Kost - 4
Hari-hari berlalu seperti kabut pagi yang perlahan menipis, tapi kegelisahan itu tak pernah benar-benar pergi. Mas Fathan pulang sesekali, membawa wajah lelah dan cerita pekerjaan yang terdengar sama dari waktu ke waktu. Pelukannya masih ada, tapi terasa mekanis, seperti kewajiban yang dijalani tanpa rasa. Api yang dulu hangat kini tinggal bara.
Aku mulai merasakan kesepian yang tak bisa kutepis dengan doa atau rutinitas. Rumah ini tetap ramai oleh suara langkah dan tawa putriku, tapi di sudut lain hatiku seperti ruang kosong yang tak terisi. Tanpa kusadari, pikiranku sering singgah pada Jovan. Pemuda pendiam itu, yang jarang bicara, selalu tepat waktu membayar sewa, dan kerap tersenyum kecil saat melihat putriku berlarian di teras.
Suatu sore, hujan turun deras, memukul atap kost tanpa ampun. Aku bertemu Jovan di dapur bersama. Ia sedang membuat kopi, sementara aku mencari air panas untuk susu putriku. Aroma kopi hitam memenuhi ruangan sempit itu, menciptakan suasana yang anehnya terasa lebih dekat dari seharusnya.
“Bu Alda, hujannya deras ya. Putri Ibu nggak kedinginan?” tanyanya pelan.
Aku mengangguk, berusaha terdengar biasa saja. “Enggak. Dia lagi tidur siang. Kamu sendiri gimana kuliahnya?”
“Lumayan,” jawabnya singkat. Lalu, setelah jeda yang terasa lebih panjang dari yang seharusnya, ia menambahkan, “Sejak Bang Rizwan dan Bang Hendro pindah, kost ini jadi sepi. Ibu… nggak kesepian?”
Pertanyaan itu menghantam tepat ke bagian hatiku yang paling rapuh. Aku tersenyum kecil, senyum yang lebih berfungsi sebagai tameng.
“Ada anakku,” jawabku singkat.
Tapi aku tahu, jawaban itu tak sepenuhnya jujur.
Sejak sore itu, kegelisahan justru bertambah. Malam-malamku dipenuhi mimpi yang membingungkan, bayangan pelukan yang bercampur dan wajah-wajah yang berganti. Aku sering terbangun dengan napas tak beraturan, tubuh basah oleh keringat, lalu memeluk diriku sendiri, mencoba menenangkan hati yang gelisah.
Aku memilih menjauh. Menghindari percakapan panjang dengan Jovan, membatasi diri hanya pada urusan kost. Perlahan, kenangan tentang Rizwan dan Hendro mulai pudar, seperti debu yang disapu dari sudut gelap. Aku menyibukkan diri, membersihkan rumah, mencuci pakaian putriku, memasak, mengulang rutinitas agar pikiranku tak punya ruang untuk berkelana.
Setiap kali ingatan lama muncul, aku menekannya dengan doa, mengingatkan diri bahwa aku adalah istri dan ibu. Bahwa aku harus kuat.
Namun hidup rupanya tak pernah menunggu kesiapan seseorang.
Suatu malam, angin dingin menyusup lewat celah jendela. Rumah terasa sunyi, terlalu sunyi. Saat itulah ponselku berdering, memecah keheningan seperti alarm bahaya. Nomor tak dikenal. Jam dinding menunjukkan pukul dua dini hari.
Tanganku gemetar saat mengangkatnya.
“Selamat malam, Bu. Ini dari Polsek Kota. Apakah benar ini Ibu Alda Pusparani, istri dari Bapak Fathan?”
“Iya… saya,” jawabku nyaris berbisik.
“Mohon maaf mengganggu. Suami Ibu terjaring operasi penyakit masyarakat malam ini. Beliau diamankan di sebuah hotel di pusat kota bersama seorang wanita. Kami memerlukan kehadiran Ibu untuk keperluan administrasi.”
Dunia seolah runtuh tanpa suara. Tubuhku kehilangan tenaga, membuatku terduduk di sofa. Napasku tersengal, dada terasa sesak seperti dihimpit beban tak kasatmata.
Marah, sedih, malu, dan hancur bercampur menjadi satu. Semua kecurigaan yang selama ini kutepis, semua kegelisahan yang kupendam, kini berdiri telanjang di hadapanku.
Mas Fathan, lelaki yang kubela mati-matian di hadapan orang lain, ternyata menyimpan pengkhianatan yang jauh lebih nyata dari sekadar rasa sepi.
Dan malam itu, aku sadar: badai yang selama ini kutakuti akhirnya benar-benar tiba.
Hampir setengah jam aku duduk di sana, di ruang tamu yang terasa asing di rumahku sendiri. Air mata mengalir deras tanpa bisa kutahan, seperti sungai yang meluap setelah hujan panjang. Dadaku sesak, napasku naik turun tak beraturan. Berkali-kali aku mencoba menarik napas dalam-dalam, menenangkan diri, mengumpulkan serpihan kekuatan yang tersisa, sebelum memenuhi permintaan polisi untuk datang ke kantor mereka.
Di kamar, putri kecilku masih terlelap. Wajahnya begitu polos, begitu damai, seperti malaikat kecil yang sama sekali tak tahu bahwa dunia ibunya sedang runtuh berkeping-keping. Aku memandangnya lama, seolah ingin menyimpan ketenangan itu di dadaku.
‘Jovan…’
Nama itu tiba-tiba muncul di kepalaku, seperti satu-satunya cahaya di lorong gelap. Satu-satunya orang yang mungkin bisa kumintai tolong di jam segila ini.
Dengan mata sembab dan pipi basah oleh air mata, aku melangkah pelan ke kamar kost paling ujung. Tanganku gemetar saat mengetuk pintunya.
“Jovan… Jovan…”
Aku mengetuk lagi. Dan lagi. Waktu terasa berjalan lambat, hampir lima menit rasanya aku berdiri di sana, putus asa, sampai akhirnya pintu terbuka perlahan.
Wajah Jovan terlihat sayu, matanya merah karena terbangun mendadak. Rambutnya acak-acakan, kaosnya kusut. Tapi tatapannya tetap tenang, seperti danau yang tidak bergelombang meski dilempari batu.
“Bu Alda?” suaranya serak karena mengantuk. “Kenapa, Bu?”
“Jo… kamu bisa tolong ibu?” suaraku pecah, nyaris tak terdengar.
Sekejap wajahnya berubah. Kantuk langsung sirna. “Ada apa, Bu? Kenapa Ibu nangis begini?”
“Kamu bisa nyetir, kan?” Aku terisak. “Tolong anterin ibu sekarang. Suami ibu… dia ditangkap polisi. Ibu harus ke sana.”
Jovan terdiam sesaat, jelas terkejut. Tapi ia cepat menguasai diri.
“Iya, Bu. Bisa. Tunggu sebentar ya, Bu. Saya siap-siap.”
Aku mengangguk, lalu kembali ke kamar. Aku mengangkat putriku dari ranjang, memeluk tubuh kecilnya erat-erat. Kehangatan itu justru membuat air mataku kembali tumpah.
Kami berangkat tanpa banyak kata. Jalanan dini hari lengang dan gelap. Lampu-lampu jalan menyala redup seperti saksi bisu kehancuranku. Aku menangis sepanjang jalan, sementara Jovan fokus menyetir, rahangnya mengeras, tangannya mantap di kemudi.
Tak lama kemudian kami tiba di kantor polisi. Bangunan tua, dingin, dengan cahaya neon yang membuat suasana terasa semakin suram.
Seorang petugas menyambut kami. “Ibu Alda?”
Aku mengangguk.
“Silakan masuk.”
Kami dibawa ke sebuah ruangan kecil. Bau kopi basi dan kertas tua menusuk hidung. Aku duduk di kursi keras, Jovan di sampingku, masih menggendong putriku yang tertidur.
“Nama lengkap?” tanya petugas.
“Alda Pusparani.”
“Ini siapa, Bu?”
“Adik saya,” jawabku cepat. Jovan mengangguk sopan.
Petugas itu mulai menjelaskan dengan suara datar, seolah sedang membaca laporan biasa. Setiap kata terasa seperti pisau yang mengiris pelan-pelan.
“Suami Ibu kami tangkap di Hotel Melati Indah, kamar 203. Bersama seorang wanita bernama Nia. Saat kami masuk, mereka sedang dalam kondisi intim.”
Aku terisak keras. Dadaku seperti dihantam benda berat.
“Kenapa dia lakukan ini, Pak?” suaraku gemetar. “Kami punya anak kecil…”
Petugas hanya menghela napas. “Ibu bisa bicara langsung dengan suami Ibu.”
Aku mengangguk lemah.
Kami dibawa ke ruangan lain. Bau keringat dan amis menusuk. Beberapa pria duduk lesu. Di sudut ruangan itu, aku melihat Mas Fathan. Membungkuk. Wajahnya tertutup tangan.
Aku menyerahkan putriku pada Jovan. Tangannya sedikit gemetar saat menerima, tapi pelukannya tetap aman.
Mas Fathan menoleh. Matanya bertemu mataku sesaat, lalu ia menunduk lagi.
Aku melangkah mendekat.
“Mas…” suaraku pecah. “Kamu tega? Ini anak kita!”
Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah. “Alda… maafin aku…”
PLAK!
Tamparanku mendarat keras. Suara itu menggema di ruangan.
“Maaf?” jeritku. “Kamu hancurkan keluarga kita!”
“Aku khilaf…” suaranya lirih.
“Janji kamu sudah hancur!” teriakku.
Polwan mencoba menenangkanku, tapi amarahku sudah membutakan segalanya.
“Mana perempuannya?”
Polwan menunjuk seorang wanita di sudut ruangan. Rambut panjangnya menutupi wajah.
Aku mendekat. Wanita itu mengangkat wajahnya. Ketakutan.
“Aku nggak tahu dia sudah beristri…” katanya sambil menangis.
PLAK!
Tamparanku kembali mendarat.
Polwan segera menarikku. “Bu, cukup!”
Aku terisak, tubuhku lemas.
“Kita pulang, Jo,” kataku lirih.
Perjalanan pulang terasa seperti mimpi buruk. Jovan tetap diam, hanya sesekali melirik ke arahku lewat kaca spion.
Sesampainya di rumah, aku nyaris roboh.
“Makasih, Jo…” suaraku hampir habis.
“Sama-sama, Bu. Ibu istirahat.”
Malam itu aku menangis sampai fajar. Mengingat semua kenangan yang kini terasa seperti dusta. Pernikahan. Janji. Tawa anak kami.
Dan di tengah tangis itu, satu hal yang paling menyakitkan adalah kesadaran ini:
Aku tidak lagi tahu siapa diriku setelah malam ini.
^*^
Pagi itu, matahari tetap terbit seperti biasa, tapi cahayanya sama sekali tak mampu menembus kegelapan jiwaku yang pekat. Aku terbangun dengan mata bengkak seperti lebam, perih dan berat, tubuhku lemas seperti mayat hidup yang dipaksa bangkit dan bergerak. Kepalaku pening, dadaku sesak, sisa tangis semalam masih menggantung di tenggorokan.
Putri kecilku ikut terbangun. Ia tersenyum polos, matanya berbinar cerah, seolah pagi ini adalah hari yang indah dan utuh. Ia sama sekali tak tahu bahwa badai besar telah menerjang keluarganya semalam, merobohkan semua yang kukira kokoh.
Di ambang pintu, Jovan berdiri. Kehadirannya nyaris tak bersuara, seperti seseorang yang tahu kapan harus masuk tanpa membuat gaduh. Siluet tubuhnya yang atletis tampak jelas diterpa cahaya pagi yang samar menyusup lewat jendela. Wajahnya yang tampan dengan rahang tegas itu kini dipenuhi tatapan penuh simpati, hangat, seolah ia bisa merasakan setiap retakan di hatiku yang hancur berantakan.
“Bu, kalau perlu apa-apa, saya siap membantu,” katanya pelan tapi mantap.
Kata-katanya terasa seperti tempat berlabuh di tengah lautan amarah yang masih bergolak di dalam dadaku. Ombak-ombak emosi itu belum juga reda, masih siap menenggelamkanku kapan saja.
Aku terdiam sejenak. Air mata yang belum benar-benar kering membuat pandanganku kabur. Tapi berdirinya Jovan di sana memberi rasa aman yang tak bisa kujelaskan. Seperti udara segar di tengah neraka yang baru saja kulalui.
“Jovan…” suaraku bergetar. “Maaf ya, ibu mau minta tolong lagi, bisa?”
“Bisa kok, Bu,” jawabnya cepat. “Lagian ini hari Minggu, nggak ada kuliah.”
Senyum tipis muncul di wajahnya. Hangat, sederhana, seperti sinar matahari pertama setelah malam panjang yang penuh badai.
“Ibu mau pulang ke rumah orang tua ibu,” kataku lirih. “Kamu bisa anterin? Nanti pulangnya, mobilnya kamu bawa lagi ke sini.”
Aku memeluk putri kecilku erat-erat. Wajah polosnya menjadi satu-satunya cahaya yang tersisa di dalam gelapnya jiwaku.
“Bisa, Bu. Saya siap anterin ke mana aja,” jawabnya tanpa ragu. Tatapannya lurus, penuh empati, seolah ia bisa melihat luka-luka yang tak kasat mata di dadaku.
“Tapi… kok mobilnya nggak ditinggal aja di sana, Bu?” tanyanya kemudian, alisnya sedikit berkerut.
Aku menarik napas panjang. “Kamu kan sudah tahu permasalahan ibu…” suaraku serak. “Siapa tahu suami ibu berniat ambil mobil itu. Lebih baik mobilnya tetap di sini. Walaupun sebenarnya mobil itu hadiah dari orang tua ibu.”
Kata-kata itu keluar berat, seperti pengakuan yang kembali membuka luka. Bayangan pengkhianatan itu datang lagi, menyesakkan.
“Iya, Bu. Kalau gitu saya siap-siap dulu,” jawab Jovan singkat. Ia tak bertanya lebih jauh, menghormati batas yang rapuh.
Sekitar lima belas menit kemudian, Jovan dengan cekatan membantu memasukkan tas-tas ke bagasi. Pakaian milikku, pakaian putri kecilku. Tangannya yang kuat mengangkat semuanya dengan mudah. Aku hanya berdiri, menggendong anakku yang mulai rewel, tubuhku terlalu lelah untuk ikut membantu.
Setiap gerakan terasa berat, seolah ada gunung yang menekan tubuhku. Aku memandang Jovan dengan perasaan campur aduk. Syukur yang dalam, bercampur pilu yang tak terucap. Di saat seperti ini, kebaikannya terasa seperti satu-satunya benang penyelamat.
Perjalanan terasa panjang. Beberapa kali aku tertidur karena kelelahan, tubuhku ambruk ke kursi seperti boneka rusak. Mimpi-mimpi buruk menyelinap masuk, wajah suamiku, ruangan kantor polisi, tamparan, jeritan. Aku terbangun dengan napas tersengal.
Jovan memakluminya. Tangannya tetap mantap di kemudi, matanya fokus ke jalan, tapi sesekali melirik ke arahku dengan cemas. Tangisan kecil putriku dan pertanyaannya soal rute jalan membuatku tetap setengah sadar.
“Ibu pulang kampung sampai kapan, Bu?” tanyanya pelan.
“Belum tahu, Jo,” jawabku lemah. “Ibu mau istirahat. Menenangkan diri dulu.”
Air mata kembali menggenang. Rumah tanggaku runtuh seperti istana pasir yang disapu ombak.
Jovan hanya mengangguk. Diamnya terasa seperti dukungan yang tak perlu kata.
Hampir dua jam kemudian, kami tiba di kampung halamanku. Dusun kecil di selatan kota kabupaten. Sepi, tenang, rumah-rumah berjauhan, tersembunyi di balik pepohonan. Udara pedesaan terasa segar, tapi bagi hatiku yang luka, semua itu justru membawa aroma kesedihan lama.
Sesampai di rumah aku ceritakan semua sambil menangis, setalah itu Jovan kembali dengan membawa mobilku.
^*^
