Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6 : Janji Di Bawah Rembulan

Malam itu ada yang berbeda di Yuefang Honglou.

Rumah judi di sayap barat masih dipenuhi para penjudi yang mengadu nasib. Suara tawa dan umpatan bercampur dengan gemerincing koin emas. Asap dari pipa tembakau mengepul di udara, menciptakan kabut tipis yang menyelimuti ruangan. Mereka berharap satu hal yang sama, kemenangan yang mengubah nasib dalam semalam.

Di paviliun utama, para gadis penari bergerak gemulai mengikuti irama musik. Kain sutra berkibar indah di udara, menggoda mata para tamu yang menikmati arak dan hidangan mewah. Wanita-wanita cantik duduk di sisi mereka, menuangkan arak dengan gerakan lemah gemulai, tertawa renyah menanggapi gurauan yang tidak selalu lucu.

Sekilas, malam ini sama dengan malam-malam sebelumnya di rumah hiburan terbesar se-ibukota Yanyu.

Tetapi di sudut tersembunyi Yuefang Honglou, jauh dari hiruk pikuk dan sorak sorai, sebuah paviliun kecil berdiri dalam kesunyian. Paviliun itu dikelilingi bambu hijau yang bergoyang pelan tertiup angin. Denting senar guqin mengalun dari balik tirai, melodinya merambat pelan bersama angin malam yang membawa aroma bunga Haitang.

Di dalam paviliun itu, arak tersaji di atas meja batu. Namun tidak ada gadis penari. Tidak ada wanita penghibur yang menemani. Hanya dua pria yang duduk berhadapan di bawah cahaya lilin yang temaram. Bayangan mereka terpantul di dinding kayu, bergerak pelan mengikuti kerlip api.

Yun He duduk di hadapan guqin-nya, jari-jarinya memetik senar dengan gerakan yang mengalir seperti air. Wajahnya tenang, matanya setengah terpejam, seolah tenggelam dalam dunianya sendiri. Cahaya lilin menari di wajahnya yang putih seperti giok, mempertegas garis wajah yang sempurna. Rambut hitamnya yang panjang tergerai bebas, beberapa helai jatuh menutupi bahu.

Di seberangnya, Rong Xue duduk bertopang dagu. Kipas ungunya tergeletak di atas meja, tidak tersentuh sejak tadi. Matanya tidak pernah lepas dari sosok pemetik guqin itu. Sesekali ia menyesap arak dari cangkirnya, tetapi perhatiannya tetap terpaku pada Yun He.

"Aku kira seumur hidupmu, kau tidak akan pernah meninggalkan Lembah Lotus Embun." Rong Xue memecah keheningan, suaranya rendah dan dalam.

"Aku juga mengira akan seperti itu." Yun He menyahut tanpa mengalihkan perhatian dari senar-senar guqin yang dipetiknya dengan penuh perasaan. Melodinya berubah, dari yang semula tenang menjadi sendu, seperti tangisan burung bangau yang kehilangan pasangannya.

"Tetapi semua berubah," lanjutnya pelan.

"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Rong Xue meletakkan cangkirnya, menatap Yun He dengan sorot mata yang serius.

"Entahlah." Yun He menyahut singkat.

Jari-jarinya berhenti memetik senar. Melodi terakhir bergema sejenak sebelum lenyap ditelan kesunyian malam. Perlahan, ia mengangkat wajah dan menatap sang Pangeran.

Sikap santainya menguap, menyisakan ketenangan luar biasa yang hanya dimiliki seorang pemimpin sekte. Matanya yang biasa tampak malas kini menyimpan kedalaman yang sulit diukur. Aura di sekelilingnya berubah, lebih tajam, lebih berat.

"Yang Mulia, pernahkah kau merasa kesepian?" Suaranya tenang, tetapi menyimpan sesuatu yang lebih berat dari sekadar pertanyaan biasa. "Bosan? Hampa? Dan tidak tahu untuk apa kau ada di dunia ini?"

Rong Xue tertegun.

Seandainya ia tidak mengenal Yun He sejak lama, mungkin tidak akan mempercayai bahwa pria di hadapannya ini adalah pendekar yang berada di puncak kejayaan. Bangau Salju dari Puncak Abadi. Legenda hidup yang namanya ditakuti dan dihormati seluruh Jianghu. Seorang yang tampak tak tersentuh oleh kekhawatiran duniawi.

Namun malam ini, di balik tirai bambu yang menyembunyikan mereka dari dunia, Yun He mengungkapkan isi hatinya. Sesuatu yang tidak akan pernah diketahui oleh siapa pun di luar paviliun ini.

"Tentu saja pernah," sahut Rong Xue setelah terdiam beberapa saat. Suaranya lebih lembut dari biasanya, kehilangan ketajaman yang biasa ia tunjukkan. "Setiap manusia pasti pernah berada di titik jenuh. Itu wajar."

Yun He tersenyum tipis.

Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan luwes, jubah putihnya berkibar pelan. Langkahnya ringan tanpa suara, seperti salju yang turun di malam sunyi. Perlahan ia mendekati Rong Xue, lalu membungkukkan tubuhnya hingga wajah mereka sejajar.

"Kau hanya menghiburku, Yang Mulia." Suaranya lembut, nyaris berbisik. Napasnya yang hangat menyapu pipi Rong Xue, membawa aroma samar bunga teratai.

Rong Xue tidak mundur. Ia justru mendekatkan wajahnya, hingga jarak di antara mereka hanya sejengkal. Matanya menatap langsung ke dalam mata Yun He, mencari sesuatu di sana. Mencari kebenaran yang tersembunyi di balik topeng ketenangan itu.

"Kau tahu itu." Bisikannya rendah, penuh dengan emosi yang tertahan selama bertahun-tahun. "Jadi jangan pernah berkata hidupmu terasa kosong. Karena aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi."

Udara di antara mereka terasa berat, dipenuhi kata-kata yang tidak terucapkan. Cahaya lilin berkedip pelan, membuat bayangan mereka menari di dinding paviliun. Aroma arak Embun Musim Semi bercampur dengan wangi cendana yang menguar dari tubuh Yun He, menciptakan keharuman yang memabukkan.

Yun He terkekeh pelan, suaranya seperti dentingan lonceng angin di pagi musim semi. Ia menegakkan tubuh, mengambil kendi arak dari atas meja, lalu meneguknya langsung. Setetes arak mengalir dari sudut bibirnya, membasahi dagunya yang putih seperti giok.

"Jika begitu, maukah Yang Mulia menemaniku mencapai keabadian?" Matanya berkilat nakal di bawah cahaya lilin.

Rong Xue tersenyum. Senyum yang mampu membuat siapa pun yang melihatnya gemetar ketakutan, tetapi di mata Yun He, senyum itu hanyalah miliknya seorang.

Sang Pangeran bangkit, mengambil kendi dari tangan Yun He. Jari-jari mereka bersentuhan sejenak, menciptakan kehangatan yang menjalar hingga ke dada. Ia mengangkat kendi itu ke bibirnya, meneguk arak dari tempat yang sama dengan Yun He.

"Apa pun yang kau inginkan." Rong Xue menurunkan kendi, matanya tidak pernah lepas dari Yun He. "Pangeran ini akan mengabulkannya."

Yun He tersenyum puas. Senyum yang jarang ia tunjukkan pada siapa pun di dunia ini. Rembulan purnama bersinar terang di luar paviliun, menyaksikan janji yang terucap di antara dua pria yang terikat oleh benang takdir sejak mereka masih kanak-kanak di Teras Embun Beku.

Sementara itu, di paviliun utama Yuefang Honglou, Madam Hua tengah pusing tujuh keliling.

Para pelanggan yang biasanya datang untuk mendengarkan guqin kini mengerubunginya dengan wajah tidak puas. Mereka bertanya dengan nada menuntut, saling menyahut hingga suara mereka bercampur menjadi satu. Beberapa bahkan sudah menggebrak meja dengan kesal.

Seorang saudagar gemuk dengan perut buncit maju ke depan, wajahnya merah padam. "Madam Hua! Siapa yang berani menahan pemetik guqin kesayanganmu untuk dirinya sendiri?"

Madam Hua menelan ludah dengan susah payah. Keringat dingin mengalir di pelipisnya. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa orang yang 'menahan' pemain guqin itu adalah Pangeran paling berbahaya di seluruh kerajaan?

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel