Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Perang Dingin

– Rumah yang Tak Lagi Rumah

---

Adrian Tak Lagi Sama

Pagi itu, saat Aluna keluar dari kamar, suasana rumah terasa… hampa.

Adrian duduk di meja makan. Seperti biasa. Tapi kali ini, ia tidak berkata apa pun. Tidak menatap. Tidak menegur. Hanya menyeruput kopinya pelan—dengan wajah yang tak bisa dibaca.

Aluna berdiri di ambang pintu. Jantungnya menggigil. Ia tahu… Adrian sudah tahu.

“Aku buatkan sarapan,” ucapnya mencoba normal.

Tak ada jawaban.

Ia melangkah perlahan ke dapur, tapi kemudian...

BRAK.

Cangkir kopi Adrian pecah di lantai. Sengaja dijatuhkan. Ia berdiri, menatap Aluna dengan mata merah dan basah.

“Aku harap rekaman itu bohong,” suaranya rendah tapi penuh luka. “Tapi tubuhmu terlalu hafal sentuhan pria itu.”

Aluna menutup mulutnya, menahan tangis. Ia ingin menjelaskan, tapi apa pun yang keluar dari mulutnya sekarang tak akan bisa menghapus gambaran tubuhnya yang dipeluk lelaki lain.

“Aku... aku bisa jelaskan,” bisiknya.

Adrian tertawa pendek.

“Tidak perlu. Aku hanya ingin tahu satu hal... sejak kapan?”

Aluna menunduk. Ia tak bisa berbohong lagi.

“Dua bulan.”

Dan seketika... dunia runtuh.

---

Reyhan – Rencana Perlindungan

Sementara itu, Reyhan sedang bertemu dengan seseorang—teman lamanya, seorang IT investigator.

Ia menyerahkan kamera yang ia temukan dan semua rekaman pesan ancaman.

“Ada seseorang yang sengaja menargetku dan Aluna. Ini bukan sekadar penguntit. Dia tahu semuanya—jadwalku, apartemenku, bahkan tahu detail hubungan kami.”

Temannya mengangguk sambil membuka laptop, mulai memeriksa data dari flashdisk dan kamera.

“Ini bukan kerja amatir. Orang ini tahu cara menyembunyikan jejak. Tapi aku bisa cari titik lemahnya.”

Reyhan menggenggam kuat lengan kursi. Ia sadar: permainan ini tak bisa dibiarkan terus berjalan.

---

Aluna di Cermin

Di kamar mandi, Aluna menatap wajahnya sendiri di cermin. Mata bengkak. Bibir kering. Tapi yang paling menyakitkan adalah rasa kehilangan kendali.

Adrian kini menjadi bayangan menakutkan.

Reyhan menjadi cahaya yang terancam padam.

Dan seseorang... di luar sana... menonton, mengendalikan, membisikkan kehancuran.

Ia tak tahu siapa. Tapi ia tahu satu hal:

> Ia harus bertahan. Untuk dirinya. Untuk cintanya.

---

> Aluna tak lagi punya tempat aman. Suaminya berubah menjadi bayangan yang mengintai. Kekasihnya terjebak dalam perang bayangan. Dan musuhnya… masih menari di balik layar.

---

Kamar Tidur yang Membeku

Malam itu, Aluna duduk di sisi ranjang. Tubuhnya terbungkus handuk, rambut basah menetes di bahunya. Tapi kamar terasa seperti kulkas. Bukan karena suhu... tapi karena Adrian duduk di sofa dalam diam.

Tak bicara. Tak bergerak. Hanya menatap kaca jendela.

Aluna berbisik pelan, “Kau tak tidur?”

Adrian tak menjawab.

Aluna berdiri. Mendekat. Ia tahu ini nekat—tapi diam seperti ini lebih menyakitkan dari makian.

“Adrian… Aku tahu aku salah. Tapi kau tak tahu seluruhnya.”

Adrian akhirnya menoleh. Matanya redup, tapi keras.

“Seluruhnya? Kau ingin aku tahu setiap kali kalian bercinta? Di sofa, di mobil, di kantor? Aku sudah lihat cukup banyak, Luna. Lebih dari cukup untuk menghancurkan apa pun yang tersisa.”

Aluna menggigil. “Aku… aku tidak mencintainya lebih dari—”

“JANGAN BOHONG!” teriak Adrian tiba-tiba, bangkit dan membanting punggung tangannya ke meja kecil di samping. Vas bunga jatuh pecah.

Aluna terkejut. Ini pertama kalinya Adrian membentaknya. Suaminya yang selama ini tenang, santun, rasional… kini seperti pria asing yang terluka dan tak terkendali.

“Aku... hanya ingin jujur sekarang... Aku takut… kalau aku nggak jujur lagi... semuanya makin rusak...”

Suara Aluna pecah. Isaknya menggantung di udara.

Adrian memejamkan mata. Ia menghela napas dalam. Saat ia buka mata lagi, air mata sudah tergenang.

“Aku tidak tahu apakah aku bisa memaafkanmu, Luna... Tapi yang lebih menyakitkan… aku masih mencintaimu.”

---

Sementara Itu – Petunjuk Pertama

Reyhan menatap layar laptop yang dibuka oleh temannya, Dimas. Mereka akhirnya menemukan celah dalam file video rekaman.

“Lihat ini,” kata Dimas sambil membesarkan metadata file video. “Ada IP address yang sempat tersambung ke jaringan pengunggahnya. Dan anehnya... IP ini berasal dari lingkungan rumah Aluna sendiri.”

Reyhan langsung bangkit. “Kau yakin?”

Dimas mengangguk. “Dan kalau aku cocokkan dengan database jaringan lokal, ada satu MAC address yang pernah terdeteksi lewat WiFi rumah Aluna.”

“Berarti... orang ini pernah berada di dalam rumah?”

“Bukan cuma pernah. Kemungkinan besar, dia orang dekat.”

---

Aluna Tak Sendiri

Aluna duduk di balkon kamar. Pandangannya kosong, angin malam menampar lembut pipinya yang dingin. Saat ia hendak masuk kembali ke kamar, ponselnya berbunyi.

Pesan dari nomor tak dikenal:

> “Kau bisa menyembunyikan tubuhmu, tapi aku tahu isi pikiranmu. Jangan berpura-pura di depan suamimu. Kita belum selesai.”

Tangannya bergetar. Tapi kali ini, ia tak menangis. Ia mengetik balasan:

> “Siapa kamu? Tunjukkan dirimu, pengecut.”

Pesan tidak dibalas. Tapi notifikasi baru muncul:

Gambar terbaru terkirim ke ponselnya.

Foto dirinya—di balkon.

Barusan. Dari jarak dekat.

Aluna jatuh berlutut. Nafasnya tercekat.

> Musuh itu... sangat dekat. Mungkin di halaman. Mungkin di seberang. Mungkin... di dalam.

Pertemuan Diam-Diam

Parkiran basement apartemen Reyhan gelap dan sepi. Aluna melangkah cepat, mengenakan hoodie dan masker, menyembunyikan identitasnya. Ia menatap sekeliling dengan gelisah sebelum Reyhan muncul dari balik pilar beton.

“Aluna,” sapanya cepat, menariknya masuk ke dalam lift service menuju lantai paling atas, ke unit kosong milik temannya yang kini dipakai Reyhan sebagai ‘ruang aman’.

Begitu pintu tertutup, Aluna langsung memeluk Reyhan. Tapi kali ini bukan karena rindu... melainkan ketakutan yang memuncak.

“Aku dikirim foto,” bisiknya. “Foto aku di balkon, diambil barusan. Artinya orang itu ada di dekatku. Di rumahku...”

Reyhan mengangguk. “Dan aku sudah dapat petunjuk. Seseorang pernah akses WiFi rumahmu. Entah dia orang dalam, atau orang yang sangat dekat.”

Aluna mundur sedikit, matanya menajam. “Kau pikir Adrian?”

Reyhan menggeleng. “Tidak. Aku yakin dia bukan tipe yang tega mencelakai seperti itu.”

“Lalu siapa?” tanya Aluna, mulai putus asa. “Aku tidak pernah menyakiti siapa pun. Selain kalian berdua...”

---

Penyadapan Emosi

Reyhan menatap Aluna lama, sangat lama. Ia tahu momen ini berbahaya—di antara pengkhianatan dan kepercayaan yang rapuh, mereka tetap saling tertarik, saling haus.

Tapi saat Aluna menyentuh pipinya, ia menahan tangan itu.

“Bukan saatnya,” bisik Reyhan. “Ini bukan tentang kita malam ini. Ini tentang membuatmu tetap hidup.”

Aluna terdiam. Kemudian tersenyum pahit. “Ironis, ya? Dulu aku mencari pelukanmu untuk merasa hidup. Sekarang... kau menjagaku supaya nggak mati.”

Reyhan menatapnya. Emosinya mendidih, tapi tetap terkendali.

“Aku akan selalu lindungi kamu, Luna. Bahkan kalau kau tak lagi milikku.”

---

Seseorang Mendengar

Dua lantai di bawah ruang aman itu… seseorang mendengar rekaman suara mereka.

Lewat laptop kecil, dengan sinyal mikrofon tersembunyi yang dipasang entah sejak kapan, seorang wanita muda tersenyum puas.

Ia membelai layar laptopnya pelan.

> “Kalian pikir bisa main petak umpet denganku? Kalian lupa... akulah dalangnya.”

Cinta segitiga itu kini bukan hanya soal hati, tetapi juga nyawa. Di balik rayuan, pelukan, dan pengkhianatan... tersembunyi sosok yang selama ini mempermainkan mereka semua—dari balik bayangan.

Dan kini... dia siap keluar ke cahaya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel