Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2 : Bangau Di Tengah Badai

Mangkuk diletakkan di atas meja.

Yun He mengangkat tangannya dan Zhao Feng bergerak cepat hendak membuka mangkuk. Tetapi, tangan Yun He lebih cepat menepisnya.

"Kau...!" Zhao Feng melotot.

Yun He hanya tersenyum. Tangannya bergerak cepat menahan mangkuk. Zhao Feng geram, lalu menekan mangkuk dadu. Untuk sesaat keduanya membuat mangkuk berputar-putar di atas meja. Orang-orang yang sedari tadi tertarik, menonton dengan penuh antusias.

"Sepertinya akan berakhir dengan tidak baik," bisik salah seorang pria pada rekannya.

"Iya, aku khawatir akan terjadi keributan." Sahut rekannya.

Sementara itu, Yun He masih bersikap tenang dan santai. Jarinya bergerak pelan, ujungnya menyentuh bagian atas mangkuk. Zhao Feng mencoba menggesernya, tetapi mangkuk sama sekali tidak bergerak.

"Mari kita lihat," ucap Yun He dengan santai.

Ketika mangkuk dibuka, semua orang terkesiap. Tiga dadu itu telah hancur menjadi bubuk halus. Namun, di atas tumpukan bubuk itu, tiga angka masih terlihat jelas. Enam. Enam. Enam. Delapan belas. Angka tertinggi.

Zhao Feng mundur selangkah, wajahnya pucat. "Bagaimana..."

Bi Wen hampir menjatuhkan kipasnya. Ia pernah mendengar teknik ini. Menghancurkan benda dengan qi internal sambil mempertahankan bentuknya hingga detik terakhir. Hanya segelintir pendekar yang mampu melakukannya dengan presisi seperti ini.

Tangannya bergetar saat menulis. "Tidak mungkin... Teknik ini..."

Yun He mengulurkan tangan dengan tenang. "Token giokmu."

Zhao Feng menerjang sebagai jawaban, pedangnya terhunus. "KAU CURANG!" Ia tidak peduli lagi dengan taruhan. Harga dirinya sudah hancur. Token itu tidak boleh jatuh ke tangan orang lain.

Yun He menghela napas panjang. Ia memiringkan tubuh sedikit, membiarkan pedang Zhao Feng melewati bahunya. Terlalu lambat. Terlalu mudah dibaca.

Ia melirik ke arah Chen Luo. "Chen Luo, jaga guqin-ku."

Chen Luo memeluk bungkusan kain putih di dadanya dengan protektif, matanya berkilat penuh semangat. "Sudah kupegang, Tuanku! Habisi dia!" Ia berteriak lebih keras lagi. "Setelah ini kita harus segera meminang gadis tercantik di ibukota agar nama Tuanku lengser dari daftar Bujang Tua Tak Laku!"

Bi Wen yang mendengar langsung mencatat dengan antusias, bergumam pada diri sendiri. "Bujang Tua... menarik sekali."

Zhao Feng menyerang membabi buta. Yun He menghindari setiap tebasan dengan gerakan minimal, sesekali menguap lebar yang membuat Zhao Feng semakin murka.

Zhao Feng meraung frustasi. "Berhenti menghindar dan lawan aku dengan benar!"

Yun He mengusap matanya yang berair karena menguap. "Merepotkan."

Meja dan kursi beterbangan. Wanita penghibur menjerit, berlarian mencari perlindungan. Para pengawal rumah hiburan datang mencoba menghentikan kekacauan, tetapi satu per satu tumbang hanya dengan satu sentuhan dari Yun He.

Bi Wen bergumam sambil menulis dengan kecepatan luar biasa. "Langkah kaki itu... Teknik menghindar ini sangat familiar. Tapi Bangau Salju seharusnya sedang mencari istri di selatan, bukan berkelahi di rumah hiburan..."

Chen Luo yang kebetulan mendekat mendengar gumaman itu. Ia tertawa keras. "Mencari istri? Bagaimana mungkin Tuanku mencari istri? Uang saja tidak punya! Gadis mana yang mau diberi mahar sebuah pedang?"

Bi Wen mencatat lagi dengan semangat membara. "Pendekar misterius... miskin... mencari istri..."

Di tengah ruangan, Yun He akhirnya berhenti menghindar. Zhao Feng terengah-engah di hadapannya, keringat membanjiri wajah, semua jurusnya tidak ada yang mengenai.

Yun He menatapnya dengan bosan. "Sudah selesai?"

Zhao Feng mengangkat pedangnya dengan gemetar, mengerahkan seluruh tenaga dalam serangan terakhir. "Jangan meremehkanku!" Pedangnya berkilat, membelah udara dengan kecepatan yang tidak main-main.

Yun He menyentil dahinya.

Satu sentilan. Hanya itu.

Tubuh Zhao Feng terpental ke belakang, menghancurkan tiga meja sekaligus sebelum akhirnya berhenti di tumpukan kursi yang patah. Ia tidak pingsan, tetapi tidak mampu bergerak. Seluruh meridiannya mati rasa.

Keheningan menyelimuti ruangan.

Lalu, dari balik tirai sutra, muncul seorang wanita paruh baya dengan sempoa di tangan. Madam Hua menatap kehancuran di sekelilingnya, lalu menatap Yun He dan Zhao Feng bergantian. Ada api yang berkobar di matanya.

Suaranya pelan, mendayu-dayu merayu, namun berbahaya. "Siapa yang akan membayar semua ini?"

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel