Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3 : Harga Sebuah Kemenangan

Madam Hua berdiri di tengah kehancuran dengan ketenangan yang mengerikan.

Sempoa di tangannya bergerak, biji-biji kayu berdetak dalam irama yang teratur. Matanya menyapu seluruh ruangan, menghitung setiap meja yang patah, setiap kursi yang hancur, setiap guci yang pecah. Bibirnya bergerak tanpa suara, angka demi angka terakumulasi dalam benaknya.

Yun He berdiri dengan tenang di tengah kekacauan, jubahnya bahkan tidak kusut. Di sisinya, Zhao Feng tersungkur di antara puing-puing meja, napasnya tersengal.

Madam Hua akhirnya berhenti menghitung. Ia melangkah mendekati dua sumber masalahnya, sempoa teracung di hadapan mereka.

Suaranya terdengar dingin, setiap kata diucapkan dengan jelas. "Dua puluh tiga meja. Empat belas kursi. Tujuh guci dinasti Song. Tiga lukisan dari Akademi Ronghua. Belum termasuk kerugian karena para tamu yang kabur tanpa membayar."

Chen Luo menelan ludah dengan susah payah.

Madam Hua menatap Zhao Feng yang masih tergeletak. "Kau. Pemuda dari sekte mana yang berani membuat keributan di tempat usahaku?"

Zhao Feng bangkit dengan susah payah, wajahnya merah padam menahan malu dan amarah. Tangannya merogoh pinggang, melepas token giok, lalu menyerahkannya pada Madam Hua dengan enggan. "Ini jaminanku. Besok pagi akan ada orang yang datang menebusnya."

Madam Hua menerima token itu. Matanya menyipit saat melihat ukiran matahari ungu di permukaannya. Wajahnya berubah, campuran antara terkejut dan was-was.

Ia segera mengembalikan token itu ke tangan Zhao Feng. "Simpan tokenmu. Aku tidak berani menerimanya."

Zhao Feng menghembuskan napas lega, jarinya menggenggam token erat-erat.

Yun He mengangkat tangan dengan santai. "Aku yang akan membayar."

Madam Hua menoleh, alisnya terangkat. "Oh?"

Yun He menoleh ke belakang. "Chen Luo, berikan kantong uangnya."

Chen Luo membeku. Wajahnya memucat perlahan. Tangannya meraba-raba pinggang, lalu dadanya, lalu seluruh tubuhnya dengan panik yang semakin menjadi. "Tu-Tuanku..."

Yun He menatap pelayannya dengan datar. "Jangan bilang..."

Chen Luo berlutut, kepalanya menyentuh lantai dengan bunyi yang menyakitkan. "Tuanku, ampuni aku! Kantong uang kita hilang! Pasti ada yang mencurinya saat aku sibuk menjaga guqin dan memberi semangat pada Tuanku!"

Yun He menghela napas panjang.

Di sudut ruangan, Bi Wen menutup buku catatannya dengan ekspresi bosan. Urusan hutang piutang tidak menarik untuk dilaporkan.

Ia menghampiri Chen Luo dan menepuk bahunya. "Sepertinya urusanmu akan panjang. Aku pamit dulu."

Chen Luo menatapnya dengan mata berkaca-kaca. "Kau meninggalkanku di saat seperti ini?"

Bi Wen tersenyum tipis, lalu mengeluarkan sebuah token kayu dari lengan jubahnya. Ia menyerahkannya pada Chen Luo. "Ini hadiah perpisahan. Token untuk mengunjungi Paviliun Kabar Angin. Siapa tahu kita bertemu lagi."

Chen Luo menerima token itu dengan linglung, tidak mengerti apa gunanya.

Setelah Bi Wen pergi, Madam Hua menghampiri Yun He dengan langkah berat. Sempoanya teracung tepat di depan wajahnya. "Jadi, kau tidak punya uang?"

Yun He menatap sempoa itu tanpa gentar. "Untuk saat ini, tidak."

Madam Hua tertawa, suaranya tajam membelah udara. "Lucu sekali. Menghancurkan rumah hiburanku lalu bilang tidak punya uang." Ia mencondongkan wajah, matanya berkilat berbahaya. "Di Yuefang Honglou, tidak ada yang berhutang tanpa membayar. Tidak peduli siapa pun."

Yun He mengangguk tenang. "Aku tidak berniat kabur."

"Bagus." Madam Hua menegakkan tubuh, jarinya mengetuk sempoa. "Sekarang, katakan padaku. Apa keahlianmu?"

Sebelum Yun He sempat menjawab, Chen Luo sudah lebih dulu membuka mulut dengan putus asa. "Madam, Tuanku ini sangat pemalas! Tidak ada satu pun pekerjaan yang beres. Dia tidak bisa memasak, tidak bisa membersihkan rumah, tidak bisa melayani tamu..."

"Chen Luo." Yun He memanggil namanya dengan nada peringatan.

Chen Luo tidak peduli. "Satu-satunya yang bisa dia lakukan dengan benar hanyalah bermain guqin!"

Madam Hua melirik bungkusan kain putih yang masih dipeluk Chen Luo. Matanya menyipit penuh perhitungan. "Guqin?"

Yun He menatap pelayannya dengan tatapan yang menjanjikan pembalasan di kemudian hari. Chen Luo pura-pura tidak melihat.

Madam Hua mengangguk perlahan. "Baiklah. Kau akan menjadi pemain guqin di sini selama enam bulan. Tidak boleh ada keributan lagi. Jika ada masalah, hutangmu bertambah."

Yun He menimbang sejenak, lalu mengangguk. "Boleh. Tapi aku punya satu syarat."

Madam Hua menyilangkan tangan di dada. "Kau masih berani mengajukan syarat?"

"Sediakan Arak Embun Musim Semi untukku saat bermain guqin." Yun He berkata dengan santai, seolah meminta secangkir teh biasa.

Madam Hua tersentak. Matanya membelalak tidak percaya. "Kau gila?! Kau ingin membuatku dipenggal Pangeran Rong Xue?!"

Yun He memiringkan kepala, wajahnya polos tanpa dosa. "Apa hubungannya Arak Embun Musim Semi dengan Pangeran Rong Xue?"

Madam Hua memijat pelipisnya dengan frustasi. "Semua orang tahu Arak Embun Musim Semi hanya bisa dibuat oleh Yun He, Ketua Sekte Teratai Salju. Dia meraciknya khusus untuk Pangeran Rong Xue sebagai tanda persahabatan mereka. Tapi sekarang mereka sudah bermusuhan. Pangeran tidak pernah menghidangkan arak itu untuk siapa pun, bahkan Kaisar pernah memintanya dan ditolak mentah-mentah!"

Yun He tersenyum tipis mendengar penjelasan itu. "Begitu rupanya."

Madam Hua menatapnya dengan curiga. "Kenapa kau tersenyum?"

Yun He mengangkat bahu dengan ringan. "Tidak ada. Hanya saja, terkadang orang-orang merasa lebih tahu mengenai sesuatu yang sebenarnya mereka tidak tahu sama sekali."

Sebelum Madam Hua sempat bertanya lebih lanjut, Yun He sudah mengalihkan perhatian pada Zhao Feng yang masih berdiri di sudut, mencengkeram token gioknya dengan erat.

Yun He menghampirinya dengan langkah santai. "Token itu sudah kau pertaruhkan di meja judi. Secara sah, itu milikku sekarang."

Zhao Feng mundur selangkah, wajahnya pucat. "Aku tidak akan menyerahkannya."

Yun He mengulurkan tangan dengan tenang. "Serahkan. Atau aku akan mengambilnya sendiri."

Madam Hua menyaksikan dengan tegang. Ia tidak ingin berurusan dengan Kediaman Matahari Ungu, tetapi ia juga tidak bisa mencampuri urusan taruhan yang sah.

Zhao Feng menatap Yun He dengan penuh kebencian. Tangannya gemetar, tetapi akhirnya ia menyerahkan token giok itu. "Kau akan menyesal."

Yun He menerima token itu, membolak-baliknya dengan santai. Ukiran matahari ungu berkilau di bawah cahaya lentera. "Beritahu tuanmu," katanya pelan, "harus dia sendiri yang datang menebus token ini."

Zhao Feng tersentak. Wajahnya memucat hingga seperti kertas. Jika Pangeran Rong Xue tahu token kediamannya jatuh ke tangan orang lain karena kecerobohannya, nyawanya tidak akan selamat.

Yun He memasukkan token itu ke dalam lengan jubahnya, lalu menoleh pada Madam Hua. "Kamar untuk pemain guqin yang baru. Di mana?"

Madam Hua menunjuk ke arah sayap timur dengan dagunya, masih tidak habis pikir dengan ketenangan pria di hadapannya. "Ikuti pelayan di sana."

Yun He melangkah pergi, Chen Luo mengikuti di belakangnya sambil memeluk guqin dengan wajah muram.

Zhao Feng menatap punggung mereka yang menjauh, lalu berbisik pada bawahannya yang sejak tadi bersembunyi di sudut. "Segera kirim kabar ke Kediaman Matahari Ungu. Laporkan semuanya."

Bawahannya mengangguk dan menghilang ke dalam malam.

Madam Hua menyimpan sempoanya dengan perasaan campur aduk. Entah mengapa, ia merasa baru saja terjebak dalam permainan yang jauh lebih besar dari sekadar tagihan kerusakan rumah hiburan.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel