
Ringkasan
Terlalu kuat untuk Jianghu, terlalu miskin untuk melarikan diri. Yun He, Bangau Salju dari Puncak Abadi, hanya ingin satu hal, pensiun dengan tenang dan menggapai keabadian. Sayangnya, kantong uangnya raib dan hutang justru datang menghampiri. Kini ia terjebak sebagai pemain guqin di rumah hiburan ibukota. Ketika sahabat masa kecilnya yang bergelar Pangeran Haus Darah menemukannya di sana, Yun He sadar bahwa jalan menuju kedamaian ternyata lebih berliku dari pertarungan mana pun.
Bab 1 : Taruhan Di Meja Judi
Malam itu, Yuefang Honglou lebih ramai dari biasanya.
Aroma dupa bercampur dengan wangi bedak para wanita penghibur. Lentera merah bergoyang tertiup angin, menerangi wajah-wajah yang memerah karena arak. Di sudut ruangan, beberapa pria berkumpul mengelilingi meja judi. Suara dadu bergemerincing di dalam mangkuk kayu.
"Besar!" Seorang pemuda berpakaian sederhana menggeser taruhannya ke tengah meja dengan percaya diri. Wajahnya biasa saja, tidak tampan, tetapi ekspresinya begitu hidup hingga menarik perhatian.
Chen Luo tersenyum lebar saat bandar membuka mangkuk. Tiga dadu menunjukkan angka lima, enam, dan empat. Lima belas. Besar. Ia menepuk meja dengan gembira. "Hahaha! Aku menang lagi!"
Di belakangnya, seorang pria duduk dengan tenang. Jubah putihnya yang sederhana tidak mampu menyembunyikan aura yang berbeda dari orang kebanyakan. Jari-jarinya yang panjang dan ramping memeluk cangkir teh, sesekali menyesapnya tanpa minat. Rambut hitamnya yang panjang diikat longgar, beberapa helai jatuh membingkai wajah yang tampan namun dingin.
Yun He menguap pelan.
Chen Luo menoleh, berbisik dengan mata berbinar. "Tuanku, kita sudah menang tujuh kali berturut-turut!"
"Ehm." Yun He hanya bergumam singkat tanpa mengalihkan pandangan dari cangkir tehnya.
Chen Luo memiringkan kepala. "Tuanku tidak senang?"
"Terlalu mudah." Yun He meletakkan cangkirnya, jarinya mengetuk meja dengan irama lambat.
Di seberang meja, seorang pemuda berpakaian cukup mewah mengepalkan tangan. Zhao Feng sudah kalah banyak malam ini. Urat di pelipisnya berdenyut setiap kali Chen Luo tertawa penuh kemenangan.
Ia menggebrak meja hingga beberapa keping emas bergetar. "Kau curang!"
Chen Luo memasang wajah terluka, tangannya menyentuh dada dengan dramatis. "Tuduhan yang kejam! Aku hanya beruntung."
Zhao Feng mencondongkan tubuh, matanya menyipit penuh curiga. "Tidak ada orang seberuntung itu."
"Kalau begitu, anggap saja Dewi Keberuntungan sedang jatuh cinta padaku." Chen Luo mengangkat bahu dengan santai, lalu meraup kemenangannya.
Zhao Feng hendak membalas ketika matanya menangkap sosok di belakang Chen Luo. Pria itu terlalu tenang, terlalu tidak peduli dengan keramaian di sekitarnya. Ada sesuatu yang mengganggu dari caranya duduk. Terlalu sempurna. Seperti pedang yang tersarung rapi, menunggu untuk ditarik.
Jarinya menunjuk ke arah Yun He. "Siapa dia?"
Chen Luo menoleh ke belakang, lalu kembali menghadap Zhao Feng dengan senyum cerah. "Oh, itu tuanku. Jangan dipikirkan, dia memang selalu begitu. Tampan tapi menyebalkan."
Yun He tidak bereaksi. Matanya justru tertuju pada sesuatu di pinggang Zhao Feng. Sebuah token giok berwarna putih dengan ukiran matahari ungu. Lambang yang sangat ia kenali. Sudut bibirnya terangkat sedikit.
"Chen Luo, minggir." Yun He bangkit dari duduknya.
Chen Luo mengerjap bingung. "Eh? Tuanku mau ikut bermain?"
Tanpa menjawab, Yun He berjalan ke meja judi dengan langkah santai, jubahnya berkibar pelan. Ia duduk di hadapan Zhao Feng. Semua orang di meja itu tiba-tiba merasa suhu ruangan turun beberapa derajat.
Yun He menatap Zhao Feng dengan datar. "Aku ingin bertaruh denganmu."
Zhao Feng menyeringai, merasa akhirnya dalang di balik kecurangan ini menampakkan diri. "Apa taruhannya?"
Yun He menunjuk pinggang Zhao Feng dengan dagunya. "Token giok di pinggangmu."
Seringai Zhao Feng membeku. Tangannya refleks menyentuh token itu. "Kau tahu apa ini?"
"Tidak penting." Yun He menatapnya tanpa ekspresi. "Serahkan padaku token giokmu. Jika kau tidak mau, kau akan tetap kehilangan token giokmu itu."
Zhao Feng tertawa, suaranya dipenuhi amarah tertahan. "Kau sangat sombong."
"Aku hanya jujur." Yun He mengambil mangkuk dadu, memutarnya pelan di tangan.
Di sudut ruangan, seorang pria kurus dengan kipas di tangan mencatat sesuatu di buku kecilnya. Bi Wen dari Paviliun Kabar Angin mengamati dengan mata berbinar. Pertarungan ego antara dua orang ini jauh lebih menarik dari sekadar permainan dadu.
Zhao Feng melempar sekantong uang ke meja, emas berkilauan di bawah cahaya lentera. "Baik. Satu putaran. Jika kau kalah, semua uangmu dan pelayanmu itu menjadi milikku."
Yun He menggeleng pelan. "Chen Luo bukan budak, dia tidak bisa dipertaruhkan."
Zhao Feng menunjuk bungkusan kain putih di punggung Yun He. "Kalau begitu, pedang di punggungmu."
Chen Luo yang sedang meneguk arak tersedak hebat. "Tuanku, jangan! Itu..."
"Boleh." Yun He memotong dengan tenang.
Chen Luo hampir menjatuhkan cangkirnya. "TUANKU!"
Yun He mengabaikan jeritan pelayannya. Ia mengambil tiga dadu, memasukkannya ke mangkuk, lalu mengocoknya dengan gerakan malas. Semua mata tertuju padanya.
Zhao Feng memperhatikan dengan saksama, yakin akan menemukan kecurangan kali ini.
