Bab 3 Sumpah Dendam
Fajar perlahan menyingsing di ufuk timur.
Kabut tipis menyelimuti Hutan Eldoria, menciptakan suasana sunyi yang terasa mencekam. Embun masih menempel di dedaunan, sementara sinar matahari pertama berusaha menembus rimbunnya pepohonan tua.
Namun bagi Alena, keindahan pagi itu tidak berarti apa-apa.
Pikirannya hanya dipenuhi satu pertanyaan.
Siapa pria misterius di hadapannya?
Ia berdiri dengan tubuh tegang, siap melarikan diri kapan saja jika keadaan berubah berbahaya.
Pria berjubah abu-abu itu menatapnya dengan tenang.
Busur panjang masih tergantung di punggungnya, sementara dua bangkai serigala tergeletak di dekat mereka.
"Kau mengenaliku?" tanya Alena hati-hati.
Pria itu mengangguk pelan.
"Seluruh Arvandia mengenal wajahmu."
Alena tidak menyukai jawaban itu.
"Aku bertanya bagaimana kau tahu aku ada di sini."
Pria itu tersenyum tipis.
"Kau lebih mirip ayahmu daripada ibumu."
Alena membeku.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Nama ayahnya masih terasa seperti luka yang baru terbuka.
Siapa pun pria ini, ia mengetahui lebih banyak daripada yang seharusnya.
Perlahan pria itu membuka tudungnya.
Wajahnya terlihat jelas.
Usianya mungkin sekitar dua puluh lima tahun.
Rambut cokelat gelapnya sedikit berantakan.
Rahangnya tegas.
Mata hijau zamrudnya tajam seperti elang.
Namun bukan itu yang membuat Alena terkejut.
Melainkan bekas luka panjang yang membentang dari pelipis hingga pipi kirinya.
Luka lama.
Luka seorang petarung.
"Namaku Kael."
Alena tetap diam.
"Aku bukan musuhmu."
"Itu yang selalu dikatakan musuh sebelum menikam dari belakang."
Kael tertawa kecil.
"Ternyata kau tidak selembut yang dikatakan orang."
"Orang-orang juga bilang Duke Varren setia kepada kerajaan."
Senyum Kael langsung menghilang.
Untuk beberapa saat, keheningan menyelimuti mereka.
Kemudian pria itu mengangguk.
"Point yang bagus."
Alena memperhatikan setiap gerakannya.
Ia tidak tahu apakah bisa mempercayai pria ini.
Tetapi satu hal yang pasti.
Kael tidak tampak terkejut mengetahui identitasnya.
Seolah ia memang mencarinya.
"Apa yang kau inginkan?"
Kael menghela napas.
"Aku ingin membantumu."
"Kenapa?"
"Karena aku membenci Duke Varren."
Jawaban itu terdengar terlalu sederhana.
Alena menyipitkan mata.
"Hanya itu?"
"Tidak."
Kael menatap ke arah timur.
Ke arah tempat berdirinya ibu kota Arvandia.
Asap hitam masih terlihat membumbung ke langit.
"Keluargaku dibunuh olehnya."
Alena terdiam.
Ada sesuatu dalam suara pria itu.
Sesuatu yang sangat dikenalnya.
Rasa kehilangan.
Kemarahan.
Dan dendam.
Kael mengepalkan tangan.
"Lima tahun lalu, ayahku adalah seorang jenderal yang menolak bekerja sama dengan Varren."
Tatapannya mengeras.
"Beberapa minggu kemudian seluruh keluargaku dituduh berkhianat."
Alena merasakan dadanya sesak.
"Apa yang terjadi?"
"Mereka dieksekusi."
Suaranya terdengar dingin.
"Tidak melalui pengadilan."
"Tidak diberi kesempatan membela diri."
Kael menatap langit.
"Hanya dibunuh."
Untuk pertama kalinya sejak pertemuan mereka, Alena melihat emosi di mata pria itu.
Kebencian.
Kebencian yang mendalam.
Dan tiba-tiba Alena memahami sesuatu.
Mereka memiliki musuh yang sama.
Namun itu tidak berarti ia bisa langsung mempercayainya.
"Apa buktinya kau tidak bekerja untuk Varren?"
Kael mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya.
Sebuah liontin perak.
Mata Alena langsung membesar.
Itu lambang keluarga kerajaan Arvandia.
"Di mana kau mendapatkannya?"
"Ibumu memberikannya kepadaku."
Alena membeku.
"Apa?"
"Beberapa bulan lalu."
Kael menyerahkan liontin itu.
Dengan tangan gemetar, Alena menerimanya.
Ia mengenali benda tersebut.
Liontin itu milik Ratu Elara.
Tidak mungkin dipalsukan.
Di bagian belakangnya terdapat ukiran khusus yang hanya diketahui keluarga kerajaan.
Air mata mulai memenuhi mata Alena.
"Ibu..."
Kael berbicara pelan.
"Sepertinya mereka sudah mengetahui sesuatu akan terjadi."
Alena menggenggam liontin itu erat-erat.
Perasaannya campur aduk.
Sedih.
Rindu.
Marah.
Namun di saat yang sama, ada secercah harapan.
Mungkin ibunya memang telah mempersiapkan sesuatu.
Sesuatu untuk melindunginya.
"Apa yang dikatakan ibuku?"
Kael terdiam beberapa saat.
Kemudian menjawab.
"Jika suatu hari Arvandia jatuh, aku harus menemukanmu."
Alena menatapnya.
"Itu saja?"
"Tidak."
Kael menghela napas.
"Beliau berkata bahwa masa depan kerajaan berada di tanganmu."
Mendengar itu, Alena menundukkan kepala.
Masa depan kerajaan.
Kalimat tersebut terasa begitu berat.
Ia bahkan gagal menyelamatkan keluarganya.
Bagaimana mungkin ia menyelamatkan sebuah kerajaan?
Tiba-tiba suara terompet terdengar dari kejauhan.
Kael langsung waspada.
"Itu tidak bagus."
"Apa?"
"Mereka sudah mulai mencari."
Keduanya segera naik ke sebuah bukit kecil.
Dari sana mereka bisa melihat jalan utama yang membelah hutan.
Puluhan penunggang kuda bergerak ke segala arah.
Membawa bendera hitam bergambar ular.
Pasukan Duke Varren.
Mereka sedang memburu seseorang.
Memburu dirinya.
Alena menggigit bibir.
Ternyata semuanya benar.
Ia kini menjadi orang yang paling dicari di Arvandia.
Kael mengambil sebuah gulungan kertas dari tasnya.
"Lihat ini."
Alena membukanya.
Matanya langsung membelalak.
Di atas kertas itu terdapat gambar wajahnya.
Di bawahnya tertulis:
BURONAN KERAJAAN
Putri Alena Arvandia
Hidup atau mati
Hadiah: 10.000 keping emas
Tangan Alena bergetar.
Sepuluh ribu emas.
Jumlah yang cukup untuk mengubah kehidupan seseorang.
Artinya siapa pun bisa tergoda mengkhianatinya.
Petani.
Pedagang.
Bahkan bangsawan.
Semua orang bisa menjadi musuh.
"Varren benar-benar takut padamu."
Alena tertawa pahit.
"Aku sendirian."
"Justru itu."
Kael menatapnya serius.
"Jika kau tidak berbahaya, dia tidak akan mengeluarkan hadiah sebesar itu."
Alena tidak menjawab.
Namun jauh di dalam hatinya, sebuah pertanyaan mulai muncul.
Mengapa Duke Varren begitu takut padanya?
Bukankah ia hanya seorang putri yang kehilangan segalanya?
Kael seolah membaca pikirannya.
"Karena kau pewaris sah Arvandia."
Angin pagi berembus pelan.
Membawa aroma tanah basah dan dedaunan.
Kael melanjutkan.
"Selama kau masih hidup, rakyat akan selalu memiliki alasan untuk melawan."
Alena menatap kejauhan.
Ia teringat wajah ayahnya.
Teringat senyum terakhir ibunya.
Teringat Sir Roland.
Dan semua orang yang mati demi menyelamatkannya.
Perlahan tangannya mengepal.
Selama ini ia hanya memikirkan kesedihannya sendiri.
Tetapi mereka semua telah berkorban untuk satu tujuan.
Agar ia hidup.
Agar harapan Arvandia tetap ada.
Kael berdiri.
"Ayo."
"Kemana?"
"Kita harus pergi sebelum pasukan itu menemukan kita."
Alena tidak bergerak.
Ia terus menatap ke arah ibu kota.
Ke arah tempat masa lalunya terbakar menjadi abu.
Kemudian perlahan ia berdiri.
Sinar matahari pagi menyinari wajahnya.
Air mata terakhir jatuh dari matanya.
Namun kali ini tidak ada tangisan.
Tidak ada ratapan.
Yang tersisa hanya tekad.
Dendam yang selama ini membara mulai berubah menjadi sesuatu yang lebih kuat.
Tujuan.
"Aku tidak akan lari selamanya."
Kael menoleh.
"Apa?"
Alena mengangkat kepala.
Tatapan matanya berbeda dari sebelumnya.
Lebih tajam.
Lebih kuat.
"Duke Varren mengambil keluargaku."
Angin mengibarkan rambut hitamnya.
"Dia mengambil kerajaanku."
Tangannya menggenggam liontin milik ibunya.
"Dia mengambil segalanya dariku."
Kael memperhatikannya tanpa berkata apa-apa.
Alena menatap langsung ke arah istana yang jauh di kejauhan.
Kemudian mengucapkan kata-kata yang kelak akan mengubah nasib seluruh benua.
"Aku bersumpah."
Suaranya tenang.
Tetapi penuh keyakinan.
"Suatu hari nanti aku akan kembali."
Kael tersenyum tipis.
"Aku berharap kau mengatakan itu."
Alena melanjutkan.
"Aku akan merebut kembali takhta Arvandia."
"Aku akan membebaskan rakyatku."
Dan yang terakhir—
Tatapan matanya dipenuhi api kebencian.
"Aku akan membuat Duke Varren membayar setiap tetes darah yang telah dia tumpahkan."
Hutan Eldoria menjadi saksi sumpah itu.
Sumpah seorang putri yang kehilangan segalanya.
Sumpah yang suatu hari akan menyalakan api perang.
Dan tanpa disadari Alena...
Di balik runtuhnya kerajaannya, sebuah takdir yang jauh lebih besar telah mulai bergerak.
