Kost - 2
Seharusnya aku tidak perlu cemas, seharusnya aku merasa beruntung karena walau secara ekonomi kehidupanku jauh berbeda dengan Sinta, namun setidaknya saat ini hidupku terasa lebih sempurna. Punya suami dan juga anak walau hanya sebagai ibu rumah tangga biasa.
Setelah lulus kuliah, aku menikah dengan Mas Fathan, lelaki yang hampir setahun menemaniku dalam pacaran. Kebahagiaanku sebagai perempuan terasa lengkap saat Feby lahir, putri kecil kami yang lahir tak lama setelah kami membangun rumah tangga.
Sejak saat itu aku merasa masa depanku terang. Di mataku, Mas Fathan adalah suami idaman. Bertanggung jawab, perhatian, dan penyayang. Sosok kepala keluarga yang nyaris tanpa cela.
Impian menjadi wanita karier perlahan kulepas setelah Feby lahir. Sebagai gantinya, Mas Fathan membangun rumah kost di samping rumah kami. Pekarangan yang dulu penuh semak berubah menjadi bangunan sederhana dengan lima kamar, semuanya terisi mahasiswa dari berbagai kampus.
Rumah kami memang agak jauh dari pusat kota, tapi lingkungan yang tenang justru menjadi daya tarik. Kost itu tak pernah sepi penghuni.
Namun tak ada hidup yang benar-benar tanpa retak. Belakangan ini, kegelisahan mulai tumbuh dalam diriku. Terutama soal gosip perselingkuhannya dan kehidupan kami di atas ranjang. Dulu semuanya terasa seimbang. Kami saling memberi dan menerima. Tapi perlahan, seiring usia pernikahan dan beban pekerjaan Mas Fathan, berubah.
Ia mulai tampak lelah. Malas. Bahkan acuh. Aku yang masih memiliki gairah, harus sering menelan kecewa. Tak jarang aku menahan perasaan itu berminggu-minggu. Aku mulai merasa menjadi istri yang terabaikan. Hubungan intim kami terasa singkat dan hambar. Setelah itu, ia tidur pulas, seakan tak peduli bagaimana perasaanku.
Aku sering bertanya dalam hati. Apakah ia punya perempuan lain? Atau aku yang sudah tak menarik lagi setelah melahirkan?
Sering aku berdiri lama di depan cermin. Menilai diriku sendiri. Tubuhku memang tak selangsing dulu, tapi masih kencang. Tak seperti beberapa temanku yang mulai mengeluh soal perubahan bentuk badan.
Malam ini aku kembali benar-benar galau. Dadaku terasa sesak sejak membaca respons seorang teman kuliahku di grup medsos. Alumni kampus seangkatanku mendadak riuh oleh tulisannya.
[Gue kenal Fathan, suaminya si Alda. Lumayan cakep orangnya. Wajar aja kalau dia selingkuh. Gue lihat selingkuhannya itu emang jauh lebih cantik, lebih seksi, dibanding si Alda. Laki mah emang gitu, kalau lihat yang bening langsung main hati. Makanya kalau jadi istri itu harus rajin-rajin ngerawat diri, biar suami betah dan gak main gila di luar.]
Tanganku gemetar saat membaca kalimat demi kalimatnya. Dadaku panas, kepalaku berdengung. Tanpa berpikir panjang, aku keluar dari grup itu. Tak cukup sampai di situ, aku menutup semua akun media sosialku.
Aku geram. Aku juga malu setengah mati. Malu karena aib rumah tanggaku, yang bahkan belum tentu benar, sudah menjadi bahan gosip orang-orang yang dulu pernah mengenalku.
Menjelang pukul sepuluh malam, Mas Fathan akhirnya sampai di rumah. Seperti biasa, aku menyambutnya dengan senyum dan kehangatan, meski di dalam dadaku masih ada sisa kecurigaan yang belum padam. Aku berusaha keras berpikir positif.
“Kamu belum tidur, Sayang? Feby sudah tidur?” tanyanya.
“Sssst… baru aja lelap. Jangan diganggu ya, Pah. Dari tadi dia rewel, kangen Papanya,” jawabku sambil membuka jas dan melepas dasi dari lehernya, lalu menaruhnya di tempat biasa.
Mas Fathan menghampiri tempat tidur Feby dan mencium pipi putri kecil kami dengan sangat hati-hati. Aku memandangnya dengan haru. Rasanya mustahil, lelaki yang begitu penyayang dan perhatian pada anak dan istrinya, tega berbuat seperti gosip yang beredar itu.
Tak lama kemudian kami duduk berhadapan di meja makan. Di piringku ada nasi putih sedikit, tempe goreng, dan sambal bawang buatanku. Di sampingnya semangkuk sayur asem, makanan kesukaan Mas Fathan.
Entah kenapa, aku kehilangan nafsu makan. Bayangan dan kecurigaan itu terus mengganggu pikiran. Aku hanya memandangi suamiku yang makan dengan sangat lahap. Harusnya aku senang. Tapi keanehan sikapnya akhir-akhir ini, ditambah gosip yang kudengar, membuat perutku terasa kosong sekaligus mual.
Sebenarnya sejak beberapa hari ini, aku sudah berniat menanyakan gosip itu. Tapi saat menatap wajahnya yang teduh dan tampan, lidahku mendadak kelu.
Aku tak ingin merusak selera makannya.
“Ma,” panggilnya tiba-tiba.
“I… iya, Pa,” jawabku sedikit terkejut.
“Kenapa Mama kok kaget-kaget gitu?” tanyanya heran. Pandangannya jatuh ke piringku yang masih utuh.
“Eh, nggak apa-apa. Tadi keinget Feby aja, Pa,” jawabku asal.
“Kan sekarang sudah bobo. Terus kenapa makanannya nggak dimakan? Lagi kepikiran sesuatu?” tanyanya lembut.
“Iya… Mama lagi kepikiran,” kataku, kali ini sedikit lebih mantap.
“Kepikiran Dave? Atau Jovan?” candanya sambil tertawa kecil.
“Apaan sih, Papa!” Aku sedikit cemberut, jantungku berdegup lebih kencang.
“Ya terus mikirin apa? Cerita aja,” katanya, sendok diletakkan, tangannya terlipat rapi. Tatapannya lurus ke arahku.
Aku makin grogi. Candaan itu justru membuat pikiranku bercabang ke mana-mana. Haruskah aku bertanya soal gosip itu? Atau justru nanti dia malah balik curiga padaku?
“Ja… jadi begini Pa, tadi sore Mama ba—”
Tok. Tok. Tok.
Ketukan di pintu dapur menghentikan ucapanku. Mas Fathan bangkit dan membuka pintu.
“Permisi, Bu Alda.”
Itu suara Donita, salah satu mahasiswi kost kami.
“Ada apa, Nit?” tanyaku.
“Maaf ganggu. Saya mau pulang kampung mendadak. Mau titip kunci,” katanya sambil menyerahkan kunci padaku.
Aku menerimanya tanpa curiga. Donita lalu pamit.
Kami kembali ke meja makan.
“Itu Donita beneran mau pulang kampung?” tanya Mas Fathan, nadanya aneh.
“Iya, tadi dia bilang gitu.”
“Malam-malam begini? Sama siapa?”
“Biasanya sama tunangannya. Ke Karawang ini deket, Pah.”
Mas Fathan terlihat masih tak percaya. Aku mengernyit. Kenapa dia jadi seperti ini?
“Kalau pulang kampung selalu malam-malam begini?” tanya Mas Fathan, nadanya masih terdengar tak percaya. Tatapannya jelas tertuju pada dandanan Donita yang menurutnya tidak biasa.
Aku tahu, Mas Fathan memang tidak terlalu mengikuti aktivitas para penghuni kost. Tapi dia cukup mengenal mereka, terutama Donita yang sudah lebih dari setahun tinggal di sini. Dan sejujurnya, ini juga pertama kalinya aku melihat Donita berdandan seperti itu.
“Enggak sih,” jawabku tenang. “Paling beberapa kali pulang malam juga dianter Rido, tunangannya. Biasanya Rido nunggu di depan.”
Rencanaku untuk mempertanyakan gosip tentang itu pun ambyar. Pembicaraan kami justru teralihkan sepenuhnya ke Donita. Mas Fathan masih terlihat ragu, bahkan memintaku agar ke depan sedikit lebih tegas kalau hal serupa terulang.
“Kalau sampai terjadi apa-apa di luar sana, kita juga yang bakal kerepotan, Ma. Minimal kita bakal ditanya sama keluarganya,” katanya.
Aku mengangguk, lalu mulai merapikan piring dan perabotan makan. Setelah itu, Mas Fathan masuk kamar karena ngantuk dan lelah.
Tak lama kemudian, aku pun masuk ke kamar.
“Oh iya, Ma, besok Papa izin mau keluar kota ya,” ucapnya santai.
“Keluar kota? Kok mendadak banget. Berapa hari?” tanyaku, refleks terkejut.
“Dua atau tiga hari. Tentatif sih. Mudah-mudahan dua hari selesai,” jawabnya.
Entah kenapa, mendengar itu mood-ku langsung turun.
“Terus hari Jumat Mama sama Feby ke kampung berdua aja?” tanyaku, nada suaraku tak bisa menyembunyikan rasa kecewa.
“Gimana kalau dianter sama Dave? Dia kan sudah pernah ke sana, bisa bawa mobil,” usul Mas Fathan.
“Hah? Semua juga bisa bawa mobil, Pa. Tapi mereka kan kuliah,” sanggahku.
“Papa samperin dulu ke kamarnya ya,” katanya sambil bangkit dari tempat tidur.
“Udah tidur kali, Pa,” cegahku, sedikit sungkan.
“Hahaha, anak cowok masa tidur jam segini,” katanya ringan.
Aku ikut melangkah di belakangnya. Di beranda kamar paling ujung, kami mendapati Dave sedang duduk santai, ditemani secangkir kopi dan sebatang rokok. Ia terlihat terkejut sebentar, lalu segera berdiri begitu melihat kami.
“Permisi, Om… Bu,” sapanya sopan.
Mas Fathan mengajaknya berbincang ringan sejenak sebelum akhirnya menyampaikan maksudnya, meminta kesediaan Dave untuk mengantarku pulang kampung dengan mobilku.
“Siaaap, Om. Kebetulan lagi santai. Berapa hari rencananya Ibu di kampung?” tanya Dave, nada suaranya tenang.
“Sehari semalam aja. Kondangan. Kalau bisa, pakai batik ya, Dav,” jawab Mas Fathan.
“Siap, Om,” katanya sambil tersenyum kecil. Dave memang anak yang kalem dan pendiam, berbeda dengan sebagian penghuni kost lainnya.
Dalam obrolan itu, Mas Fathan juga menanyakan beberapa penghuni kost lain. Aku tahu, yang paling mengusik pikirannya tetap Donita. Namun Dave mengaku tidak terlalu mengenalnya, meski satu kampus dan kamar mereka berdekatan. Ia jarang bergaul dengannya.
Sebelum berpamitan, Mas Fathan sempat menyodorkan sejumlah uang untuk bensin dan keperluan besok. Dave menolaknya dengan sopan, bahkan terlihat sungkan.
Dan entah kenapa, penolakan sederhana itu justru membuat Mas Fathan semakin yakin dan kagum pada anak muda asal Flores itu.
Aku hanya berdiri di samping suamiku, mengamati semuanya dalam diam, tanpa menyadari bahwa pertemuan singkat malam itu akan menjadi awal dari perpisahan yang tak pernah kami rencanakan.
“Dave memang anak baik ya, Ma,” puji Mas Fathan saat kami sudah kembali ke kamar.
“Ia baik, makanya dia mau,” balasku datar, tanpa menoleh.
“Dikasih uang bensin, dia nolak,” jawab suamiku sambil terkekeh kecil.
“Dia memang kelihatan anak orang berada, Mas. Teman-temannya juga sering pinjam uang sama dia. Tapi orangnya sederhana dan nggak banyak tingkah.” Aku menanggapi sesuai yang kutahu tentang Dave.
“Aku sih nggak masalah. Asal Mas nggak cemburu aja,” balasku, mencoba memancing perasaannya.
“Hahaha. Dave itu kelihatan baik dan masih polos. Masa Papa harus cemburu? Lagian di kampung ada ibu sama bapak yang ngawasin kalian,” sangkalnya.
Aku hanya memajukan bibir, memilih diam.
Malam itu, entah kenapa, Mas Fathan terlihat berbeda. Ada gairah yang sudah lama tak kurasakan kembali hadir dalam sentuhan dan perhatiannya. Aku sempat terkejut, bahkan nyaris tak percaya. Sudah lebih dari sebulan aku merasa terabaikan, dan malam itu ia seakan kembali menjadi sosok yang dulu kukenal.
Aku tenggelam dalam kehangatan itu. Untuk sesaat, semua kecurigaan yang menumpuk di kepala luruh begitu saja. Aku tertidur dengan perasaan lega yang sudah lama tak singgah.
Jumat pagi aku berangkat ke kampung untuk menghadiri kondangan di rumah Uwa. Seperti rencana semula, Dave yang mengantarku. Perjalanan terasa biasa saja, bahkan cenderung singkat. Tak ada percakapan yang berarti, hanya obrolan ringan seperlunya. Dave tetap sopan, tenang, dan menjaga jarak.
Awalnya aku berniat menginap beberapa hari di kampung. Ingin sedikit menenangkan diri, menjauh dari kota dan segala pikiran yang belakangan terasa menyesakkan. Tapi hatiku berubah. Tak sampai satu hari, aku memutuskan kembali ke kota. Ada perasaan tak nyaman yang tak bisa kujelaskan, seolah aku tak benar-benar sedang pulang, melainkan hanya singgah sebentar.
Dan aku pun tak menyangka, kebersamaanku dengan Dave hari itu ternyata menjadi yang terakhir.
Dua hari kemudian, Dave pamit. Katanya ia pindah kost karena pindah kampus. Semuanya berlangsung cepat, nyaris tanpa tanda. Tak ada perpisahan panjang, tak ada penjelasan detail. Ia hanya pergi, meninggalkan kamar kosong dan kesan sebagai anak muda baik yang singgah sebentar dalam hidup kami.
Donita pun tak pernah kembali. Kunci yang ia titipkan malam itu tetap tersimpan, tak pernah diminta lagi. Aku tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tidak ada kabar, tidak ada pesan. Ia menghilang begitu saja dari keseharian kami, seolah tak pernah menjadi bagian dari rumah ini.
Tinggal Jovan dan dua orang temannya yang tidak terlalu akrab karena jarang bertemu. Untungnya, tak lama kemudian masuk Hendro dan Rizwan. Dua mahasiswa tingkat akhir yang walau lebih sering berada di luar daripada di kamar. Kehadiran mereka membuat kost kembali terisi, meski suasananya tak pernah benar-benar sama seperti sebelumnya.
^*^
