Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4 : Malam Pertama Di Yuefang Hongluo

Malam pertama sebagai pemain guqin, Yun He duduk di paviliun kecil di tengah taman rumah hiburan.

Jari-jarinya memetik senar dengan lembut, mengalunkan melodi yang mengalir seperti air pegunungan. Di hadapannya, beberapa gadis penari bergerak mengikuti irama, lengan mereka berkibar bagai sayap kupu-kupu. Para tamu yang duduk di sekitar paviliun terpana, cangkir arak terlupakan di tangan mereka.

Yun He sendiri tampak tidak peduli dengan kekaguman di sekelilingnya. Matanya setengah terpejam, menikmati semangkuk arak di samping guqin-nya. Bukan Arak Embun Musim Semi tentu saja. Madam Hua tidak sebodoh itu.

Chen Luo duduk di sudut dapur bersama Zhao Feng, keduanya dihukum menjaga tungku sepanjang malam. Wajah mereka sama-sama muram.

Hari-hari berlalu dengan pola yang sama.

Setiap malam, Yun He memainkan guqin-nya di paviliun. Setiap malam, semakin banyak tamu yang datang hanya untuk mendengarkan permainannya. Kabar tentang pemain guqin misterius di Yuefang Honglou mulai menyebar di ibukota. Tampan, mempesona, dan tidak mudah didekati.

Mei Ling adalah yang pertama mencoba mendekatinya.

Gadis itu duduk di samping Yun He dengan senyum manis, kipasnya bermain di antara jemari. "Tampan, apa yang membuatmu terjebak di sini?"

Yun He tidak menghentikan permainannya. "Hutang."

Mei Ling tertawa renyah. "Hutang? Dengan wajah seperti ini, kau bisa mendapatkan apa pun yang kau mau."

Yun He mengangkat bahu tanpa minat. "Merepotkan."

Mei Ling cemberut, tidak terbiasa diabaikan. Ia bangkit dan berlalu dengan wajah kesal.

Dari sudut ruangan, Rou Yan mengamati dalam diam. Matanya yang gelap tidak pernah melepaskan sosok Yun He. Ada sesuatu yang berbeda dari pria itu. Caranya bergerak, caranya berbicara, bahkan caranya bernapas. Terlalu sempurna untuk seorang pemain guqin biasa.

Malam ketiga, seorang tamu mabuk menghampiri paviliun dengan langkah terhuyung. Matanya berbinar menatap Yun He. "Berapa hargamu untuk semalam?"

Yun He menghentikan permainannya. "Maaf?"

Tamu itu merogoh kantongnya, mengeluarkan sekantong emas. "Aku akan membayar berapa pun. Kau yang tercantik di sini."

Sebelum Yun He sempat bereaksi, suara tamparan bergema di seluruh ruangan.

Madam Hua berdiri di samping tamu itu dengan wajah merah padam. "Dia pemain guqin, bukan pelacur! Matamu taruh di mana?!"

Tamu itu terhuyung mundur, memegangi pipinya yang membengkak. Madam Hua menyeretnya keluar dengan omelan yang tidak berhenti.

Yun He kembali memetik guqin-nya seolah tidak terjadi apa-apa.

Sementara itu di dapur, bencana sedang mengintai.

Chen Luo dan Zhao Feng sudah bertengkar sejak sore tadi. Dimulai dari siapa yang harus menambah kayu bakar, berlanjut ke siapa yang menyebabkan masalah di malam itu, hingga saling menyalahkan tanpa henti.

Chen Luo menunjuk wajah Zhao Feng dengan sendok kayu. "Kalau kau tidak menantang Tuanku, kita tidak akan berakhir di sini!"

Zhao Feng menepis sendok itu dengan kasar. "Kalau tuanmu tidak curang, aku tidak akan menantangnya!"

"Tuanku tidak curang! Dia hanya terlalu berbakat!" Bantah Chen Luo.

"Berbakat dalam kecurangan!" Zhao Feng tidak mau kalah.

Chen Luo mengayunkan sendok kayunya. Zhao Feng menangkisnya dengan spatula. Dalam sekejap, dapur berubah menjadi arena pertarungan kecil.

Tidak ada yang memperhatikan tungku yang ditinggalkan.

Tidak ada yang melihat percikan api yang melompat ke tumpukan kayu kering.

Ketika jeritan pertama terdengar, setengah dapur sudah dilalap api. Para pelayan dapur berhamburan keluar. Api menyala, menjilat-jilat, menjalar ke bangunan di sekitarnya. Dalam sekejap, Yuefang Honglou kembali dilanda kekacauan.

Madam Hua berlari ke dapur dengan wajah pucat. Ketika melihat Chen Luo dan Zhao Feng yang masih berkelahi di tengah kobaran api, ia menjerit murka. "KALIAN BERDUA!"

Butuh waktu satu jam untuk memadamkan api. Dapur hancur total. Persediaan makanan untuk seminggu habis terbakar. Tamu berlarian, kabur tanpa membayar.

Madam Hua berdiri di depan dua pelaku dengan sempoa di tangan. Tangannya gemetar menahan amarah. "Siapa yang akan membayar ini?"

Chen Luo menunduk dalam-dalam. "Madam, aku hanya pelayan miskin yang bernasib sial memiliki majikan pemalas. Tagihkan saja pada Tuanku."

Zhao Feng menggertakkan gigi. "Tagihkan pada Kediaman Matahari Ungu."

Madam Hua menatap Zhao Feng dengan ragu. Ia tidak ingin berurusan dengan kediaman itu. Tetapi biaya perbaikan dapur tidak sedikit. Akhirnya, dengan berat hati, ia menulis surat tagihan dan mengirimkannya ke Kediaman Matahari Ungu.

Keesokan harinya, Zhao Feng menerima kabar yang membuatnya semakin pucat. Kepala Rumah Tangga sedang sibuk mengurus persiapan jamuan. Komandan Pasukan Bayangan sedang menjalankan misi di perbatasan. Tidak ada yang bisa menebus dirinya untuk saat ini.

Yang lebih buruk lagi, surat tagihan itu jatuh langsung ke tangan Pangeran Rong Xue.

Zhao Feng tidak bisa tidur selama tiga hari. Membayangkan nasibnya setelah ini.

Satu minggu berlalu.

Yun He tetap menjalani hari-harinya dengan tenang. Setiap senja, ia duduk di bawah pohon Haitang yang sedang berbunga, memetik guqin-nya hingga malam tiba. Kelopak bunga berwarna merah muda beterbangan di sekelilingnya, membingkai sosoknya yang tampak seperti lukisan.

Kabar tentangnya sudah menyebar ke seluruh ibukota. Pemain guqin misterius dengan jari-jari ajaib dan wajah yang membuat bulan malu. Banyak yang datang hanya untuk melihatnya, berharap mendapatkan perhatiannya.

Tidak ada yang berhasil.

Senja itu, langit berwarna jingga keemasan. Yun He memetik guqin-nya dengan mata terpejam, tenggelam dalam melodi yang mengalun sendu.

Tiba-tiba, keramaian di sekitarnya berubah hening.

Suara bisik-bisik terhenti. Langkah kaki membeku. Para pelayan membungkuk dalam-dalam. Wanita penghibur mundur ke sisi ruangan dengan wajah pucat.

Yun He membuka matanya.

Langkah kaki berat terdengar memasuki taman. Setiap hentakan seperti menekan udara, membuat napas terasa berat. Aura yang dingin dan menusuk menyebar ke seluruh penjuru.

Di ambang pintu paviliun, berdiri seorang pria dengan jubah keunguan yang berkibar pelan tertiup angin senja. Wajahnya tampan dengan garis rahang yang tegas. Matanya sedingin es, menatap lurus ke arah Yun He tanpa berkedip. Di tangannya, sebuah kipas terlipat dengan ukiran matahari ungu.

Yun He menghentikan permainannya. Jarinya masih menyentuh senar, kelopak bunga Haitang jatuh perlahan di antara mereka.

Pria itu melangkah maju. Setiap langkahnya membuat orang-orang di sekitar semakin menunduk, tidak berani menatap. Ia berhenti tepat di hadapan Yun He, menatapnya dari atas dengan ekspresi yang sulit dibaca.

Lalu, bibirnya bergerak.

"Lama tidak bertemu."

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel