Sinta berdiri di sana.

Rambutnya sedikit berantakan, riasannya tebal seperti dipasang tergesa, maskara di bawah matanya tampak luntur. Napasnya memburu, dadanya naik turun, dan tatapannya kosong namun tajam, seperti seseorang yang baru saja melihat sesuatu yang seharusnya tidak boleh dilihat manusia biasa. Aura tomboynya masih ada, tapi kini dibungkus ketegangan yang asing.

“Alda,” katanya cepat. “Kamu harus ikut aku sekarang.”

Aku bahkan belum sempat bertanya sebelum ia menyela, suaranya bergetar tapi tegas. “Antar aku ke suatu tempat. Pokoknya ikut. Kamu wajib jadi saksi.”

Saksi?

Kata itu jatuh berat di telingaku, seperti palu yang menghantam sesuatu yang rapuh di dalam kepalaku.

“Ada apa, Sin?” tanyaku, nyaris berbisik.

Ia menggeleng keras. “Nanti. Di jalan.”

Ada sesuatu di wajahnya yang membuatku tak sanggup menolak. Bukan permintaan, tapi desakan yang terasa seperti peringatan. Dengan tangan gemetar aku berpamitan pada Mbak Ipat, meninggalkan bayiku yang kembali merengek pelan. Rasa bersalah menempel di kulitku, tapi rasa takut menancap lebih dalam.

Kami berangkat berdua. Sinta menyetir dengan kecepatan yang tak biasa, jari-jarinya mencengkeram kemudi seperti ingin meremukkannya. Lampu-lampu jalan meluncur cepat di kaca mobil, berubah menjadi garis-garis cahaya yang kabur. Tak ada musik. Tak ada obrolan. Hanya suara mesin dan detak jantungku sendiri.

Firasat buruk merayap perlahan, dingin, licin, lalu menetap di tengkukku.

Aku mencuri pandang ke arah Sinta. Rahangnya mengeras, matanya lurus menatap jalan, namun ada kilau basah yang ia sembunyikan dengan paksa. Di kepalaku, pikiran paling menakutkan muncul tanpa diundang.

‘Jangan-jangan ini tentang perselingkuhan suamiku?’

Belakangan ini, bisik-bisik itu memang sering terdengar, samar tapi konsisten. Mas Fathan, suamiku. Hendrik, suaminya Sinta, teman kerja suamiku. Rantai yang terlalu rapi untuk kebetulan. Aku hanya ibu rumah tangga, sementara mereka hidup di dunia kantor yang penuh rahasia dan pintu tertutup.

Mobil berbelok ke arah yang tidak kukenal.

Dan saat itulah aku sadar, apa pun yang akan kutemui nanti, hidupku tak akan kembali ke bentuk semula.

Lamunaku terhenti begitu mobil berhenti di depan sebuah rumah.

Lampu hias berkelip, tenda putih menjulur sampai jalan, kursi-kursi penuh tamu, dan suara musik dangdut bercampur tawa. Sebuah resepsi pernikahan yang tampak normal, terlalu normal untuk firasat yang sejak tadi menggerogoti dadaku. Tanganku dingin, kakiku gemetar.

“Itu dia,” gumamku pelan, nyaris tak terdengar. Di kepalaku, wajah Mas Fathan sudah berdiri di pelaminan, tersenyum bersama perempuan lain. Dadaku runtuh sebelum kenyataan benar-benar terlihat.

Sinta sudah lebih dulu membuka pintu mobil. “Turun, Da.”

Begitu pintu mobil dibanting, aku tahu Sinta tidak datang untuk bicara.

Ia datang untuk menghancurkan.

Langkahnya panjang dan cepat, seolah lantai paving di bawah kakinya adalah musuh. Aku hampir terseret saat ia menarik tanganku, menerobos tamu-tamu yang sedang tersenyum, tertawa, dan sibuk mengunyah kebahagiaan orang lain.

“Hei, Mbak—!”

“Permisi—!”

Tak satu pun ia gubris.

Dan saat kami tepat di depan pelaminan itu, Sinta berhenti mendadak.

Aku mendongak.

Hendrik.

Duduk tegak di kursi pengantin, bersanding dengan perempuan berbaju kebaya putih. Senyumnya masih ada… sampai ia melihat Sinta. Wajah ganteng dan pendiam itu seketika runtuh. Warna mukanya hilang, seperti darahnya ditarik paksa dari tubuhnya sendiri.

Sinta naik ke pelaminan tanpa izin.

Tanpa salam.

Tanpa basa-basi.

Tangannya menghantam meja kecil di depan Hendrik dengan suara keras.

BRAK.

“BANGSAT LU HENDRIK,” katanya lantang.

Musik berhenti. MC membeku. Puluhan pasang mata langsung tertancap ke arah kami.

“Lu nikah?” teriak Sinta. “LU NIKAH LAGI DI SINI?”

Hendrik berdiri setengah, gagap. “Sin, dengerin aku dulu—”

“DIAM LU!” bentak Sinta. “GUE BELUM SELSAI NGOMONG!”

Ia menunjuk wajah Hendrik dari jarak dekat, jari telunjuknya hampir menyentuh hidungnya.

“Gue istri sah lu, anjing. Buku nikah ada. Nama gue masih nempel di hidup lu. Dan sekarang lu duduk di sini kayak laki-laki terhormat?”

Pengantin perempuan itu mulai menangis. Tangisnya pecah, panik, bingung. “Saya nggak tahu… saya sumpah nggak tahu—”

Sinta menoleh cepat.

“Lu diem,” katanya kasar, tapi tidak pada orang yang salah. “Ini urusan gue sama lelaki sampah ini.”

Ia kembali ke Hendrik.

“Setahun gue nikahin lu,” lanjutnya, suaranya bergetar tapi keras. “Setahun gue kasih lu hidup, nama, muka di depan orang. Dan balasannya? Lu Nikah di belakang gue?”

Hendrik menunduk. Diam. Pendiamnya yang biasa kini menjelma pengecut telanjang.

“JAWAB PENGECUT!” teriak Sinta.

Keributan mulai meledak. Kursi tersenggol. Orang-orang berdiri. Ada yang panik, ada yang merekam, ada yang berteriak minta dihentikan.

Aku naik ke pelaminan, berdiri di belakang Sinta, siap menahan kalau tangannya melayang.

“Lu ngerasa kecil sama gue?” Sinta tertawa sinis. “Harusnya bilang. Ngerasa kalah? Harusnya jujur. BUKAN MALAH NIKAH LAGI KAYAK TIKUS, BANGSAT!”

Tangannya mendorong dada Hendrik keras. Hendrik terhuyung satu langkah ke belakang.

Dan itulah momen ketika ia memilih kabur.

Tanpa kata. Tanpa penjelasan.

Hendrik turun dari pelaminan, menyelinap di antara tamu, mendorong bahu orang, menghilang seperti bayangan pengecut yang sadar dirinya sudah telanjang di depan semua orang.

“HENDRIIIK!” Sinta berteriak.

Tak ada jawaban.

Yang tersisa hanya kursi kosong di pelaminan dan tangisan pengantin perempuan yang kini terduduk lemas, riasannya luntur, kebahagiaannya ambruk dalam hitungan menit.

Sinta berdiri kaku.

Beberapa detik.

Lalu tubuhnya gemetar hebat.

Aku memeluknya dari belakang saat lututnya melemah. Tangannya mengepal, kukunya menekan telapak sendiri sampai memerah.

Di sekeliling kami, pesta pernikahan berubah jadi reruntuhan. Tidak ada musik. Tidak ada tawa. Hanya suara tangis, teriakan, dan bisik-bisik yang berhamburan seperti pecahan kaca.

Dan di tengah kekacauan itu, aku tahu satu hal: Sinta tidak kehilangan suami hari itu. Tapi ia kehilangan kepercayaannya pada manusia yang ia pertahankan mati-matian.

Sinta menyeretku kembali ke mobil.

Tanpa kata. Tanpa menoleh. Mesin menyala dengan raungan kasar, lalu mobil melesat seperti panah yang dilepaskan dalam kemarahan. Aku refleks berpegangan pada dashboard ketika kerumunan tamu di depan hampir tersapu. Teriakan orang-orang tertinggal di belakang, menyatu dengan degup jantungku yang rasanya meloncat sampai ke tenggorokan.

“Sin… pelan… Sin!” suaraku pecah.

Nyawaku terasa seperti dititipkan di telapak kaki kanan Sinta yang menekan pedal gas tanpa ampun.

Untungnya, entah dari mana kesadaran itu muncul, Sinta membanting setir ke kiri. Mobil menerobos jalan tanah dan berhenti di sebuah lapangan kosong yang rumputnya tinggi, liar, dan tak terawat. Debu beterbangan, mesin masih menyala, lalu… semuanya senyap.

Detik berikutnya, Sinta roboh di balik kemudi.

Tangisnya pecah begitu saja, mentah, tanpa rem, tanpa malu. Suara yang keluar dari mulutnya bukan lagi tangisan orang dewasa, tapi seperti jeritan sesuatu yang hancur dari dalam. Bahunya terguncang hebat, napasnya tersendat, tangannya mencengkeram setir seolah itu satu-satunya benda yang bisa menahannya tetap hidup.

Aku terdiam.

Aku tak pernah melihat Sinta seperti ini.

Sejak ospek dulu, saat ia berdiri paling depan melawan senior. Saat kuliah, ketika ia tertawa paling keras dan paling kebal terhadap patah hati. Enam tahun persahabatan, dan ini pertama kalinya aku melihat Sinta menangis… selemah ini.

Aku tidak langsung memeluknya. Aku biarkan. Karena ada luka yang tidak bisa disentuh sebelum selesai berdarah.

Tangisnya turun naik, kadang berubah menjadi isak tertahan, kadang meledak lagi seperti gelombang yang tak mau surut. Aku hanya duduk di sampingnya, meletakkan tangan di pahanya, diam-diam ikut merasakan perih yang menular lewat udara.

Sinta selalu mengejar Hendrik.

Suaminya memang ganteng, pendiam, tipe yang bikin banyak perempuan jatuh diam-diam. Sinta yang mendekat, Sinta yang berjuang, Sinta yang membuktikan cinta dengan tindakan. Bahkan mobil yang tadi hampir merenggut nyawaku itu… Sinta yang membelikannya. Semua demi Hendrik.

Dan setelah setahun menikah, balasannya adalah pelaminan lain. Perempuan lain. Kebohongan yang dirapikan dengan senyum.

“Aku bodoh ya, Da?” Sinta akhirnya bicara, suaranya parau, matanya merah, wajahnya basah. “Aku pikir kalau aku cukup kuat, cukup ngasih segalanya… dia bakal cukup sama aku.”

Kalimat itu jatuh perlahan, tapi beratnya seperti batu.

Aku menoleh, lalu memeluknya erat. Kali ini aku tak menahan diri. “Kamu bukan bodoh,” kataku pelan. “Kamu cuma percaya sama orang yang salah.”

Di luar, angin menggerakkan rumput liar. Langit mulai meredup. Dan di lapangan kosong itu, dua perempuan duduk dalam mobil yang diam, satu menangisi pengkhianatan, satunya lagi menjaga agar dunia sahabatnya tidak runtuh sepenuhnya.

Untuk pertama kalinya, Sinta tidak tampak seperti lelaki saat marah.

Ia hanya tampak seperti perempuan yang hatinya remuk.

Setelah tangisnya mereda dan napasnya kembali menemukan irama, Sinta menyalakan mobil lagi.

Kali ini lajunya lebih terkendali, meski kemarahan masih menggantung di udara seperti asap tipis yang enggan pergi. Aku memilih diam. Aku tahu benar wataknya. Dalam keadaan seperti ini, kata-kata hanya akan berubah jadi percikan api, dan aku tak ingin menjadi pemantiknya.

Seperti ucapannya sejak awal, aku memang hanya saksi.

Saksi hidup yang bisu.

Kami menyusuri jalan pulang tanpa percakapan. Lampu-lampu kota menyala satu per satu, memantul di kaca mobil, lalu menghilang di belakang. Aku tahu, cepat atau lambat, Sinta akan datang lagi. Membawa cerita. Membawa serpihan hatinya yang tersisa. Tapi bukan malam ini.

Mobil berhenti di depan rumahku.

Aku turun perlahan. Sebelum pintu tertutup, Sinta memanggil namaku. Suaranya sudah lebih tenang, tapi justru itu yang membuat kalimat berikutnya terasa lebih tajam.

“Da,” katanya sambil menatap lurus ke depan, bukan ke arahku.

“Awasi suamimu. Hendrik yang pendiam aja bisa bertingkah kalau dikasih kelebihan. Fathan suamimu punya segalanya… jangan sampai dia lebih gila dari si Hendrik brengsek itu.”

Kalimat itu menempel di kepalaku seperti duri.

Aku hanya mengangguk, lalu menutup pintu.

Di dalam rumah, suasana sunyi. Mbak Ipat sudah pulang. Anakku tidur pulas, napasnya teratur, wajahnya damai seperti dunia tidak pernah berkhianat pada siapa pun. Aku berdiri lama di ambang pintu kamar, menatapnya, dada terasa penuh oleh sesuatu yang tak bisa kuberi nama.

Aku duduk di tepi ranjang, tanganku menggenggam ujung selimut.

Pesta yang kacau. Tangis Sinta. Wajah Hendrik yang kabur. Dan kalimat terakhir itu.

Aku tertegun.

Sinta saja bisa dibodohi.

Sinta yang tomboy, kaya raya, cerdas, berani, yang suaranya tak pernah gemetar saat menantang dunia. Sinta yang mengejar, berjuang, dan memberi segalanya. Namun malam ini, ia hancur, menangis tanpa sisa, tak berdaya di balik kemudi mobil yang ia beli dengan tangannya sendiri.

Jika perempuan sekuat itu bisa dijatuhkan sedalam ini, lalu aku siapa?

Aku hanya perempuan kampung. Tidak punya kuasa, tidak punya harta, tidak punya dunia sendiri selain rumah, dapur, dan anak yang tidur di hadapanku. Aku dipersunting Mas Fathan, laki-laki dari kalangan berada, yang hidupnya penuh pintu tertutup dan percakapan yang tak pernah benar-benar kumasuki.

Apa dayaku…

jika suatu hari aku berdiri di pelaminan yang salah seperti Sinta?

Aku membayangkan diriku menjerit, tapi tak ada suara. Membayangkan diriku marah, tapi tak punya taring. Bahkan untuk pergi pun aku tak tahu harus ke mana.

Aku menarik napas panjang, menekan dada yang terasa sesak.

^*^

Pagi-pagi teleponku bergetar. Sinta. Tak ada basa-basi. Suaranya datar dan keras. “Hendrik sudah gue ceraikan. Gue miskinkan juga. Titik.”

Aku terdiam. Bukan kaget, tapi karena ketegasan itu. Sinta yang semalam hancur, pagi ini berdiri lagi. Mungkin retak, tapi tegak.

“Oke,” jawabku dan telepon ditutup.

Hidup di rumah berjalan biasa, tapi ada yang bergeser di dalam diriku. Sinta memilih melawan. Memutuskan. Tidak mau lama-lama menjadi korban.

Pertanyaan lama muncul lagi, ‘Jika giliranku tiba, aku akan memilih jadi siapa? Jika suamiku menikah lagi, aku bisa apa dan punya apa?’

Malamnya aku bercerita pada Mas Fathan. Ia mendengarkan, lalu tertawa kecil.

“Wajar. Sinta terlalu dominan.”

Katanya, di rumah laki-laki harus jadi kepala. Kalau istri terlalu maju, harga diri suami runtuh. Hendrik, menurutnya, hanya mencari pengakuan.

Aku diam. Aku tahu Hendrik punya pilihan. Yang tak ia punya hanyalah kejujuran.

Mas Fathan menutup dengan kalimat pasti, “Kalau peran ketukar, rumah tangga hancur, makanya aku gak mau kamu bekerja.”

Aku mengangguk. Istri yang tidak membantah. Tapi di dalam, ada pondasi yang bergeser pelan.

Karena ia tak sedang bicara tentang Sinta. Ia sedang menjelaskan keyakinannya sendiri, jika istri bekerja maka rumah tangga akan berantakan.

Dan di dapur yang sunyi, aku bertanya dalam hati, ‘Apakah dia tidak mau punya istri dominan agar bebas selingkih dan aku istrinya tak berdaya melawan? Selemah itukah posisiku?

^*^