Bab 4 Hutan Kematian
Angin dingin berembus di antara pepohonan raksasa Hutan Eldoria.
Matahari sudah meninggi, tetapi sinarnya hampir tidak mampu menembus kanopi daun yang begitu rapat. Bayangan gelap menyelimuti sebagian besar wilayah hutan, membuat suasana terasa suram dan menyesakkan.
Alena berjalan di belakang Kael sambil terus memperhatikan sekeliling.
Sudah hampir setengah hari mereka meninggalkan tempat pertemuan pertama mereka.
Namun semakin jauh mereka masuk ke dalam hutan, semakin aneh suasana yang dirasakan Alena.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara serangga.
Bahkan angin yang berembus pun terdengar seperti bisikan-bisikan misterius.
"Apa tempat ini memang selalu seperti ini?" tanya Alena.
Kael tidak langsung menjawab.
Ia terus melangkah beberapa saat sebelum akhirnya berkata,
"Kita sudah memasuki wilayah yang disebut Hutan Kematian."
Alena mengernyit.
"Hutan Kematian?"
Kael mengangguk.
"Bagian terdalam Eldoria."
Tatapannya menyapu pepohonan besar di sekitar mereka.
"Tempat yang dihindari para pemburu."
"Itu tidak terdengar meyakinkan."
"Memang tidak."
Alena menelan ludah.
Semakin lama ia merasa keputusan mengikuti Kael mungkin bukan ide terbaik.
Namun kembali juga bukan pilihan.
Pasukan Duke Varren masih memburunya.
Dan untuk saat ini, Kael adalah satu-satunya orang yang bisa dipercaya.
Atau setidaknya, satu-satunya pilihan yang ia miliki.
"Kita menuju ke mana sebenarnya?"
"Tempat persembunyian."
"Milikmu?"
"Bisa dibilang begitu."
Jawaban Kael selalu singkat.
Dan itu membuat Alena semakin penasaran.
Siapa sebenarnya pria ini?
Bagaimana ia bisa mengenal ibunya?
Mengapa ia tinggal di hutan berbahaya seperti ini?
Namun setiap kali Alena mencoba bertanya lebih jauh, Kael selalu mengalihkan pembicaraan.
Seolah ada sesuatu yang sengaja disembunyikannya.
Mereka terus berjalan.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Tubuh Alena mulai terasa lelah.
Kakinya pegal.
Perutnya kosong.
Namun ia tidak mengeluh.
Setelah kehilangan kerajaan dan keluarganya, rasa lelah seperti ini terasa sepele.
Tiba-tiba Kael berhenti.
Refleks Alena ikut menghentikan langkah.
"Ada apa?"
Kael mengangkat tangan.
Memberi isyarat agar ia diam.
Alena langsung menegang.
Kemudian ia mendengarnya.
Suara geraman.
Pelan.
Namun jelas.
Dari balik semak-semak.
Geraman itu terdengar jauh lebih besar daripada suara serigala yang menyerangnya sebelumnya.
Kael perlahan mengambil busurnya.
"Jangan bergerak."
Bisiknya.
Alena mengangguk.
Jantungnya mulai berdebar.
Suara geraman semakin dekat.
Ranting-ranting patah.
Daun-daun berguncang.
Lalu sesuatu muncul dari balik pepohonan.
Mata Alena langsung membelalak.
Makhluk itu menyerupai serigala.
Tetapi ukurannya hampir tiga kali lebih besar dari serigala biasa.
Bulu hitam pekat menutupi seluruh tubuhnya.
Taring-taring panjang mencuat dari rahangnya.
Dan yang paling mengerikan—
Matanya menyala merah seperti bara api.
"Dewa..." bisik Alena.
Kael tetap tenang.
"Itu Shadow Wolf."
"Apa?"
"Monster."
Alena hampir lupa bernapas.
Monster.
Ia pernah membaca tentang mereka di perpustakaan kerajaan.
Makhluk-makhluk buas yang hidup di wilayah terlarang.
Namun selama ini ia mengira mereka hanyalah dongeng.
Ternyata tidak.
Shadow Wolf itu melangkah maju.
Ludah menetes dari taringnya.
Tatapannya terkunci pada Alena.
Kael langsung melepaskan anak panah.
SREET!
Panah melesat cepat.
Namun sesuatu yang tidak terduga terjadi.
Monster itu menghindar.
Dengan kecepatan luar biasa.
"Hati-hati!"
teriak Kael.
Shadow Wolf melompat.
Langsung ke arah Alena.
Segalanya terjadi begitu cepat.
Alena bahkan tidak sempat berpikir.
Instingnya mengambil alih.
Ia menjatuhkan tubuhnya ke samping.
Monster itu lewat hanya beberapa inci dari wajahnya.
Debu beterbangan.
Tanah bergetar saat tubuh raksasa itu mendarat.
Kael kembali menembakkan panah.
Kali ini mengenai bahu monster.
Namun Shadow Wolf hanya meraung marah.
Seolah serangan itu tidak berarti apa-apa.
"Sial."
Kael mencabut belati.
Monster itu kembali menyerang.
Kali ini ke arah Kael.
Pertarungan berlangsung cepat.
Terlalu cepat.
Kael menghindari cakar monster beberapa kali.
Namun jelas terlihat bahwa ia kesulitan.
Shadow Wolf jauh lebih kuat daripada lawan-lawan sebelumnya.
Alena berdiri gemetar.
Ia ingin membantu.
Tetapi tidak tahu caranya.
Ia bukan petarung.
Bahkan memegang pedang pun hampir tidak pernah.
Kemudian matanya menangkap sesuatu.
Sebuah cabang pohon besar tergantung tepat di atas monster.
Separuh patah.
Hanya tersangkut di batang utama.
Alena langsung berlari.
"Alena!"
teriak Kael.
Namun sang putri tidak berhenti.
Ia mengambil batu besar.
Lalu melemparkannya sekuat tenaga.
Batu itu menghantam bagian cabang yang retak.
KRAAAK!
Suara keras menggema.
Cabang raksasa itu patah.
Dan jatuh tepat menimpa Shadow Wolf.
DUAAAR!
Monster itu meraung kesakitan.
Tubuhnya terjepit.
Kesempatan itu tidak disia-siakan Kael.
Ia melompat maju.
Belatinya menembus mata monster.
Raungan mengerikan memenuhi hutan.
Lalu perlahan menghilang.
Shadow Wolf akhirnya mati.
Keheningan kembali menyelimuti hutan.
Kael terengah-engah.
Alena juga.
Beberapa detik berlalu sebelum Kael tertawa kecil.
"Itu cukup berani."
Alena masih berusaha menenangkan napas.
"Aku hampir mati."
"Itu juga benar."
Untuk pertama kalinya sejak bertemu, mereka sama-sama tersenyum.
Meski hanya sesaat.
Perjalanan kembali dilanjutkan.
Namun kini suasana terasa sedikit berbeda.
Kael mulai memandang Alena dengan cara baru.
Bukan sebagai putri yang harus dilindungi.
Melainkan seseorang yang mampu berpikir di bawah tekanan.
Matahari mulai tenggelam ketika mereka mencapai sebuah tebing.
Di balik tebing itu terdapat air terjun besar.
Air mengalir deras menuju sungai di bawah.
Pemandangannya begitu indah hingga Alena terdiam.
Namun kejutan sebenarnya belum berakhir.
Kael berjalan menembus tirai air.
Dan menghilang.
"Apa?"
Alena mengikuti.
Begitu melewati air terjun, matanya langsung membelalak.
Di baliknya terdapat sebuah gua besar.
Lengkap dengan perapian.
Persediaan makanan.
Tempat tidur sederhana.
Dan berbagai perlengkapan berburu.
"Ini tempat tinggalmu?"
Kael mengangguk.
"Selama beberapa tahun terakhir."
Alena masih sulit percaya.
Gua itu jauh lebih nyaman daripada yang ia bayangkan.
Setelah menyalakan api unggun, Kael mulai memanggang daging hasil buruan.
Aroma makanan segera memenuhi ruangan.
Baru saat itulah Alena menyadari betapa laparnya ia.
Mereka makan dalam diam.
Untuk pertama kalinya sejak kejatuhan Arvandia, perut Alena terisi dengan layak.
Perasaan hangat dari makanan membuat tubuhnya sedikit rileks.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Saat malam tiba, Kael mengeluarkan sesuatu dari tasnya.
Sebuah gulungan peta.
Ia membentangkannya di atas batu datar.
Alena mendekat.
"Itu peta Arvandia."
Kael mengangguk.
"Lihat ini."
Ia menunjuk beberapa titik merah.
Alena langsung mengenalinya.
Pos militer kerajaan.
Namun semuanya telah diberi tanda silang.
"Apa maksudnya?"
"Sudah jatuh."
Jantung Alena terasa berat.
"Semuanya?"
"Hampir semuanya."
Kael menunjuk bagian timur kerajaan.
"Hanya beberapa wilayah yang masih bertahan."
Alena menatap peta itu.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar memahami situasi mereka.
Kerajaannya telah hancur.
Pasukan musuh menguasai sebagian besar wilayah.
Dan dirinya hanyalah seorang buronan tanpa pasukan.
Harapan kemenangan terasa mustahil.
Namun saat itulah Kael berkata,
"Masih ada orang-orang yang setia."
Alena mengangkat kepala.
"Apa?"
"Para mantan kesatria."
"Jenderal."
"Dan bangsawan yang menolak tunduk pada Varren."
Mata Alena mulai membesar.
"Mereka masih hidup?"
"Sebagian."
Kael menatapnya serius.
"Itulah alasan kau harus bertahan hidup."
Untuk beberapa saat, Alena hanya diam.
Kemudian ia melihat pantulan api unggun di matanya sendiri.
Dulu ia adalah seorang putri.
Kini ia seorang pelarian.
Namun mungkin suatu hari...
Ia bisa menjadi lebih dari itu.
Di luar gua, angin malam kembali bertiup.
Jauh di ibu kota, Duke Varren sedang duduk di atas takhta yang bukan miliknya.
Dan tanpa ia sadari—
Orang yang paling ingin ia bunuh masih hidup.
Masih bernapas.
Dan perlahan mulai bangkit.
Perjalanan balas dendam Putri Alena baru saja dimulai.
