Bab 2 Pelarian Terakhir
Kegelapan menyelimuti lorong bawah tanah yang membentang jauh di bawah Istana Arvandia.
Langkah kaki Sir Roland bergema di antara dinding batu yang lembap. Di tangannya tergenggam sebuah obor yang menjadi satu-satunya sumber cahaya di tengah lorong sempit itu.
Di belakangnya, Putri Alena berjalan tanpa suara.
Tatapan gadis itu kosong.
Air matanya memang telah berhenti mengalir, tetapi rasa sakit di hatinya justru semakin dalam.
Setiap kali memejamkan mata, ia kembali melihat sosok ayahnya yang roboh bersimbah darah.
Ia kembali mendengar suara terakhir ibunya.
"Aku mencintaimu."
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya seperti kutukan.
Sir Roland beberapa kali menoleh ke belakang.
Ia khawatir dengan keadaan sang putri.
Sejak mereka memasuki lorong rahasia hampir satu jam yang lalu, Alena tidak mengucapkan sepatah kata pun.
Bahkan wajahnya tidak menunjukkan emosi.
Dan itu jauh lebih menakutkan daripada tangisan.
Karena Sir Roland tahu bahwa ketika seseorang kehilangan segalanya dalam satu malam, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi.
Mereka hancur selamanya.
Atau mereka berubah menjadi sesuatu yang sangat berbahaya.
"Aku minta maaf."
Suara Alena tiba-tiba memecah keheningan.
Sir Roland berhenti berjalan.
"Apa?"
"Aku tidak cukup kuat."
Pria tua itu terdiam.
Alena menatap lantai batu.
"Aku tidak bisa melindungi Ayah."
Suaranya terdengar lemah.
"Aku tidak bisa melindungi Ibu."
Kemudian ia mengangkat wajahnya.
Tatapan matanya dipenuhi rasa bersalah.
"Aku bahkan tidak bisa melakukan apa pun."
Sir Roland menghela napas panjang.
"Putri..."
"Aku pengecut."
"Tidak."
"Aku lari."
"Karena itu perintah mereka."
Alena mengepalkan tangan.
"Tetap saja aku lari."
Sir Roland melangkah mendekat.
"Lihat aku."
Perlahan Alena mengangkat kepala.
"Yang terjadi malam ini bukan salahmu."
"Tapi—"
"Jika kau tetap di sana, kau akan mati."
Alena menggigit bibir.
"Setidaknya aku mati bersama mereka."
Sir Roland menggeleng keras.
"Tidak."
Matanya menjadi tajam.
"Raja dan Ratu mengorbankan nyawa mereka agar kau hidup."
Alena membeku.
"Jangan sia-siakan pengorbanan itu."
Kata-kata tersebut menghantam hatinya.
Untuk beberapa saat, ia tidak mampu menjawab.
Kemudian Sir Roland kembali berjalan.
"Kita harus bergerak."
Alena mengangguk pelan.
Mereka melanjutkan perjalanan.
Lorong itu ternyata jauh lebih panjang daripada yang dibayangkan Alena.
Menurut cerita ayahnya, jalur rahasia tersebut dibangun ratusan tahun lalu oleh pendiri Kerajaan Arvandia.
Tujuannya sederhana.
Sebagai jalan terakhir jika suatu hari kerajaan jatuh.
Tak seorang pun mengira hari itu benar-benar datang.
Beberapa waktu kemudian, mereka tiba di sebuah persimpangan.
Sir Roland berhenti.
Wajahnya berubah serius.
"Ada yang salah."
Alena langsung waspada.
"Apa?"
Kesatria tua itu menunduk dan menyentuh tanah.
Bekas jejak kaki.
Masih baru.
Seseorang telah melewati lorong ini sebelum mereka.
"Kita tidak sendirian."
Jantung Alena berdegup lebih cepat.
"Maksudmu..."
"Mereka mungkin menemukan jalur rahasia."
Wajah sang putri langsung pucat.
Jika musuh mengetahui keberadaan lorong ini, maka mereka tidak akan bisa lolos.
Tiba-tiba terdengar suara samar dari kejauhan.
Langkah kaki.
Banyak langkah kaki.
Sir Roland segera memadamkan obor.
Kegelapan langsung menelan mereka.
"Diam."
Bisiknya.
Alena menahan napas.
Suara langkah kaki semakin dekat.
Kemudian terdengar suara seseorang.
"Cari mereka!"
"Mereka tidak mungkin jauh!"
"Hadiah besar menunggu siapa saja yang membawa kepala sang putri!"
Alena merasakan darahnya membeku.
Mereka benar-benar diburu.
Sir Roland perlahan mencabut pedangnya.
Tatapannya berubah dingin.
Sudah puluhan tahun ia menjadi kesatria.
Dan malam ini mungkin akan menjadi pertempuran terakhirnya.
Suara langkah kaki semakin dekat.
Semakin dekat.
Hingga akhirnya beberapa cahaya obor muncul di ujung lorong.
Musuh.
Setidaknya ada sepuluh orang.
Sir Roland langsung mengambil keputusan.
"Putri."
"Apa?"
"Jika aku berkata lari, kau harus lari."
Alena menggeleng.
"Tidak."
"Ini perintah."
"Aku tidak akan meninggalkanmu."
Sir Roland tersenyum tipis.
"Kau mengingatkanku pada ayahmu."
Sebelum Alena sempat menjawab, para pengejar menemukan mereka.
"Itu dia!"
"Putrinya ada di sana!"
Sir Roland bergerak secepat kilat.
Pedangnya berkilat dalam gelap.
Satu tebasan.
Seorang prajurit roboh.
Tebasan kedua.
Darah menyembur ke dinding batu.
Pertempuran langsung pecah.
Alena mundur beberapa langkah.
Matanya membelalak melihat kemampuan Sir Roland.
Meski usianya sudah lebih dari enam puluh tahun, gerakannya masih mengerikan.
Setiap ayunan pedangnya membawa kematian.
Namun jumlah musuh terlalu banyak.
Mereka terus berdatangan.
Sir Roland berhasil menjatuhkan empat orang.
Lalu lima.
Kemudian enam.
Tetapi sebuah tombak berhasil melukai bahunya.
Kesatria tua itu meringis.
"Sir Roland!"
"Lari!"
"Tapi—"
"LARI!"
Suara itu menggema di lorong.
Untuk pertama kalinya Alena mendengar kemarahan dalam suara pria tua itu.
Dengan air mata menggenang, ia akhirnya berbalik dan berlari.
Langkah kakinya menggema di lorong gelap.
Di belakangnya, suara pertempuran masih terdengar.
Dentangan pedang.
Jeritan.
Kemudian—
Keheningan.
Alena berhenti.
Jantungnya terasa sesak.
Ia tahu apa arti keheningan itu.
Namun ia tidak berani menoleh.
Tidak sanggup.
Ia terus berlari.
Semakin jauh.
Semakin jauh.
Hingga akhirnya lorong batu mulai menanjak.
Udara segar perlahan terasa.
Sebuah cahaya muncul di depan.
Pintu keluar.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya, Alena berlari menuju cahaya itu.
Kemudian ia keluar dari lorong.
Angin malam langsung menerpa wajahnya.
Ia terjatuh ke atas rumput basah.
Untuk sesaat, Alena hanya bisa terengah-engah.
Lalu perlahan ia bangkit.
Pemandangan di depannya membuatnya terdiam.
Di kejauhan, Istana Arvandia terlihat seperti lautan api.
Menara-menara yang dulu megah kini runtuh satu per satu.
Asap hitam membubung ke langit.
Dan di atas semuanya berkibar bendera baru.
Bukan lambang kerajaan Arvandia.
Melainkan lambang Duke Varren.
Simbol seekor ular hitam.
Air mata kembali mengalir dari mata Alena.
Kerajaannya benar-benar telah jatuh.
Tidak ada lagi yang tersisa.
Tidak ada rumah untuk kembali.
Tidak ada keluarga yang menunggu.
Tidak ada tempat berlindung.
Ia kini sendirian.
Benar-benar sendirian.
Malam semakin larut.
Hujan kembali turun.
Alena berjalan tanpa tujuan di tengah hutan yang gelap.
Pikirannya kosong.
Tubuhnya lelah.
Namun ia tidak berani berhenti.
Karena musuh masih mencarinya.
Setiap suara ranting patah membuatnya waspada.
Setiap hembusan angin membuatnya takut.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasakan bagaimana rasanya menjadi buronan.
Beberapa jam kemudian, tenaga Alena mulai habis.
Ia belum makan sejak sore.
Tubuhnya juga tidak terbiasa berjalan jauh.
Sebagai seorang putri, sebagian besar hidupnya dihabiskan di dalam istana.
Kini semua kenyamanan itu hilang.
Langit mulai menunjukkan tanda-tanda fajar.
Saat itulah Alena mendengar suara geraman.
Ia langsung membeku.
Perlahan ia menoleh.
Dua pasang mata merah menatapnya dari balik semak-semak.
Serigala.
Bukan satu.
Melainkan dua.
Alena mundur beberapa langkah.
Jantungnya berdetak kencang.
Ia tidak membawa senjata.
Tidak memiliki kemampuan bertarung.
Dan tidak ada seorang pun yang bisa menolongnya.
Salah satu serigala mulai mendekat.
Geramannya semakin keras.
Alena merasakan ketakutan luar biasa.
Apakah ini akhirnya?
Apakah ia akan mati di sini?
Bukan di medan perang.
Bukan oleh tangan pengkhianat.
Melainkan dimangsa binatang buas.
Serigala itu bersiap menerkam.
Namun tepat pada saat yang sama—
SREET!
Sebuah anak panah melesat dari balik pepohonan.
Menembus leher serigala pertama.
Binatang itu roboh seketika.
Serigala kedua terkejut.
Belum sempat melarikan diri, panah kedua menghantam dadanya.
Seketika suasana menjadi sunyi.
Alena membelalak.
Seseorang baru saja menyelamatkannya.
Dari balik pepohonan muncul sosok berjubah abu-abu.
Wajahnya tertutup tudung.
Di punggungnya tergantung busur panjang.
Ia berjalan mendekati bangkai serigala tanpa berkata apa-apa.
Kemudian berhenti di depan Alena.
"Kau hampir mati."
Suaranya berat.
Dan terdengar seperti suara seorang pria.
Alena mundur satu langkah.
"Siapa kau?"
Pria itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya mengamati wajah Alena.
Lalu matanya sedikit membesar.
Seolah mengenali sesuatu.
Mengetahui sesuatu.
"Kau..."
Ia berhenti sejenak.
Kemudian tersenyum tipis.
"Jadi rumor itu benar."
Alena langsung waspada.
Rumor?
Rumor apa?
Pria itu kembali berbicara.
"Seluruh kerajaan sedang mencarimu."
Jantung Alena langsung berdegup keras.
"Aku tidak tahu apa yang kau maksud."
Pria itu tertawa kecil.
"Kau bukan pembohong yang baik, Putri Alena."
Nama itu membuat dunia seolah berhenti berputar.
Tangannya refleks mengepal.
Matanya menatap tajam sosok misterius di depannya.
Siapa sebenarnya pria ini?
Teman?
Atau musuh?
Dan yang lebih penting...
Bagaimana dia mengetahui identitasnya?
Fajar pertama setelah kejatuhan Arvandia akhirnya tiba.
Namun bagi Alena, perjalanan yang sebenarnya baru saja dimulai.
