
Ringkasan
Balas Dendam Sang Putri Dalam satu malam, kehidupan Putri Alena hancur berkeping-keping. Kerajaan Arvandia yang makmur jatuh ke tangan para pengkhianat. Raja dan ratu dibunuh di hadapan rakyat mereka, sementara istana yang selama ini menjadi rumah Alena berubah menjadi lautan api. Di balik tragedi itu berdiri Duke Varren, penasihat kerajaan yang selama bertahun-tahun mendapatkan kepercayaan penuh dari keluarga kerajaan. Berhasil melarikan diri melalui lorong rahasia bersama seorang kesatria setia, Alena terpaksa meninggalkan identitasnya dan hidup dalam pengasingan. Selama bertahun-tahun, ia menyembunyikan diri sambil mengasah kemampuan bertarung, mempelajari strategi perang, dan mengumpulkan sekutu yang masih setia pada takhta Arvandia. Namun jalan balas dendam tidak pernah mudah. Ketika Alena mulai membangun kekuatannya untuk merebut kembali kerajaan, ia menemukan bahwa pengkhianatan yang menghancurkan keluarganya hanyalah bagian kecil dari konspirasi yang jauh lebih besar. Musuh yang selama ini ia benci ternyata bukan satu-satunya dalang di balik kejatuhan Arvandia. Akankah Putri Alena berhasil membalas kematian keluarganya dan merebut kembali takhta yang dirampas? Ataukah dendam akan mengubahnya menjadi sosok yang sama kejamnya dengan para pengkhianat yang telah menghancurkan hidupnya? Sebuah kisah epik tentang pengkhianatan, kehilangan, cinta, peperangan, dan perjuangan seorang putri untuk bangkit dari abu kehancuran demi merebut kembali takdirnya.
Bab 1 Malam Berdarah
Hujan turun tanpa henti di atas Kerajaan Arvandia.
Langit malam diselimuti awan hitam pekat yang menutupi cahaya bulan. Kilatan petir sesekali membelah cakrawala, menerangi menara-menara tinggi Istana Arvandia yang menjulang megah di tengah ibu kota.
Namun malam itu bukan malam biasa.
Seluruh istana dipenuhi cahaya lilin dan suara musik meriah. Para bangsawan dari berbagai wilayah berkumpul untuk menghadiri perayaan kemenangan Raja Aldric setelah berhasil mengakhiri perang panjang di perbatasan utara.
Di aula utama, gelas-gelas kristal beradu.
Tawa dan percakapan memenuhi ruangan.
Para pelayan berlalu-lalang membawa hidangan terbaik kerajaan.
Di tengah kemegahan itu berdiri seorang gadis berusia tujuh belas tahun dengan gaun biru keperakan yang berkilauan di bawah cahaya lampu.
Putri Alena.
Rambut hitam panjangnya terurai indah hingga punggung, sementara mata birunya memantulkan cahaya seperti permata langka.
Semua orang yang melihatnya mengakui satu hal.
Putri Alena adalah bunga paling cantik di Arvandia.
Namun malam itu, Alena tampak gelisah.
Entah mengapa, ada perasaan aneh yang terus mengganggunya sejak sore.
"Kenapa wajahmu muram seperti itu?"
Suara hangat membuat Alena menoleh.
Di sampingnya berdiri Raja Aldric.
Pria berusia lima puluh tahun itu masih tampak gagah dengan jubah kerajaan berwarna merah tua dan mahkota emas di kepalanya.
Alena tersenyum kecil.
"Ayah."
Raja mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Kau tidak menikmati pesta ini?"
"Aku tidak tahu. Rasanya ada sesuatu yang tidak beres."
Raja tertawa pelan.
"Kau terlalu banyak berpikir."
"Ayah benar-benar tidak merasa ada yang aneh?"
"Tidak."
Raja menatap seluruh aula.
"Malam ini adalah malam kemenangan. Rakyat bahagia. Para bangsawan bersuka cita. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Alena mencoba tersenyum.
Namun perasaan tidak nyaman itu tidak juga hilang.
Tatapannya tanpa sadar tertuju pada seorang pria yang berdiri di dekat jendela besar aula.
Duke Varren.
Penasihat kerajaan.
Sahabat sekaligus orang kepercayaan ayahnya selama lebih dari dua puluh tahun.
Pria itu sedang berbicara dengan beberapa bangsawan sambil tersenyum ramah.
Tidak ada yang terlihat mencurigakan.
Tetapi entah mengapa Alena merasa tatapan pria itu berbeda malam ini.
Dingin.
Kosong.
Dan mengerikan.
"Tuan Putri?"
Suara seorang pelayan membuat Alena tersadar.
"Yang Mulia Ratu meminta Anda datang ke taman belakang."
Alena mengangguk.
"Baik."
Ia berjalan keluar aula menuju taman istana.
Udara malam terasa dingin.
Bunga-bunga mawar yang biasanya tampak indah kini bergoyang diterpa angin kencang.
Di gazebo tengah taman, Ratu Elara sedang menunggu.
Wanita itu tersenyum ketika melihat putrinya.
"Alena."
"Ibu."
Alena memeluk ibunya.
Ratu Elara selalu menjadi sosok yang paling dekat dengannya.
"Bagaimana pestanya?" tanya sang ratu.
"Menyenangkan."
"Tapi?"
Alena menghela napas.
"Aku merasa ada sesuatu yang buruk akan terjadi."
Ratu Elara tersenyum lembut.
"Kau mewarisi intuisi nenekmu."
"Jadi Ibu juga merasakannya?"
Senyuman sang ratu perlahan memudar.
Untuk sesaat, wajahnya tampak serius.
"Beberapa hari terakhir memang ada laporan yang membuatku khawatir."
Alena menatap ibunya.
"Laporan apa?"
Namun sebelum sang ratu menjawab, suara lonceng besar tiba-tiba menggema dari arah gerbang utama istana.
DONG!
DONG!
DONG!
Alena membeku.
Lonceng darurat.
Lonceng itu hanya dibunyikan ketika kerajaan berada dalam bahaya.
Para penjaga mulai berlari.
Suara teriakan terdengar dari kejauhan.
Kemudian—
"SERANGAN!"
"PASUKAN MUSUH MASUK!"
"WASPADA!"
Wajah Ratu Elara langsung pucat.
"Tidak..."
Alena merasakan jantungnya berdegup keras.
"Mustahil..."
Perang telah berakhir.
Tidak ada musuh yang cukup kuat untuk menyerang ibu kota.
Lalu siapa?
Suara dentingan pedang mulai terdengar.
Jeritan menggema di berbagai sudut istana.
Langit malam yang tadinya tenang berubah menjadi kekacauan dalam hitungan detik.
Tiba-tiba seorang kesatria berlari menuju taman.
Tubuhnya dipenuhi darah.
"Yang Mulia!"
Ratu Elara menatapnya.
"Apa yang terjadi?"
"Gerbang utama dibuka dari dalam!"
Alena terkejut.
"Dibuka dari dalam?"
"Itu pengkhianatan!"
Kesatria itu terengah-engah.
"Pasukan bersenjata telah memasuki istana!"
Wajah Ratu Elara langsung berubah.
Ia tampak memahami sesuatu.
Dan itu membuat Alena semakin takut.
"Ibu?"
Ratu Elara menggenggam kedua bahu putrinya.
"Dengarkan aku baik-baik."
"Apa?"
"Apa pun yang terjadi malam ini, kau harus hidup."
Alena menggeleng.
"Tidak."
"Alena!"
Air mata mulai menggenang di mata sang ratu.
"Kau adalah harapan terakhir Arvandia."
Suara ledakan mengguncang tanah.
BOOOM!
Salah satu menara istana runtuh.
Api mulai terlihat di kejauhan.
Para pelayan berlari ketakutan.
Jeritan memenuhi udara.
Alena merasa seluruh dunianya runtuh.
"Ayah..."
"Ayahmu sedang memimpin pertahanan."
"Aku harus membantunya."
"Tidak!"
Ratu Elara memeluk putrinya erat.
"Kau harus pergi."
Langkah kaki terdengar mendekat.
Sir Roland muncul dari balik semak-semak.
Kesatria tua itu merupakan kepala pengawal kerajaan.
Wajahnya penuh luka.
"Yang Mulia."
Ratu Elara mengangguk.
"Bawa dia."
Alena langsung menggeleng.
"Tidak!"
"Alena."
Sang ratu memegang wajah putrinya.
Tatapan matanya penuh kasih sayang.
Untuk pertama kalinya, Alena melihat ketakutan di mata ibunya.
"Aku mencintaimu."
Air mata Alena jatuh.
"Ibu..."
"Kau harus hidup."
"Jangan tinggalkan aku."
Suara sang putri pecah.
Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun lagi, teriakan terdengar dari arah aula.
"Mereka datang!"
"Mereka sudah sampai!"
Sir Roland segera menarik Alena.
"Kita harus pergi sekarang!"
"Tidak!"
Alena meronta.
"Aku tidak mau!"
Tiba-tiba suara yang sangat dikenalnya terdengar dari kejauhan.
"ALENA!"
Sang putri menoleh.
Raja Aldric berdiri di ujung taman.
Pedangnya berlumuran darah.
Di belakangnya terdapat puluhan mayat.
Namun wajah sang raja tampak lelah.
Dan putus asa.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Alena melihat ayahnya kalah.
Raja Aldric tersenyum.
Senyuman yang membuat hati Alena hancur.
"Hiduplah."
Hanya satu kata itu.
Kemudian puluhan prajurit bersenjata muncul dari balik gerbang taman.
Mereka mengenakan lambang kerajaan.
Tetapi menyerang sang raja.
Pengkhianat.
Mata Alena membelalak.
Di belakang para prajurit itu berdiri seseorang yang sangat dikenalnya.
Duke Varren.
Pria itu melangkah maju dengan tenang.
Jubah hitamnya berkibar diterpa angin malam.
"Sudah berakhir, Yang Mulia."
Raja Aldric menatapnya.
"Kau..."
"Ya."
Duke Varren tersenyum tipis.
"Aku yang membuka gerbang."
Dunia Alena seakan berhenti berputar.
Tidak.
Ini tidak mungkin.
Pria itu adalah sahabat ayahnya.
Orang yang selama ini dipercaya keluarga kerajaan.
"Kenapa?" teriak Alena.
Duke Varren menoleh.
Tatapannya dingin.
"Tidak ada kerajaan yang bertahan selamanya, Putri."
"Kau membunuh keluargaku!"
"Aku hanya mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."
Raja Aldric mengangkat pedangnya.
"Pengkhianat!"
Duke Varren tertawa kecil.
"Sejarah hanya akan mengingat pemenang."
Kemudian ia memberi isyarat.
Puluhan prajurit menyerang sekaligus.
Pertempuran terakhir dimulai.
Raja Aldric bertarung seperti singa terluka.
Satu demi satu musuh tumbang.
Namun jumlah mereka terlalu banyak.
Terlalu banyak.
Pedang menusuk bahu sang raja.
Lalu dada.
Kemudian perut.
Alena menjerit.
"AYAH!"
Raja Aldric jatuh berlutut.
Darah mengalir membasahi tanah.
Meski begitu, ia masih menatap putrinya.
Masih tersenyum.
"Hiduplah..."
Itulah kata terakhirnya.
Sesaat kemudian tubuh sang raja roboh.
Mata Alena membelalak.
Pikirannya kosong.
Tidak.
Tidak.
Tidak.
Ini bukan kenyataan.
Ayahnya tidak mungkin mati.
Ayahnya adalah raja.
Ayahnya adalah pahlawan.
Ayahnya tidak mungkin kalah.
Namun tubuh yang terbaring di tanah itu tidak bergerak lagi.
Untuk selamanya.
Alena menjerit sekuat tenaga.
Jeritan yang dipenuhi kesedihan.
Kemarahan.
Dan kebencian.
Dunia yang dikenalnya telah berakhir malam itu.
Sir Roland segera menariknya.
"Kita harus pergi!"
Alena tidak melawan lagi.
Tubuhnya terasa mati rasa.
Ratu Elara berdiri di depan mereka.
Air mata mengalir di pipinya.
Namun ia tetap tersenyum.
Senyum seorang ibu yang sedang mengucapkan selamat tinggal.
Sir Roland membuka pintu rahasia yang tersembunyi di balik patung tua.
Lorong gelap terbuka.
"Masuk!"
Alena melangkah mundur.
"Ibu..."
Ratu Elara mengangguk.
"Pergilah."
"Itu perintah seorang ratu."
Air mata terus mengalir dari mata Alena.
"Ibu..."
"Aku mencintaimu."
Pintu rahasia mulai tertutup.
Alena melihat ibunya untuk terakhir kalinya.
Kemudian semuanya menjadi gelap.
Di dalam lorong rahasia, suara pertempuran masih terdengar dari kejauhan.
Tangisan Alena menggema di antara dinding batu.
Ia kehilangan ayahnya.
Kehilangan ibunya.
Kehilangan rumahnya.
Kehilangan kerajaannya.
Beberapa menit kemudian, suara ledakan besar mengguncang tanah.
BOOOOM!
Sir Roland menunduk.
Alena tahu apa artinya.
Istana Arvandia telah jatuh.
Malam itu, seorang putri kehilangan segalanya.
Namun di tengah kehancuran dan air mata, sesuatu lahir di dalam hatinya.
Bukan harapan.
Bukan keberanian.
Melainkan dendam.
Dendam yang membakar lebih panas daripada api yang melahap istananya.
Alena mengepalkan tangan hingga kukunya melukai kulit.
Air mata masih mengalir.
Tetapi tatapannya telah berubah.
"Aku bersumpah..."
Suaranya bergetar.
"Aku akan kembali."
Lorong gelap itu menjadi saksi sumpahnya.
"Aku akan merebut kembali kerajaanku."
Dan bagi mereka yang telah menghancurkan keluarganya...
"Aku akan membuat mereka membayar semuanya."
Malam berdarah itu menjadi akhir dari kehidupan Putri Alena.
Dan awal dari legenda yang kelak akan mengguncang seluruh benua.
