Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5 Pemburu Bayaran

Malam turun perlahan di atas Hutan Eldoria.

Suara air terjun bergemuruh lembut di luar gua, menjadi satu-satunya suara yang terdengar di tengah kesunyian malam. Api unggun di tengah gua masih menyala, memantulkan cahaya jingga pada dinding batu yang kasar.

Alena duduk di dekat api.

Sudah tiga hari sejak ia tiba di tempat persembunyian Kael.

Tiga hari sejak kehidupannya berubah selamanya.

Selama tiga hari itu, Kael mulai mengajarinya berbagai hal yang tidak pernah dipelajari seorang putri.

Cara membaca jejak.

Cara menyalakan api.

Cara menggunakan pisau berburu.

Cara bertahan hidup.

Dan ternyata Alena sangat buruk dalam hampir semuanya.

"Kau memegang pisaunya terbalik."

Suara Kael membuat Alena menghela napas kesal.

"Aku tahu."

"Tidak. Kalau tahu, kau tidak akan hampir menusuk tanganmu sendiri."

Alena meletakkan pisau itu dengan kesal.

"Dulu aku punya pelayan yang memotong buah untukku."

"Itulah masalahnya."

Kael menyeringai.

"Kau terlalu lama hidup sebagai putri."

Alena melemparkan potongan kayu ke arahnya.

Kael tertawa.

Untuk pertama kalinya setelah kejatuhan Arvandia, Alena merasakan sesuatu yang hampir menyerupai kehidupan normal.

Hampir.

Karena setiap malam ketika mencoba tidur, mimpi buruk selalu datang.

Ia masih melihat wajah ayahnya.

Masih mendengar teriakan ibunya.

Masih melihat istana terbakar.

Dan setiap kali terbangun, kenyataan terasa sama menyakitkannya.

Kael yang menyadarinya tidak pernah bertanya.

Namun Alena tahu pria itu mengerti.

Karena ia sendiri juga hidup bersama luka masa lalu.

Tiba-tiba Kael berdiri.

Wajahnya berubah serius.

"Ada yang salah."

Alena langsung waspada.

"Apa?"

Kael mengambil busurnya.

"Lampu."

"Apa maksudmu?"

Pria itu menunjuk ke luar gua.

Alena mendekat.

Mata birunya langsung membelalak.

Di kejauhan.

Jauh di antara pepohonan.

Terlihat cahaya obor.

Banyak sekali.

Puluhan.

Mungkin lebih.

Mereka bergerak perlahan menembus hutan.

Mencari sesuatu.

Mencari seseorang.

"Mereka menemukan kita?"

bisik Alena.

Kael menggeleng.

"Belum."

"Lalu?"

"Pemburu."

Jantung Alena langsung berdegup lebih cepat.

Pasukan Duke Varren.

Mereka masih memburunya.

Namun Kael tampak lebih khawatir daripada biasanya.

Dan itu membuat Alena tidak nyaman.

"Apa ada yang berbeda?"

Kael tidak langsung menjawab.

Ia terus memperhatikan cahaya-cahaya itu.

Kemudian wajahnya berubah muram.

"Sial."

"Apa?"

"Dia benar-benar serius."

Alena mengerutkan kening.

"Siapa?"

Kael menoleh.

"Duke Varren."

"Lalu?"

Kael menunjuk salah satu obor yang bergerak terpisah dari kelompok utama.

Obor itu bergerak sangat cepat.

Terlalu cepat.

Bahkan seperti sedang melayang.

"Itu bukan prajurit biasa."

Alena merasakan tenggorokannya mengering.

"Siapa dia?"

Kael menarik napas panjang.

"Seseorang yang tidak ingin kita temui."

---

Ratusan kilometer dari sana.

Di ibu kota Arvandia.

Duke Varren duduk di atas singgasana emas.

Singgasana yang dulunya milik Raja Aldric.

Kini menjadi simbol kekuasaannya.

Ruangan itu sunyi.

Para bangsawan berdiri dengan kepala tertunduk.

Tak seorang pun berani menatap langsung ke arah penguasa baru Arvandia.

Varren memainkan sebuah cincin emas di jarinya.

Wajahnya tampak tenang.

Namun matanya dingin seperti es.

"Belum ditemukan?"

Suara rendahnya menggema di aula.

Seorang kapten pasukan berlutut.

"Maafkan kami, Yang Mulia."

Tatapan Varren langsung berubah tajam.

"Aku bukan raja."

Kapten itu langsung pucat.

"Maaf."

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Kemudian Varren tersenyum tipis.

Senyuman yang membuat semua orang merasa ngeri.

"Kalau begitu, apa kabar baik yang kau bawa?"

Kapten itu menelan ludah.

"Kami menemukan jejak mereka memasuki Hutan Eldoria."

Varren berhenti memainkan cincinnya.

"Hutan Kematian?"

"Ya."

Untuk pertama kalinya, senyum kecil muncul di wajah pria itu.

"Bagus."

Para bangsawan saling berpandangan bingung.

Mereka tidak mengerti.

Bukankah itu berarti Alena berhasil lolos?

Namun Varren tampak justru senang.

Karena ia tahu sesuatu yang tidak diketahui orang lain.

"Kalau begitu dia akan menemukannya."

Bisiknya pelan.

Dan seluruh ruangan mendadak terasa lebih dingin.

---

Kembali di Hutan Eldoria.

Alena sedang mengasah pisau kecil ketika Kael tiba-tiba berdiri.

Ia terlihat gelisah.

Sangat gelisah.

"Apa sebenarnya yang terjadi?"

Kael menatap api unggun.

Kemudian berkata,

"Pernah mendengar nama Raven?"

Alena menggeleng.

"Siapa itu?"

Kael tidak langsung menjawab.

Seolah sedang memilih kata-kata yang tepat.

"Sepuluh tahun lalu."

"Seorang pembunuh bayaran muncul di kerajaan-kerajaan utara."

"Tak seorang pun tahu asal-usulnya."

"Tidak ada yang tahu wajahnya."

Alena mulai memperhatikan.

"Dan?"

Kael menatap kobaran api.

"Dalam dua tahun."

"Dia membunuh tiga raja."

Alena membeku.

"Tiga?"

Kael mengangguk.

"Empat jenderal."

"Puluhan bangsawan."

"Dan seorang penyihir perang."

Keheningan memenuhi gua.

Alena hampir tidak percaya.

Satu orang melakukan semua itu?

Mustahil.

Namun ekspresi Kael menunjukkan bahwa ia tidak sedang bercanda.

"Dia manusia?"

Kael tersenyum pahit.

"Itu masih menjadi perdebatan."

Alena merasakan bulu kuduknya meremang.

"Lalu apa hubungannya dengan kita?"

Kael menatapnya.

"Jika dugaanku benar..."

Suara pria itu terdengar berat.

"Duke Varren menyewanya."

Jantung Alena langsung berdebar.

"Untuk membunuhku?"

"Ya."

Keheningan kembali menyelimuti gua.

Untuk pertama kalinya sejak melarikan diri dari istana, Alena benar-benar merasakan ketakutan.

Bukan karena pasukan.

Bukan karena monster.

Melainkan karena seseorang yang bahkan tidak pernah dilihatnya.

Namun reputasinya saja sudah cukup mengerikan.

Tiba-tiba—

KRAAAK!

Suara ranting patah terdengar dari luar.

Kael langsung berdiri.

Busurnya sudah berada di tangan dalam sekejap.

Alena ikut bangkit.

Suasana berubah tegang.

Kemudian...

Langkah kaki.

Pelan.

Tenang.

Mendekat.

Tidak seperti pemburu.

Tidak seperti prajurit.

Melainkan seperti seseorang yang tahu persis apa yang sedang dilakukannya.

Kael mengangkat anak panah.

Siap menembak.

Langkah itu berhenti tepat di luar gua.

Keheningan.

Lalu sebuah suara terdengar.

Suara pria.

Tenang.

Datar.

Namun entah kenapa membuat darah Alena membeku.

"Aku tahu kalian di sana."

Kael tidak menjawab.

Suara itu kembali terdengar.

"Duke Varren menginginkan gadis itu hidup."

"Hadiah tambahan jika tanpa luka."

Alena menahan napas.

Kael perlahan menarik tali busurnya.

"Kalau begitu masuk dan ambil sendiri."

Beberapa detik berlalu.

Kemudian suara pria itu tertawa kecil.

"Hm."

"Tidak."

"Aku lebih suka kalian keluar."

Tiba-tiba sebuah belati melesat masuk ke dalam gua.

SREET!

Kael langsung menghindar.

Belati itu menancap di dinding batu.

Dalam.

Sangat dalam.

Padahal dilempar dari luar.

Mata Kael langsung membesar.

Dan untuk pertama kalinya...

Alena melihat ketakutan di wajah pria itu.

"Itu dia."

bisiknya.

"Raven."

Jantung Alena terasa berhenti.

Pemburu bayaran legendaris itu akhirnya menemukan mereka.

Di luar gua.

Sesosok pria berpakaian hitam berdiri di bawah cahaya bulan.

Wajahnya tertutup topeng perak.

Tangannya santai di samping tubuh.

Seolah memburu putri terakhir Arvandia hanyalah pekerjaan biasa.

Dan mungkin memang begitu.

Karena selama bertahun-tahun.

Tak seorang pun pernah berhasil lolos darinya.

Namun Raven belum mengetahui satu hal.

Putri yang diburunya bukan lagi gadis yang melarikan diri dari istana beberapa hari lalu.

Dan jika takdir menghendakinya...

Malam ini akan menjadi awal pertarungan pertama dalam perjalanan balas dendam Putri Alena.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel