Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 : Embun Musim Semi

Yun He mendongak.

Menatap pria yang berdiri di ambang pintu dengan santai. Kipas ungunya terbuka, sesekali dikibaskan dengan gerakan malas. Cahaya senja menerpa wajahnya yang tampan, mempertegas garis rahang yang tegas dan tatapan yang sedingin es. Jubah keunguannya berkibar pelan tertiup angin, membuatnya tampak seperti lukisan yang hidup.

Sudut bibir Yun He terangkat sedikit. Bertahun-tahun berlalu, tetapi kebiasaan pria itu tidak pernah berubah. Selalu muncul tanpa suara, selalu bersikap seolah dunia adalah miliknya.

Yun He hendak menyahut ketika suara langkah kaki tergesa memecah keheningan.

"Yang Mulia Pangeran Rong Xue!" Madam Hua muncul dari arah bangunan utama, napasnya sedikit tersengal. Wajahnya yang tadi penuh perhitungan kini memucat. Ia membungkukkan tubuh dalam-dalam hingga dahinya hampir menyentuh tanah. "Maafkan hamba, tidak menyambut dengan benar!"

Para gadis penghibur di belakangnya turut membungkuk, begitu pula para pelayan yang berjajar di sepanjang koridor. Suasana yang semula hening kini dipenuhi gemerisik kain dan bisikan tertahan. Tidak ada yang berani mengangkat kepala.

Rong Xue hanya melirik wanita paruh baya itu sekilas. Tatapannya datar, tanpa emosi. Tanpa berkata apa pun, ia melangkah maju mendekati pohon Haitang. Kelopak bunga merah muda berjatuhan di sekitar kakinya, terbawa angin musim semi yang lembut. Setiap langkahnya terdengar berat, membawa aura yang membuat siapa pun ingin menyingkir dari jalannya.

"Siapkan paviliun terbaikmu," perintahnya datar.

Madam Hua bergegas menyahut dengan penuh hormat. "Baik, Yang Mulia!"

Wanita itu segera memberi isyarat pada para pelayan untuk melaksanakan perintah sang Pangeran. Mereka bergerak cepat, nyaris berlari, seolah terbebas dari ancaman hukuman mati. Madam Hua sendiri hendak beranjak ketika suara Rong Xue kembali terdengar.

"Bebaskan orangku. Aku akan membayar seluruh kerusakan tempat usahamu."

Madam Hua membeku sesaat. Otaknya bekerja cepat mencerna kata-kata itu. Orangku. Jadi pemuda Zhao Feng itu memang bawahan sang Pangeran. Lalu bagaimana dengan pemain guqin misterius itu? Ia melirik Yun He yang masih duduk tenang di bawah pohon Haitang, jari-jarinya menyentuh senar guqin tanpa memetiknya.

Salah seorang pengawal Rong Xue melangkah maju, menyerahkan sebuah kantong yang terlihat sangat berat ke tangan Madam Hua. Bunyi gemerincing emas terdengar jelas. Wanita paruh baya itu menerimanya dengan mata berbinar. Semua kekhawatirannya lenyap seketika. Senyum lebar merekah di wajahnya.

"Terima kasih banyak, Yang Mulia! Terima kasih banyak!" Ia membungkuk berkali-kali sebelum akhirnya meninggalkan halaman dengan langkah ringan, diikuti para gadis penghibur yang masih berbisik-bisik penasaran.

Rong Xue memberi isyarat pada para pengawalnya. Mereka mundur tanpa suara, menghilang ke balik pepohonan dan bangunan, membiarkan sang Pangeran sendiri bersama pemain guqin yang kini ramai dibicarakan di ibukota.

Hening kembali menyelimuti taman.

Angin musim semi bertiup lembut, membawa aroma bunga Haitang yang manis. Kelopak-kelopak merah muda beterbangan di udara, beberapa mendarat di permukaan guqin Yun He.

Rong Xue melangkah mendekat, lalu duduk di kursi batu tepat di hadapan Yun He. Jarak mereka begitu dekat hingga lutut mereka hampir bersentuhan. Matanya tidak pernah lepas dari sosok pria berambut panjang itu, seolah ingin memastikan bahwa yang dilihatnya bukan sekadar ilusi.

"Lagumu tidak pernah berubah," ucapnya pelan. Ada sesuatu yang lembut dalam suaranya, sangat berbeda dari nada dingin yang ia gunakan pada Madam Hua.

Yun He tersenyum tipis tanpa menjawab. Jari-jarinya kembali memetik senar guqin, mengalunkan melodi yang indah namun sendu. Nada-nadanya mengalir seperti air sungai di musim semi, jernih dan menenangkan, namun menyimpan kerinduan yang dalam. Melodi yang sama dengan yang ia mainkan bertahun-tahun lalu di Teras Embun Beku.

Seorang pelayan datang membawa arak untuk mereka berdua, lalu segera menyingkir setelah meletakkan nampan di atas meja batu. Rong Xue mengambil teko, menuangkan arak ke dalam cangkir dengan gerakan yang terlatih, lalu meneguknya dalam sekali teguk.

"Embun Musim Semi," gumam Yun He pelan, matanya menatap cairan bening di dalam cangkirnya sendiri. Aroma arak itu begitu familiar, membangkitkan kenangan yang sudah lama terkubur. "Arak yang tidak pernah kuracik lagi."

Rong Xue terkekeh pelan. Suara tawanya rendah dan hangat. "Kau terlalu sibuk dengan urusan sekte."

"Dan Yang Mulia terlalu sibuk dengan medan perang dan menjaga tahta." Yun He mengambil cangkirnya, menyesap arak itu perlahan. Rasanya masih sama seperti yang ia ingat. Manis dengan sedikit pahit di akhir.

Keduanya terdiam sejenak, membiarkan melodi guqin mengisi keheningan di antara mereka. Kelopak bunga Haitang terus berjatuhan, menghiasi rambut dan bahu mereka dengan warna merah muda yang lembut. Langit senja berubah dari jingga menjadi ungu, membawa kegelapan yang perlahan merayap.

"Apa yang membuatmu melepaskan sekte?" Rong Xue memecah kesunyian. Ia meletakkan cangkirnya, menatap Yun He dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Apakah keramaian ibukota menggodamu?"

Yun He berhenti memetik guqin. Ia menatap Rong Xue dengan senyum yang sulit diartikan. Jemarinya masih menyentuh senar, merasakan getaran halus yang tersisa.

"Ibukota memang sangat ramai, tetapi merepotkan." Jarinya menyentuh senar tanpa memetiknya. "Sedangkan Jianghu... benar-benar membosankan."

Ucapan itu terdengar biasa saja bagi telinga orang lain. Namun, bagi Rong Xue, itu adalah sebuah isyarat yang sangat ia pahami. Yun He tidak pernah mengeluh tentang kebosanan tanpa alasan.

"Lalu, perlukah aku membawamu ke tempat yang tidak membosankan?" Suaranya terdengar lebih lembut dari sebelumnya, nyaris seperti bisikan.

Yun He bertopang dagu, menatap pria di hadapannya dengan sorot mata yang tenang. "Apakah ada tempat seperti itu di dunia ini?"

Rong Xue tersenyum. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun. Senyum yang membuat wajah dinginnya tampak lebih hidup. "Entahlah. Tetapi jika kau mau, aku akan mencarinya." Ia mengisi kembali cangkir araknya, lalu mengisi cangkir Yun He juga. "Jika tidak kutemukan, aku akan membuatnya untukmu."

Yun He terdiam sesaat, lalu tawa kecil lolos dari bibirnya. Ia mengambil cangkirnya, memutarnya pelan di antara jemari. "Ah, hamba lupa. Anda adalah Yang Mulia Pangeran Rong Xue." Nada suaranya berubah, dipenuhi sindiran halus yang akrab. "Apa yang tidak bisa didapatkan oleh Yang Mulia di dunia ini?"

"Kau..." Rong Xue bergumam pelan, matanya menyipit.

Yun He balas menatapnya dengan senyum tipis yang penuh arti. Ketegangan halus tercipta di antara mereka, bercampur dengan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar persahabatan lama. Udara di sekitar mereka terasa lebih berat, dipenuhi kata-kata yang tidak terucapkan.

Sebelum Rong Xue sempat melanjutkan kata-katanya, Madam Hua muncul kembali di ujung taman. Langkahnya pelan dan hati-hati, tidak berani mengganggu suasana yang tercipta di antara dua pria itu.

"Yang Mulia," panggilnya dengan suara lembut, "paviliun sudah siap."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel